
"Ummi!"
"Iya." Husna menghentikan kegiatannya dan segera menoleh ke arah suara yang baru saja memanggil namanya. "Kalian sudah selesai mengerjakan tugasnya, ya? Apa Aya mau pulang sekarang?" cerca Husna kemudian.
"Ummi, ada hal yang sangat genting. Kami perlu bantuan dan solusi dari Ummi."
Husna mengernyitkan dahinya, bingung. Bagaimana dia tidak bingung. Tiba-tiba saja, Syifa datang dan langsung meminta bantuan darinya. Memangnya ada masalah apa sampai mereka terlihat panik seperti ini?
"Tunggu sebentar," balas Husna. Dia lantas mematikan keran yang terhubung dengan selang. Dari dalam selang itu keluarlah air yang kemudian dia gunakan untuk mencuci tangannya yang kotor dan dipenuhi oleh tanah. Setelah selesai, ia meminta Aya dan anaknya itu untuk duduk di sebuah kursi yang dibuat dari potongan pohon durian. "Sekarang, ceritalah. Sebenarnya ada apa ini?" tanyanya.
"Biar Aya yang cerita."
Setelah mendapat intruksi dari Syifa, maka ceritalah Aya mengenai mimpi yang dia dapat semalam.
Selagi Aya menceritakan perihal mimpinya itu, Husna memasang kupingnya lebar-lebar dan mendengarkan dengan saksama. Di balik diamnya, otak wanita itu juga ikut bekerja untuk mencari solusi akhir yang bisa mereka tempuh sebagai jalan keluar.
"Apa yang harus saya lakukan, Ummi? Saya benar-benar takut untuk bertanya atau menerima kenyataan yang sebenarnya," lirih Aya langsung menunduk sayu. Sorot matanya benar-benar terlihat rapuh dan itu sungguh mengusik jiwa keibuan dalam diri Husna.
"Kamu tidak perlu merasa khawatir seperti itu. Itu hanya mimpi. Bisa jadi bunga tidur atau tipu muslihat setan untuk membuatmu was-was," nasihat Husna sembari menyentuh pundak Aya dengan lembut.
Melalui sentuhan itu, ia hanya ingin memberitahu pada gadis itu, bahwa dia tak pernah sendirian. Masih ada banyak orang yang bersedia untuk mendukungnya. Jadi, Aya tak perlu memikirkan banyak hal dan fokus saja pada sekolahnya itu. Biarlah orang dewasa yang akan menyelesaikan masalahnya.
Aya kembali mendongkak dan menatap sepasang netra Husna dengan lekat. Rasa haru menyusup ke dalam hatinya. Dia merasa sangat menyesal sekaligus bahagia ... kenapa dari dulu dia tak bertemu dengan Syifa dan keluarganya? Mungkin, dia tidak akan pernah menghabiskan belasan tahun lamanya dengan kesepian, dendam, dan kesedihan yang membelenggu jiwa.
Ah. Aya segera membuang jauh ingatannya tentang masa lalu itu. Ketika dia sudah membuangnya, maka dia juga harus melupakannya. Membuat cerita yang baru dan pengalaman yang selama ini tak pernah dia dapatkan. Dan, inilah waktunya. Mulai detik ini, dia juga akan menghapus seluruh rasa takutnya pada apa pun yang akan terjadi nanti. Biarpun mimpi itu benar, selama dia memiliki orang-orang yang peduli padanya, itu tak akan jadi masalah sama sekali.
"Terima kasih, Ummi," ucap Aya dengan tulus dari dalam lubuk hatinya.
"Kembali kasih," balas Husna, lalu berpindah mengelus pucuk rambut Aya yang ditutupi dengan kerudung. Setelah beberapa saat kemudian dan Aya mulai tenang, ia pun menyingkirkan tangannya dari ubun-ubun gadis itu. "Ummi akan mencoba bicara sama Mamamu dan juga Paman Kyai. Semoga saja, mereka bisa membantu."
Sebuah ide cemerlang mendadak muncul dari otak Syifa. Gadis itu tersungging kemudian merangkul leher Aya dengan lemah. "Bagaimana, kalau malam ini, Aya tidur di sini?" tanya Syifa meminta saran dari umminya.
"Ummi setuju saja. Sebaiknya, Aya memang tidur di sini. Kalau bisa, Aya menginap saja di rumah ini sampai tamat sekolah."
__ADS_1
"Tapi, Ummi ...."
"Waaah! Syifa setuju banget sama Ummi! Kalau Aya tinggal di sini, Syifa nggak bakal kesepian lagi." Syifa bersorak riang, berbanding terbalik dengan Aya yang semakin merasa tak nyaman dan hanya merepotkan saja.
"Jangan pernah sungkan sama kami, Aya. Anggap saja, kami ini seperti keluargamu sendiri. Syifa juga sangat senang jika kamu menginap di rumah kami."
Mata Aya terbelalak, dia cukup terkejut karena Husna mampu membaca pikirannya dengan mudah.
"Bagaimana? Kamu setuju, kan, tinggal di sini?"
"Iya, Ummi."
Husna tersungging. "Untuk pakaian gantinya, kamu pinjam saja sama Syifa. Nanti besok, baru kita pindahkan barang-barangmu ke sini. Nanti, Ummi juga akan coba bicara dengan mamamu. Kamu juga harus memberitahu mamamu dan meminta izin darinya."
