
Berita kematian Mona langsung terembus dan menyebar seperti api yang membakar kertas. Tak ada yang tidak tahu mengenai kabar kematiannya yang tidak wajar. Ia ditemukan tergenang oleh darah di dalam kamar mandinya sendiri oleh seorang asisten rumah tangga yang biasa datang setiap pagi hari untuk menunaikan tugasnya. Mengetahui majikannya terbujur kaku di bawah shower yang masih , ia lantas menghubungi pihak berwajib untuk segera mengevakuasi jasad tersebut.
Tak pelak, kematian Mona pun menjadi perbincangan hangat ke segala penjuru kota, bahkan sampai menjadi headline utama di beberapa surat kabar dan juga disiarkan di telivisi kabel. Semua orang membicarakan kematian yang mendadak itu.
Setelah dilakukan outopsi oleh pihak forensik … tidak ditemukan sesuatu yang mencurigakan sama sekali. Kematian Mona murni terpeleset dan kepalanya terbentur hingga ia pun mati karena kehilangan banyak darah.
Meskipun begitu, masih saja ada beberapa orang yang tidak bertanggung jawab menganggap, jika kematian Mona terjadi setelah ia bertemu dengan Aya sewaktu istirahat kemarin. Dan berita tersebut lebih membuat orang-orang tertarik daripada kematian Mona sendiri.
“Kamu sudah dengar belum? Kalau kemarin---sebelum Bu Mona meninggal---dia bertemu dengan Aya?” tanya seorang gadis pada temannya sebangkunya.
“Itu benar, kok. Soalnya, kemarin aku lihat sendiri. Aya keluar dari ruangan Bu Mona. Entah apa yang mereka bicarakan di dalam sana? Sampai-sampai, Aya terlihat sangat kesal dan marah,” jawab gadis yang lainnya.
Itulah yang orang-orang pikirkan tentang Aya saat ini. Mereka semakin terpengaruh pada rumor yang mengelilingi Aya. Hal tersebut semakin membuat mereka takut untuk dekat apalagi sekadar berpapasan dengan Aya.
“Kamu ngerasa ada yang aneh, nggak? Kenapa dari tadi mereka ngeliatin kita mulu?” tanya Syifa yang mulai merasa risih saat semua pandangan mata seolah sedang tertuju kepada mereka berdua. Saat ini, mereka sedang berada di perpustakaan.
“Dari dulu mereka memang seperti itu. Kalau kamu nggak mau dilihat … jangan ngeliatin orang lain,” ujar Aya dari balik buku besar yang nyaris menutupi wajahnya.
“Aku pengen banget pura-pura nggak peduli kayak kamu. Tapi, nggak bisa, Aya,” gerutu Syifa dengan seulas senyum yang dipaksakan.
Tiba-tiba saja suasana menjadi hening. Pandangan Aya sontak tertuju pada seorang wanita yang baru saja melintas di depan mejanya saat ini. Detik berikutnya, ia pun mendadak bangkit, meninggalkan mejanya.
“Aya, kamu mau ke mana?” tanya Syifa yang langsung diam saat tatapan orang-orang semakin jelas melihat ke arahnya. Syifa tersenyum malu dan segera menyusul Aya yang sudah menghilang di balik pintu masuk perpustakaan.
Di luar perpustakaan, Aya terus saja mengikuti perempuan berambut panjang itu dengan langkah yang cepat. Saat sampai di persimpangan koridor, dia terkejut karena wanita yang sedang dikejarnya itu ternyata berbalik menunggu kedatangan Aya. Dia bahkan sengaja memilih tempat yang jauh dari jangkauan banyak orang. Di sekitar gudang sekolah yang tak jauh dari ruang perpustakaan berada.
“Kamu siapa?” tanya Aya setelah menyadari sesuatu yang aneh terjadi pada gadis itu. Sepasang bola mata gadis itu memandang lurus dengan hampa.
“Aya!” Panggilan Syifa sontak membuat Aya menoleh ke belakang. Membuatnya kehilangan fokus, hingga ….
“Aku akan membunuhmu!” teriak gadis itu yang tiba-tiba saja menyerang Syifa dan mencekiknya dengan sangat kuat.
