Tidak Ada Apa-apa

Tidak Ada Apa-apa
Chapter 10. Keputusan


__ADS_3

Setiap kali Laila memikirkan Aya, yang terlintas hanya air mata dan juga penderitaan yang kian menyiksa. Setiap kali ia mencoba untuk melupakannya, ingatan itu akan selalu teringat dengan mudah.


Aya, tidaklah sejahat apa yang ia lihat. Buktinya, gadis itu mau mengakui kesalahan orang lain dan dijadikan tersangka untuk apa yang tidak pernah ia lakukan. Entah berapa banyak penderitaan yang harus Aya tanggung berkat dirinya?


Laila menghela napas berat. Dia jadi merasa bersalah sebab sudah melemparkan semua kesalahan pada Aya. Selama ini, dia terlalu egois ingin menjatuhkan orang lain. Tanpa pernah mau membuka mata bila orang tersebut jauh lebih kesulitan darinya.


Untuk itulah, Laila memutuskan untuk meminta maaf dan memperbaiki semuanya. Namun, ia tak berhasil menemukan Aya di manapun saat berada di sekolah. Dan sekarang, di sinilah ia berada. Di depan salah satu ruangan indikos putri yang jaraknya cukup dekat dengan sekolah mereka.


Tok tok tok!


Butuh waktu bagi Laila untuk menumbuhkan keberaniannya. Mengetuk pintu rumah orang lain dan meminta maaf padanya. 


Tok tok tok!


Satu kali, hening. Dua kali tak ada jawaban. Dan yang ketiga kalinya ia mengetuk pintu rumah itu. 


Pintu pun terbuka dan muncullah seorang gadis berwajah lesu tengah berdiri di hadapannya.


"Hai … Aya," sapa Laila dengan canggung.


Aya tak bereaksi atau menjawab apa pun. Dia hanya masuk, tanpa menutup pintu ruangannya sama sekali. Itu pertanda, jika Aya boleh masuk ke dalam rumah sederhananya itu.


Laila melemparkan pandangan ke segala pelosok rumah yang selama ini Aya tinggali. 


Suram, lembab, pengap dan minim pencahayaan. Bulu romanya meremang seketika. 


Rumah ini seperti tak pernah terurus sama sekali. Tapi, satu hal yang membuat Laila terbelalak kaget adalah … saat ia melihat tumpukan kardus dan sebuah koper besar yang berderet sejajar di depan pintu kamarnya.


"Apakah Aya berniat pindah?" pikir hati Laila.


"Silakan duduk di manapun yang kamu suka. Tapi maaf, aku tak punya air dingin untuk disuguhkan," kata Laila yang datang dengan membawa secangkir air bening biasa.


Laila tersungging. Untuk pertama kalinya, ia mengulum senyum padanya musuhnya. Ralat, mantan musuh.


"Tidak masalah. Segini saja cukup," ujar Laila yang kemudian mengambil tempat duduk di salah satu kursi sofa yang sudah disediakan oleh pemilik indekos tersebut. Untuk menghormati Aya sebagai tuan rumah, Laila lantas meminum air bening itu beberapa teguk ke dalam kerongkongannya. Setelahnya, mata gadis itu kembali mengembara ke segala penjuru tempat. 


"Ada perlu apa kamu datang kemari? Urusan kita sudah selesai, bukan?" tanya Aya membuat fokus Laila teralihkan.


"Aku datang kemari mau meminta maaf padamu," jawab Laila dengan hati-hati.


"Minta maaf?" Aya mengerutkan alisnya. 


"Iya. Kamu memang benar. Aku terlalu egois dan hanya memikirkan diriku sendiri. Aku selalu berpikir, bahwa dengan menyingkirkanmu, aku bisa menjadi yang pertama di sekolah ini dan orang tuaku akan menjadi bangga padaku. Hingga aku kehilangan nurani dan selalu melakukan sesuatu yang kuanggap benar. Tolong, maafkan aku, Aya. Aku …."


"Tidak perlu meminta maaf padaku. Karena kamu tidak akan lagi melihatku setelah ini," sela Aya, memotong perkataan Laila.


"Maksud kamu apa? Kamu mau pergi begitu?" 


Aya mengangguk, mengiyakan.


"Bagaimana bisa kamu memutuskan pergi dengan begitu mudah?" Laila memprotes keputusan Aya yang terlalu mendadak ini.


