Transmigrasi Menjadi Gadis 17 Tahun

Transmigrasi Menjadi Gadis 17 Tahun
Bab 26. Benar atau salah


__ADS_3

Bella kaget dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Gea. Apalagi saat menceritakan kematian Hesty sambil tertawa dan tidak ada sedih-sedihnya.


Mengaku sahabat, tetapi kelakuannya seperti musuh bebuyutan. Bahkan membawa-bawa orangtua Hesty. Bella semakin penasaran dengan perkataan Gea.


"Mbak Gea, jangan membuat pernyataan yang salah. Mbak bisa di penjara telah mencemarkan nama baik pak Rahmat dan Bu Lestari," ucap Bella.


"Bella-Bella. Kamu itu tidak tahu apa-apa tentang kami. Jadi jangan sok pinter, sok mengancam aku," ucap Gea kesal.


Gea mendorong tubuh Bella ke pinggir hingga bisa melihat ke bawah. Bella sadar jika hati Gea saat ini sudah dibutakan oleh rasa cemburunya. Dengan cepat Bella membalikkan keadaan dan sekarang, Gea yang berada di posisi Bella.


"Jangan Bella. Aku masih ingin hidup, jangan bunuh aku!" teriak Gea ketakutan.


"Jika kamu tidak ingin mati, maka katakan padaku apa arti ucapanmu tentang kematian Hesty," ancam Bella.


Gea terdiam mendengar ancaman Bella. Dia tidak menyangka jika niatnya mengancam Bella, kini malah berbalik arah, dia yang kini diancam oleh Bella.


"Kenapa diam. Jika kamu tidak segera bicara, hanya dengan satu gerakan saja, tubuhmu akan melayang jauh ke bawah," ancam Bella lagi.


"Tunggu, aku akan ceritakan apa yang terjadi pada Hesty," jawab Gea panik.

__ADS_1


Gea mulai bercerita. Ketika Gea menghubungi Hesty dan memintanya untuk bertemu di atap gedung ini, Gea tiba-tiba diculik beberapa orang yang tidak dia kenal. Makanya Hesty hanya melihat satu sepatu Gea di atap gedung.


Orang yang menculik Gea ternyata orang suruhan pak Rahmat. Sepatu Gea, sengaja mereka tinggalkan satu, untuk membuat Hesty mengira jika Gea benar-benar bunuh diri.


Saat Hesty panik, orang suruhan pak Rahmat Mendorong tubuh Hesty hingga jatuh dan meninggal. Gea menghentikan ceritanya.


"Gea, apakah kamu pikir aku akan percaya dengan cerita kamu? Mana mungkin mereka membunuh anaknya sendiri?" tanya Bella tidak percaya.


"Jika kamu tidak percaya, kamu tanyakan langsung pada mereka," jawab Gea kesal.


Bella segera melepaskan Gea dan Gea segera pergi meninggalkan Bella yang masih dengan pikiran tidak percayanya pada cerita Gea.


Bella semakin dibuat pusing dengan cerita Gea. Satu-satunya jalan adalah mencari kebenarannya secepat mungkin.


Malam sudah semakin larut ketika Bu Lestari ke dapur untuk mengambil air minum. Dengan lampu yang hanya sebagian yang hidup, membuat suasana ruangan terasa cukup horor. Malam ini, udara terasa dingin dan sepi tidak seperti biasanya.


Bu Lestari merasakan ada seseorang yang memperhatikannya sejak tadi. Tiba-tiba bulu kuduknya merinding. Matanya menatap ke segala arah di setiap penjuru rumah. Sekelebat bayangan membuat hati Bu Lestari ciut.


Saat hendak kembali ke kamarnya, sesosok wanita berdiri tepat dihadapannya. Rasa kaget bercampur panik membuatnya langsung memejamkan mata dan berteriak kencang.

__ADS_1


"Hantu ...!"


Bu Lestari akhirnya pingsan. Pak Rahmat dan Bella yang mendengar teriakkan Bu Lestari langsung menghampirinya. Pak Rahmat langsung mengangkat tubuh istrinya menuju ke kamarnya diikuti Bella sambil membawa minuman.


Pak Rahmat langsung merebahkan tubuh istrinya di atas tempat tidur. Membuka sedikit kancing bajunya dan mengolesinya dengan minyak kayu putih. Bella memperhatikan dengan seksama perhatian pak Rahmat pada istrinya.


Setelah beberapa saat tidak sadarkan diri, Bu Lestari akhirnya membuka matanya perlahan. Bella segera menyodorkan minuman pada Bu Lestari.


"Minum air putih dulu, Bu," ucap Bella lembut.


Bu Lestari minum sampai satu gelas penuh itu habis. Lalu Bu Lestari menyerahkan gelas pada Bella kembali.


"Ada apa dengan ibu? Kenapa ibu tadi berteriak seperti melihat hantu. Hantu apa?" tanya Pak Rahmat penasaran.


"Begini, Ibu melihat Hesty di depan ibu. Bukannya Hesty sudah meninggal?" jawab Bu Lestari panik.


"Ibu jangan mengada-ada. Ibu pasti hanya berhalusinasi saja. Ibu jangan terlalu memikirkan Hesty. Dia sudah damai di alam sana," ucap pak Rahmat berusaha menangkan Bu Lestari.


"Beneran, Ayah. Ibu melihat dengan jelas, kalau itu Hesty," ucap Bu Lestari lagi.

__ADS_1


Apa yang sebenarnya terjadi di rumah pak Rahmat?


__ADS_2