
"Ayaaa!" Teriakan Syifa sontak membuat Aya menghentikan langkahnya. Saat ia menoleh ke belakang, ia mendapati gadis itu tengah berlari ke arahnya.
"Apa yang diinginkan anak itu," batin Aya sambil mengembuskan napasnya yang berat. Ia harap gadis itu tidak sedang membawa masalah bersamanya.
Dengan sedikit membungkuk, Syifa mencoba menetralisir napasnya yang tersengal-sengal. Bagaimana tidak. Dia sampai harus berlari hanya untuk mencari keberadaan Aya sebelum bel tanda masuk berbunyi. Maka dari itu, ia pun mengambil resiko dengan berlari dari kantin sampai di depan ruang guru yang bersisian dengan ruang Bimbingan Konsuling.
Setelah napasnya kembali beraturan. Tanpa aba-aba, Syifa mendadak menarik tangan Aya dan membawa gadis itu untuk ikut dengannya.
"Hei. Kau mau membawaku ke mana?!" kata Aya terus saja memberontak.
"Jangan banyak tanya! Pokoknya ikut aja!" jawab Syifa tak kalah kerasnya.
Tanpa sadar Aya malah menuruti perkataan Syifa. Mengikuti langkah kaki Syifa yang membawanya pergi, entah ke mana.
***
Syifa memilih membawa Aya ke halaman belakang sekolah. Satu-satunya tempat yang paling tenang dan juga sunyi dari orang-orang yang menyebalkan seperti Ika dan Desya.
Tanpa merasa canggung, Syifa pun mendaratkan tubuhnya di samping pohon pinus yang menjulang tinggi di halaman belakang sekolah. Pada pohon itu jugalah, ia menyandarkan tubuhnya yang sedikit kelelahan karena sehabis dari maraton, mencari Aya.
"Kenapa berdiri saja? Ayo duduk!" ajak Syifa sambil menarik tangan Aya. Spontan gadis itu pun tersungkur karena tidak siap sama sekali.
"Apa yang kamu inginkan dariku?"
Seperti biasa, Aya selalu saja bersikap ketus seperti ini pada Syifa. Namun, Syifa tak mempermasalahkannya sama sekali atau memasukkannya dalam hati. Mengingat begitu banyak kebencian dan beban hidup yang harus ditanggung oleh temannya itu. Rasanya wajar saja, jika Aya sampai bersikap dingin dan cuek seperti sekarang ini.
Syifa mengangkat tangannya ke udara. Menunjukkan satu bungkus plastik putih yang masing-masing berisi pempek yang masih hangat dan mempunyai banyak varian namanya. Ada pempek telok, pempek kerupuk---direbus, tidak digoreng, pempek lenjer dan pempek-pempek yang lainnya.
"Karena kamu nggak mau makan bareng aku ke kantin. Jadi, aku berinisiatif untuk membawakanmu makanan," jawab gadis itu yang kemudian mengambil satu pempek kerupuk dan langsung memakannya dengan lahap. “Uhh. Panas-panas!” Ia sontak berseru karena sudah menggigit pempek yang cukup panas saat menyentuh lidah.
"Kenapa kamu peduli padaku?" Pertanyaan Aya sontak membuat Syifa menghentikan kegiatan makannya. Gadis itu menoleh sempurna, kemudian tersenyum untuk ke sekian kalinya.
"Aku akan menjawab pertanyaanmu, setelah kamu menghabiskan makananmu itu!" Setelah mengatakannya, Syifa kembali melahap pempek yang tersisa tinggal satu gigitan saja.
Aya termenung sambil menunduk sayu. Dipandangnya makanan beraroma ikan itu dengan lekat. Hingga---
__ADS_1
Hap!
Syifa yang mulai gemas, akhirnya membantu Aya untuk melahap makanannya dengan cara menjorokkan makanan itu ke dalam mulut si Aya.
Kasar memang. Namun, yang lebih kasarnya lagi adalah ... ia malah tertawa sangat keras saat melihat Aya melotot dengan mulut yang dipenuhi oleh makanan.
"Dimakan dong. Jangan dilihatin mulu. Sebentar lagi bel bunyi, loh. Kamu nggak mau, kan, masuk ruang BK lagi. Kalau aku sih nggak mau, ya," oceh Syifa serupa kakak yang sedang mengomeli adiknya.
Aya mematung. Meski samar, ia nampak sedang tersenyum simpul.
Disadari atau tidak, Aya mulai merasa nyaman dengan kehadiran Syifa. Adanya gadis itu dalam kehidupan Aya sudah membawa banyak perubahan dalam dirinya. Kini, ia tak lagi merasa kesepian, karena Syifa sudah ada bersamanya saat ini.
Angin berembus dengan sangat lembut. Membawa kesejukan di tengah matahari yang mulai terik, menyengat kulit. Mereka bahkan mulai saling tersenyum dan tertawa bersama.
Namun, mereka tidak pernah menyadari. Jika ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan kedua gadis tersebut. Sosok itu tampak sangat marah, kesal dan sedih. Sampai-sampai, ia pun menangis, mengeluarkan air mata darah yang cukup deras---membasahi pipinya yang pucat dan penuh sayatan.
***
Hari menjelang sore. Semua anak-anak yang mengikuti ekstrakurikuler---setiap pulang sekolah---juga sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Tinggal beberapa guru saja yang masih tinggal di sekolah karena tugas menumpuk yang perlu diselesaikan dengan cepat. Dan, salah satu guru yang memiliki segudang kesibukan tersebut adalah Mona.
Ada begitu banyak kasus yang perlu ia tangani. Ada begitu banyak kepala yang harus ia awasi. Siapa lagi kalau bukan anak-anak bermasalah yang sering membuat onar di sekolahnya.
