Tidak Ada Apa-apa

Tidak Ada Apa-apa
Chapter 2 - Masa Lalu Kelam


__ADS_3

Dukung cerita ini dengan cara tinggalkan vote, Rate 5, like dan komentarnya.


***


Hidup berdampingan dengan makhluk tak kasat mata?


Why not? Aya sudah merasakannya dan ia baik-baik saja dengan kemampuan yang dimilikinya itu.


Aya tidak pernah merasa takut atau terganggu dengan kehadiran makhluk-makhluk itu. Mereka tidak seseram seperti apa yang orang-orang katakan. Karena Aya selalu melihat mereka tidak lebih seperti manusia yang memiliki perwujudan tak biasa, seperti darah wajah pucat, darah yang mengalir di bagian tubuh tertentu, pakaian yang sudah usang, atau bahkan, memiliki anggota tubuh yang tidak lengkap lagi.


Bagi Aya, mereka itu hanyalah jiwa-jiwa tidak tenang yang mati dengan cara yang tidak biasa, seperti bunuh diri, dibunuh dan mati karena kecelakaan. Selama Aya tidak mengusik atau mengganggu keberadaan makhluk dunia lain, mereka pun tidak pernah mengganggu Aya sama sekali.


Mereka hanyalah jiwa malang yang belum siap untuk meninggalkan dunia. Hanya saja, manusia membuat keberadaan mereka seperti ancaman. Ketakutan pada hantulah yang membuat manusia tidak menyukai keberadaan mereka.


Terlebih lagi, Aya memiliki Mega di sampingnya. Entah apa alasannya? Ia cukup disegani di kalangan para hantu. Padahal, Mega itu hanyalah hantu perempuan yang tidak ada bedanya dengan manusia berkelamin wanita lainnya.


Tiba di sekolah, Aya langsung membawa motor matic-nya ke tempat parkit yang ada di samping pos satpam. Setelah melepaskan helm yang melindungi kepalanya, Aya segera melenggang pergi menuju ke kelasnya yang ada di lantai dua gedung sekolah.


Aya itu memiliki aura yang menarik bagai magnet. Hanya saja kediamannya dan sikap dinginnya itu membuat semua orang harus berpikir dua kali untuk menyapanya. Terlebih lagi, rumor tidak sehat yang mengelilingnya menjadi santapan sehari-hari yang harus Aya dengar melalui bisikan-bisikan tak kasat mata.


Namun, Aya tidak pernah peduli dengan pandangan orang lain tentang dirinya. Karena ia akan menjalani hidup seperti apa yang ia inginkan. Lagi pula, ada begitu banyak temannya dari dunia lain yang bersedia untuk membalaskan dendam Aya pada mulut-mulut jahat manusia.


Di mata manusia normal, mungkin Aya sendirian, tidak punya teman dan terlihat begitu angkuh. Namun, tidak dengan mahluk-makhluk gaib yang tinggal di sekolah itu. Seluruh makhluk gaib yang tinggal di sekolah tersebut adalah temannya Aya. Mereka dekat dengan Aya.


Seisi kelas yang semula ramai mendadak sunyi manakala Aya melangkahkan kakinya ke dalam ruangan berkapasitas untuk 40 orang tersebut.


"*Kenapa cewek aneh itu harus masuk sekolah hari ini? Kenapa dia nggak mati aja sekalian?"


"Coba lihat dia! Udah aneh, sok cantik pula. Mending mati aja sana!"


"Kalau aku jadi Aya, aku nggak akan mau sekolah lagi. Ya, kali, orang-orang nggak ada yang seneng sama dia. Kecuali cowok mata keranjang yang suka melihat barang cantik*."


Ada begitu banyak hati yang dengki saat melihat Aya. Ada mata yang begitu iri dengan kecantikan gadis itu. Ada mulut-mulut usil yang hendak menjatuhkannya.


Saat Aya duduk di kursi paling ujung yang berada di depan meja guru, seisi kelas kembali riuh dengan pekerjaan mereka masing-masing.


Aya duduk di kursinya. Mengeluarkan sesuatu dari dalam tas, kemudian meletakannya di atas meja. Itu adalah sebuah buku tebal yang ia penjam kemarin siang. Saat Aya mulai tenggelam ke dalam buku itu, tiba-tiba saja---


BRUK!


