
Sebelum mengakhiri nyawanya sendiri, Mega hanyalah seorang gadis malang yang tak pernah merasakan indahnya kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ia sudah lama tinggal di panti asuhan sejak kecil. Tepatnya, sejak ia berusia dua hari dan orang tuanya langsung membuangnya begitu saja.
Setelah ia mulai tumbuh dan banyak mengerti tentang dunianya, dia selalu bertanya-tanya tentang kedua orang tuanya. Bagaimana wujud dari ayah dan ibunya? Kenapa ia dibuang begitu saja? Apakah kehadirannya tak pernah diinginkan? Atau, kenapa mereka melahirkannya, jika pada akhirnya ia akan berakhir terlantar seperti ini?
Sebanyak apa pun ia bertanya, sebanyak itu pula rasa kecewa yang harus ia telan bulat-bulat. Hingga di usia remajanya, ia mulai melupakan kedua orang tuanya dan menganggap mereka tak pernah ada. Dia cukup beruntung, karena memiliki seorang ibu panti yang sangat menyayanginya, seperti anak kandungnya sendiri.
Purnama demi purnama yang berhasil terlewati, Mega tumbuh menjadi gadis yang periang cantik dan periang. Tak pernah ia sangka, pada akhirnya ia pun jatuh cinta pada seorang pria kaya yang sangat populer di kampusnya. Dan ternyata, pria tersebut juga menaruh hati pada Mega karena kemolekan rupa yang tersemat pada gadis tersebut.
Danu namanya. Ia memiliki usia beberapa bulan lebih muda daripada Mega. Meskipun begitu, mereka adalah pasangan yang sangat romantis dan banyak menimbulkan rasa iri di hati setiap kaum hawa.
Bagaimana tidak. Apa pun yang Mega minta dari Danu, selalu saja pria itu penuhi. Tak peduli, meski harga yang harus dikeluarkan tidaklah main-main. Karena yang namanya cinta, akan membuat mereka---yang sedang kasmaran menjadi buta---tak dapat membedakan antara kebenaran dan kebodohan yang nyaris tak tampak mata.
“Yang. Kamu di mana? Bisa jemput aku di kafe Melati?” tanya Mega melalui sambungan telepon yang tertuju pada kekasihnya, Danu.
“Maaf, sayang. Aku lagi sibuk sekarang. Kamu bisa pulang naik taksi, kan?” balas Danu tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun pada layar monitor di hadapannya.
“Ini udah sore, yang. Seharusnya kamu itu udah pulang dari jam empat tadi. Apa jangan-jangan, kamu lagi sama cewek lain, ya,” tuduh Mega sontak membuat Danu menghentikan jarinya dari mengetik keyboard tersebut.
“Aku ada tugas tambahan dan harus lembur untuk menyelesaikannya. Seharusnya, kamu mengerti. Bukannya malah nuduh aku yang nggak-nggak,” marahnya karena tak terima dituduh demikian.
“Kenapa kamu malah marah sama aku, hah?!” seru Mega tak kalah emosinya.
“Terserah. Aku capek ngomong sama kamu,” tandas Danu yang langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Dan itu semakin membuat Mega sangat kesal pada Danu. "Dasar wanita si*lan! Maunya dituruti terus. Sekali saja dibantah udah langsung marah-marah, kayak mau ngajak perang ketiga aja. Argh."
Danu meremas rambutnya dengan kasar. Bertengkar dengan Mega benar-benar membuat mood Danu menjadi kacau. Pada akhirnya, ia melampiaskan segala kekesalannya itu dengan cara melupakan Mega dan fokus pada pekerjaan yang harus selesai, sesegera mungkin.
Hal sama juga terjadi pada Mega. Tak henti-hentinya gadis itu merutuki Danu yang mulai berani membangkang perintahnya.
"Dasar laki-laki nyebeliiin! Dia lebih mentingin pekerjaannya daripada aku. Baiklah kalau begitu. Kita lihat saja! Siapa yang bakal menang. Aku atau kamu," gumam Mega nampak berbicara pada benda pipih di tangannya. Dia melakukan hal itu, seolah sedang berbincang dengan Danu secara langsung.
Awalnya, Mega berencana untuk mengajak Danu pergi ke tempat pertama mereka jadian. Mengingat hari ini adalah hari jadian mereka beberapa tahun yang lalu. Namun, bukannya ingat pada hari istimewa ini, Danu malah lupa dan memilih sibuk pada pekerjaannya.
