Tidak Ada Apa-apa

Tidak Ada Apa-apa
Chapter 27. Kunci Persahabatan : Saling Memaafkan


__ADS_3

Di bawah lentera bulan yang bersinar lembut dan berselimutkan malam yang bertaburan oleh bintang, kedua remaja itu sudah terlelap tidur dan terbang ke angkasa mimpi yang banyak menyimpan misteri.


Tapi, tidak dengan Husna. Meski larut telah menyapa semesta, ia tetap terjaga sembari menunggu suami tercinta pulang dari bertugas.


Setelah lama menunggu dan kantuk nyaris saja menguasinya, deru mobil Ali yang khas terdengar menggema hingga ke telinga. Buru-buru, Husna bangkit dari atas sofa, membuka pintu utama dan menyambut kedatangan suami tercinta dengan senyum paling manis yang menghias di bibirnya. Kemudian, ia meraih tangan sang suami yang telah menunaikan tugas dan kewajibannya dengan baik, lalu  dikecupnya punggung tangan itu dengan lembut.


Husna biasa melakukan ritual itu setiap kali Ali pulang. Tak peduli, meski suaminya itu kadang pulang larut karena banyak pasien dan panggilan yang harus diselesaikan.


"Mas, mau kopi atau susu? Mau makan juga?" Husna langsung mencecar suaminya itu dengan berbagai macam pertanyaan. Sementara tangannya tampak erat merangkul lengan kekar milik Ali.


Ali hanya tersenyum. Dia begitu senang memiliki seorang istri yang salihah dan pengertian seperti Husna. Wanitanya ini benar-benar paham bagaimana cara melayaninya dengan baik. Membuat rasa lelah yang sempat menyeruak tadi langsung menguap, entah ke mana?


"Mas mau air putih saja," kata Ali berjalan ke dapur dengan diiringi oleh istrinya yang sangat menggemaskan itu.


"Mas nggak mau makan? Mas pasti lapar," tawarnya lagi.


"Memangnya, kamu masak apa hari ini, hum?"


"Adek masak sop daging dan sambal terasi."


'Maa syaa Allah. Pasti rasanya enak. Kalau begitu, Mas mau nyicip dong."


"Tunggu sebentar, ya, Mas," kata Husna yang terlihat sangat antusias untuk memberikan pelayanan bagi suami tercinta.


Tak sedetik pun Ali mengalihkan pandangannya dari Husna. Istrinya itu selalu saja membuatnya kagum dan bangga. Bagaimana tidak. Dia adalah wanita yang sangat kuat dan juga mampu melakukan banyak hal. Dia bahkan tak pernah mengeluh, meski begitu banyak pekerjaan rumah yang harus ia selesaikan. Bagi Husna sendiri, rasa lelah yang dia dapatkan sudah cukup menjadi bukti bahwa pengabdian dan kesetiaannya itu tak pernah main-main. Selama suaminya ridho, in syaa Allah, lelah itu akan berbuah manis menjadi pahala di sisi-Nya.


"Bagaimana? Apa anak-anak sudah tidur?" tanya Ali yang sudah diberitahu oleh Husna tentang kedatangan Aya dan rencana menginapnya di rumah mereka.


Ali setuju jika Aya menginap di rumah mereka. Lagi pula, dia jarang di rumah. Dengan adanya gadis itu, Syifa tidak akan merasa kesepian lagi.


"Mereka sudah tidur, Mas," jawab Husna dengan membawa sebakul nasi putih dan beberapa lauk-pauk yang sudah dipanaskan. Saat ia hendak menyendokkan nasi dan lauknya ke dalam piring, Ali langsung menahan tangannya dan melarang Husna untuk bekerja terlalu keras.


"Duduklah di samping, Mas," titahnya yang langsung menarik tangan Husna dan membawanya duduk di kursi yang berada tepat di sampingnya.


Husna hanya menurut, walaupun dia sedikit kecewa karena tak diberi izin untuk melayani suaminya.


Seolah mampu membaca pikiran istrinya itu dan tak ingin membuatnya sedih, Ali pun berkata sembari menggenggam erat jemari sang istri. "Kamu itu istri, Mas. Permaisyuri di rumah ini. Jangan terlalu bekerja keras dan pikirkan juga kesehatanmu. Kalau bisa, jangan menunggu Mas sampai selarut ini. Mas nggak tega saat melihatmu meringkuk di atas sofa."