Seberapa kuat Syifa mencoba berontak. Semakin kuat pulalah, lilitan yang menjerat lehernya saat ini.
“Siapa kamu?! Apa yang kamu lakukan? Lepaskan wanita ini!” teriak Aya yang tidak tinggal diam melihat Syifa yang nyaris kehabisan napas. Dengan sekuat tenaga, ia mencoba menolong sahabatnya, Syifa.
“Aku akan membunuhmu! Kamu harus mati!” teriak gadis itu semakin kesetanan.
Syifa semakin melemah saat rongga dadanya kesulitan untuk menghirup udara segar. Matanya nyaris kabur dan tampak berkaca-kaca. Membuatnya kelabakan seperti seseorang yang tenggelam di dalam lautan yang dalam.
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat kuat di atas pipi gadis itu. “HENTIKAN MEGA!” teriak Aya membuat gadis itu sontak melepaskan genggaman tangannya. Per sekian detik kemudian, Syifa pun merosot dan tak sadarkan diri.
“Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menyakiti, Syifa?!” seru Aya tak mampu membendung kemarahannya sama sekali. Bagaimana tidak. Syifa adalah satu-satunya orang yang mau menerima Aya sebagai seorang teman. Meskipun, ia sendiri tahu, jika Aya bukanlah orang yang normal, tidak sama dengan orang-orang yang lainnya.
Gadis itu diam dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Hanya dalam hitungan detik, gadis itu pun meneteskan air mata. “Apa kamu sadar?! Sejak kehadirannya, kamu tidak punya banyak waktu untuk bersama denganku lagi. Pagi, siang, bahkan malam sekali pun! Aku benar-benar kesal, Aya!”
Aya meraup wajah dengan kesal. Alasan yang tidak bisa diterima oleh akal begitu saja. Apa yang sebenarnya Mega pikirkan saat ini? Dengan nekatnya, dia malah merasuki tubuh orang lain dan nyaris saja menghabisi nyawa temannya. Ternyata, persahabatan yang terjalin di antara mereka selama ini hanya dilandasi oleh perasaan egois semata.
“Baiklah. Mari kita membuat perjanjian. Aku akan kembali seperti dulu lagi dan menjauh dari Syifa. Tapi, kamu jangan pernah menganggu Syifa, barang secuil rambut pun. Jika kamu melanggar. Pertemanan kita akan putus saat itu juga.”
Rasanya berat bagi Aya untuk membuat keputusan sebesar ini. Dia baru saja mulai merasakan indahnya persahabatan antar sesama manusia. Namun, demi keselamatan Syifa, dia harus rela mengorbankan persahabatan itu.
Gadis itu menyeringai senang. “Aku akan selalu memegang janjimu, Aya. Jika kamu mengingkarinya, aku akan melakukan hal yang lebih buruk dari ini,” ancam Mega sebelum keluar dari dalam tubuh gadis bernama Laila tersebut. Setelahnya, gadis itu pun terjatuh dan tak sadarkan diri—tak jauh dari tempat Syifa pingsan.
***
Nur Laila Dwi Anggita adalah seorang gadis kelahiran tahun 2000. Sejak menempuh sekolah dasar, dia selalu mampu meraih prestasi gemilang berkat otaknya yang cerdas. Semua orang sangat menyukai Laila karena kepintaran yang dia miliki tersebut. Bahkan, orang tuanya selalu saja memuji Laila karena telah berhasil mengharumkan nama mereka sebab prestasi yang telah dicapainya.
__ADS_1
Namun, semua kebahagiaan itu seakan sirna hanya karena Laila tak mampu menyabet juara umum pertama di sekolahnya.
Sanjungan dan pujian yang selalu digaung-gaungkan oleh kedua orang tuanya itu, kini berbalik menjadi tamparan keras baginya. Dia selalu dianggap tak becus dan sudah membuat kedua orang tuanya kecewa karena tak lagi mampu memenuhi ekspetasi mereka.
Laila sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk bisa meraih apa yang dulu berhasil ia genggam dengan mudah. Namun, seberapa keras usaha yang dia lakukan. Dia selalu saja kalah oleh Aya. Gadis itu selalu saja unggul di depannya.
