Tidak Ada Apa-apa

Tidak Ada Apa-apa
Chapter 6. Tuduhan


__ADS_3

"Pergi ke kantin, yuk!” Dengan penuh semangat, Syifa mengajak Aya untuk pergi mengisi perutnya yang mulai keroncongan. Namun, gadis yang sedang diajak bicara itu malah diam saja. Seolah mengabaikannya dengan sengaja.


“Ayolah. Nanti, aku traktir, deh,” pinta Syifa bersikukuh, memaksa Aya untuk ikut bersamanya.


“Aku sedang sibuk sekarang. Kalau kamu mau pergi, pergi saja sendiri,” tolak Aya dengan nada ketus.


“Kok gitu, sih,” lirih Syifa sambil mengerucutkan bibirnya sebagai tanda kecewa.


Syifa mengalah. Membujuk Aya bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Butuh kesabaran lebih dan juga memiliki stok kesabaran yang cukup banyak. Tak ingin membuat Aya semakin kesal karena terus-terusan dipaksa. Akhirnya, Syifa pun memutuskan untuk pergi ke kantin sendiri, hingga---


“Syifa!” panggil seorang cewek yang tiada lain adalah teman satu kelasnya sendiri. “Mau ikut kami ke kantin?” ujarnya sambil menunjuk ke belakang---tepat ke arah kedua temannya yang sedang menunggu di ambang pintu yang terhubung antara koridor dan juga ruang kelas. Kedua cewek yang belum Syifa ketahui namanya itu tampak melambaikan tangan ke arahnya. 


Sambil mengulum senyumnya, Syifa pun membalas dengan melambaikan tangannya pula. Sebelum pergi, Syifa pun meminta. “Aku ke kantin. Kamu mau pesen sesuatu?” 


“Nggak,” jawab Aya, singkat.


“Oke.” Syifa mencebik, sebal. Memang susah, ya, bicara baik-baik sama dengan Aya. Gadis itu selalu saja membuat Syifa gemas dengan tingkah lakunya yang selalu dingin dan kadang ketus. Tapi, karena sifatnya itulah, Syifa merasa semakin tertantang untuk mencairkan kebekuan yang mengitari sekeliling Aya.


Sesaat setelah Syifa menjauh darinya, Aya pun menoleh ke arah gadis itu. Ada perasaan sedih yang tersirat dalam hatinya saat ini. Dia sangat ingin berteman dan memiliki seorang teman. Akan tetapi, ia tidak ingin akrab dengan orang lain lagi. Karena setiap kali ia mencoba akrab dengan orang lain, sesuatu yang buruk pasti akan terjadi pada orang tersebut.


***


Setiap waktu istirahat tiba, kantin sekolah ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Bahkan, di jam pelajaran saja, masih banyak anak-anak yang berkerumunan di kantin sekolah. Entah itu untuk membeli makanan atau sekadar kumpul di luar, daripada harus di dalam kelas yang membatasi gerak mereka.


“Kamu mau pesan apa, Syifa?” Tanya Aira---seorang gadis berkerudung panjang pada Syifa.


Syifa mengetuk dagunya dengan perlahan. Sebuah kebiasaan yang selalu terjadi saat otaknya mulai memikirkan sesuatu. “Aku mau pesan pempek. Adakah?”


“Pempek?” tanya Desya sambil menyipitkan matanya. 


“Nggak ada, ya?”


“Ada kok. Kamu tunggu di sini, ya. Biar nanti aku yang pesankan,” ujar Aira menawarkan diri untuk membelikan makanan yang teman-temannya pesan.


Sambil menunggu pesanan tiba. Desya dan Ika mengajak Syifa untuk berbincang mengenai dirinya dan sekolahnya di masa lalu. Mereka merasa sedikit penasaran, kenapa Syifa mau dekat dengan seseorang seperti Aya.


“Kamu dan Aya sudah lama temenan, ya?” tanya Desya mengawali perbincangan di siang yang cukup terik itu.


“Nggak, kok. Kami hanya sekali bertemu di perpustakaan beberapa hari yang lalu. Memangnya kenapa?"


Jika diingat-ingat, semua orang memang selalu bersikap aneh saat melihat Aya. Apa yang sebenarnya mereka takuti dari Aya, sampai-sampai banyak yang menghindar darinya seperti ini. Syifa jadi penasaran sekarang.

__ADS_1


"Bagaimana menjelaskannya, ya. Aya itu sedikit aneh. Ada rumor yang mengatakan kalau dia itu bisa melihat makhluk halus. Barangsiapa yang disentuh olehnya, dia pasti bakal celaka dan kena sial," tutur Desya dengan penuh kehati-hatian. Karena bagaimanapun juga yang ia dengar itu hanyalah rumor semata. Dia bahkan tak pernah berani untuk dekat-dekat dengan gadis bermata tajam itu.