Akhirnya, Mega memilih untuk pergi dan membuat rencana yang sangat bagus.
***
"Selesai," ucap Danu setelah ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu.
Rasa lelah yang tiba-tiba menyergap, membuat kedua bibir Danu menguap. Satu-satunya keinginan pria itu adalah merebahkan diri di atas kasur pembaringannya yang empuk. Namun, butuh waktu yang cukup lama untuk sampai di rumahnya. Sementara tubuhnya sendiri tak dapat diajak kompromi saat ini.
Danu lantas menengok arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih ada waktu 30 menit sebelum maghrib tiba. Dia memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya sebentar di masjid terdekat--- sebelum akhirnya pulang.
Setibanya di sana, Danu tidak langsung masuk ke dalam. Ia tampak merosot duduk, kemudian melepaskan sepatunya terlebih dahulu.
Di sela-sela kegiatannya melepaskan ikatan tali sepatu itu. Ia mendadak tertegun manakala matanya menyapa sosok wanita asing yang tengah sibuk memapah gadis kecil yang tak lagi memiliki kaki kiri.
__ADS_1
Rasa penasaran akhirnya mengusik Danu. Terlebih lagi, senyuman wanita itu semakin membuat jantungnya berdegup tak karuan.
***
Selepas sholat magrib, Danu memutuskan untuk menyapa gadis tersebut.
"Tunggu, Mbak!"
Semula, wanita itu tak menoleh sama sekali. Karena ia pikir, bukan dia yang Danu panggil.
Tak ingin tertinggal jauh, ia lantas mengejar dan menghalangi jalan si wanita asing tersebut.
"Apa Mas memanggil saya?" tanya wanita berkerudung biru tua itu, bingung.
"Iya," jawab Danu dengan cepat.
"Ada perlu apa, Mas, sama saya?"
"Maaf mengganggu sebelumnya. Saya Danu. Boleh saya tahu nama Mbak siapa?" Danu mengulurkan tangannya pada Asya sebagai tanda perkenalan di antara mereka.
"Heh?" Asya semakin bingung. Bagaimana tidak. Mendadak ada pria asing yang datang dan langsung mengajaknya berkenalan.
Setelah memandangi uluran tangan dari pria itu cukup lama. Akhirnya Asya pun membalas dengan menakupkan kedua tangannya di depan dada. "Nama saya Asyani."
"Mata yang indah, senyum yang menawan dan akhlak yang terpuji. Seharusnya, Allah mempertemukan kita lebih dahulu. Agar aku tak terjebak cinta yang salah selama ini. Terima kasih, telah datang dan hadir dalam hidupku, Asyani," batin Danu sambil mengulum bibirnya yang ranum.
***
Sejak saat itu, Danu jarang memberi kabar pada Mega. Dia hanya sibuk mencari perhatian Asya dan merebut hati dari pujaan hatinya tersebut.
Perubahan Danu yang begitu kentara, membuat insting perempuan Mega bekerja. Dia merasakan suatu firasat buruk yang akan terjadi pada hubungan mereka berdua. Maka dari itu, dia mulai memata-matai Danu dan menyelidiki apa saja yang pria itu kerjakan selama tak bersama dengannya.
"Kamu yang sudah membuat ini semua?" tanya Danu saat Mega membawanya ke suatu taman yang telah wanita itu hiasi sebelumnya.
Ada sepasang kursi yang saling berhadapan, sementara di tengahnya terdapat meja yang sudah dihidangkan makanan mewah ala restoran dan aksesorinya sebuah vas bunga berisi bunga tujuh rupa yang masih segar.
Sepasang kursi kayu tersebut dikelilingi oleh lentera-lentera dan lampu kecil yang menyala indah. Sebagai hiasan terakhir, di samping sepasang kursi itu terdapat rangkaian bunga berbentuk hati.
Danu terlalu kaget dengan pemandangan di hadapannya. Dia tak pernah menyangka, jika Mega telah menyiapkan ini semua hanya untuknya.
Sesuatu membuyarkan lamunan Danu. Saat ia melirik ke bawah, rupanya Mega telah menggenggam jemarinya dengan erat.
"Akhir-akhir ini, kamu terlalu sibuk, Mas. Sampai kamu melupakan anniversary kita beberapa hari yang lalu. Jadi ... sebagai ucapan terima kasih dan rasa bahagiaku karena hubungan ini. Aku ingin memberikan hadiah spesial yang akan membuatmu sangat terkejut," terang Mega sambil menggandeng lengan Danu dengan manja.
