
Perumpamaan bagi bangsa jin yang mencoba bermain-main dalam tubuh manusia itu, diibaratkan bagai seekor hiu yang terjebak di daratan. Sekuat dan sebahaya apa pun mereka. Mereka tidak akan menang pada akhirnya.
*Ust. Rido Abu Fatan*
***
"Siapa kamu?"
"Aku tidak punya urusan denganmu. Menyingkir atau aku akan membunuhmu!" gertak Aya dengan suara yang terdengar sangat berat dan juga berbeda.
Tidak. Dia bukanlah Aya. Dia adalah makhluk dari dunia lain yang sudah berhasil menguasai dan mengendalikan tubuhnya. Namun syukurlah, Husna dan para relawan santriwati dengan sigap memegang tangan dan kaki Aya sebelum gadis itu mengamuk.
"Saat ini, aku memintamu dengan baik-baik. Keluarlah dari tubuh gadis ini dan jangan mengganggunya lagi!" tegas Ali saat memerintahkan makhluk tersebut untuk pergi dari tubuh Aya.
"Aku tidak mau keluar dari tubuh gadis ini, karena aku sangat menyukainya. Aku akan selalu menjaganya dan melindunginya dari segala macam bahaya."
"Melindungi katamu? Jangan berdusta! Justru kebalikannya ... kamu sudah berbuat zalim pada gadis ini. Dengan masuk dan tinggal di dalam tubuhnya, itu sudah membuktikan, bahwa kamu adalah jin kafir. Keluarlah dengan baik-baik atau akan kusiksa kamu dengan kalimat Allah."
"Aku tidak pernah takut dengan manusia lemah sepertimu!"
"Baiklah, kalau itu maumu." Setelah mengatakannya, Ali kembali melantunkan ayat-ayat suci yang mampu membuat si jin merasa kepanasan. Seakan-akan ada yang api yang berkobar di dalam tubuhnya.
وَقَالَ فِرْعَوْنُ ائْتُوْنِيْ بِكُلِّ سٰحِرٍ عَلِيْمٍ {٧٩}
79. Dan Fir'aun berkata (kepada pemuka kaumnya), "Datangkanlah kepadaku semua pesihir yang ulung!"
فَلَمَّا جَاۤءَ السَّحَرَةُ قَالَ لَهُمْ مُّوْسٰٓى اَلْقُوْا مَآ اَنْتُمْ مُّلْقُوْنَ {٨٠}
80. Maka ketika para pesihir itu datang, Musa berkata kepada mereka, "Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan!" {QS. Yunus ayat 79-80}
Jin tersebut memberikan reaksi yang tak terduga. Bukannya memberontak atau menjerit kesakitan seperti sebelumnya, dia malah tertawa besar hingga suaranya terdengar menggema di langit-langit masjid tersebut.
"Lakukan apa pun yang ingin kamu lakukan! Itu tidak akan berpengaruh padaku!" angkuh makhluk itu dengan sengaja menantang kemarahan Ali.
Ali tak menggubrisnya sama sekali. Sebab dia tahu, bila apa yang dilakukan makhluk itu hanyalah sebuah tipu daya semata. Tepatnya, dia akan membuat sebuah sandiwara agar si peruqyah menjadi putus asa dan kalah. Yang bisa Ali lakukan hanyalah meneruskan bacaannya kembali. Paling tidak, sampai makhluk itu jera dan segera hengkang dari dalam tubuh Aya.
فَلَمَّآ اَلْقَوْا قَالَ مُوْسٰى مَا جِئْتُمْ بِهِ ۙالسِّحْرُۗ اِنَّ اللّٰهَ سَيُبْطِلُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِيْنَ {٨١}
81. Setelah mereka melemparkan, Musa berkata, "Apa yang kamu lakukan itu, itulah sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan kepalsuan sihir itu. Sungguh, Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang yang berbuat kerusakan."
وَيُحِقُّ اللّٰهُ الْحَقَّ بِكَلِمٰتِهٖ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُوْنَ {٨٢}
82. "Dan Allah akan mengukuhkan yang benar dengan ketetapan-Nya walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukainya." {QS. Yunus ayat 81-82}
__ADS_1
"Hentikaaan! Kau benar-benar membuatku muak!"
"Tekan ulu hatinya."
Setelah mendengar perintah dari suaminya. Husna langsung menekan ulu hati Aya dengan lemah. Tekanan yang tidak dimaksudkan untuk menyakiti Aya. Karena tekanan yang diiringi dengan lantunan ayat suci tersebut, sudah cukup membuat makhluk itu tersiksa.
"Hentikaaan!" teriak makhluk itu lagi.
"Tidak takutkah kamu dengan azab Allah sebab kezaliman yang telah kamu perbuat ini?" Ali kembali mengajak makhluk itu berdialog.
"A--aku hanya melakukan tugasku saja. Aku diperintahkan untuk menyakiti gadis ini." Dia menjawab dengan suara yang terbata-bata dan sangat kelelahan.
"Apa yang akan terjadi, jika kamu tidak menuruti tuanmu?"
"Dia tidak akan memberiku makan dan dia pasti akan menyakitiku," ucap makhluk itu dengan sorot mata yang ketakutan.
Entah perkataannya benar ataupun tidak, Ali tidak memercayainya sama sekali. Ia hanya harus berjaga-jaga dan tetap mawas diri, jika makhluk itu sampai menipunya dan balik memberikan serangan balik.
