Tidak Ada Apa-apa

Tidak Ada Apa-apa
Chapter 5. Bertemu Kembali


__ADS_3

Jalanan kota yang padat membuat mobil yang Husna dan Syifa kendarai sedikit terhambat. Mereka harus terjebak di dalam kemacetan selama hampir 20 menit lamanya. Namun syukurlah, Syifa tidak sampai terlambat datang ke sekolah. Dia masih beruntung, karena mobil yang dikemudi oleh umminya berhasil tiba di sekolah tepat waktu.


Saat ini, kondisi gerbang sekolah terlihat nyaris ditutup dengan sempurna---hanya muat dilewati oleh kendaraan roda dua.


“Yakin, nggak mau Ummi anter ke dalam?” tanya Husna memastikan. Dia sudah menawarkan diri pada Syifa untuk mengantarnya masuk, tapi anak itu enggan menerima ajakannya. Alasannya sih sepele. Cuma gara-gara malu karena urusan umur. Masa sudah gede, tapi masih mau dianter masuk sekolah.


“Seratus persen ….” Perkataan Syifa tertahan, saat tanpa sengaja matanya menangkap sosok perempuan yang tidak asing melintas di depan mobil mereka. Perempuan itu mengenakan motor matic sebagai kendaraan. “Syifa harus pergi, Ummi. Takut ditinggal!” celetuk Syifa sontak membuat dahi Husna berkerut.


“Ditinggal siapa?” tanyanya ingin tahu.


“Nanti Syifa jelasin sepulang sekolah. Syifa pamit dulu, ya!” Syifa menyambar tangan Husna, lalu mengecup punggung tangan itu dengan takzim. Detik berikutnya, segera meluncur pergi dan masuk ke dalam gerbang dengan terburu-buru.


Perempuan yang dilihat Syifa tadi adalah Aya. Dia baru saja memarkirkan motornya di pelataran parkir milik sekolah. Sesaat setelah gadis itu melepaskan helm dari kepalanya, tiba-tiba saja---


“Kakak cantik juga sekolah di sini, ya!” seru Syifa dengan sepasang mata yang berbinar-binar. Dia benar-benar senang karena takdir telah mempertemukan mereka kembali.


Aya hanya diam dan tidak memberikan respons. Bagaimanapun juga, gadis itu memang tak biasa untuk berbincang empat mata dengan orang asing seperti Syifa.


“Jadi, Kakak tidak mengenaliku sama sekali,” gumam Syifa per sekian detik kemudian. Raut wajahnya yang semula ceria mendadak kusut masai sebagi tanda dari perasaan kecewanya.


Aya mendesah kasar. Sorot matanya yang tajam menunjukkan ketidaknyamanan saat melihat gurat kecewa di balik wajah manis Syifa. Kalau sudah begini, ia jadi merasa bersalah karena sudah membuat gadis itu merasa sedih. Terlebih lagi, Syifa merupakan satu-satunya orang yang memandangnya seperti seorang manusia, selayaknya.


Teng-teng-teng!


Terdengar suara bel pertanda masuk yang berbunyi nyaring ke segala penjuru sekolah. Membuat anak-anak yang baru saja datang bergegas mempercepat langkah kaki mereka.


“Kamu anak baru di sini, kan?” tanya Aya kemudian.


Syifa hanya mengangguk pelan.


“Apa kamu sudah tahu di mana ruanganmu?”


Kali ini, dia menggeleng.


“Baiklah. Aku akan mengantarmu ke ruang wakil kesiswaan.”


Sepasang mata Syifa terbelalak. Senyum yang sempat menghilang, perlahan terbit di sudut-sudut bibirnya yang mungil.


Aya tertegun sejenak. Ternyata, di dunia ini masih ada seseorang yang mau terseyum tulus padanya seperti ini. Sesuatu yang jarang----bahkan tidak pernah---ia temukan selama dua tahun lamanya bersekolah di SMA Garuda Sakti.


“Ikut denganku,” kata Aya kemudian. Tanpa basa-basi lagi, ia pun berjalan lebih dulu dengan Syifa yang mengekornya dari belakang.


***


Setelah sampai di ruang wakil kesiswaan tersebut, kedua gadis itu langsung melangkah masuk ke dalam ruangan bernuansa cerah itu.


"Assalamu'alaikum," ucap Aya memberikan salam pada seorang pria berkumis yang tengah sibuk di depan komputernya.


"Wa'alaikumussalaam." Pria itu lantas menghentikan kegiatannya. Setelah mengetahui siapa yang datang, ia pun mempersilakan mereka masuk. "Ada apa, Cahaya? Tumben sekali kamu datang ke ruangan Bapak."


"Saya mengantar anak baru yang akan bersekolah di sini, Pak," jawab Aya, to the point.


"Oh, iya. Bapak sudah menunggu kedatanganmu sejak tadi, Nak Arsyifa. Ayo, silakan duduk." Pria bernama Edhi itu mempersilahkan kedua gadis tersebut untuk duduk.