Terdengar suara hantaman yang cukup keras. Dan itu sukses membuat fokus Aya teralihkan. Aya menoleh ke asal suara dan mendapati teman sekelasnya terjengkang di atas lantai.


"Hei, kenapa kamu menjegal kakiku!" teriak perempuan itu sambil merintih kesakitan.


"Aku? Mencegal kakimu? Yang benar saja! Aku bahkan tidak melihatmu lewat!" elak perempuan lainnya yang tidak terima dituduh begitu saja.


Aya menyipitkan mata dengan tajam. Dia sama sekali tidak tertarik dengan pertengkaran yang terjadi pada kedua gadis itu. Tapi ia tidak suka melihat apa yang sudah Mega lakukan pada kedua gadis itu.


Saat Mega memandang ke arahnya, gadis itu menggeleng. Seolah memberikan isyarat jika apa yang ia lakukan adalah salah. Berkecil hati karena perbuatannya seakan-akan tidak dihargai, Mega terlihat memanyunkan mulutnya. Ia memalingkan wajahnya dari tatapan Aya, sebelum akhirnya menghilang dengan meninggalkan asap putih yang mengebul di udara.


Aya mengembuskan napasnya dengan kasar. Sepertinya, dia sudah membuat Mega sedih.


***

__ADS_1


Satu-satunya tempat teraman yang jarang terjamah oleh manusia adalah gudang sekolah. Aya akan pergi ke sana, untuk memanggil Mega dan membujuknya agar tidak merajuk lagi.


"Mega! Di mana kamu Mega?" Suara Aya menggema ke segala penjuru ruangan itu.


Sepi, sunyi dan lembab. Tempat yang cocok sekali untuk berkumpulnya para hantu. Dan sekarang, ia merasa sudah menjadi perhatian makhluk-makhluk tak kasat mata tersebut.


"Mega! Aku ingin bicara denganmu!"


Tetap tidak ada jawaban lagi dari si empunya nama.


"Okey, Mega. Aku tidak akan marah padamu. Tapi kumohon, keluarlah!"


Tiba-tiba saja, kepulan asap putih muncul di sekililing Aya. Detik berikutnya, seorang gadis cantik---dengan rambut yang dikuncir satu---menampakkan dirinya di hadapan gadis itu.


Bukannya senang---Aya justru merasa kecewa. Karena yang muncul di hadapannya saat ini bukanlah Mega. Melainkan sahabatnya yang lain, yaitu Putri.


Putri adalah salah satu hantu yang mendiami sekolah ini. Dia mati karena dibunuh oleh penjaga sekolah yang sejak lama menaruh hati padanya. Ia digagahi sebelum dibunuh dengan menggunakan benda tajam. Dan seragam putih abu-abu yang melekat di tubuhnya adalah saksi bisu betapa kejam pembunuhan gadis malang itu. Setelah membunuh korbannya, pelaku tersebut melarikan diri dan menjadi buronan.


Berbulan-bulan ia tidak berhasil ditemukan oleh pihak berwajib. Saat mereka sudah menyerah dan hendak menutup kasus Putri, si pelaku akhirnya menyerahkan diri pada pihak kepolisian. Dia datang dengan keadaan abnormal, dengan gestur tubuh yang selalu menggigil ketakutan, seolah ada sesuatu yang mengincar nyawanya.


Kematian Putri merupakan sejarah dan tragedi yang nyaris menghancurkan nama sekolah. Ada banyak kesedihan yang menyertai kematiannya, entah itu dari keluarga tercinta ataupun teman yang dekat dengannya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, berita itu perlahan demi perlahan lenyap dan tak pernah diungkit lagi.


"Putri. Pasti Mega yang sudah menyuruhmu untuk menemuiku, kan? Di mana dia sekarang? Aku ingin bicara dengannya," pintanya pada gadis itu. Dia tak bisa tenang, bila Mega benar-benar marah padanya.


"Maaf, Aya. Mega tidak mau bertemu denganmu sekarang."


"Apa dia marah padaku?"