Laila jelas marah. Perlahan, kebencian pun tumbuh di hatinya yang memanas. Segala cara telah ia lakukan untuk bisa menjatuhkan Aya. Bahkan pada titik paling rendah yang bisa membuat gadis itu tersingkir.
Ya. Laila lah yang sudah merekam Aya dengan sengaja. Saat dimana Aya mendatangi gudang sekolah dan berbicara pada sesuatu yang tak kasat mata. Melihat hal itu, membuat Laila akhirnya mendapatkan ide yang sangat cermelang. Menyebabkannya semakin gelap mata dan mulai menyebarkan gosip dari satu teman ke teman yang lainnya.
Pagi menjelang siang---saat waktu istirahat tiba---Laila pergi ke toilet untuk membuang hajat. Namun, sesuatu yang aneh mulai terjadi padanya.
Berulang kali, dia mendengarkan suara keran air yang terus mengalir deras. Dia pikir, itu mungkin orang yang sedang mencuci tangannya setelah selesai membuang hajat. Namun, saat dia keluar dari salah satu pintu toilet tersebut, dia melihat seorang perempuan berseragam putih abu-abu sedang berdiri di depan cermin dengan tatapan hampa.
Saat itu, Laila mulai merasakan bulu romanya meremang seketika. Akan tetapi, ia mencoba untuk bersikap tenang dan berdiri di samping wanita itu untuk mencuci tangannya.
Setelah selesai mencuci tangan, Laila bermaksud untuk segera pergi dari sana. Namun---tiba-tiba saja---pintu masuk toilet perempuan itu macet dan tak bisa dibuka.
Laila mulai ketakutan. Dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk membuka pintu tersebut.
Tak tak tak!
Tubuh Laila semakin gemetaran saat langkah kaki terdengar semakin mendekat padanya. Langkah kaki yang pelan dan mampu membuat siapa saja membisu, tak dapat membuka suara.
“Apa yang kamu inginkan dariku?! teriak Laila saat wanita itu sudah berdiri tepat di hadapannya.
“Kamu harus membantuku,” ucap wanita itu sambil menyeringai, menunjukkan gigi taringnya yang tajam.
Setelah itu, semuanya gelap. Laila tak bisa merasakan tubuhnya lagi.
***
Di ruangan UKS, hanya ada Syifa dan Laila yang tengah terbaring di atas ranjang. Selain petugas PMR, tak ada yang boleh masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Apa yang terjadi denganku?" gumam Laila berusaha mengingat kejadian sebelum ia pingsan.
Deg!
Laila melotot saat sekilas ingatan melintas di dalam otaknya. Ingatan saat ia bertemu dengan sosok makhluk menyeramkan untuk yang pertama kalinya. Setelah itu gelap ... ia tak bisa mengingat apa-apa lagi.
Setelah itu, ia pun menoleh ke samping kirinya dengan susah payah. Saat ia berhasil, matanya langsung menangkap sosok Syifa yang masih belum dari pingsannya.
"Eh, Kak Laila udah sadar," ucap seorang perempuan berkerudung panjang yang langsung menghampiri Laila dan memeriksa kondisi tubuhnya lebih jauh.
"Apa yang terjadi padaku, Asiah?" tanya Laila pada adik tingkatnya tersebut. Karena bagaimanapun juga, Laila itu ketua dalam organisasi PMR.
"Kakak jangan banyak bertanya dulu. Kondisi Kakak masih lemah dan belum pulih sepenuhnya. Kakak harus banyak istirahat dan minum air agar tidak dehidrasi," kata wanita itu sambil meletakkan termometer di dalam ketiak Laila. "Suhu tubuh Kakak terlalu tinggi. Sebaiknya Kakak pulang saja dan istirahat di rumah. Apa Kakak mempunyai nomor seseorang yang bisa menjemput Kakak?"
Wajah Laila mendadak mendung. Dia sedih mengingat tak ada seorang pun yang bisa menjemputnya untuk pulang.
Memberikan nomor kedua orang tuanya itu adalah suatu perbuatan yang sia-sia. Mereka pasti tak sudi untuk datang kemari.