__ADS_1


Syifa menurut. Ia pun mendaratkan tubuhnya di salah satu kursi yang bersebrangan dengan meja Edhi. Namun, tidak dengan Aya. Dia masih betah dalam posisi berdirinya.


"Pak Edhi. Saya izin masuk ke kelas dulu, Pak. Takutnya, Bu Erlin sudah masuk. Saya tidak mau memiliki sejarah buruk dengan guru manapun," ujar Aya membuat alasan untuk bisa bebas dari gadis itu.


Mendengarkan perkataan Aya yang demikian, Syifa jelas menolak. Diraihnya tangan Aya dengan kuat. "Kakak tetap di sini saja," pintanya dengan raut yang memelas.


Aya tertegun. Matanya langsung tertuju pada jemari Syifa yang tengah memegang pergelangan tangannya.


Tidak terjadi apa-apa. Aya tidak bisa menerawang masa depan gadis ini seperti sebelumnya.


"Pak. Bolehkah Kakak cantik ini tetap di sini untuk menemani saya?" Syifa melemparkan pandangan pada Edhi. Meminta persetujuan pada pria berusia 40 tahunan itu untuk mengizinkan Aya tetap bersamanya.


"Siapa yang mengajar jam pertama di kelasmu, Cahaya?" tanya Edhi kemudian.


Aya masih terdiam dalam kebingungannya.


"Aya!"


"Iya, Pak." Gadis itu sontak terperanjat saat namanya kembali dipanggil. "Maaf, Pak. Saya sedang tidak fokus saat ini. Apa yang baru saja Bapak tanyakan tadi?"


"Siapa yang mengajar jam pertama di kelasmu, Cahaya?


"Bu Erlin, Pak."


Perasaan, Aya sudah memberitahu Edhi sebelumnya, kalau bu Erlin lah yang mengajar jam pertama di kelasnya. Tapi sudahlah. Aya mencoba maklum, mengingat betapa sibuknya pria itu akhir-akhir ini.


"Baiklah. Saya akan bicara dengan Bu Erlin nanti. Kamu bisa duduk sekarang," titah Edhi yang tak bisa dibantah atau diganggu gugat lagi.


Syifa tersungging manis. Tentu saja dia senang karena permintaannya dikabulkan oleh wakil kesiswaan itu. Sementara Aya ... ia tampak begitu tersiksa karena harus terjebak bersama Syifa untuk waktu yang lama. Beberapa saat kemudian, ia pun mengambil tempat duduk di samping Syifa---karena terpaksa.


"Bapak dengar. Kamu habis mengalami kecelakaan, Arsyifa," tanya Edhi di sela-sela kesibukannya.


"Iya, Pak. Cuma kesempret biasa saja. Tapi, Alhamdulillah. Masih ada orang yang mau menolong saya dan membawa saya ke rumah sakit."


Aya mulai terlihat risih dengan topik pembicaraan di antara kedua manusia ini. Mati-matian, ia berusaha melupakan kejadian beberapa hari yang lalu. Namun, kenapa? Kenapa harus diingat lagi?


"Alhamdulillah. Bapak senang kalau kamu baik-baik saja."


Hening. Tak ada percapakan yang terjalin. Keduanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Edhi masih sibuk memeriksa buku absen untuk mencari kelas yang masih memiliki kursi kosong untuk satu orang lagi. Lalu Syifa, ia sibuk menunggu Edhi di tengah pencariannya. Sementara Aya sendiri, ia mulai merasa bosan sekarang.


Sekadar informasi singkat. Buku tebal itu berisikan absen nama dari kelas X sampai kelas XII. Dimana untuk kelas XI memiliki sepuluh ruangan dalam satu koridor yang berbeda. Lima kelas untuk program IPA dan sisanya yang lima untuk program IPS. Setiap ruangan umumnya diisi oleh 40 siswa aktif.


Seluruh ruangan dari kelas XI-2 sampai XI-5 sudah memenuhi kapasitas. Hanya kelas XI-1 saja yang masih tersisa dan memiliki satu kursi kosong untuk ditempati Syifa


“Arsyifa. Kamu, Bapak tempatkan di kelas XI-1, ya. Di bawah bimbingan Ibu Vidhya sebagai wali kelasmu,” kata Edhi setelah berhasil menemukan satu kursi kosong di kelas XI-1. "Dan kebetulannya lagi, kamu satu kelas dengan Cahaya," sambungnya.


Syifa mengulum senyumnya dengan semringah. Namun berbanding terbalik dengan Aya. Sepertinya, ia tidak akan menemukan hari-hari yang tenang setelah pertemuan singkatnya dengan gadis itu. Pertemuan singkat yang akan menjadi pertemuan yang panjang untuk hari-hari berikutnya.


Setelah urusan mereka selesai, Aya dan Syifa segera undur diri dan melenggang pergi ke ruang kelas XI-1.


