
Sebelum kedatangan keluarga Riko, Bu Mira sudah membuat persiapan. Berbagai macam masakan yang terbilang istimewa sudah dibuat, untuk memberikan kesan yang baik untuk keluarga mereka.
Sementara Risha sibuk ke salon untuk merubah penampilannya agar tampil lebih menarik. Dia melakukan perawatan seluruh tubuh, agar kulit tubuhnya terlihat halus dan lembut, selembut kulit bayi.
Berbeda dengan Bella. Dia yang sudah tidak peduli lagi dengan kedatangan keluarga Riko, malah sibuk mempersiapkan tugas kelompok. Tugas yang akan dia bahas dengan Vivi dan Rangga esok hari sepulang sekolah.
Baik Bu Mira maupun Risha tidak memberitahukan kedatangan keluarga Riko pada Bella.
Saat hari menjelang sore, Bella mendapat panggilan telepon dari Rangga. Rangga mengajak Bella untuk menemaninya pergi ke mall untuk mencari hadiah untuk ulang tahun keponakannya. Inilah kesempatan Bella untuk menghindari bertemu Riko dan keluarganya.
Bella tahu, dengan tidak diberitahukannya kedatangan Riko dan keluarganya kepada Bella, berarti memang ibu tirinya berharap Bella tidak bertemu mereka.
Sebelum Bella berpamitan pada ibu tirinya, Bu Mira telah terlebih dulu memintanya pergi ke rumah Vivi. Bu Mira mengatakan bahwa malam ini, Risha akan menerima sebuah lamaran. Bu Mira tidak ingin kehadiran Bella merusak kebahagiaan Risha.
Tega sekali Bu Mira berbohong pada Bella, tetapi Bella ingin membuat Bu Mira tidak mencurigainya jika Bella sudah tahu siapa sebenarnya tamu yang akan datang malam ini.
"Bella, kamu menginap saja di rumah Vivi barang semalam. Bawa sekalian seragam sekolah dan buku-buku yang kamu perlukan untuk besok. Jadi kamu tidak perlu pulang mengambilnya lagi," ucap Bu Mira sedikit memohon.
"Baik. Bella akan pergi ke rumah Vivi sesuai keinginan ibu," jawab Bella sambil tersenyum.
Bella berangkat ke rumah Vivi, dengan membawa beberapa barang yang sudah Bella siapkan dalam tas sekolahnya. Bella pergi naik sepeda motor miliknya menuju rumah Vivi.
Bella berhenti di sebuah cafe karena ada janji dengan Vivi dan Rangga di sana. Saat Bella mencari tempat parkir, dari arah lain sebuah mobil yang dengan cepat tiba-tiba sudah parkir di tempat yang Bella tuju. Bella mengerem motornya mendadak hingga hampir jatuh.
Bella tampak kesal. Dia turun dari motornya dan mendekati pemilik mobil yang baru saja turun keluar dari mobilnya.
"Hai, kenapa mesti merebut tempat parkir orang lain? Apa karena kamu bawa mobil dan aku hanya bawa sepeda motor?" tanya Bella emosi.
"Tenang dulu, aku tidak tahu kalau kamu juga berniat parkir di sini. Tapi aku kan yang parkir duluan?" jawab laki-laki itu.
"Mobil kamu menghalangi motorku, untung saja aku tidak jatuh," ucap Bella kesal.
"Kalau begitu, aku minta maaf. Aku akan cari tempat parkir yang lain didekat sini, walupun susah sih," kata laki-laki itu lagi.
__ADS_1
"Ya sudah, tempat parkir ini untuk kamu saja. Lebih mudah mencari tempat parkir motor daripada mobil. Aku parkir di sini saja, nanti kalau kamu mau pergi, bilang saja padaku," ucap Bella sambil mendorong motornya didekat mobil itu. Sementara, pria itu sudah lebih dulu masuk.
Biar saja, tukang parkir-nya bingung. Melihat motornya tidak pada tempatnya, batin Bella.
Bella masuk untuk mencari tempat duduk, tetapi sore ini cafe ini penuh. Matanya menyapu seluruh ruangan, lalu berhenti pada sesosok pria yang tadi berebut parkir dengannya tadi. Dia tampak sendirian dan sepertinya bisa untuknya memanfaatkan itu.
"Permisi, anda sendirian kan?" tanya Bella sok ramah. Jawaban pria itu hanya mengangguk.
"Bagus deh. Tempat ini sudah penuh, dan aku ada janji dengan teman-temanku dicafe ini. Pinjem tempatnya sebentar ya?" tanya Bella sambil menatap lembut pria itu. Lagi-lagi, jawaban pria itu hanya anggukan saja.
"Terima kasih," jawab Bella senang.
Bella bergegas duduk lalu memesan 3 gelas jus untuk Rangga dan Vivi, yang kebetulan belum sampai.
Tidak berapa lama, datanglah Vivi dan Rangga yang kemudian disambut oleh Bella untuk bergabung dengannya. Awalnya Rangga dan Vivi sempat kaget melihat Bella duduk bersama seorang pria. Setelah Bella menjelaskan, mereka akhirnya tertawa bersama.