Sejak Mona menginjakkan kaki di pelataran parkir milik sekolah ini, dia sudah merasakan bulu kuduknya meremang seketika. Berkali-kali, angin halus meniup tengkuk wanita itu dengan lembut. Keadaan tempat parkir yang tampak sepi dan lengang, semakin menambah aura mistis di dalam pikirannya. Otaknya pun segera merespons dan membuat wanita itu mempercepat langkah kakinya untuk segera pergi---meninggalkan sekolah.
“Ah. Apa yang sebenarnya aku pikirkan? Kenapa aku jadi takut seperti ini? Untuk apa aku percaya pada ucapan anak aneh itu,” gerutu Mona, merutuki kebodohannya sendiri. Dia benar-benar kesal, karena sudah terpengaruh oleh cerita omong kosong yang diutarakan oleh Aya siang tadi.
Sebisa mungkin, ia pun mencoba menetralisir rasa takut yang sudah terlanjur menghuni di hati. Dia berusaha menghadirkan pikiran-pikiran yang posituf dibandingkan harus memikirkan sesuatu yang membuatnya merasa ketakutan tanpa hal yant jelas.
Jika dia harus takut pada sesuatu … harusnya, dia takut pada kecelakaan yang bisa saja terjadi jika dia memacu kendaraannya dengan cepat. Bukankah itu lebih masuk akal ketimbang takut pada sesuatu yang tidak pernah ada. Maka untuk keselamatannya sendiri, ia harus memperhatikan jalan sewaktu mengendarai kendaraan roda empatnya tersebut.
Singkat cerita, Mona pun pulang dalam keadaan selamat dan tanpa kekurangan suatu apa pun. Hal itu, semakin membuatnya mencebik geram, karena sebelum ini dia sudah memercayai omong kosong yang dikatakan oleh gadis itu. Toh, dia bukan Tuhan. Ramalannya pasti akan meleset suatu saat nanti.
Satu-satunya hal yang bisa Mona lakukan saat ini adalah membersihkan tubuhnya yang terasa gerah dan lengket. Setelah itu, ia pun terlihat masuk ke dalam kamar mandinya.
Ia telah melucuti semua pakaian dan hanya membaluti tubuh dengan selembar kain saja. Setelahnya, ia menghidupkan shower yang langsung mengguyur tubuhnya. Kemudian, ia pun memulai ritual mandi seperti biasanya.
__ADS_1
"Hihihi!"
Mona terdiam setelah mendengar suara seorang wanita yang sangat jelas. Mengingat tak ada siapa-siapa selain dirinya sendiri di dalam rumah ini.
"Mona ...."
Lagi. Suara itu kembali terdengar halus dan mendayu-dayu di telinganya. Membuat tubuhnya langsung kaku, tak dapat digerakkan. Detik selajutnya, sosok wanita yang tak asing muncul di hadapannya.
Wanita itu adalah wanita yang ia tabrak, kemudian ia tinggalkan begitu saja di pinggir jalan.
"Kamu!" Mona menggigil ketakutan. Ia terus melangkah mundur saat sesosok itu berusaha mendekatinya. Namun, langkah Mona harus terhenti saat tubuhnya terhalang oleh dinding kamar mandi.
"Kamu masih ingat denganku?" tanyanya dengan suara yang lirih dan menyayat hati.
"Aa--aku." Suara Mona seakan tersedak. Sontak, ia berlutut di hadapan makhluk tak kasat mata itu. Sambil menangis, ia memohon ampunan pada makhluk tersebut. "Aku tidak sengaja. Aku tidak sengaja melakukannya. Kumohon, jangan bunuh aku."
"Lalu, kenapa kamu meninggalkanku sendirian di sana? Aku masih hidup saat itu. Aku masih bisa merasakan denyut jantung dan deru napasku yang melemah. Aku bahkan menangis karena tak ada yang datang untuk menyelamatkanku. Gara-gara kamu, aku harus mati begitu saja!" Ia berteriak dengan sangat kencang. Mengeluarkan cairan kental dari sudut-sudut matanya yang memutih sempurna. Tangisannya yang pilu benar-benar menyiksa telinga Mona.
"Aku tidak bermaksud meninggalkanmu begitu saja. Aku ... aku ... hanya takut."
Mendengar perkataan Mona yang demikian, sosok ghaib itu justru tertawa sumbang dengan sangat kencang. "Kamu memang manusia yang sangat egois, Mona. Sebagai balasannya, kamu harus mati dalam ketakutan yang sama seperti apa yang aku rasakan malam itu."
"Aaa--apa maksudmu?"
"Aku akan membunuhmu dan membawamu ikut bersamaku."
Mona menggeleng. Dia langsung bangkit dan berusaha untuk lari dari maut yang sedang mengincarnya saat ini. Rasa takut yang terlalu besar membuatnya melupakan sesuatu yang sangat fatal. Jika saat ini dia tengah berada di dalam kamar mandi---tempat yang rawan terjadi kecelakaan.
Hanya dalam hitungan persekian detik, ia pun terpeleset dan kepalanya berakhir menghantam ujung pintu yang tajam. Ia meregang nyawa, sebelum akhirnya tewas dengan rasa takut yang nampak jelas tergambar di wajahnya.
Setelah melihat korbannya terbujur kaku, tak bernyawa. Makhluk tak kasat mata itu berubah pada perwujudannya yang asli. Dia terlihat sangat puas karena sudah membalaskan dendam dari sahabatnya, Aya.
Siapa lagi, kalau bukan Mega.
***
__ADS_1
**Bersambung
NB : Belum direvisi**