
Dikisahkan dalam Tafsir Quranil 'Adzhiin, bahwa dulunya jin itu takut dan kabur bila bertemu dengan manusia, bahkan jin lebih takut terhadap manusia daripada manusia yang takut pada jin.
Hingga suatu ketika ada pimpinan kabilah menginap di suatu lembah kemudian dia berkata, "Aku berlindung kepada jin penguasa lembah ini."
Seketika gerombolan jin yang hendak kabur mengurungkan niatnya, mereka berkata pada sesamanya, "Kami melihat manusia takut pada kita sebagaimana kita takut pada mereka." Akhirnya mereka mendekat dan menjadikan manusia bebal dan gila (kesurupan).
Dari riwayat ini kita bisa menyimpulkan bahwa jin akan menggoda dan menampakkan diri tatkala mereka mendengar dongeng manusia.
Wallahu'alam.
*Ust. Muhammad Faizar*
***
"Jadi, mereka mengambil wujud manusia yang sudah tiada untuk menakut-nakuti manusia yang masih hidup?" simpul Syifa sembari mengetuk dagunya dengan pelan.
Fajri mengangguk, mengiyakan. "Kurang lebih seperti itu. Mereka itu bisa mendeteksi rasa takut dalam diri manusia. Kemudian dari rasa takut ini, mereka mulai mencari tahu dan mengambil wujud yang ditakuti oleh kebanyakan manusia. Mereka juga mendengarkan dongeng-dongeng atau legenda yang diceritakan oleh manusia kepada anak-anaknya. Seperti pocong, kuntilanak, vampire dan masih banyak lagi. Makanya, hantu-hantu itu berbeda wujud di tiap negara."
"Maaf menyela Kyai," potong Aya sembari mengangkat tangannya ke atas. "Kalau boleh saya tahu. Selain indigo, apa saja gangguan-gangguan setan atau jin yang dapat manusia rasakan?"
"Tentu saja banyak, bila kita perhatikan dan kita perinci. Akan tetapi, saya akan mencoba untuk menjelaskan secara singkatnya saja," ucap Fajri kemudian.
"Paling tidak, ada 20 ciri-ciri gangguan jin yang ada di dalam tubuh manusia, di antaranya adalah ... (1) Was-was atau merasa cemas, takut, galau dan sedih secara berlebihan dan tanpa sebab. Kadang terjadi dalam waktu yang lama dan berkepanjangan. (2) Sulit melakukan ibadah. Enggan untuk salat, puasa, dan lain sebagainya. (3) Gangguan saat melakukan ibadah. Salat tidak khusyuk, menguap, mengantuk, melayang-layang, puasa tidak kuat, dan masih banyak lagi. (4) Benci melihat, mendengar, merasakan segala sesuatu tentang ibadah kepada Allah. Seperti, benci saat mendengar seruan azan, benci melihat orang yang sedang salat, atau merasa panas saat mendengar orang membaca Al-Qur'an. (5) Amarah yang tinggi kadang tidak terkendali. (6) Nafsu syahwat terlalu tinggi. (7) Sering melihat atau merasakan penampakan makhluk halus. (8) Serasa diikuti makhluk halus. (9) Kesurupan. Mendadak ia sering pingsan, menjerit, meronta, menangis, marah, dan berlari-lari. (10) Selalu bermimpi buruk. Misalnya, bermimpi bertemu dengan setan dalam berbagai wujud atau binatang buas. Didatangi sosok menyeramkan atau sosok yang cantik/ganteng untuk mengajak menikah dan berzina. Kadang juga, didatangi oleh jin yang mengaku sebagai malaikat. (11) Gangguan tidur.
Tidur sambil berjalan, mengigau dengan keras, dan lain-lain. (12) Tindihan dan sering mencium bebauan yang tidak diketahui sumbernya. (13) Indigo. Bisa melihat, mendengar, merasakan keberadaan jin. Jin ingin menjadikannya teman, dan biasanya mampu meramal. (14) Sakit pada jam-jam tertentu seperti magrib atau tengah malam. (15) Sakit yang tidak terdeteksi medis. (16) Susah mendengar nasihat yang baik. (17) Anak yang terlalu nakal. (18) Selalu melaksanakan maksiat berulang-ulang. (19) Rumah terasa panas suasananya sering melihat penampakan dalam rumah sering ribut atau cerai tanpa sebab jelas. (20) Depresi atau gila. Wallahu'alam."
Semua orang terlihat sangat serius mendengarkan ceramah yang disampaikan oleh pria beranak satu itu. Begitu juga dengan Aya, ia sampai dibuat tak berkedip sama sekali.