Selama mereka berbincang-bincang, Bella tidak menyadari jika Rangga terus memperhatikan Bella dan ketahuan oleh pria tersebut. Rangga merasa malu sendiri dan meminta Bella untuk tidak sembarangan bersama orang asing.
"Aku yang minta duduk di sini karena tempat ini tadinya penuh. Om-nya cukup baik kok, daripada nggak dapat tempat duduk. Benar kan, Om?" tanya Bella sambil tersenyum manis.
Pria itu hanya tersenyum dan mengangguk saja. Lalu dengan santai meminum kopi pesanannya.
"Bella, zaman sekarang, Om-om itu suka daun muda. Pria yang akan dijodohkan dengan kamu juga sudah tua. Bisakah kamu menolaknya? Masa depan kamu masih panjang. Banyak pria yang seumuran denganmu yang akan mau menikahimu," kata Rangga seolah memberi sinyal kalau pria itu adalah dia.
"Menikah dengan orang yang usianya lebih tua, memiliki banyak kelebihan. Selain pasti dia sudah mapan, dia akan bisa menjadi tempat ternyaman bagi istrinya," jawab pria itu yang merasa tersindir.
"Benar itu, Bell. Jadi kamu seharusnya tidak perlu menghindari perjodohanmu," ucap Vivi sambil melihat sahabatnya itu.
"Vi, kamu ini membela siapa? Seharusnya kamu mendukungku," ucap Rangga pelan pada Vivi.
"Tapi, kamu saja tidak berani menyatakan cinta pada Bella. Bagaimana aku bisa mendukungmu bersaing dengan pria itu?" jawab Vivi setengah berbisik sambil menghela napas.
"Cinta apa, Vi? Kamu mencintai aku, Rangga?" tanya Bella yang membuat semua orang yang ada disitu kaget. Mereka tidak menyangka jika Bella akan dengan gampang bertanya seperti itu.
__ADS_1
"A-aku …," jawab Rangga gugup.
"Sudahlah, kalau memang cinta, nggak papa kok. Lagian cinta milik semua orang. Kita juga tidak bisa memilih, kepada siapa kita akan jatuh cinta. Aku hargai, meskipun saat ini aku lagi fokus dengan tujuanku. Mungkin suatu saat, aku akan menerima kamu," ucap Bella sambil tersenyum.
Bella, apa dulu Bella pernah mencintai Rangga? batin Bella.
Menarik juga gadis kecil ini, jika gadis itu adalah gadis yang di jodohkan denganku, mungkin saja aku akan menerimanya dengan senang hati, batin pria itu.
***
Malamnya, keluarga Riko datang. Mereka rupanya baru datang dari luar negeri dan akan berada di Indonesia selama satu Minggu saja. Sedangkan Riko, masih belum jelas rencananya.
Kedatangan keluarga Riko untuk mengucapkan bela sungkawa sekaligus untuk membicarakan rencana pertunangan Riko dan Bella.
"Maaf pak, Bu. Setelah suami saya meninggal, saya rasa perjodohan ini dibatalkan saja," ucap Bu Mira serius.
"Kenapa, Bu? Justru malah setelah mas Genta meninggal, perjodohan itu menjadi wasiat untuk kami. Jadi perjodohan ini harus tetap dilaksanakan," kata Pak Teddy.
"Sebenarnya, saya kasihan pada putra anda. Bella itu, gadis tidak tahu aturan. Lihat saja, saat calon suaminya datang, dia malah pergi entah kemana. Tidak punya sopan santun," kata Bu Mira berbohong untuk membuat keluarga Riko mundur dari perjodohan.
"Tidak apa, dia masih sangat muda. Masih banyak waktu untuk membimbingnya menjadi gadis yang baik," jawab Pak Teddy.
"Tapi Pa, ibu tidak mau memiliki mantu gadis nakal. Mama tidak suka dibantah sama menantu," ucap Bu Yeti sambil cemberut.
Akan tetapi, pak Teddy tidak mendengarkan ucapan istrinya. Dia berharap akan bisa bertemu dengan Bella sebelum acara pertunangan. Jadi Akan ada waktu bagi Riko dan juga Bella untuk saling mengenal lebih dekat. Pak Teddy juga berharap, acara pertunangan ini bisa dilakukan sebelum mereka kembali ke luar negeri.
Sementara Riko hanya diam saja. Dia ingin melihat sendiri, seperti apa gadis yang dijodohkan dengannya. Masih SMA, pasti masih imut dan lucu. Riko juga ingin melihat seperti apa calon istrinya.
Bu Mira dan Risha kesal karena usaha Risha menarik perhatian keluarga Riko dan juga Riko sendiri tidak berhasil. Mereka sama sekali tidak peduli dengan keberadaan Risha.
Disaat mereka asyik mengobrol, Bella datang dengan gaya urakan nya. Gaya selengekan dan gaya tidak sopannya.
"Ada tamu ya?" ucap Bella berpura-pura tidak tahu jika ada keluarga Riko yang datang untuk memastikan rencana pertunangan mereka.
__ADS_1