
[Jangan lupa tinggalkan vote, komen, favorit dan likenya untuk mendukung cerita ini. Terima kasih]
***
Waktu itu Asiah hanya ingin mengambil persediaan obat ringan yang sudah habis di ruang UKS. Namun, dia tidak pernah tahu … justru hal yang tidak terduga akan ia saksikan tanpa sengaja.
“Kamu membutuhkan apa saja, Asiah?” tanya Diandra---selaku guru yang bertanggung jawab dalam bidang kesehatan. Terutama persediaan obat-obatan yang dibutuhkan.
“Plester, parasetamol, thermometer, sama obat batuknya, Bu,” jawab Asiah sambil memperlihatkan secarik keras pada Diandra.
“Oke. Ibu lihat dulu, ya.” Diandra pun pergi untuk mengecek persediaan obat-obatan atau alat kesehatan di dalam ruangan khusus.
Tak lama kemudian, Diandra pun datang dengan membawa beberapa obat yang dibutuhkan oleh Asiah.
"Ini obatnya dan ini surat tanda terimanya," ujar Diandra sambil memberikan obat yang Asia pesan.
"Terima kasih, Bu."
"Kembali kasih, sayang."
Setelah itu, Asiah pun melenggang pergi, meninggalkan gudang penyimpanan dan kembali ke ruang UKS, karena jadwal bertugasnya masih panjang.
“Kamu siapa?”
Asiah terdiam manakala dia mendengar suara perempuan yang cukup jelas menyapa indra pendengarannya. Untuk memastikannya kembali, dia lantas memasang telinganya lebar-lebar.
Mendengar suara Aya. Asiah mengurungkan langkah kakinya dan mengintip dari balik tembok.
“Aku akan membunuhmu!”
Ia begitu terkejut saat melihat Laila sedang mencekik leher seorang gadis yang masih asing bagi Asiah.
PLAK!
“HENTIKAN MEGA!”
Belum habis keterkejutan Asiah, jantung gadis itu harus ke berdetak cepat saat matanya menangkap tangan Aya yang sangat kuat menampar Laila. Hanya dalam beberapa detik kemudian, tubuh Syifa ambruk, tidak sadarkan diri.
“Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menyakiti, Syifa?!” tanya Aya terlihat mengeratkan tangannya di kedua bahu Laila yang masih berada di bawah pengaruh makhluk tak kasat mata.
Ingin rasanya Asiah menolong. Namun, hatinya terlalu takut untuk melangkah maju dan ikut campur dengan urusan mereka berdua. Namun, melihat Syifa tergolek lemah di atas lantai tak berkeramik itu, dia jadi merasa kasihan dan ingin menolong.
Bimbang. Rasanya sulit bagi Asiah untuk menentukan pilihan.
Gadis itu menyeringai senang. “Aku akan selalu memegang janjimu, Aya. Jika kamu mengingkarinya, aku akan melakukan hal yang lebih buruk dari ini.”
Setelah mengatakannya, gadis itu pun terjatuh dan tak sadarkan diri---tepat di samping Syifa. Waktu yang tepat bagi Asiah untuk muncul dan segera menolong Aya. Membawa mereka ke ruang UKS dan memberikan pertolongan pertama sebelum sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi.
“Kak Aya!” panggil Asiah membuat Aya langsung menoleh karena kaget.
“Asiah ….”
“Nanti saja bicaranya. Aku akan meminta bantuan pada yang lain untuk membawa mereka ke UKS,” ujar Asiah yang langsung mengambil langkah cepat untuk menolong mereka berdua.
Aya tak menjawab. Dia hanya mengangguk pelan sebagai pernyataan setujunya atas usulan yang diberikan oleh Asiah.
***
__ADS_1
Setelah mengetahui insiden yang terjadi sebelum ia dirawat di UKS, Laila pun menemui Aya dan meminta gadis itu untuk bicara empat mata dengannya.
“Jadi, akulah yang sudah membuat Syifa pingsan?” tanya Laila masih dengan raut ketidakpercayaan yang tercermin di dalam wajahnya.
Aya mengangguk dan tidak mengeluarkan satu kata pun dari bibirnya.
“Apa kamu kenal, siapa makhluk itu?” tanyanya lagi.
Dan jawabannya tetap sama. Hanya anggukan kecil dengan sorot mata sayu yang terpancar di balik netranya yang bening.
“Ini semua gara-gara kamu, Aya. Seandainya, kamu nggak pernah ada … aku yakin, baik aku atau Syifa tidak akan terkena masalah seperti sekarang ini. Kamu itu memang pembawa sial seperti yang orang-orang katakan,” damprat Laila yang mulai terang-terangan menyerang Aya dari depan.