Aya tak pernah menyangka, jik selama ini dia sudah terjebak dalam kejahilan. Bahkan lebih bodohnya lagi, ia pernah merasa sangat bersyukur dengan kemampuan yang ia miliki itu. Dengan kemampuan itu, dia tak perlu merasa kesepian karena Mega dan teman kasat mata yang lainnya yang selalu menamani. Paling tidak, dia tidak pernah merasakan kesedihan dan kesepian lagi.
Tapi, sekarang. Setelah ia mengetahui keburukan dan bahaya yang ditimbulkan dari penyakit ini, ia ingin melepaskan dan membuangnya jauh-jauh. Detik ini juga, ia akan mulai untuk menjalani hidupnya yang baru dengan kepribadian yang baru pula. Menjalani hidup di jalan yang telah Allah ridai atasnya. In syaa Allah.
"Baiklah. Jika tidak ada yang ingin bertanya lagi. Kita mulai saja ruqyah hari ini," ujar Fajri melanjutkan perkataannya yang sempat terjeda beberapa waktu lamanya.
Sebelum memulai sesi ruqyah massal. Fajri akan mengajarkan, bagaimana caranya melakukan ruqyah secara mandiri dengan menggunakan media air?
__ADS_1
Apa saja yang harus dipersiapkan sebelum melakukan ruqyah mandiri tersebut?
Siapkan diri untuk berdoa. Karena Anda akan berhadapan langsung dengan Allah Subhaanahu Wa Ta'ala. Selanjutnya, siapkan air minum satu gelas atau satu botol, bagi akhwat diwajibkan mengenakan hijab/mukena. Kemudian, ambillah wudu'. Terakhir, duduklah menghadap kiblat dan letakkan air minum tadi di depan. Letakkan kedua tangan di depan mulut seperti orang berdo'a.
"Ikuti setiap ucapan saya dan dengarkan baik-baik," intruksi Fajri setelah meminta kepada seluruh pasiennya untuk memejamkan mata supaya dapat mencapai kekhusyukan selama mengikuti ruqyah syar'iyyah yang sedang berlangsung.
"Bersyahadatlah dengan sungguh-sungguh. Meminta pada Allah supaya mengampuni kita dari dosa-dosa syirik yang sengaja maupun yang tidak sengaja kita lakukan (seperti menyimpan jimat, pernah pergi ke dukun, atau menyembah hal-hal ghaib selain Allah).
"Asyhaduallaah ilaaha illallaah. Wa asyhaduanna Muhammadar Rasuulullaah."
"Asyhaduallaah ilaaha illallaah. Wa asyhaduanna Muhammadar Rasuulullaah."
"Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam adalah utusan Allah."
"Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam adalah utusan Allah."
"Allahumma sholli 'alaa Sayyidinaa Muhammad. Wa 'alaa aali Sayyidinaa Muhammad." Diucapkan sebanyak tiga kali.
"Allahumma sholli 'alaa Sayyidinaa Muhammad. Wa 'alaa aali Sayyidinaa Muhammad."
"Astaghfirullah Al-Adziim*." Fajri mengucapkan lafaz istighfar itu sebanyak tiga kali pula. "Ingatlah dan mohonlah ampun pada Allah untuk dosa-dosa yang pernah kita lakukan selama ini. Dosa-dosa kita kepada Allah, kepada ibu dan bapak. Serta dosa yang kita perbuat kepada diri sendiri dan sesama manusia. Tanpa kita sadari, mungkin kita sudah menyakiti hati kedua orang tua kita dan membuat mereka meneteskan air mata. Karena rida Allah terletak pada rida orang tua dan murka Allah terletak pada murka orang tua. Apa yang sudah kita lakukan selama ini? Sementara usia mereka setiap harinya semakin menua. Apa yang sudah kita perbuat untuk membahagiakan mereka?"
Aya merasakan hatinya sesak. Mata pun turut terasa hangat dan penuh dengan air mata. Bagaimana dia tidak merasa sedih. Seumur hidupnya, dia hanya membuat Asya---mamanya---bersedih dan menangis. Tak pernah ada sedikit pun kebaikan yang ia tampakkan pada mamanya tersebut.
Sungguh. Sebagai seorang anak, Aya merasa sangat buruk dan sudah durhaka. Dia selalu saja menyalahkan dan menyudutkan Asya untuk sesuatu yang tidak pernah mamanya inginkan sama sekali. Bahkan sampai detik ini pun, dia belum pernah mencoba untuk membahagiakan orang tua tunggalnya itu.
