
Lemah tak berdaya. Itulah yang dirasakan oleh Asya saat ini. Sudah berhari-hari lamanya ia dirawat di rumah sakit, namun keadaannya tak kunjung memulih dan malah bertambah parah setiap detiknya.
Pihak rumah sakit bahkan menyerah dengan kondisi Asya. Sebab sebanyak apa pun mereka melakukan pemeriksaan secara berkala pada Asya, mereka tak pernah berhasil mendeteksi adanya penyakit yang bersemayam di tubuh gadis tersebut. Ditambah lagi dengan biaya rumah sakit yang kian membengkak setiap harinya, membuat mereka harus memutuskan pilihan yang sangat sulit. Mau tak mau, mereka harus membawa Asya pulang dan merawatnya di rumah dengan seadanya saja. Dan mereka melakukan itu dengan perasaan sedih dan terpaksa.
Di sinilah Asya menghabiskan setiap detiknya yang penuh dengan penuh penderitaan. Ia terbujur lemah di atas ranjangnya dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
“Pak. Ibu nggak tega melihat keadaan Asya seperti ini. Lebih baik, Ibu saja yang menderita daripada harus melihat Asya terus-terusan sakit,” luah Kina yang tak dapat menahan perih di dalam hatinya.
“Ibu jangan bicara seperti itu. Ini semua sudah menjadi takdirnya Allah. Kita hanya perlu banyak-banyak berdoa dan ikhtiar pada-Nya. Lebih bagus lagi, jika kita memperbanyak shodaqoh untuk kesembuhan Asya. Bapak yakin,. Asya itu kuat. Dia pasti bisa melawan masa-masa sulit ini dengan baik. In syaa Allah, semua rasa sakitnya akan menjadi pahala di sisi Allah,” ujar Anwar berusaha untuk menasehati istrinya. Dia tidak ingin, sebab perkataan istrinya tersebut akan menjadi sebab murkanya Allah. Bukankah setiap penyakit itu datangnya dari Allah. Sama seperti ujian, jika hamba tersebut sabar dan tabah. In syaa Allah, Allah akan gantikan dengan kenikmatan yang luar biasa dan tak bisa dinilai dengan emas ataupun berlian.
“In syaa Allah, Pak,” balas Kina sambil meluruh ke dalam dekapan suaminya. Dekapan paling nyaman yang ia rasakan sepanjang pernikahannya dengan pria tersebut. Akan tetapi, kehangatan itu harus berakhir manakala mereka mendapatkan salam dari tamu yang tak diundang.
Detik berikutnya, salah satu dari pria tersebut langsung mengecup punggung tangan Anwar dan Kina secara bergantian.
“Bapak, Ibu. Maafin Fadhil. Fadhil pergi tanpa izin dari kalian,” ucap pria yang diketahui adalah Fadhil.
Setelah berhari-hari menghilang tanpa kabar, dia akhirnya kembali. Akan tetapi, dia tidak datang sendiri. Ada seorang pria berperawakan tegap yang datang bersamanya.
Beberapa hari sebelumnya ….
“Saya mohon, Pak. Saya benar-benar meminta bantuan Bapak untuk bisa menyembuhkan penyakit Kakak saya,” pinta Fadhil yang tak pernah berhenti menemui Abdullah yang merupakan salah satu dosen di kampusnya. Dia sampai jauh-jauh datang ke rumah pria itu hanya untuk meminta bantuannya.
“Tolong, jangan paksa saya, Fadhil. Saya ini bukan siapa-siapa. Saya tidak bisa menyembuhkan siapapun. Karena hanya Allah sajalah yang memiliki untuk wewenang untuk menyembuhkan setiap penyakit hamba-Nya,” kata Abdullah yang dengan tegas menolak permintaan Fadhil.
Dia sebenarnya kasihan dengan Fadhil. Akan tetapi, dia sudah lama berkomitmen untuk tidak meruqyah orang lain, jika orang tersebut dalam keadaan yang mampu untuk meruqyah dirinya sendiri atau orang tersebut memiliki kerabat yang mampu atau pernah belajar ruqyah syar’iyyah padanya.