"Aya itu juga jarang tersenyum, bicara dan selalu saja menyendiri. Kami jadi takut saat melihat wajahnya," sahut Ika turut berceletuk.


Syifa menghela napas dengan kasar. Antara kesal dan juga kasihan. Mereka semua sama saja. Tak punya hati dan perasaan.


Apa seperti ini hari-hari yang Aya jalani? Hanya ada cacian dan pandangan buruk selalu saja dilontarkan oleh orang-orang yang tak menyukainya. Padahal kenyataannya, Aya tidaklah seburuk seperti apa yang mereka katakan itu.


"Kalian tahu ... kalian itu lebih mengerikan karena memandang orang dengan sebelah mata seperti ini? Apa yang kalian dapatkan dengan membicarakan keburukan orang lain?" ujar Syifa yang akhirnya meledak juga. Kupingnya bahkan terasa panas. Gara-gara harus mendengarkan omong kosong yang mereka bicarakan itu.


Wajah Ika dan Desya tampak memerah. Entah malu atau marah, Syifa tak peduli. Dia hanya ingin meluapkan kekesalannya saja.


"Tapi, kami hanya mengatakan apa yang orang lain bicarakan saja. Kami tidak bermaksud menjelek-jelekkan siapapun," sela Ika membuat alasan untuk membela diri.


Syifa tertawa sumbang. Rasanya percuma saja berdebat dengan orang yang mau menang sendiri seperti kedua gadis ini. Belum ada satu hari dia bersekolah di sini. Namun, orang-orang ini sudah membuatnya kehilangan akal.


Syifa sontak bangkit. Waktu yang sangat pas saat Aira kembali dengan membawa makanan dalam sebuah mangkuk bergambar ayam.


"Terima kasih, Aya," ucap Syifa sambil menyambar mangkuk yang berisi pesanannya miliknya. "Ah, iya. Aku lupa sesuatu. Kalian pernah mendengar slogan ini? Gosip itu diciptakan oleh orang yang dengki. Disebarkan oleh orang yang bodoh. Dan diterima dengan baik oleh orang yang idiot."


Ika dan Desya jelas marah mendengar perkataan mereka. Sementara Aira yang baru saja datang hanya melongo bingung, karena tak mengerti dengan suasana yang sudah terjadi di antara mereka.


"Bu, saya pesan lagi," kata Syifa pada pemilik kantin.


***


Aya menatap tajam pada layar laptop yang ditunjukkan oleh Mona, seorang guru Bimbingan Konsuling di sekolahnya.  Seorang guru yang sangat populer dengan gelar killer yang tersemat dalam dirinya.


"Itu aku. Apa yang salah dengan itu?" kata Aya setelah selesai melihat rekaman video yang ada di laptop tersebut. 


"Ada yang memberi laporan pada Ibu. Kalau kamu pergi ke gudang beberapa hari yang lalu. Apa yang kamu lakukan di sana, sendirian pula?" 


"Kenapa hanya aku?"


"He?" 


"Ibu tahu, bukan. Ada begitu banyak orang yang pergi ke gudang setiap harinya. Lalu, kenapa hanya aku yang ditanyakan?" ucap Aya mengulang pertanyaannya kembali.


"Kamu jangan mengalihkan pertanyaan Ibu. Jawab saja, apa yang kamu lakukan di sana? Apa benar, kamu menemui seseorang di sana? Lalu, untuk apa kamu menemuinya?" 


Aya tersungging sinis. Dia mulai paham titik permasalahan yang membuat ia harus terseret di tempat seperti ini. Sudah pasti, ada orang yang melihatnya pergi ke gudang beberapa waktu yang lalu. Entah apa motif di balik perbuatannya itu, ia malah merekamnya dan memberikan laporan palsu pada Mona untuk menyerang Aya secara tidak langsung.

__ADS_1


Selama ini, Aya itu tidak pernah tertarik untuk mengurusi atau ikut campur dengan hidup orang lain. Namun, jika sampai ada yang berani mengusik kehidupannya. Maka, Aya tidak akan pernah tinggal diam. Siapapun orang itu, dia pasti akan menyesal karena sudah masuk ke dalam kehidupan Aya dan membuatnya merasa sangat terusik.


"Aya. Ibu tidak akan mempersulitmu kalau kamu mau mengakui kesalahanmu sendiri. Kamu anak yang sangat baik dan cukup berprestasi di sekolah ini. Kami semua sangat menghargai kerjasamamu untuk sekolah. Tapi, untuk tindakan kriminal atau sebuah pelanggaran. Sekolah akan tetap bertindak tegas untuk itu.”


