
james sangatarah besar dengan kelakuan louise. membanting gelas ke lantai.
albert yang di suruh louise untuk menyelesaikan semua. hanya bisa menerima maki cacian dari james.
tidak ada kesepakatan penyelesaian di kedua belah pihak.
"suamiku, muka kita mau di taruh kemana"
ana berpura-pura bersikap menyedihkan. melap air mata di kata. albert yang melihat, merasa sangat mual dan akhirnya tau. kenapa perasaan kashu lebih memilih di villa daripada mengurusi louise.
"pokoknya, malam ini. louise harus pergi ke rumah keluarga holland"
james mengusir albert dengan kasar. albert mengemudikan mobil keluar dari pakiran dan berhenti di taman
memikirkan bagaimana mengatakan masalah ini.
di villa, kashu membersihkan ruangan paling atas. tempat di temukan jasad nelson sakuya. meskipun louise tidak mengatakan untuk membersihkan tempat tersebut. tapi kashu tetap membersihkan dan merapikan semua barang di ruangan tersebut.
buku di susun dengan rapi dan di pasang bola lampu untuk menerangi. meja dan kursi di lap bersih. semua pada tempatnya. tidak ada barang yang di ganti.
capek membersihkan, kashu akan duduk di sofa. menatapi langit-langit yang berwarna abu tua.
"perasaan seperti ini. dulu pernah merasakan. tapi di mana?"
ketika kashu menutup mata sebentar, ada bayangan yang berjalan mendekati.
dengan spontan, kashu berdiri dan melihat orang di depan.
__ADS_1
"angeline...kenapa kamu bisa di sini"
pria itu hanya tersenyum dengan mata yang dingin menatap kashu dan mengelus kepala kashu. lalu duduk di sofa menyilangkan kedua kaki yang panjang.
"16 tahun tidak ketemu. kamu benar-benar sudah jadi pria"
mendegar kata pria yang mirip dengan angeline. kashu menelan ludah dan menatap dengan mata yang besar.
"siapa kamu"
"siapa, hmmm"
pria itu tidak melanjutkan perkataannya tapi melihat kashu di depan lalu memalingkan wajah ke tempat lain.
"berani sekali kamu kesini, kamu tidak tau. ini kediaman nelson sakuya"
bukannya takut, senyuman pria itu semakin lebar dan berjalan mendekat. bahkan menarik tangan kashu yang memegang pistol. mengarahkan ke dahi sendiri.
"tembak saja,"
keraguan semakin besar di hati kashu. semakin menatap mata yang biru sedingin es.
"sejak awal, pistol ini tidak ada isi"
pria itu menarik pistol di tangan kashu dan membuka bagian peluru dan memasukan yang baru ke dalam.
kashu mengira, akan di bunuh di tempat yang sama seperti tuan besar.
__ADS_1
"di mana nelson"
suara pria itu sangat lembut, seperti seorang wanita.
kashu menelan ludah kembali dengan keringat dingin.
"tuan besar sudah meninggal. kemarin jasadnya di temukan di sini. tapi sudah jadi tulang"
pria itu terdiam sesat dan matanya menatap ke bawah. expresi di wajah berubah
"di mana makamnya."
"aku tidak tau. yang tau hanya albert dan tuan louise"
"louise, bocak itu ternyata hidup?!
diamya kashu yang tidak menjawab. membuat pria itu berdiri dan memainkan pistol di tangan.
"kashu..sepertinya kau benar-benar hidup baik tanpa ingatan. sungguh hebat si tua bangka nelson"
"ehh....??
"tapi baguslah, aku senang melihat dirimu bisa sebesar ini."
pria itu berjalan mendekati kashu dan memeluknya dengan berbisik di telinga kashu
"salam kenal, nama ku michael heart. tolong rahasiakan. aku pernah ke sini. kashu"
__ADS_1
tubuh kashu terdiam,ketika mencium aroma tubuh yang tak asing dari pria ini.