Tidak Ada Apa-apa

Tidak Ada Apa-apa
Chapter 25. Dia Kembali


__ADS_3

Kilas Balik Dimulai


Dingin menelusup dalam bilik kamar. Memaksa Aya untuk menutupi tubuhnya dengan selimut. Hawa hangat yang terasa cukup membuat gadis itu merasa nyaman.


Lamat-lamat, matanya mulai merasa berat. Namun, ia tak kunjung tidur untuk menuntaskan rasa kantuknya itu. Dia memilih bangun dan menegadahkan tangan. Bermunajat pada Sang Rahman yang memegang setiap jiwa manusia.


Setelah membaca doa tidur yang dilengkapi dengan surat-surat pendek, seperti ayat kursi, Qul huwallah, Qul a'uudzubi Rabbil Falaq, dan Qul a'uudzubi Rabbin Naas. Aya meniup kedua telapam tangannya, kemudian ia menyapu sekujur tubuhnya---dari atas kepala sampai bawah kaki---dengan menggunakan kedua telapak tangannya tadi. Setelah itu, matanya terpejam dan jiwanya terbawa ke dalam mimpi yang tercipta.


Semula gelap dan hampa. Hingga Aya terlempar ke dalam dunia yang benar-benar asing baginya.


"Di mana aku?" tanyanya sembari mengedarkan pandangan pada pohon-pohon cemarah yang menjulang tinggi di sekitarnya.


Ada satu hal yang mengganjal. Meskipun Aya berada di tempat segelap ini---anehnya, dia tetap bisa melihat dengan jelas.


"Sssss."


Aya terperanjat manakala indra pendengarannya menangkap suara desisan yang sangat keras. Saat gadis itu menoleh ke belakang, dia terperanjat kaget saat mendapati sosok ular piton raksasa sedang mengarah padanya.


Aya mundur dan lari dengan sekuat tenaga. Ia harus menghindari makhluk itu dan menemukan jalan untuk pulang.


Tapi, sial. Sejauh apa pun Aya berlari, dia hanya menemukan jalan buntu.


"Sial!" umpat Aya yang sangat kesal. Bagaimana tidak. Ular piton yang mengejarnya itu tidak hanya seekor. Mereka semakin banyak dan terus bertambah hingga terbentuklah sebuah koloni ular yang tak dapat dihitung jumlahnya.


Dalam keadaan yang genting itu, Aya mencoba mencari benda yang bisa ia gunakan untuk melawan ular-ular tersebut dan dia menemukan sebuah ranting kecil di dekat kakinya.


Ranting kecil itu segera Aya ambil dan dia todongkan ke seekor ular yang menjadi ratu bagi ular-ular yang yang berukuran kecil darinya.


"Jangan mendekat atau aku akan menghabisi kalian semua!" ancam Aya tanpa rasa takut sama sekali. Tidak. Dia tidak akan pernah takut pada hewan yang hanya ada di dalam mimpinya. Mimpi ini adalah miliknya dan dialah yang menjalaninya.


"Ssss." Si ular besar kembali berdesis. Desisannya itu seolah perintah bagi para prajuritnya---ular-ular kecil---untuk menyerang si gadis.


Beberapa ular berukuran sebesar sapu lidi mulai maju menyerangnya. Dengan segenap kekuatan yang dimiliki, dia melawan dan melempar makhluk melata itu sejauh-jauhnya.


"Kamu cukup gigih anak yang manis."


Aya sangat terkejut saat melihat ular tadi telah berubah wujud menjadi gadis berpakaian aneh dan juga kuno. Seperti pakaian kerajaan zaman dulu yang lengkap dengan tiara di puncak kepalanya.


"Siapa kamu? Apa maumu denganku?!" teriak Aya dengan mata yang melotot tajam.

__ADS_1


"Aku? Sebenarnya, aku tidak mengganggumu apalagi berurusan denganmu. Tapi, aku tidak bisa melakukannya. Karena, bagaimanapun juga kamu itu masih ada hubungannya dengan Danu," ujar makhluk itu sambil menunjuk pada Aya.