Menjadi peruqyah itu tidaklah mudah. Tanpa disadari atau tidak, seorang peruqyah akan sama kedudukannya seperti seorang dukun. Hal itu bisa saja terjadi, bila orang yang meminta bantuannya terlalu percaya dan yakin jika si peruqyah dapat menyembuhkan penyakit atau mengusir jin yang bersemayam dalam tubuh.
Itulah alasannya, mengapa Abdullah selalu menolak untuk meruqyah orang lain. Tugasnya hanyalah mengajarkan ruqyah syariyyah dan bagaimana cara membentengi diri dari gangguan setan beserta tipu dayanya. Bukannya menjadi seorang peruqyah yang tanpa sadar atau tidak telah disisipi kesombongan dan keangkuhan dalam hatinya.
“Bapak sendiri pernah bilang pada saya. Selayaknya manusia yang tinggal dan menetap di bumi Allah. Wajib baginya untuk saling tolong menolong antara sesama manusia. Tapi kenapa … kenapa Bapak tidak mau menolong kakak saya?” lirih Fadhil dengan sudut-sudut matanya yang mulai mengembun.
“Bukankah kamu pernah mengikuti kajian ruqyah yang pernah saya adakan? Kamu sebenarnya bisa meruqyah kakakmu sendiri.”
“Jika saja saya bisa hanya dalam satu kali belajar. Saya tidak akan meminta bantuan dari pada sejak dari kemarin. Saya datang kemari karena saya sangat yakin. Kalau Bapak lebih paham dan fasih dalam meruqyah. Saya tidak ingin mengambil resiko dan saya tak punya pilihan lain, selain meminta bantuan dari Bapak.”
Abdullah menghela napasnya yang terasa berat. Dia tidak menyangka, jika lelaki yang tengah berdiri di hadapannya saat ini adalah seseorang yang sangat keras kepala. Di saat yang bersamaan, Abdullah tidak sengaja melihat putrinya sedang mengintip dari balik jendela. Karena merasa terpanggil, ia lantas mendekati putrinya tersebut dan meninggalkan Fadhil yang diselimuti oleh perasaan kecewa.
“Jika Abah tidak bisa menolong pria itu, maka janganlah mengabaikannya. Janganlah membuatnya putus asa, Abah. Bukankah lebih baik, Abah menunjukkan seseorang yang bisa membantunya?” tutur Fathimah dengan suaranya yang lembut.
Abdullah mengangguk pelan. Apa yang dikatakan Fathimah itu ada benarnya juga.
“Baiklah. Abah akan mencoba untuk bicara dengannya,” kata Abdullah yang akhirnya setuju dengan usulan yang diberikan oleh putrinya.
Dari balik wajah Fathimah yang tertutup cadar, ada senyum yang tergambar jelas dari sudut-sudut matanya yang menyipit. Dia berharap, semoga Fadhil bisa menemukan jalan yang ia cari saat ini.
“Bapak tidak bisa membantumu banyak Fadhil. Tapi, Bapak bisa memberitahumu, seseorang yang in syaa Allah paham dan juga fasih. Kamu bisa menemui Ustaz Adam dan meminta bantuannya.”
***
“Saya sangat terkejut, karena Fadhil datang bersama guru saya, Proffesor Abdullah. Fadhil sudah bercerita banyak hal tentang sakit yang diderita oleh kakaknya. Saya merasa tersentuh dengan perjuangan Fadhil untuk membujuk Proffesor Abdullah, sampai beliau mau menemui saya. Maka dengan niat lillahita’ala, saya akhirnya datang kemari untuk melihat langsung kondisi ananda Asya,” ujar Adam saat sedang berbincang enam mata bersama dengan Fadhil dan juga ayahnya, Anwar. Sementara Kina, saat itu dia hanya menguping dari balik kamar Asya.
“Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak Ustaz Adam, karena sudah bersusah payah mau datang kemari. Saya tidak tahu apa yang bisa saya berikan sebagai ucapan terima kasih pada Ustaz.”
__ADS_1
“Saya tidak perlu imbalan apa pun. Saya datang kemari, in syaa Allah ikhlas dan hanya mengharapkan keridhoan dari Allah. Kalau boleh diizinkan, saya ingin melihat keadaan putri Bapak saat ini.”