***

__ADS_1


"Namaku Syifa. Nama Kakak siapa?" Syifa terus saja mengajak Aya bicara selama perjalanan menuju ke kelas mereka. Akan tetapi, Aya tak memberikan responsnya sama sekali. "Kakak usianya berapa, sih? Kali aja, aku yang malah lebih tua dari Kakak." Syifa belum juga menyerah. Sementara yang sedang diajak bicara, masih tetap dingin dan bersikap cuek pada gadis malang itu. Seakan-akan, ia tak pernah menganggap keberadaan Syifa di dekatnya.


Syifa akhirnya diam karena terus-terusan diabaikan oleh si gadis yang begitu ia idolakan itu.


Apakah Syifa akan menyerah begitu saja?


Tentu saja, tidak. Dia diam bukan berarti menyerah. Dia hanya kehabisan cara saja untuk bisa mencuri perhatian dari gadis berhati es itu. Syifa hanya perlu bermain cantik. Dan ia tahu, bila jalan yang akan ia tempuh tidaklah mudah.


Singkat cerita, sebelum mereka masuk ke dalam. Aya terlebih dahulu mengetuk pintu. Hal tersebut, memancing segenap penghuni kelas untuk menoleh ke pintu masuk.


Seorang wanita separuh baya menghentikan kegiatan mengajarnya sejenak. Menoleh ke arah pintu sekejap, sebelum akhirnya meminta Aya dan Syifa untuk masuk ke dalam kelas. "Ayo, silakan masuk."


Keduanya menurut. Aya langsung duduk di tempatnya sementara Syifa diminta untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu.


"Assalamu'alaikum, semuanya!"


"Wa'alaikumussalaam." Seisi kelas membalas dengan serentak.


"Perkenalkan. Nama saya Arsyifa Izzatun Nisa. Kalian bisa panggil saya Syifa."


"Ada yang ingin bertanya pada Syifa? Seperti asal sekolah atau nomor WA-nya?" ucap Erlin yang langsung disambut riuh oleh seisi kelas, kecuali Aya.


Di sela-sela kebisingan yang terjadi, sontak seorang cowok tampak mengangkat tangannya ke udara. "Tanggal lahirnya kapan, neng? Biar Abang bisa ngasih hati Abang buat Eneng!"


Seisi kelas kembali rusuh setelah mendengar gombalan maut dari si pria yang duduk di bangku paling pojok kiri kelas.


"Dasar buaya darat!" sahut seorang cewek mencebik si cowok.


"Yang jomblo diem aja!" balas si cowok---pedas---sampai ke tulang sum-sum bagian dalam.


Syifa tersungging manis. Dia senang karena orang-orang menyambut kedatangannya dengan ramah. Ya. Walaupun, Syifa tidak menampik bila ada perasaan jengkel saat ia dijadikan candaan seperti ini.


Mau protes?


Syifa tak bisa melakukannya. Bukan karena ia takut. Hanya saja, ia ingin membuat kesan pertama yang baik dengan teman barunya. Karena, jika kesan pertama saja sudah bermasalah. Maka kesan berikutnya pasti akan sama saja.


"Saya lahir di Palembang, usia saya 17 tahun. Sebelumnya, saya bersekolah di SMAN Nusantara Jaya. Pindah kemari karena ikut orang tua pindah tugas. Status saya, single dan tidak sedang ingin menjalin hubungan dengan siapapun. Untuk sosmed dan nomor WA, keduanya adalah sesuatu yang sangat privasi bagi saya." Syifa menjawab pertanyaan cowok tadi dengan tegas. Syifa mungkin ramah pada semua orang. Akan tetapi, sebagai seorang wanita yang bermaru'ah, ia harus tetap menjaga dirinya dengan baik. Terutama dari kalangan buaya darat seperti Rizal, cowok yang berusaha untuk menggodanya tadi


Jika Rizal mendadak bungkam dan kehabisan kata-kata. Reaksi yang berbeda justru ditunjukkan oleh Aya. Untuk pertama kalinya, gadis itu tersenyum dengan keberanian Syifa yang sudah berhasil membuat Rizal menutup mulutnya.


"Baiklah. Sesi perkenalannya Ibu tutup. Dan untuk Syifa, silakan duduk di samping Cahaya, ya," intruksi Erlin kemudian.


Syifa mengangguk. Wajahnya begitu semringah karena satu meja dengan Aya. Satu kesempatan yang sangat bagus bagi gadis itu untuk bisa mendekati Aya dan menjalin tali pertemanan dengannya.


Bersambung


***


NB : Jika menemukan banyak typo atau kesalahan. Harap dimaklum, ya, guys. Pasalnya, belum dilakukan proses editing untuk BAB ini.


BAB ini terinspirasi sewaktu Author pindah sekolah dulu. Nasib banget, ya. Dari SD, SMP, sampai SMA, Author pindah-pindah mulu sekolahnya. Sampe capek karena harus beradaptasi pada lingkungan dan teman yang baru. :(


Sayangnya, Author nggak sesupel Syifa. Author orangnya pendiam banget sampe nggak ada yang mau deket-deket. Hehehe

__ADS_1


See you next part.


__ADS_2