Aya jelas kaget. Bagaimana tidak. Nama papanya---Danu---baru saja disebut oleh makhluk jadi-jadian itu. Sebenarnya, siapa dia? Apa urusan dia dengan Danu---orang tua pengecut yang sudah tidak pernah menunjukkan batang hidunnya lagi di hadapan Aya dan mamanya?


"Kamu harus menjauhi Danu. Jangan pernah coba-coba untuk mendekatinya. Karena Danu itu adalah suamiku. Dia adalah milikku."


"Jangan bercanda. Kamu itu hanya makhluk aneh dan nggak jelas. Aku tidak peduli pada ucapanmu itu!"


Makhluk itu tersenyum sinis. "Baiklah. Aku akan memegang ucapanmu. Jika sampai kamu menemui Danu, maka aku akan menghabisimu."


Setelah mengancam Aya, putri ular itu menghilang bersama dengan para pengikutnya.


"A---apa maksudnya semua ini?" lisan Aya dengan suara yang terbata-bata. Mendapati tangannya yang sudah mulai gemeteran, dia pun membuang ranting


"Kamu mau tahu sesuatu, Aya?"


Suara itu. Aya sangat mengenalnya. Kemudian, dia pun mengangkat kepalanya ke atas. Betapa kagetnya Aya setelah ia melihat Mega tengah duduk dengan kaki yang menjuntai di sebuah dahan pohon.


"Me--Mega."


"Iya. Ini aku." Mega terbang dan turun tepat di hadapan Aya. "Apa kabar temanku?" tanyanya sambil tersenyum menyeringai.


"Apa maumu? Aku tidak ingin melihatmu lagi!"


"Kenapa kamu memarahiku, Aya? Aku datang kemari karena aku sangat merindukanmu. Kita tidak bisa bertemu lagi di dunia nyata, karena kamu tidak bisa melihatku lagi dan kamu juga sudah membuangku. Apa kamu sudah lupa, kalau akulah yang selama menemanimu?"


"Berhenti berpura-pura, Mega atau siapapun kamu! Karena kamulah yang sudah membuatku sendirian dan menderita. Seharusnya, aku sudah lama membuangmu dan kemampuan itu!"


"Aku benar-benar menyayangimu, Aya. Kamu sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Bagaimanapun juga, kamu adalah anaknya Danu. Aku tidak mungkin bisa membenci orang yang sangat aku cintai," papar Mega dengan intonasi suara yang terdengar lebih rendah dan sedih dari sebelumnya.


"Mencintai Papa?" Dahi Aya mengernyit. Dia semakin bingung dengan situasinya kali ini.


"Apa Mamamu tidak cerita tentang aku? Hah ...." Mega membuang napas dengan kasar. "Harusnya, dia sudah menceritakan tentangku setelah aku menemuinya empat mata kemarin. Aku sampai harus merasuki tubuh temanmu itu hanya untuk bicara dengannya."


"Jangan mengalihkan topik, Mega! Katakan padaku! Ada hubungan apa antara kamu dan Papaku!" dongkol Aya dengan kelakuan Mega yang suka memutar-mutar topik pembicaraan.


"Sepertinya, kamu sangat penasaran dengan hubunganku dan papamu itu, ya," goda Mega yang dengan sengaja memacing emosi Aya untuk keluar.


"Aku tidak punya waktu untuk bermain-main denganmu. Cepat jawab pertanyaanku atau aku ...."

__ADS_1


"Apa yang akan kamu lakukan, hah?!" ucap Mega menyelang perkataan Aya. "Kamu tidak perlu mengancamku seperti ini, Aya. Aku pasti menceritakan semuanya padamu tanpa perlu ," tantang Mega menyelang ucapan Aya.


Aya mematung, diam. Jika bukan karena rahasia masa lalu antara Mega dan kedua orang tuanya, Aya enggan untuk menuruti perkataan Mega. Tapi, biarlah dia mengalah untuk saat ini.


Melihat mangsanya diam tak berkutik, Mega pun menceritakan kisahnya pada Aya. Kisah yang terjadi antara Asya, Danu dan dirinya.