“Oh. Tentu saja, boleh, Ustaz. Mari, saya antar ke kamar Asya.”
Setelah mengetahui Ustaz Adam beserta suami dan anaknya akan masuk ke dalam kamar Asya, Kina lantas bergegas dari balik pintu dan segera duduk di samping putrinya yang masih terlelap pulas.
Ada seulas senyum yang tertarik dari kedua bibirnya. Ia tak bisa menutupi perasaan bersyukur dan bahagianya, sebab Allah sudah mengirimkan seseorang yang akan menjadi perantara bagi kesembuhan Asya. Dengan penuh kasih sayang, ia pun mengelus pucuk kepala putrinya yang tertutup kain kerudung.
***
Sementara itu, di sisi bumi yang berbeda, terlihat seorang wanita nekat menembus kegelapan malam dan berakhir di sebuah gubuk tua yang cukup sunyi dan jauh dari keramaian. Saat cahaya lentera menyapa wajah perempuan tersebut, wajah Megalah yang terlihat.
Malam ini, Mega akan menuntaskan misinya. Memenuhi janji Danu untuk melepaskan Asya dan tidak mengganggunya lagi.
Ya. Mega tidak akan pernah menganggu Asya lagi, jika gadis itu benar-benar tamat di tangannya.
“Saya ingin, Mbah menghabisi gadis itu malam ini. Berapapun bayarannya, akan langsung saya berikan,” kata Mega dengan wajah yang datar dan terniat ingin mengakhiri nyawa Asya malam ini. Semakin cepat Asya pergi meninggalkan bumi ini, semakin bagus bagi Mega. Karena setelah Asya tiada, maka Danu akan menjadi milik Mega, seutuhnya.
“Kamu tidak perlu meragukan kemampuan yang Mbah miliki. Mbah yakin, hanya dalam sekejap mata, gadis itu akan mati,” ucap Mbah yang bersiap untuk memulai ritualnya.
Mega tersenyum sinis. Rasanya, dia sudah tidak sabar lagi untuk mendengar kabar kematian Asya keesokan harinya.
***
Kembali pada Asya dan keluarganya. Dengan bantuan Ustaz Adam, mereka akan memulai sesi ruqyah setelah selesai sholat ‘isya.
Sebelum meruqyah pasien yang terjangkit gangguan jin fasik atau sihir yang dikirim melalui perantara dukun, ada baiknya bagi seorang peruqyah untuk mengoptimalisasi waktu, tempat dan perlengkapan terapi.
Pertama, saat hendak melakukan terapi ruqyah---entah itu ruqyah mandiri atau meruqyah orang lain---usahakan untuk berdoa pada waktu yang diijabah oleh Allah. Seperti sesudah salat wajib yang lima waktu.
"Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar." (HR. Al-Bukhari, no. 3701)
"Malaikat tidak mau masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat patung-patung atau gambar-gambar." (HR. Muslim, no. 3948)
Gambar yang dimaksud di atas adalah gambar atau lukisan yang bernyawa.
Dan yang terakhir, adanya ketersediaan perlengkalan yang bisa mendukung terapi ruqyah. Terapi yang biasa digunakan adalah terapi air doa dan daun bidara.
"Ibu. Tolong dipegang perut bagian bawah anaknya. Dan Bapak juga pegang pundak istrinya," ucap Ustaz Adam memberikan intruksi.