Aya tersenyum sinis. “Pembawa sial?” ucap Aya mengulangi kembali perkataan Laila mengenai dirinya. “Ya. Aku memang pembawa sial. Siapapun yang dekat denganku hanya akan mendapatkan kesialan dan celaka. Tapi … paling tidak, aku masih mempunyai seorang ibu yang menyayangiku sepenuh hatinya. Tidak seperti kamu, kedua orang tuamu bahkan menganggapmu sangat rendah dibandingkan dengan saudaramu yang lain.”
“Ayaaa!” Hampir saja Laila menampar wajah Aya, jika saja ia tak ingat pada kejadian yang sudah ia lakukan pada Syifa.
“Kenapa berhenti?” ujar Aya semakin menantang. “Kalau kamu mau menamparku. Tampar saja! Aku sudah cukup menahan diri dengan perbuatanmu selama ini, Laila. Apa yang kamu lakukan padaku itu, bahkan tak sebanding dengan apa yang kamu rasakan selama ini. Kamu pikir aku tidak tahu, kalau kamulah yang sudah mencemarkan namaku di mata anak-anak yang lain agar kamu bisa menyingkirkanku dari sekolah ini.”
“Kamu jangan bicara sembarangan, Aya. Apa buktinya, kalau aku yang melakukan semua itu?”
“Kamu masih saja sok naif seperti ini. Kamu pikir, aku tidak tahu, kalau kamulah yang sudah memberikan rekaman video itu pada Bu Mona?”
Laila kehabisan kata-kata. Apa pun yang Aya katakan mengenai dirinya itu adalah benar. Dialah yang sudah mencemarkan nama Aya dan membuatnya buruk di mana anak-anak yang lain. Dialah yang sudah menguntit gadis itu, merekamnya dan mengirimkan rekaman tersebut pada Bu Mona. Dia benar-benar takjub. Ternyata, Aya memiliki ilmu supranatural yang cukup tinggi. Dan kemungkinan besarnya adalah … makhluk yang sudah merasukinya pagi tadi adalah makhluk yang dekat dengan Aya.
“Apa kamu yang mengirimkan makhluk itu?” tanya Laila kemudian.
Aya menggeleng, kemudian menjawab, “Aku tidak pernah mengirim siapapun untuk mencelakai orang lain. Aku bahkan tidak tahu, jika hal semengerikan ini akan terjadi.”
Aya memandangi kedua tangannya yang sudah menampar wajah Laila dengan sangat kuat. Sebenarnya, dia masih sangat syok dengan kejadian tadi pagi. Sesuatu yang tak pernah ia inginkan sama sekali. Paling tidak, itu sedikit membuka matanya mengenai Mega.
Argh! Aya tak tahu. Kepalanya bahkan terasa mau pecah hanya dengan memikirkannya saja.
“Jika bukan kamu yang mengirimkan makhluk itu, lalu, kenapa dia datang mengangguku? Atau, kamu sengaja berbohong untuk menghindar dari masalah.”
“Apakah jawabannya sangat penting untukmu, Laila?”
“Itu sangat penting, Aya. Gara-gara makhluk itu, aku hampir saja membunuh seseorang hari ini.”
Aya menghela napasnya yang berat. “Anggap saja aku yang salah. Dan aku akan membantumu untuk menyelesaikan masalah ini.”
“Bagaimana caranya?”
***
Aya dan Laila langsung pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Syifa. Selain itu, mereka juga ingin meminta maaf untuk apa yang sudah terjadi pada Syifa.
“Kalian temannya Syifa?” tanya Husna di luar ruangan---tempat---Syifa dirawat saat ini.
“Iya, Tante,” jawab Aya hanya menunduk dan tak berani memandang Husna secara langsung.
“Ba—bagaimana dengan keadaan Syifa, Tante?” Kali ini, giliran Laila yang bertanya.
Sontak, Husna menunduk sayu. Antara perasaan sedih, khawatir dan juga marah---semuanya bercampur menjadi satu. Bagaimana tidak. Hanya dalam rentang waktu tak sampai satu minggu, anaknya---Syifa---kembali dirawat di rumah sakit. Bahkan, sampai detik ini pun, Syifa belum juga bangun dari siumannya.
Husna merasa sangat menyesal. Seandainya, dia tak pernah membawa Syifa pindah ke kota ini. Mungkin saja, Syifa tidak harus celaka terus-menerus seperti ini.
Melihat keadaan Syifa yang seperti ini. Dia jadi teringat akan masa lalunya---dimana Syafa harus menjalani sepertiga hidupnya di atas ranjang pesakitan dan bertahan hidup dengan bantuan obat-obatan penghilang rasa nyeri.
__ADS_1
Mengingatnya saja, membuat Husna terus dibayangi oleh rasa takut. Ia takut, jika Allah juga akan mengambil putri satu-satunya dan yang paling ia cintai ini.
“Rasa trauma yang diakibatkan oleh cekikan tersebut, membuat Syifa belum bisa bangun sampai sekarang. Tapi, kalian tenang saja. Keadaan Syifa jauh lebih baik dari sebelumnya,” terang Husna terdengar lirih di telinga.