"Dia tidak marah. Hanya saja, ia memang merasa sedih karena sudah membuatmu kesal."


"Aku akan menyampaikannya padamu, setelah ia kembali."


Kedua alis Aya berkerut. "Mega pergi ke mana?"


"Aku tidak tahu. Dia tidak mengatakannya padaku. Tadi, dia hanya berpesan untuk memberitahumu kalau dia tidak marah. Setelah itu dia pergi, entah ke mana."


Aya menghela napas kasar. Dia tidak tahu, apa yang Mega pikirkan saat ini? Dan apa yang gadis itu inginkan? Tapi, mengingat Mega tak lagi menaruh marah pada Aya. Ia bisa bernapas dengan lega sekarang.


"Baiklah. Aku harus segera pergi, sebelum ada yang datang kemari," pungkas Aya memutuskan untuk meninggalkan gudang lebih cepat.


***


Pergi ke perpustakaan kota adalah kegiatan rutin yang Aya lakukan setiap pulang dari sekolah. Ada begitu banyak buku-buku menarik yang bisa dibaca dan dipinjam untuk dibawa pulang. Dan Aya tidak akan melewatkan satu hari pun untuk tidak mampir dan sekadar mencari novel terbaru untuk menemani hari-harinya yang membosankan.


Dengan perlahan, sepasang mata Aya mulai menyusuri buku-buku yang letaknya berada di rak paling ujung perpustakaan.


Setelah mencari-cari dari sekian banyaknya buku yang tersusun di sana, akhirnya, Aya berhasil menemukan buku yang ia cari. Sebuah novel bergenre misteri dan memiliki halaman yang cukup tebal.


Namun, saat Aya hendak mengambil buku itu. Tiba-tiba saja, ia tidak sengaja menyentuh tangan seseorang yang sepertinya juga menginginkan buku tersebut. Detik berikutnya, Aya merasakan sesuatu yang aneh terjasi padanya. Tubuhnya menggigil dan pandangannya mengabur. Dalam sekejap mata, ia melihat sesuatu yang sangat mengerikan.


Layaknya seorang indigo, Aya juga bisa menerawang masa depan seseorang hanya dengan menyentuh tangannya. Maka dari itu, dia selalu menghindar untuk bersentuhan dengan orang lain. Bukan karena ia tak suka. Tapi ia tidak kuat untuk melihat masa depan seseorang. Terlebih, jika masa depan itu adalah suatu tragedi atau kematian.


Setelah beberapa saat kemudian, Aya berhasil kembali pada dirinya yang semula.

__ADS_1


"Maaf," kata Aya langsung menarik tangannya dengan cepat. Ia ingin segera pergi dari sana. Namun, si gadis berkerudung panjang itu malah memanggilnya.


"Kamu sakit?" tanya wanita itu, simpati. Bagaimana tidak. Tangan Aya terasa begitu dingin dan juga berkeringat. Jika dia tidak sakit? Lalu, apa namanya?


Aya hanya diam. Dia tak biasa, bicara dengan orang asing seperti ini. Lantas, ia pun memilih pergi dan pergi ke toilet untuk mencuci mukanya yang mendadak pucat.


Aya bisa mendengar denyut jantungnya berdetak cepat. Napasnya pun serasa naik turun, tak beraturan. Sudah lama ia tidak merasakan hal yang bersangkutan dengan nyawa seseorang. Dan itu, membuat buku-buku jemarinya bergetar hebat.


"Kamu harus tetap tenang Aya. Wanita itu bukan siapa-siapa kamu. Dia tidak ada hubungannya denganmu. Jangan mencoba untuk mengurusi takdir orang lain," bisik Aya pada bayangannya di dalam cermin. Ia bingung dengan perasaannya. Semuanya seakan serba salah.


FLASHBACK


Beberapa tahun sebelumnya, Aya memiliki seorang sahabat yang sangat baik. Namanya Dinda dan dia adalah satu-satunya orang yang mau berteman dengannya. Bahkan, Dinda masih mau menerima Aya, meski ia tahu mengenai kekurangan Aya yang bisa berinteraksi dengan makhluk gaib.


"Kamu jangan pergi ke mana-mana dulu untuk sekarang, Dinda," pinta Aya dengan sangat.