Gadis itu menyungging simpul. Sunggingan yang terlihat baik-baik saja, padahal sebaliknya, ada kesedihan yang tak bisa dilihat oleh mata biasa.


"Seharusnya, kamu senang, Laila. Dengan kepergianku ini, posisimu untuk menjadi yang pertama akan lebih mudah lagi. Kamu bisa mendapatkan apa yang sudah aku renggut darimu."


"Aku tidak sama seperti yang dulu atau yang kemarin lagi. Aku sudah berubah, Aya. Aku ingin kita bisa berteman mulai sekarang."


Jika ditelisik dari ucapannya, Aya tahu, Laila sudah berubah. Dia tidaklah sama seperti Laila yang dulu atau Laila yang egois seperti beberapa hari yang lalu. Namun, semuanya sudah terlambat bagi Aya. Dia sudah mengambil keputusannya sendiri. Pergi dari sini dan kembali ke kotanya yang dulu---dengan tinggal bersama mamanya kembali. 


"Tidak ada yang bisa diperbaiki, Laila. Jika aku tetap di sini, aku hanya akan membuat semua orang yang dekat denganku celaka … termasuk kamu," kata Aya serius. Sementara matanya terlempar pada sosok wanita bergaun putih yang berdiri tak jauh dari tempat mereka berbincang. Makhluk itu nampak berseringai menunjukkan senyuman yang sangat menyeramkan bagi manusia biasa.


"Maksud kamu apa, Laila? Aku tidak mengerti."


"Tidak semua hal harus kita mengerti. Ada kalanya, kita perlu menutup mata, seolah-seolah tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi," kata Aya semakin menambah kebingungan pada otak Laila. Gadis itu hanya mengernyit sebagai tanda reaksi tubuhnya yang bingung dengan perkataan Aya yang serupa teka-teki. 

__ADS_1


Aya melirik ke arah arloji yang melingkar di tangannya. Kemudian, ia pun berkata, "Ini sudah sore. Sebaiknya, kamu pulang sekarang."


"Apa kamu mengusirku?"


"Anggap saja seperti itu."


"Aya …." rengek Laila meminta pengertian dari Aya. Namun, gadis itu tetap keras kepala. Keputusannya sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat.


"Pergilah dan lupakan saja keinginanmu untuk berteman denganku," pinta Aya. Ia lantas berdiri dan pergi---membukakan pintu untuk Laila. 


Laila menghela napas panjang. Dia tak punya pilihan lain, melainkan menuruti perkataan Aya. 


Tanpa berpikir dua kali, ia bangkit dari tempat duduknya dan berdiri---memandang---Aya cukup lama. Setelah itu, si Laila pun pergi, meninggalkan Aya yang hanya bisa menatap punggungnya yang semakin jauh dengan pasrah.


"Kamu memang sahabatku, Aya," bisik Mega yang tiba-tiba saja muncul di belakang Aya.


Aya hanya diam. Sorot matanya menajam. Dia mulai risih hanya mendengar suara makhluk sialan itu. 


***


Sementara itu, keadaan Syifa sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Namun, rasa trauma yang ditimbulkan akibat cekikan itu membuat Syifa belum sadarkan diri selama 48 jam lamanya.


Di dalam tidurnya, ia terus saja memimpikan Aya dan selalu memanggil-manggil namanya secara terus-menerus. Seperti saat ini … di dalam ketidaksadarannya, ia kembali bertemu dengan Aya.


"Aya!" panggil Syifa yang tidak pernah menyerah untuk mengejar Aya yang terus berjalan di lorong gelap.


"Aya!" panggilnya yang ke sekian kali ini berhasil menghentikan langkah kaki Aya. Detik selanjutnya, ia pun berbalik dan menunjukkan hanya diam dengan tatapan hampa.


Syifa tersenyum. Ia berusaha mendekat pada sahabatnya itu. Namun, mendadak muncul sosok bergaun putih dengan rambut panjangnya yang semerawut di depan Aya. Dengan sengaja makhluk itu menghalangi Syifa untuk bisa mendekat pada Aya.


"Siapa kamu sebenarnya?!" tanya Syifa kemudian.


Makhluk itu menelengkan kepalanya. Detik berikutnya, sepasang matanya mengeluarkan cairan kental berwarna merah cukup deras. Kemudian, terdengarlah suara tawanya yang meledak. Sungguh menjengkelkan bagi siapa saja yang mendengarnya.