Asiah mendesah pelan. Dia baru sadar, jika Laila tidak pernah mendapatkan perhatian khusus dari kedua orang tuanya yang selalu saja disibukkan oleh urusan duniawi.
"Bagaimana kalau aku yang akan mengantar Kakak pulang?"
Mendengar perkataan Asiah, membuat senyum Laila mengembang saat itu juga.
"Terima kasih, Asiah."
__ADS_1
"Kembali kasih, Kak."
"Oh, ya. Dia, si anak baru. Kenapa pingsan seperti itu? Apa yang terjadi dengannya?" tanya Laila penasaran.
"Aku tidak tahu pasti. Tapi, kalian berdua pingsan dan langsung dibawa oleh anak-anak ke UKS," jawab Asiah seadanya.
Laila mengangguk paham.
Tiba-tiba saja, pintu UKS terbuka. Disusul oleh dua orang dewasa masuk dengan wajah yang panik. Kedua orang itu datang, mendekati ranjang Syifa.
"Anakku, Syifa," panggil Husna dengan mata yang telah memerah dan berkaca-kaca.
Melihat pemandangan seperti itu di depan matanya, Laila merasa cemburu dan patah hati.
"Ibu dengan keluarga Kak Syifa, ya?" tanya Asiah kemudian.
Husna mengangguk cepat. "Iya. Dia anak saya. Apa yang terjadi padanya, sampai dia jadi seperti ini?"
"Saya tidak tahu pasti, Bu. Hanya saja, Kak Syifa segera dilarikan kemari setelah ditemukan pingsan di gudang, belakang sekolah. Namun, setelah saya periksa ... ada luka bekas cekikan di sekitar leher, Kak Syifa," tutur Asiah dengan hati-hati.
"Bekas cekikan? Siapa yang sudah mencekik anakku!" teriak Husna yang tidak terima mendengar anaknya baru saja mendapatkan kekerasan fisik di minggu pertama ia belajar di sekolah ini.
"Tenang, Dek. Jangan terpancing emosi. Kita selesaikan semuanya dengan kepala dingin," nasihat Ali berusaha meredakan kemarahan istrinya.
"Bagaimana aku bisa tenang, Mas? Anakku, Syifa baru saja menjadi korban bullying di sekolah ini. Aku akan menuntu sekolah ini agar anak itu bisa mendapatkan hukuman yang setimpal." Husna terus berontak dalam pelukan Ali.
"Kita akan urus itu nanti. Tapi sebelumnya, kita harus segera membawa Syifa ke rumah sakit," usulnya demikian.
Husna setuju, lantas ia pun diam dan mulai menurut.
Setelah mendapatkan izin sekolah, Syifa segera dibawa ke rumah sakit---tempat dimana Ali mengabdi.
Sementara di sisi lain ....
Laila begitu terpuruk dan merasa iri hati. Syifa begitu beruntung karena memiliki kedua orang tua yang sangat menyayanginya. Mereka bahkan datang dan langsung membawa Syifa ke rumah sakit. Tapi, bagaimana dengan keadaannya sendiri?
Gadis malang yang telah dilupakan oleh kedua orang tuanya.
Mengingatnya saja, langsung membuat Laila kesal dan sakit hati.
"Hmmm ... anu, Kak." Suara Asiah cukup membuat lamunan Laila buyar. Gadis itu lantas menoleh.
"Ada apa, Asiah?
"Ada sesuatu yang harus aku sampaikan ...."
"Katakan saja. Kenapa kamu malah diam seperti itu?"
"Jadi ... sebenarnya ... Kakak lah yang sudah mencelakai Syifa sampai dia pingsan seperti tadi.
"Apa?! Aku---mencelakai Syifa?!" ujar Laila tak percaya. "Kamu tahu dari mana?"
Asiah mengangguk. "Sebenarnya, aku tidak sengaja melihatnya saat akan mengambil stok obat di gudang penyimpanan. Aku melihatnya sangat jelas ... saat itu, Kakak seperti orang yang kerasukan dan mencekik leher Syifa tanpa ampun."
Laila gemetar. Dia merasa, hidupnya benar-benar akan tamat sekarang.
Bersambung
***
__ADS_1
*UKS : Unit Kesehatan Sekolah
*PMR : Palang Merah Remaja