"Apa yang harus aku akui, Bu? Aku bahkan tidak tahu, apa yang sudah aku perbuat, sampai-sampai aku dianggap sudah melanggar peraturan sekolah seperti ini?"


"Apa kamu tidak lihat? Di layar ini, jelas-jelas kamu sedang menemui seseorang. Siapa yang kamu temui itu? Dan, kenapa kalian harus bertemu di dalam gudang kalau bukan untuk melakukan sesuatu hal yang tidak baik?" cerca Mona semakin membuat posisi Aya kian tersudut.


Aya berusaha untuk tetap menjaga kesabarannya. Menahan amarah pada titik yang hampir saja meledak. Jika dia terbawa emosi, itu hanya akan membuat posisinya semakin salah di mata Mona. "Sebelum aku menjawab pertanyaan Ibu. Aku akan mengatakan sesuatu hal yang sangat penting. Karena ini menyangkut dengan nyawa Ibu."


"Apa kamu sedang mengancam saya?" 


"Tidak-tidak. Mana berani saya mengancam Ibu. Saya hanya ingin memperingati Ibu. Jika wanita yang Ibu tabrak beberapa hari yang lalu, sedang mengincar nyawa Ibu. Dia tidak pernah jauh dari Ibu. Dia membutuhkan waktu yang pas untuk membalas dendam. Dan waktu yang pas itu, adalah hari ini. Saya harap, Ibu bisa berhati-hati dan menjaga diri Ibu dengan baik."


"Kamu jangan mengatakan sesuatu yang konyol seperti itu pada saya, Cahaya. Kamu pikir, saya akan percaya dengan apa yang kamu katakan itu?" ucap Mona berpura-pura tidak terpengaruh sama sekali. Padahal faktanya, tangan dan jantung wanita itu sudah terlihat bergetar dengan sangat hebat. Dan Aya bisa melihatnya dengan sangat jelas.


"Ibu memang sangat polos, ya. Apa Ibu tidak pernah mendengar rumor tentang saya? Saya Cahaya Zahira Marwah, Bu. Seorang gadis aneh yang bisa melihat makhluk halus dan masa depan seseorang. Dan orang yang saya temui di gudang beberapa hari yang lalu itu adalah Putri ... korban pelecehan seksual yang mati beberapa tahun yang lalu."


Deg!


Jantung Mona semakin berdetak tak karuan. Disertai dengan bulu roma yang meremang dan menggigil ketakutan. Seluruh kekuatannya seakan ditarik hingga membuat tubuh wanita itu melemah dan bergetar hebat.


"Apa urusanku sudah selesai, Bu Mona? Jika sudah, aku akan kembali ke kelasku sekarang," kata Aya mengundurkan diri dari hadapan Mona.


Mona tak menjawab. Dia termenung dalam rasa takut yang membuatnya tenggelam.


Ketakutannya bukan tanpa alasan. Karena faktanya, dia memang sudah menabrak seorang wanita beberapa hari yang lalu.


Keesokan harinya, ia ditemukan dalam keadaan separuh wajah yang sudah tertutupi oleh cairan kental berbau amis itu. Pakaian yang ia kenakan saat itu juga telah ternodai oleh darahnya sendiri. Sungguh malang nasibnya. Dia meninggalkan begitu banyak kesedihan dan air mata untuk keluarga yang tercinta.


Kriek!


Sesaat setelah pintu ruangan tersebut terbuka, semua mata sontak tertuju pada gadis tanpa ekspresi itu. Rasanya aneh saja, jika seorang siswa berprestasi di sekolah dipanggil ke ruang BK, satu-satunya ruangan yang paling dijauhi oleh siapapun. Kecuali, bagi mereka yang memang suka membuat masalah.


Sebagian dari mereka ada yang bersorak dalam hati, sebab Aya---akhirnya tercatat sebagai siswa yang bermasalah dan dipanggil ke ruang BK. Paling tidak, dengan kejadian ini, mereka memiliki gosip terhangat untuk disebarkan pada anak-anak satu sekolah.


Aya terus melangkahkan kakinya tanpa memedulikan tatapan benci yang ditunjukkan oleh orang-orang yang sudah lama menyimpan dengki itu. Ia harus fokus untuk menyelesaikan masalah yang sedang menjeratnya saat ini. Mencari dalang yang sudah mencemarkan nama baiknya. Dan memperingati orang itu untuk menjaga sikapnya pada siapapun, terutama pada Aya sendiri.


"Ayaaa!" teriak Mega yang tiba-tiba muncul di waktu yang tepat. "Hei! Ada apa dengan wajah itu? Aku seperti melihat petir di dalamnya," cibir Mega dapat membaca aura kemarahan dalam diri Aya.


Melirik tajam pada Mega yang melayang di depannya, ia pun berkata, "Kamu harus membantuku, Mega."

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2