Tahulah Syifa sekarang. Penyebab di balik kemampuan indigo yang Aya miliki adalah makhluk ini. Aya pasti sangat menderita dan juga tersiksa dengan keberadaan makhluk yang bersemayam di dalam tubuhnya.


Makhluk yang bersemayam di dalam tubuh manusia itu bagai benalu di batang pohon. Setinggi dan sekokoh apa pun pohon berdiri, dia akan hancur oleh benalu tersebut secara perlahan-lahan. 


"Kamu itu tidak berhak menganggu Aya seperti ini. Bukankah Allah telah memberikan bangsamu tempat tersendiri, bukannya malah mendiami tubuh manusia dan membuat banyak masalah dengan tubuh itu?!" ujar Syifa tak menunjukkan riak takut sama sekali. Bagaimana tidak. Orang tuanya adalah praktisi ruqyah syar'iyyah. Sedikit banyaknya, dia sudah diajarkan tentang ruqyah syar'iyyah itu sendiri. Satu-satunya ruqyah yang diperbolehkan bahkan dianjurkan oleh Baginda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam. 


Salah satu anjuran tersebut tertera di dalam Hadîts dari Abu Sa'id Al-Khudriy


أَنَّ جِبْرِيْلَ أَتَى النَّبِيَّ -ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ- فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ اشْتَكَيْتَ فَقَالَ بِسْمِ اللّهِ أَرْقِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْعَيْنٍ حَاسِدٍ اللّهُ يَشْفِيْكَ بِسْمِ اللّهِ أَرْقِيْك


Jibril datang kepada Rasûlullâh dan bertanya kepadanya, "Wahai Muhammad, apakah engkau sakit?" Beliau menjawab, "Ya!" Maka Jibril berkata, "Dengan nama Allâh, aku meruqyahmu dari setiap penyakit yang membahayakanmu dan dari kejahatan setiap jiwa yang jahat atau mata jahat pendengki. Semoga Allâh menyembuhkanmu. Dengan nama Allâh aku meruqyahmu."  (HR. Muslim no. 4056)


Sementara untuk landasan Ruqyah Syar'iyyah, salah satunya terdapat dalam Al-Qur'an pada QS. Yunus ayat 57.


يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡكُم مَّوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَشِفَآءٞ لِّمَا فِي ٱلصُّدُورِ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ 


"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman."


"Jangan banyak bicara kau manusia! Tahu apa kau dengan dunia kami?! Gara-gara bapak moyangmu dahulu, Tuan kami---iblis---sampai dikeluarkan dari dalam surga. Sekarang, tugas kami hanyalah menyesatkan kalian semua!" Makhluk itu mulai menunjukkan wujud aslinya. Dendam kesumat yang akan terus mengalir sampai hari kiamat tiba.


"Itu salahnya sendiri! Kenapa dia bersikap angkuh saat Allah memerintahkannya untuk bersujud pada Nabi Adam Alaihissalam."


"Golongan kami lebih mulia dari kalian. Kami diciptakan dari api, sementara kalian diciptakan dari tanah. Kalian itu lemah dan tidak ada apa-apanya di mata kami."


"Kamu juga mulai menyombongkan dirimu, Mega atau siapalah. Aku akui, banyak dari kami yang terjerumus dosa dan maksiat. Tapi, tidak sedikit yang taat akan perintah Allah. Merekahlah yang disebut sebagai orang yang shalih. Apakah kamu bisa melawan mereka? Tidak, kan?"


"DIAM KAMU! Aku tidak butuh ocehanmu sama sekali. Tugasku hanya membasmih manusia sepertimu. Dan kamu yang akan akuhabisi terlebih dahulu!" pekik makhluk itu yang nyaris menyentuh Syifa, jika saja gadis itu tidak menghindar dengan cepat.


Dalam keadaan seperti ini, Syifa harus tetap tenang dan tidak bertindak gegabah. Ia jadi teringat pelajaran ruqyah yang selama ini diajarkan oleh orang tuanya.


Pelan Syifa menegadahkan tangannya ke atas langit. Meskipun, raganya dalam keadaan tidaksadarkan diri, namun tidak dengan jiwanya. Ia seolah diberikan kesadaran untuk bisa melawan jin dari golongan kafir tersebut.