"Baik Ummi."
"Apa masih ada yang mau dibicarakan lagi?"
Aya menggeleng dan menjawab, "Tidak ada, Ummi.
Aya dan Syifa tak lantas pergi. Mereka malah saling berpandangan, kemudian tersenyum seolah memberikan kode pada satu sama lain. Sesaat selanjutnya, mereka pun mengangguk berbarengan dan bangkit menghampiri Husna.
"Ummi, kami mau bantu dong," ucap Syifa merampas gunting rumput dari tangan Husna.
"Saya juga mau bantu, Ummi," timbrung Aya sambil tersenyum pada wanita yang sudah banyak berjasa padanya.
"Kalau Syifa, memang sudah terbiasa membantu Ummi. Ummi kadang menyuruhnya untuk menolong Ummi, karena Syifa itu anak Ummi. Saat ini, kamu sedang bertamu di rumah Ummi. Sebagai tuan rumah yang baik Ummi harus memperlakukanmu dengan baik."
"Kalau begitu. Anggap saja, saya ini sebagai anak kandung Ummi. Saya bersedia kok disuruh apa pun, asal saya tidak menumpang tinggal begitu saja. Ummi dan Abi Ali sudah banyak membantu saya. Saya tidak ingin terus menyusahkan kalian seperti ini. Saya juga tidak ingin berhutang budi pada kalian. Jadi, izinkanlah saya untuk membalas budi kalian itu dengan semampu saya sendiri."
Husna bungkam. Sebesar apa pun usahanya untuk menolak bantuan Aya, gadis itu akan tetap bersikeras pada pendiriannya. Melihatnya yang seperti ini, mengingatkan Husna pada sosok Syafa yang sama keras kepalanya. Kini, dia jadi rindu dengan almarhumah anaknya tersebut.
"Baiklah. Asal kamu tidak memaksaan diri. Selama kamu nyaman, Ummi tidak akan mempermasalahkannya sama sekali," ujar Husna memberi peringatan agar Aya bisa membiasakan dirinya tinggal di tempat ini.
__ADS_1
"Karena sudah ada dua anak Ummi yang akan membantu. Ummi harus istirahat sekarang," celetuk Syifa, lalu menyentuh pundak Husna dan mendorong umminya itu dari belakang. Dan membawa umminya tersebut untuk duduk di tempat mereka tadi.
"Ummi istirahat saja. Biar kami yang menyelesaikan pekerjaan Ummi di sini," sahut Aya sesaat sebelum ia menunaikan tugas yang mampu dia kerjakan. Tugas menyiram beberapa tanaman yang sebelumnya belum mendapatkan jatah air sama sekali.
Setelah menganta Husna ke tempat duduknya, Syifa bergegas pergi dan mulai membentuk beberapa tanaman bonsai yang diinginkan oleh umminya.
Dari kejauhan, Husna tak pernah melepaskan pandagmngannya dari memandang Syifa dan Aya yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Kadang-kadang pula, mereka saling bergurau dan usil satu sama lain. Bermain siram-siraman hingga gamis yang mereka pakai berakhir basah kuyup.
"Wupss!" Syifa menutup mulutnya saat selang yang ada di tangannya tanpa sengaja mengarah pada Husna. Alhasil, umminta itu juga ikutan basah kuyup sama seperti mereka berdua.
Husna tentu saja kaget. Dia memandangi bajunya yang basah. Perlahan tapi pasti, matanya menyipit dan tertuju pada Syifa dengan penuh dendam. Wanita itu segera bangkit dari tempatnya dan mendekat pada anaknya yang memggemaskan itu. Karena merasa takut, Syifa pun bersembunyi di balik Aya.
"Syiifaaa!"
"Ampuun Ummi! Syifa nggak sengaja!" seru Syifa memohon pengampuan dari umminya.
Semuanya sudah terlambat. Selang pun sudah berada di tangan Husna.
"Ummi, jangan Ummi." Aya mulai membuka suara. Tangannya terangkat ke udara sebagai bentuk perlindungan dari serangan air yang kapan saja bisa menyerangnya.
Ketakutan Aya pun menjadi kenyataan. Saat Husna membuka keran air tersebut. Maka, muncratlah air dari dalam selang tersebut. Kini, Aya lah yang berbalik menjadi korban atas kejailan Syifa.
Aya menganga lebar. Sekarang, gamisnya sudah persis seperti cucian yang baru saja dijemur.
"Ummi kenapa malah nyiram Aya?! Aya jadi basah kuyup kayak habis diguyur hujan," singgung Syifa bermaksud mencibir Aya.
"Ummi nggak salah. Aya yang salah, kenapa nggak kabur?" ucap Husna memberikan pembelaannya.
"Iya juga, sih. Kenapa kamu nggak menghindar?" Syifa malah semakin memprovokator Aya. Hingga membuat gadis itu kesal dan langsung menyambar selang dari tangan Husna untuk membalas Syifa dengan menyiramkan air ke atas tubuhnya.
Sore itu, mereka habiskan untuk bersenang-senang. Hingga tanpa sadar waktu bergulir dengan begitu cepat. Menyisakan kebahagiaan untuk dijadikan kenangan di masa depan. Dan, mereka pun harus menghentikan permainan sebelum waktu magrib tiba.
**Bersambung
__ADS_1
***
[Revisi setelah naskah selesai**]