Dengan spontan Danu menghentikan langkah kakinya. Berbalik arah hingga keduanya saling berhadapan dan menatap wajah Mega dengan lekat. Kemudian, jari-jemarinya mulai menjelajahi wajah sang kekasih dengan sayang.
__ADS_1
"Maaf, ya. Aku terlalu sibuk di kantor. Sampai lupa untuk merayakan hari anniversary kita. Tapi aku janji. Setelah ini, kita akan pergi berdua ke manapun yang kamu mau," kata Danu sambil mencuil hidung Mega yang mancung.
Mega hanya tersungging. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, wanita itu pergi dari hadapan Danu dan kembali dengan membawa kado di tangannya.
"Ini untukku?" tanya Danu dengan wajah yang berseri-seri karena bahagia.
Mega mengangguk, mengiyakan. Setelah itu, ia meminta Danu untuk membuka hadiah yang telah persiapkan dengan susah payah itu.
Danu menurut. Dia mengambil kado berhias pita merah jambu itu. Lalu merobek pembungkus yang membalut hadiah. Setelah pembungkus tersebut telah dilepas dan yang terlihat tinggallah kotak saja, ia pun melepaskan penutup dari kotak tersebut.
Bukannya senang dengan pemberian Mega. Danu malah terperanjat manakala mengetahui isi dari kotak kadi tersebut.
Saat dia melirik pada Mega, wajah gadis itu tak lagi sama seperti beberapa waktu yang lalu. Senyumannya yang manis telah berubah menjadi kemarahan yang terlihat nyata.
"Ka--kamu ...." Danu berbicara dengan terbata-bata setelah belang yang selama ini ia tutupi akhirnya terbongkar juga.
"Iya. Aku tahu semua kelakuanmu di belakangku! Jadi wanita inilah yang sudah membuatmu mulai berpaling padaku! Siapa dia? Siapa wanita ini?!" jerit Mega dengan sorot mata yang penuh dengan kemarahan.
"Syukurlah kalau kamu tahu. Ini mempermudahku untuk meninggalkanmu," ujar Danu yang mulai menunjukkan wujud aslinya. Sebab Danu yang sekarang, tak lagi sama seperti Danu yang dulu. Perasaan cinta itu telah pudar dan tergantikan untuk wanita lain.
"Dasar baj*ngan kamu, Danu! Dasar si*lan! Apa sebenarnya kekuranganku sampai kamu berpaling pada wanita lain!" murka Mega sambil memukul dada bidang Danu dengan kasar.
Pukulan pertama, Danu tetap diam.
Pukulan yang kedua, dia tetap menahannya.
Pukulan yang ketiga, ia mulai menangkisnya.
Dan pukulan ke sekian kalinya, ia pun menahan kedua tangan Mega dan menghempaskannya dengan kasar.
"Ini salah satu alasan, kenapa aku berpaling darimu. Kamu itu egois, maunya menang sendiri. Kamu juga kasar, possesif dan juga materialistis!" Perasaan yang selama ini Danu pendam akhirnya keluar dan menjelma menjadi sebuah makian.
Mega tertawa sumbang mendengar omong kosong yang keluar dari bibir pria tersebut.
"Kamu mengatakan hal seburuk itu setelah apa yang aku berikan padamu! Kamulah yang baj*ngan Danu! Kamu sudah memanfaatkanku dan membuangku setelah kamu bosan!"
"Sebaiknya, kita sudahi saja perbincangan kita di sini. Aku ... tidak mau berurusan denganmu lagi," tukas Danu dengan tajam. Detik berikutnya, ia pun berbalik dan meninggalkan Mega yang terpuruk karena hatinya telah patah.
Bagaimana bisa orang yang selama ini dia cintai dengan begitu kejam malah menghancurkan semuanya. Membuat kompromi untuk cinta yang ia pertahankan. Selama ini, dia selalu memberikan apa pun pada Danu, bahkan kehormatannya sekaligus. Rasanya, pantas saja jika ia meminta imbalan yang berbetuk. Namun, apa yang ia dapatkan untuk perjuangan dan pengorbanannya? Penghianatan dan rasa sakit.
"Lihat saja Danu! Aku akan menghancurkan wanita itu. Aku tidak akan membiarkan kalian bersama!" teriak Mega yang sama sekali tidak digubris oleh Danu. Pria itu terus melangkah dan menulikan telinganya.
"Argh!" Dengan kalap, ia pun menghancurkan apa saja yang ada di dekatnya.
Bersambung
__ADS_1