"Apa agamamu sebenarnya?" Ali tahu bila makhluk tersebut bukanlah jin muslim. Akan tetapi, ia tetap menanyakannya juga. Ia hanya ingin mendengarkan jawaban pastinya dari makhluk itu.
"Aku tidak punya agama."
"Kasian sekali kamu. Apa kamu tidak ingin memeluk agama Islam dan terbebas dari tuanmu itu?"
Sampai detik ini, selama dia mengabdi pada tuannya itu, makhluk itu tidak pernah mendapatkan kebahagiaan sekali pun. Hanya ada tekanan yang membuatnya benar-benar muak dan lelah. Namun, dia tak punya pilihan lain. Karena jika dia menolak dan membantah, maka dia akan dihabisi oleh tuannya.
"Apakah Allah akan mengampuni dosa-dosaku?"
"In syaa Allah. Allah pasti akan mengampuni dosa-dosamu jika kamu mau bertaubat dan tidak mengganggu manusia lagi."
"Apakah Allah akan menyelamatkanku dari tuanku?"
"In syaa Allah. Allah pasti akan menyelamatkan hamba-Nya yang taat dan meminta pada-Nya dengan bersungguh-sungguh."
"Baiklah. Aku mau masuk ke dalam agamamu. Apa yang harus aku lakukan?"
"Kamu sendiri atau ada yang lain bersama denganmu?" selidik Ali kemudian.
"Aku bersama dengan teman-temanku yang lain," jawab Makhluk tersebut yang tiada lain adalah komandan dari pasukan yang sudah dikirimkan untuk menyakiti Aya.
"Ajaklah mereka untuk bergabung dan memeluk Islam bersamamu."
"Aku akan mencobanya." Setelah mengatakannya, makhluk itu menghilang tanpa jejak. Membuat Aya jatuh pingsan di dalam pangkuan Husna.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, makhluk yang tidak menyebutkan namanya itu kembali dan mengatakan, bahwa seluruh pasukannya setuju dan bersedia untuk memeluk Islam. Setelah menyatakan kesediannya tersebut, Ali lantas menuntun mereka untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.
Meski dengan suara yang terputus-putus saat mengikrarkan diri melalui dua kalimat syahadat tersebut. Namun, semuanya berjalan dengan lancar. Kini, komandan jin beserta pasukannya tersebut telah resmi memeluk Islam.
"Selamat kalian telah memeluk agama Islam," ucap Ali memberikan selamat sebagai makhluk Allah yang sama-sama memeluk agama yang telah diridai-Nya.
"Terima kasih, Tuan. Kamu telah mengenalkan kami pada keindahan Islam serta melepaskan kami dari belenggi yang selama ini membuat kami terikat."
"Jangan memanggilku Tuan. Karena kita sama. Engkau diciptakan Allah untuk beribadah kepada-Nya. Begitu pula denganku. Sekarang, keluarlah dari tubuh gadis ini dan mulailah untuk mencari kehidupan yang baru."
Tidak menunggu waktu lama. komandan beserta pasukannya itu bergegas pergi dari aliran darah gadis muda itu. Saat itu, dia tidak membaca ayat suci seperti yang sebelum-sebelumnya. Dia hanya mengucapkan kalimat ta'awudz dan kalimat suci yang tertera jelad di dalam Al-Qur'an.
حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ {١٧٣}
"Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung." {QS. Ali Imran ayat 173}
Hanya dalam waktu hitungan detik, Aya berhasil bangun dan mendapatkan kesadarannya kembali.
"Apa yang terjadi denganku?" tanya Aya linglung.
"Alhamdulillah. Akhirnya, kamu sudah sadar, Nak," kata Husna yang turut merasa lega.
Untuk memastikan jika Aya benar-benar sembuh dari sakitnya, Ali pun bertanya, "Apa perasaanmu sekarang, Aya?"
Aya yang terlalu lemah untuk menjawab hanya dapat menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Apa kamu bisa melihat mereka lagi?" Mereka yang Ali
maksud adalah makhluk tak kasat mata yang selalu menampakkan dirinya di hadapan gadis itu.
Aya melemparkan pandangannya ke segala penjuru masjid itu. Dia ... dia tidak melihat makhluk apa pun di sana. Bahkan makhluk yang selalu bersama Syifa juga menghilang, tak lagi terlihat.
"Apa kamu melihat sesuatu?" Ali dan Husna turut melayangkan pandangan ke arah anak mereka yang masih khusyuk mendengarkan suara merdu milik Fajri.
Aya diam. Dia tidak bisa mengatakan apa pun karena takut akan menyakiti hati orang tuanya Syifa.
"Kenapa kamu diam saja, Aya? Katakan saja pada kami. Jangan takut!" tutur Husna dengan suaranya yang lembut.
"Sebelumnya, aku selalu melihat seorang gadis berdiri di samping Aya. Tapi sekarang, gadis itu tidak ada lagi. Aku tak bisa melihatnya lagi." Suara Aya terdengar ragu dan sedikit terbata-bata.
"Alhamdulillah," ucap Husna dan Ali secara bersamaan.
Aya kembali bungkam, sedangkan matanya lurus memandang ke arah Syifa. "Maafkan aku. Aku tidak bisa memberitahu kalian, jika yang kulihat waktu itu adalah Syafa."
__ADS_1
Bersambung