__ADS_1


"Ya Allah, berikan aku kekuatan untuk bisa melawan kebathilan dan menyelamatkan saudari seimanku. Bantu aku untuk menyelamatkan dia dari jerat dan tipu daya iblis beserta antek-anteknya. Allahumma sholli 'alaa sayyidinaa Muhammad. Wa 'alaa aali sayyidinaa Muhammad."


Makhluk itu mulai menunjukkan ketidaknyamanan berada di sekitar Syifa. Namun, dia tidak berhenti begitu saja dan terus melancarkan serangan pada manusia di hadapannya.


"Bismillaahi laa yadhurru ma'ash mihi syai'ung fil ardhi walaa fish samaa wahuwassamii'ul 'aliim."


Panas. Makhluk itu mulai merasakan tubuhnya meradang seperti dibakar oleh api yang membara. Ia juga merasa sangat tersiksa seakan ada cambuk yang membesut kulitnya.


Setelah melafadzkan kalimat suci di atas, Syifa meneruskan kembali hafalan Al-Qur'annya pada surat Ash-Shaffat ayat 1-10.


وَالصّٰۤفّٰتِ صَفًّاۙ (١)


1. Demi (rombongan malaikat) yang berbaris bersaf-saf,


فَالزّٰجِرٰتِ زَجْرًاۙ (٢)


Demi (rombongan) yang mencegah dengan sungguh-sungguh,


فَالتّٰلِيٰتِ ذِكْرًاۙ (٣)


demi (rombongan) yang membacakan peringatan,


اِنَّ اِلٰهَكُمْ لَوَاحِدٌۗ (٤)


Sungguh, Tuhanmu benar-benar Esa.


رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَرَبُّ الْمَشَارِقِۗ (٥)


Tuhan langit dan bumi dan apa yang berada di antara keduanya dan Tuhan tempat-tempat terbitnya matahari.


اِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاۤءَ الدُّنْيَا بِزِيْنَةِ ِۨالْكَوَاكِبِۙ (٦)


Sesungguhnya Kami telah menghias langit dunia (yang terdekat), dengan hiasan bintang-bintang.


وَحِفْظًا مِّنْ كُلِّ شَيْطٰنٍ مَّارِدٍۚ (٧)


Dan (Kami) telah menjaganya dari setiap setan yang durhaka,


لَا يَسَّمَّعُوْنَ اِلَى الْمَلَاِ الْاَعْلٰى وَيُقْذَفُوْنَ مِنْ كُلِّ جَانِبٍۖ (٨)


mereka (setan-setan itu) tidak dapat mendengar (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru,


دُحُوْرًا وَّلَهُمْ عَذَابٌ وَّاصِبٌ (٩)


untuk mengusir mereka dan mereka akan mendapat azab yang kekal,


اِلَّا مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَاَتْبَعَهٗ شِهَابٌ ثَاقِبٌ (١٠)


kecuali (setan) yang mencuri (pembicaraan); maka ia dikejar oleh bintang yang menyala.


Setiap satu huruf yang dilantunkan oleh Syifa berhasil membuat makhluk---yang menyebut dirinya sebagai Mega itu---menggelinjang kesakitan. Persis seperti ikan yang dikeluarkan dari dalam air, seperti itulah perumpamaan yang bisa digambarkan untuk kondisi makhluk itu saat ini. 


Tak mampu bertahan untuk waktu yang lama, makhluk itu lantas menghilang bersamaan dengan kabut putih yang menyertainya. Sedangkan di sisi lain, Aya tiba-tiba saja merasa kepanasan. Detik berikutnya, darah segar mengalir dari dalam lubang hidungnya. Hanya dalam hitungan detik, Aya mendadak terjerembab---tidak sadarkan diri.


Lalu, bagaimana dengan Syifa?


Pelan-pelan, ia mulai sadar dan membuka matanya kembali. Setelah ia berhasil membuka kedua netranya dengan sempurna, ia mendapati sang ummi sedang membaca ayat suci Al-Qur'an dengan khusyuk. 


"Um---mi," panggil Syifa dengan lemah.


Mendengar suara yang sangat rindukan itu, sontak membuat Husna menghentikan bacaannya Qur'annya. 


Husna mengucapkan syukur karena ia  bisa melihat Syifa kembali tersenyum.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2