Kisah dimulai ketika Danu berpaling darinya. Mega mengatakan begitu banyak kebohongan. Dia bilang, jika dirinya ditimpa sakit yang parah dan sering keluar-masuk rumah sakit karena sakitnya itu. Tanpa sebab yang jelas, Danu pun meninggalkannya dan memilih menjalin hubungan dengan Asya.  Alhasil, keadaan Mega pun semakin memburuk setiap harinya. Hingga kematian pun menjadi akhir dari kisah hidup Mega yang menyedihkan.


"Aku yang mati dengan hati yang dipenuhi dengan kemarahan dan dendam, akhirnya berakhir menjadi hantu gentayangan," pungkas Mega mengakhiri ceritanya.


"Kamu bohong, Mega. Mama dan Papaku tidak mungkin melakukan semua itu!" tolak Aya. Dia tidak terima dengan cerita tidak masuk akal yang Mega sampaikan.


Mega tertawa sumbang. Tawanya terdengar menggema ke segala penjuru hutan. Dia kemudian terbang mengelilingi Mega dan kembali berdiri di hadapan Aya dengan wajah yang pongah.


"Kalau itu tidak benar. Lalu, kenapa papa dan mamamu berpisah. Bahkan, papamu yang baik itu malah menikah dengan wanita lain? Bukankah itu cukup membuktikan, bahwa papamu adalah lelaki bermata keranjang. Sementara mamamu adalah perebut yang telah mendapatkan karmanya."


"Berhenti bicara omong kosong. Aku tidak akan percaya begitu saja dengan ucapanmu itu. Lagi pula, siapa yang akan percaya dengan makhluk pendusta sepertimu! Bertahun-tahun, kamu hidup di dalam mataku dan sekarang kamu malah mengatakan hal yang sangat menggelikan seperti ini. Dasar memalukan!" maki Aya yang sudah sangat muak dengan kelakuan Mega.


"Jika aku benar, apa yang akan kamu lakukan, hmm? Kuharap, kamu tak akan menyesal nanti."


"Tidak akan!" tegas Aya. "Aku sangat percaya pada Mama dibanding padamu. Apa pun yang terjadi bukanlah salah Mama."


"Ckckckck. Aku sangat kasian padamu, Aya. Kamu sudah membela orang yang salah. Tapi tak mengapa. Aku akan lihat sampai mana kesombonganmu itu akan berlangsung. Aku tidak sabar melihatmu kecewa dan marah pada orang tuamu. Pasti, itu akan sangat menyenangkan." Setelah mengatakannya, Mega pun lenyap dari hadapan Aya.


Kilas Balik Selesai


Kembali ke dunia nyata. Ketika Aya sedang menceritakan mimpinya semalam. Mimpi yang sangat aneh dan penuh dengan tanda tanya. Berulang kali, ia mencoba mencari tahu maksud dari mimpi tersebut. Namun, berulang kali pula, ia tak mendapatkan jawaban apa pun.


"Aku benar-benar takut dan bingung, Syifa. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Aya kemudian.


"Entah kenapa, aku merasakan ada sesuatu yang sangat aneh di sini?" tanggap Syifa mencoba menerka-nerka cerita yang Aya sampaikan. "Apa kamu sudah bertanya pada Mama Asya?"


Aya menggeleng.


"Aku belum bertanya pada Mama karena aku takut. Bagaimana kalau yang dikatakan Mega itu benar?"


"Jangan berkata seperti itu, Aya. Bukankah Paman Kyai sudah memberitahumu ... Mega itu tidak pernah ada di dunia ini. Dia sudah tiada dan apa yang kamu lihat itu bukanlah Mega yang sesungguhnya. Mega itu hanyalah sebuah tipu daya setan yang ingin mengganggu dan membuatmu kacau."


"Aku tahu, Syifa. Tapi, aku tidak bisa tenang sampai sekarang. Aku ... aku ingin bertanya dengan Mama dan juga bertemu dengan Papa. Supaya hatiku tenang dan lega."

__ADS_1


"Itu gampang. Aku pasti akan mendukungmu. Kita pasti bisa melewati semua ini. Tapi, sebelum itu, ada yang harus kita bereskan terlebih dahulu. Aku akan coba bicara sama Ummi dan Abi untuk bisa membantu," tutup Syifa, sesaat sebelum dia mengajak Aya untuk pergi menemui umminya di halaman belakang.


Bersambung


__ADS_2