"Tapi, Mas. Adek hanya ingin melayani Mas sebagaimana istri seorang istri salihah melayani suaminya. Adek hanya ingin mengejar jannah Allah dengan berbakti kepada Mas," lirih Husna beralasan.


Tangan Ali tak lagi menggenggam tangan istrinya dengan erat. Ia berpindah tempat di atas kepala istrinya. Ia belai pucuk kepala Husna dengan sayang.


"Mas tahu. Tapi, Mas ini imammu. Kamu harus menuruti semua perkataan Mas. Bagi Mas, baktimu pada Mas itu sudah lebih dari cukup, sayang."

__ADS_1


Mendengar Ali memanggilnya dengan sebutan sayang, wajah Husna sontak merona seperti kepiting rebus yang baru diangkat dari panci perebusan. Suaminya itu memang selalu mampu membuatnya tersipu malu dan berbunga-bunga setiap harinya.


"Kamu sudah makan, Dek?" tanya Ali setelah ia memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya.


"Sudah."


"Sayang sekali. Padahal, Mas maunya makan satu piring bareng kamu," lirih Ali menasang raut wajah yang tampak kecewa. Hal itu berhasil membuat Husna tak enak hati.


Husna hanya tersenyum, kemudian mengambil piring dari tangan suaminya. Tanpa mendapat perintah atau disuruh sama sekali, Husna menyuapkan makanan ke dalam mulut suaminya, lalu berlanjut dengan memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya sendiri.


Sekali lagi, Husna memang pantas dijadikan sebagai penyejuk hati dan matanya.


"Mas sudah menghubungi Fajri sore tadi. Dia setuju akan datang kemari dan memeriksa keadaan Aya. Setelah itu, kita akan berangkat ke rumah Aya untuk memastikan jika tidak ada jimat yang tertinggal di rumahnya. Rasanya, percuma saja, jika jimat itu masih ada dan tidak segera dihancurkan," papar Ali di sela-sela aktifitas makan.


"Besok kita bisa bicarakan masalah Aya. Malam ini, Mas harus makan, mandi dan segera istirahat," titah Aya dengan telaten menyuapi pria yang sudah berusia kepala empat itu. Meskipun, dia sudah dewasa dan bisa dibilang tua, tapi tingkahnya selalu saja manja saat bersama dengan Husna.


Usai makan dan membersihkan tubuh, Husna pun tidur dengan berbantalkan lengan Ali dan berselimutkan hangatnya tubuh sang suami. Mereka jatuh tertidur di bawah bayangan malam.


***


Keesokan paginya ....


Dengan adanya Aya di rumahnya, kini Syifa tak perlu lagi diantar-jemput oleh Husna. Karena Aya bersedia untuk menjadi ojek dadakan yang bertugas untuk mengantar dan menjemput gadis tersebut.


Sementara Syifa, dia tetap pada kekeraskepalaannya sampai umminya itu berkata, "Ya."


"Pokoknya, Syifa mau ikut sama Aya. Ummi di rumah aja," kata Syifa masih dalam mode bersitegang dengan umminya tersebut.


"Nggak, nggak. Motornya ditinggal saja di rumah. Biar Ummi yang mengantar kalian pergi ke sekolah," balas Husna tak mau kalah.


"Maaf, Ummi. Saya tidak bisa naik mobil bersama Ummi."


"Kenapa? Kenapa nggak bisa?"


"Motor itu adalah pemberian dari Mama. Saya tidak ingin membuat Mama sedih karena tidak menggunakan barang pemberiannya sebagaimana mestinya," ujar Aya sebisa mungkin memberi alasan dengan memakai nama mamanya.


"Ummi ...." Husna ingin menyela. Namun sayang, ia didahului oleh Ali yang sudah berdiri di belakang.


"Sudahlah, Ummi sayang. Jangan memaksa mereka kalau mereka tidak mau. Mereka itu masih muda dan jangan mengekang mereka hanya untuk menuruti keinginan kita sebagai orang tua," nasehat Ali mendapat respon positif dari Syifa dan Aya. Syifa bahkan mengacungkan dua jempol tangannya pada Ali.