Jika saja, Aya bisa mengulang balik waktu, dia ingin memanfaatkan waktu yang ada dan memperbaiki semuanya.
Fajri mengintruksikan kepada pasiennya untuk menegadahkan tangan---selayaknya saat berdoa kepada Allah. Sedetik kemudian, ia mulai melantunkan surat-surat pilihan dari Al-Qur'an yang dimulai dengan mengucapkan ta'awudz---untuk memohon perlindungan Allah Subhaanahu Wa Ta'ala dari godaan setan yang terkutuk.
"A'uudzubillaahi minasy-syaithoonir rajiim."
Aya mulai merasakan tubuhnya tak nyaman. Rasa gelisah berbaur di dalam hati dan juga pikirannya.
"Bismillaahir Rahmaannir Rahiim."
__ADS_1
Kali ini, rasa panas menjalar di sekujur tubuh Aya. Gadis itu bertambah gusar dan tak bisa diam. Melihat reaksi yang mulai muncul dari Aya, Husna dan beberapa relawan santriwati segera mengambil posisi di belakang gadis itu.
Detik berikutnya, Fajri pun membacakan surat Al-Fatihah dengan intonasi yang keras dan jelas.
"Alhamdulillaahi Rabbil 'Aalamiin."
Baru saja ayat pertama dilantunkan, Aya sudah tak dapat mengontrol dirinya lagi. Dia telah kehilangan kesadaran sepenuhnya.
"Argh!" Teriakan Aya sontak membuat semua orang---kecuali Syifa---membuka mata dan menoleh. Namun, dengan cepat Fajri meminta yang lainnya untuk kembali menutup mata dan tetap fokus pada ruqyah yang sedang berlangsung.
Dengan dibantu oleh Ali, Fajri kembali meneruskan bacaannya kembali, kemudian dilanjutkan dengan membaca surat Al-Baqarah ayat 255 (ayat kursi), surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas, yang masing-masing dibaca sebanyak satu kali---boleh juga lebih.
"Berdoalah dan mintalah kepada Allah untuk kesembuhan dari segala macam penyakit, termasuk rasa was-was atau emosi yang tidak bisa dikendalikan, dan berdoa dengan diawali selawat kepada Baginda Rasulullah."
Setiap selesai membaca surat-surat pillihan lengkap dengan doa yang dipanjatkan seperti di atas, disarankan untuk meniupkannya ke telapak tangan dan air minum yang sudah disiapkan tadi dengan niat yang kuat meminta Kepada Allah Azza Wa Jalla untuk mengangkat semua penyakit atau menyiksa jin-jin kafir yang bersarang di dalam tubuh.
"Silakan airnya diminum. Jangan lupa untuk membaca basmalah dan minumlah dengan menggunakan tangan kanan supaya Allah memberikan keberkahan di dalam air yang telah diruqyah tadi," titah Fajri yang langsung dituruti oleh para pasiennya. "Usapkan kedua telapak tangan yang sudah ditiupkan dengan ayat-ayat Al-Qur'an tadi---ke seluruh tubuh sambil terus khusyuk dan berzikir---dimulai dari muka sambil sedikit dipijat atau diurut di bagian yang terasa sakit."
Teknik ruqyah di atas diutamakan untuk dilakukan setiap selesai salat wajib. In syaa Allah, tubuh akan sehat, terhindar dari penyakit medis dan non medis. Pikiran akan tenang, terhindar dari gangguan-gangguan sihir atau santet dengan izin Allah Subhaanahu Wa Ta'ala.
Beragam reaksi mulai bermunculan. Ada yang langsung muntah, merasa panas dan pusing seperti ingin pingsan. Namun, reaksi yang paling parah terjadi pada Aya dan Laila. Mereka sampai berontak, menangis hingga menjerit kesakitan.
Husna dan beberapa santriwati yang membantu tampak kesulitan menghadapi Aya. Kekuatan gadis itu seakan meningkat, mengalahkan kekuatan lima pria dewasa sekaligus.
Tak tega melihat istrinya menghadapi kesulitan, Ali lantas mendekat dan memberikan pertolongan pada istrinya tersebut.
"Siapa kamu?" tanya Ali pada makhluk yang bersemayam di tubuh Aya.
Aya melotot. Matanya nyalang seakan menantang. Giginya terdengar gemeretak. Tersirat kemarahan dari wajahnya yang memerah.
Bersambung
***
Sumber : Ust. Rido Abu Fatan dalam modul Ruqyah Syar'iyyah yang menjelaskan tentang Ciri-Ciri Gangguan Jin.
__ADS_1