"Sudah lama aku ingin pergi ke sana, Aya. Tapi, kenapa kamu malah melarangku untuk pergi? Apa kamu tidak suka, kalau aku pergi dan bersenang-senang?" tanya Dinda, kecewa.


Dinda pikir, Aya sudah iri padanya karena masih memiliki kedua orang tua yang utuh. Sementara Aya, orang tuanya akan resmi bercerai dalam waktu beberapa hari lagi.


"Aya senang kalau Dinda juga senang. Tapi, akhir-akhir ini Aya mimpi buruk, kalau Dinda akan mengalami kecelakaan dan mati." Aya mengungkapkan alasan yang menbuatnya gelisah akhir-akhir ini. Namun, Dinda malah salah paham dan semakin marah pada Aya.


"Aya doain Dinda cepet mati, ya?"


"Bukan begitu, Dinda."


"Aya jahat. Dinda nggak mau lagi temenan sama Aya!" marah Dinda yang langsung melarikan diri, meninggalkan Aya yang merasa sedih.


Beberapa hari kemudian, Aya mendapatkan kabar dari orang tuanya. Jika sahabatnya itu mengalami kecelakaan tunggal dan tewas di tempat kejadian. Sementara kedua orang tuanya selamat dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit terdekat.


"Kamu memang anak pembawa sial! Kelahiranmu hanyalah sebuah kutukan! Apa tidak cukup kamu membuat orang tuamu bercerai? Sampai-sampai, kamu mengutuk anakku untuk cepat mati!" teriak ibunya Dinda yang tiba-tiba muncul dan membuat keonaran di rumahnya.


"Jaga mulutmu itu! Anakku tidak pernah mengutuk siapapun. Anakku bukanlah pembawa sial atau kutukan!" balas Asya tak kalah ketus. Seorang ibu mana yang akan tahan saat ada seseorang yang menghina anaknya? Siapapun pasti tidak akan terima diperlakukan seperti itu.


"Semua orang memperingatkanku untuk tidak berteman dengan anakmu. Tapi, aku tidak mendengarkan mereka dan malah mengijinkan Dinda untuk berteman dengan si pembawa sial ini. Namun, apa yang malah dilakukan oleh putrimu? Dia mengatakan kalau anakku akan mati karena kecelakaan. Dan itu benar-benar terjadi. Anakku tewas karena kecelakaan yang kami alami."


"Kamu sadar dengan apa yang kamu katakan itu? Kematian anakmu itu adalah takdir dan kamu tidak bisa menyalahkan Aya untuk apa yang tidak pernah dia lakukan!"


Wanita itu diam. Ia kehabisan kata-kata setelah mendengar pembelaan Asya untuk putri tunggalnya itu. Namun, karena rasa ego dan bisikan setan masih bergelayut dalam dadanya. Membuat wanita itu kehilangan akal untuk bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.


"Aku berharap tidak akan bertemu dengan kalian, terutama anak pembawa sial itu. Jika aku melihatnya lagi, aku tidak akan segan-segan untuk menghabisinya saat itu juga!" ancam wanita itu tidak main-main.


Sejak saat itu, Asya memutuskan untuk pindah rumah dan membawanya jauh dari tempat yang tak mengharapkan keberadaannya lagi. Sejak saat itu pula, Aya memutuskan untuk belajar secara home scholling dan tidak berteman dengan siapapun.


FLASHBACK END


Aya menghela napasnya yang terasa berat. Matanya yang berkaca-kaca merefleksikan kondisi hatinya yang terluka parah.


Setelah perasaannya menjadi lebih tenang dan terkendali, Aya akhirnya memutuskan untuk bersikap peduli pada apa pun yang akan terjadi pada perempuan itu. Lantas, Aya pun memutuskan segera pulang dan mengistirahatkan tubuhnya yang begitu lelah. Mengurungkan niatnya untuk meminjam buku perpustakaan. Namun, tiba-tiba saja---


BRUK!


Terdengar suara tabrakan yang cukup keras dan mengundang kerumunan masa. Langkah Aya terhenti seketika. Tubuhnya gemetaran saat mengingat ramalan yang ia tunjukan pada wanita berjilbab tadi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2