"Abi memang the best. Nggak kayak Ummi," cibir Syifa dengan mata yang sengaja disipitkan.


"Kamu juga Syifa. Nggak boleh bersikap seperti itu sama Ummi. Bagaimanapun juga, Ummi itu adalah orang tuamu." Ali tak ingin berlaku berat sebelah. Maka dia pun menasehi anak semata wayangnya itu.

__ADS_1


Syifa menunduk layu. Abinya itu memang tak segalak Husna. Namun, jika dia sudah mengeluarkan kata-kata mutiara, maia jangan sekali-kali diremegkan apalagi sampai ditentang. Bisa-bisa habislah dirinya.


"Apa kamu mengerti?"


"Syifa mengerti, Abi." Syifa menjawab sembari menganggukkan kepalanya dengan pelan.


"Biarkan Syifa ikut Aya hari ini. Ummi ikut sama Abi saja. Ada yang perlu Abi urus."


"Baik, Bi."


"Kalau begitu, kami berangkat dulu, ya, Abi, Ummi," kata Syifa sembari mencium punggung tangan kedua orang tuanya dengan khusyuk.


Aya yang merupakan satu-satunya orang asing di rumah ini, hanya memberikan kecupan tangan pada Husna. Sementara pada Ali, dia tampak menakupkan tangannya ke hadapan pria itu.


Sebelum naik ke atas motor, mereka berdua mengenakan helm untuk pengaman kepala terlebih dahulu. Setelah itu, mereka pun mengucapkan salam sebelum melaju pergi bersama dengan kendaraan roda empat itu.


***


Di sekolah.


Syifa segera turun dari atas motor sebelum Syifa memarkirkan kendaraan beroda empatnya itu. Usai memarkirkan motor dan melepaskan helm yang ada di kepala, keduanya segera pergi ke kelas. Namun, langkah mereka harus terhenti di ujung pelataran saat dua orang perempuan muda menghalangi jalan mereka.


"Kalian mau apa?" tanya Aya pada dua gadis muda yang tiada lain adalah Desya dan juga Ika.


"Kami mau bicara dengan kamu, Aya," jawab Desya.


"Bicara saja sekarang."


"Kami sadar, selama ini kami sudah banyak salah sama kamu, Aya. Bahkan, kami juga ikut-ikutan mengatakan banyak buruk di belakang kamu. Sekarang, kami menyesal dan kami ingin meminta maaf padamu," tutur Desya dengan sorot mata yang penuh penyesalan dan pengharapan untuk dimaafkan. Begitu juga dengan Ika, dia hanya menunduk sayu, saking malunya untuk menatap wajah orang yang telah ia sakiti itu.


Aya melirik pada Syifa. Gadis itu sedang mengulum senyum. Detik berikutnya, ia mengangguk pelan agar Aya mau memaafkan mereka.


"Aku tahu semuanya. Tidak hanya kalian, orang-orang di sekitarku juga sangat membenciku. Tapi, itu semua mengajarkanku banyak hal dan membuatku bertekad untuk berubah. Meskipun aku tak bisa merebut hati mereka semua, paling tidak, aku sudah melakukan yang terbaik untuk membuat mereka mau menerima keadaanku. Dan terima kasih, karena kalian sudah mewujudkan itu."


Desya dan Ika mendongkakkan kepala dengan mulut yang menganga. Mereka tidak pernah menyangka, jika Aya akan mengatakan hal semacam itu. Dari balik Kata-kata itu mereka tak menemukan sedikit pun kemarahan atau kebencian. Padahal selama ini, mereka sudah banyak berbuat jahat pada Aya. Harusnya, Aya membenci mereka. Namun tidak, Aya malah dengan lapang dada memaatkan semua kesalahan mereka. Hal itu, benar-benar membuat mereka tersentuh dan semakin merasa bersalah karena perbuatan dan perkataan yang telah kedua gadis itu lakukan selama ini.


"Baiklah. Mari kita ke kelas," celetuk Syifa sembari merangkul leher kedua gadis itu. Kalau sudah begini, Desya dan Ika mana bisa menolak. Mereka terpaksa mengikuti langkah kaki Syifa dengan Aya yang mengekor di belakang.


Bersambung


***


[Revisi setelah naskah selesai]

__ADS_1


__ADS_2