
Bella bertambah kaget, merasakan tangan itu begitu kuat menariknya. Rencananya untuk menghindari pertanyaan dan masalah lain, gagal total karena Riko tidak membiarkannya pergi.
Saat itu, mereka menjadi bahan tontonan orang-orang yang ada di cafe tersebut. Bella sebenarnya sangat malu dan takut, jika dianggap sebagai pemicu perkelahian. Bella bukan gadis seperti itu. Gadis yang merasa bangga jika diperebutkan banyak pria.
"Pak Farhan, anda tahu Bella ini tunanganku. Jadi, jangan ganggu dia lagi. Cukup sampai di sini!" bentak Riko lalu membawa Bella pergi.
Bella kesulitan mengikuti langkah Riko yang berjalan dengan cepat.
"Abang, Bella mau jatuh," rengek Bella.
Mendengar rengekan Bella, hati Riko luluh dan dia langsung mengangkat tubuh kecil Bella. Bella sempat kaget dengan sikap Riko yang menurutnya sangat romantis. Bella tersenyum sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher Riko.
Baik Riko maupun Bella tidak peduli dengan mata orang-orang yang melihat ke arah mereka. Bella sendiri bingung dengan dirinya. Dia lebih nyaman bersama Riko ketimbang bersama Farhan.
Farhan, pria yang pernah dia cintai, telah membuat hatinya mulai ragu dan curiga. Curiga pada Farhan dan sahabatnya Gea. Apakah kecurigaannya itu sebenarnya nyata atau hanya perasaannya saja. Harusnya semua itu terungkap sebelum kematiannya saat itu.
__ADS_1
Riko berhenti di samping mobilnya. Bella merasakan detak jantung Riko lebih cepat dari pelari maraton. Bau khas parfumnya menembus paru-parunya dan membuat jiwa Bella melayang.
"Bella, turun. Kamu berat," ucap Riko memperingatkan Bella karena tidak ingin Bella kaget saat diturunkan.
"Ih, berat apanya? Berat badanku hanya 40 kilo, tahu," jawab Bella membela diri.
Riko menurunkan Bella perlahan dan Riko berpura-pura tangannya pegal, saat mengangkat Bella.
"Abang pasti kurang olah raga, makanya baru angkat badan Bella yang kecil aja sudah berasa berat. Gimana kalau berat badan wanitanya lebih gede dari Bella?" ledek Bella.
Bayangan Bella susah di kendalikan, apalagi saat napas Riko begitu dekat dan hembusan napasnya mengenai wajahnya.
"Buktikan saja nanti, kalau kita sudah resmi menikah. Kamu akan lihat sekuat apa suamimu ini," bisik Riko yang membuat wajah Bella memerah karena malu. "Masuklah, aku antar kamu pulang."
Riko bergegas masuk ke mobil dikuti Bella yang masih merasakan sensasi pesona Riko. Mobil Riko melaju kencang di jalanan yang agak sepi.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, sampailah mereka di rumah pak Rahmat. Riko mengantar Bella hanya sampai di luar rumah karena Bella melarang Riko bertemu pak Rahmat dan istrinya. Takutnya Bella tidak bisa menyelidiki lagi kebenaran kematian Hesty yang menurut kepolisian adalah bunuh diri.
"Bella, jika kamu membutuhkan sesuatu, hubungi saja aku," ucap Riko sebelum Bella turun dari mobil Riko.
Bella hanya mengangguk pelan dan bergegas masuk ke rumah.
Di dalam rumah, Bu Lestari sudah menunggunya untuk mengajaknya berbincang-bincang.
"Tante, Tante menunggu Bella?" tanya Bella saat melihat Bu Lestari yang membukakan pintu untuk Bella.
" Iya, Bella. Tante kesepian di rumah sendirian. Tidak ada temen ngobrol," jawab Bu Lestari.
"Ya udah Tante, Bella mandi dulu, nanti Bella temani," ucap Bella lalu bergegas masuk kamar untuk mandi dan berganti pakaian.
Setelah selesai berganti pakaian, Bella bergegas menemui Bu Lestari untuk menemaninya berbincang-bincang. Bella sedih karena menyadari jika ibunya pasti kesepian setelah kematian Hesty.
__ADS_1