Aya dan Laila saling berpandangan. Ada sesuatu yang mengganjal dan perasaan sesal yang kian menguat setelah melihat air mata Husna. Karena secara tidak langsung, mereka sudah melukai hati seorang ibu.
“Ya Allah. Maafkan Ibu, ya. Ibu jadi sensitif seperti ini,” ucap Husna langsung menghapus air mata yang membekas di pipinya. “Kalian kemari pasti mau bertemu Syifa, kan? Ayo, silakan masuk. Tapi, Syifa belum bisa diajak bicara, ya.” Dia bahkan masih sempat untuk bercanda di saat hatinya sendiri sedang terluka.
Seorang wanita yang telah menjadi seorang ibu adalah manusia yang paling pembohong di muka bumi ini. Mereka bicara seolah-olah mereka tidak pernah merasa sakit. Tapi nyatalah, merekalah yang paling tersakiti dan banyak meneteskan air mata.
“Tunggu, Bu.” Aya mendadak menahan Husna dengan memegang pergelangan tangannya. Sontak, wanita itu langsung menoleh ke arah Aya. “Sebenarnya, ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan Ibu.”
Husna mengerutkan dahinya, bingung. “Bicara saja, Nak. Kenapa jadi serius seperti ini?”
Tiba-tiba saja, Aya melakukan sesuatu yang tidak terduga. Membuat Husna dan Laila terkejut saat melihat Aya berlutut di hadapan wanita parubaya tersebut.
“Saya minta maaf, Bu. Sayalah yang sudah membuat Syifa sampai seperti ini. Saya tidak sengaja melakukannya, Bu. Saya mohon … maafkan saya, Bu.”
Deg!
Sekujur tubuh Husna mendadak kaku seketika. Hatinya semakin tersayat-sayat dan terluka. Bagaimana tidak. Saat ini, dia sedang berhadapan dengan orang yang sudah mencelakai Syifa. Gara-gara perempuan ini, Syifa sampai harus mengalami masa-masa sulit seperti sekarang.
Ingin rasanya ia menampar anak ini. Menjambak rambut dan mencekik lehernya, seperti apa yang sudah ia lakukan pada Syifa. Setan bahkan tiada henti memanas-manasi hatinya, membuat ia hampir saja kehilangan akal dan melayangkan pukulan di tubuh gadis itu.
Tapi, tidak. Sebagai seorang ibu, Husna tidak bisa melakukannya. Dia tidak bisa percaya begitu saja sebelum melihat kejadiannya secara langsung … atau, mendengarnya langsung dari Syifa.
“Bangunlah, Nak!” titah Husna meminta Aya untuk bangkit. Dia masih berbesar hati untuk berbicara dengan lembut pada Aya.
Namun, Aya tetap bersikeras dan tidak mau berhenti sebelum Husna memaafkannya.
“Saya tidak tahu, apakah kamu mengatakan kebenaran atau justru kebohongan. Jika kamu benar-benar melakukannya pada Syifa. Saya mungkin sulit untuk memaafkanmu.” Husna berusaha untuk menahan bendungan cairan bening yang mulai menganak sungai di sudut-sudut matanya. “Jika kalian sudah selesai dengan urusan kalian. Silakan untuk pergi dari sini. Karena saya tidak ingin melihat wajah kalian saat ini. Jika saya sudah hilang kesabaran … mungkin, tamparan tidak akan cukup untuk menghilangan kemarahan saya,” kata Husna tanpa melihat wajah Aya sama sekali.
Aya menunduk. Isak tangisnya masih terdengar jelas. Pelan-pelan, ia pun bangkit dan pergi tanpa mengatakan apa pun. Tak lama kemudian, Laila menyusul Aya.
Aya terus berlari, Menembus kerumunan orang-orang. Beberapa kali, ia menubruk tubuh mereka tanpa sengaja. Air matanya yang kian berkaca-kaca, membuatnya kesulitan untuk melihat dengan jelas.
Aku tidak pernah sebahagia ini saat bertemu denganmu.
Memiliki seorang sahabat sepertimu adalah suatu anugerah yang tidak akan pernah kulupakan.
Terima kasih telah datang, Syifa.
Meski sebentar, engkau telah mengajarkanku arti dari sebuah persahabatan.
Jika ketiadaanku bisa menyelamatkanmu dari kutukan dan kesialan.
Maka, aku rela untuk menjauh dan pergi selamanya.
Kenangan demi kenangan kembali melintas dalam ingatan Aya. Saat pertama kali mereka bertemu, saat Aya menyelamatkan Syifa saat menjadi korban tabrak lagi, dan saat Syifa tersenyum dengan tulus padanya.
Semua kenangan itu menambah perih luka di hati Aya.
**Bersambung
***
NB : Belum direvisi**
__ADS_1