Seasang suami tersebut segera menurut dan mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Ustaz Adam. Kemudian, Ustaz Adam pun menyentuh pudak Anwar. Setelahnya, lelaki berusia matang itu mulai melantunkan suaranya dengan merdu. Beliau melafazkan Firman Allah yang terdapat dalam QS. Al-A'raf ayat 117-122.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
"Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
وَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنْ اَلْقِ عَصَاكَۚ فَاِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُوْن {١١٧}
"Dan Kami wahyukan kepada Musa, 'Lemparkanlah tongkatmu!' Maka, tiba-tiba ia menelan (habis) segala kepalsuan mereka." {117}
فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَۚ {١١٨}
"Maka terbuktilah kebenaran, dan segala yang mereka kerjakan jadi sia-sia." {118}
__ADS_1
فَغُلِبُوْا هُنَالِكَ وَانْقَلَبُوْا صٰغِرِيْنَۚ {١١٩}
"Maka, mereka dikalahkan di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina." {119}
وَاُلْقِيَ السَّحَرَةُ سٰجِدِيْنَۙ {١٢٠}
"Dan para pesihir itu serta-merta menjatuhkan diri dengan bersujud," {120}
قَالُوْٓا اٰمَنَّا بِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ {١٢١}
"Mereka berkata, "Kami beriman kepada Tuhan seluruh alam," {121}
رَبِّ مُوْسٰى وَهٰرُوْنَ {١٢٢}
"(yaitu) Tuhannya Musa dan Harun." {122}
Hanya dengan melafazkan basmalah. Asya mulai bereaksi keras dan tak wajar. Saat pindah ke ayat selanjutnya, ia pun terbangun dan mengiris kesakitan. Ayat berikutnya, berhasil membuat Asya menjerit dan berontak. Dengan sigap, Fadhil membantu kedua orang tuanya untuk menahan tangan dan kaki Asya.
Ustaz Adam tak pernah berhenti untuk terus melantunkan hafalan ayat sucinya sampai selesai.
Di saat yang bersamaan, si Mbah juga sedang membaca mantranya. Dia mulai merasakan ada kekuatan besar yang mencoba melawannya. Akan tetapi, si Mbah tak menyerah sampai di sana. Ia semakin menambah kekuatannya dan mencoba menyerang balik kekuatan tersebut.
"Ditekan-tekan rahimnya, Bu. Tepuk-tepuk dan setelah itu bantu dorong ke atas," intruksi Ustaz Adam yang dilanjutkan dengan membaca ayat-ayat suci yang lainnya.
Kina menurut. Ia lantas menepuk-nepuk perut Asya dengan pelan dan itu menimbulkan reaksi seperti sedang ditusuk-tusuk oleh sebilah pisau.
Asya menjerit pilu, menahan sakit yang benar-benar menyiksa itu.
Setelah menepuk-nepuk perut bagian bawah Asya, Kina pun membuat gerakan seolah-olah sedang menarik sesuatu dari dalam tubuh anaknya tersebut.
Ketika telapak tangannya mulai menyentuh tenggorokan, Asya pun terbatuk-batuk hebat sampai memuntahkan darah yang bercampur dengan paku yang sudah berkarat.
DUAR!
Dupa dan segala perlengkapan ritual si Mbah spontan meledak begitu saja. Detik selanjutnya, disusul dengan tubuh si Mbah yang terpental dan berakhir menghantam tembok rumahnya dengan keras.
Si Mbah mengembuskan napas terakhirnya dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Darah tampak keluar dari semua lubang di dalam tubuhnya. Matanya menjelit lebar, seakan bola mata tersebut hendak keluar dari tempatnya.
Si Mbah pun mati dalam keadaan yang su'ul khatimah.
Bagaimana dengan keadaan Mega. Gadis itu sangat terkejut mendapati kematian si Mbah yang benar-benar tak terduga. Ia semakin dibuat syok saat cairan kental berwarna merah turut keluar dari dalam mulutnya melalui batuk.
Akhirnya, ia pun pergi dengan hati yang kacau. Meninggalkan tubuh si Mbah yang tak lagi bernyawa.
***
Setelah kejadian itu, keadaan Asya jauh lebih baik setiap harinya. Dia sudah kembali pulih dan sehat seperti sedia kali.
Berbanding terbalik dengan Mega yang harus membayar lunas untuk kejahatan yang ia perbuat. Penyakit yang dulu hinggap di tubuh Asya, kini berbalik menyerang Mega. Gadis itu hidup dengan rasa sakit yang sangat menyiksa. Bahkan, rasa sakit itu kian bertambah parah setiap harinya.
Sudah banyak cara Mega tempuh. Mulai dari ke dokter, pengobatan alternatif atau ahli supranatural. Namun, ia tak kunjung menemukan titik kesembuhan.
Di hari ke 30, Mega pun ditemukan tak bernyawa di dalam kamarnya. Ia melakukan percobaan diri dengan menyayat bagian tubuhnya yang ditimpa rasa sakit. Dan rasa sakit itu berasal dari rahimnya sendiri.
__ADS_1
Bersambung