Transmigrasi Menjadi Gadis 17 Tahun

Transmigrasi Menjadi Gadis 17 Tahun
Bab 31. Cerita Rangga


__ADS_3

Bella kembali ke rumah Riko untuk mengepak barang-barangnya. Dia memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah Riko. Untuk sementara dia mungkin akan tinggal di rumah Vivi.


Dia harus bisa mengumpulkan uang untuk membayar pengacara mengurus surat wasiat ayahnya. Surat wasiat terakhir dibacakan, yang menurut Bella tidak masuk akal. Memintanya tinggal di rumah tunangannya, padahal belum menikah.


Bella akan bekerja sambil sekolah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Tidak mungkin dia akan selamanya meminta bantuan orang lain.


Setelah selesai menata barang-barangnya, Bella menemui Bibik Inem yang kebetulan sedang membersihkan ruang tengah. Bu ik tampak terkejut melihat Bella keluar dari kamar sambil membawa tas.


"Mbak Bella mau kemana? Kenapa membawa tas?" tanya Bik Inem.


"Bik, hari ini, Bella harus pergi. Bella sudah bicara dengan Bang Riko. Jadi Bibik tidak perlu khawatir kalau Bang Riko marah sama Bibik. Bella pamit pergi, Bik," kata Bella sedih.


"Hati-hati Mbak Bella. Kapan-kapan datanglah ke sini. Bibik akan masakan makanan kesukaan Mabuk Bella," kata Bik Ijah.


Bella mencium tangan Bik Ijah sebagai penghormatan kepada yang lebih tua. Bella bergegas pergi sebelum Riko menyadari kalau hari ini juga dia pergi dari rumahnya.


Bella kembali menghubungi Vivi untuk menjemputnya segera. Tetapi, baru saja akan mencari nomor ponselnya, Vivi sudah datang dengan naik sepeda motornya.


"Bella," sapa Vivi.


Bella langsung meletakkan tasnya di dekat kaki Vivi, sedangkan Bella duduk di belakang. Sepeda motor Vivi melaju menuju ke sebuah cafe. Rupanya, Rangga sudah menunggu di sana.

__ADS_1


"Vi, kenapa kita ke sini, tak langsung ke rumahmu saja?" tanya Bella bingung.


"Tadinya aku mau langsung, tetapi Rangga memiliki sesuatu yang penting yang ingin dia beritahukan ke aku. Kita sekalian saja temui dia, baru nanti kita pulang," kata Vivi.


"Kalau begitu, terserah kamu saja. Aku sih ngikut saja kemana kamu akan membawaku. Yang penting mah, malam ini aku tidak tidur di jalanan," kata Bella sambil tersenyum.


"Ya udah, kita langsung masuk saja ke tempat yang biasa. langkah pasti sudah menunggu kita di sana," ucap Vivi lalu berjalan menuju ke arah Rangga yang sudah menunggunya.


"Rangga, maaf, kami agak terlambat. Maklum motor butut," kata Vivi sambil meletakkan tas dibawah.


"Bella, Vivi, duduklah. Tadinya aku mau ceritakan sesuatu, tetapi setelah aku pikir lagi kayaknya tidak pantas untuk diceritakan. jadi kita santai saja di sini dulu, nanti kalian baru pulang," kata Rangga sambil menatap kedua gadis di hadapannya.


"Ya udahlah, ini juga masih sore. Cukuplah kalau hanya sekedar untuk minum jus Sam cemilan. Tapi, aku mau diet. Nggak boleh terlalu banyak maka. Ngirit, lagi nggak punya duit," jawab Bella.


"Kamu itu kayak dari dulu punya duit aja. Setiap kali makan, kita yang bayarin. Harusnya ibu tirimu itu, kasih bagian warisan dari ayahmu. Kamu itu berhak hidup layak, bukan begitu Rangga?" tanya Vivi.


"Iya, Vivi benar. Kenapa kamu tidak menyewa pengacara. Kamu bisa minta bantuan tunanganmu," kata Rangga serius.


Bella menarik napas berat. Dia sempat bimbang, mau cerita atau akan menyimpan ini menjadi sebuah rahasia. Tetapi ketika mengingat bahwa Vivi dan Rangga adalah sahabat terbaiknya, Bella memutuskan untuk berterus terang.


"Rangga, Vivi. Aku sudah memutuskan hubungan dengan Riko. Aku pikir, aku dan dia, tidak sejalan. Mungkin karena usia kami berbeda. Dia menganggap aku seperti anak-anak. Dia terlalu posesif dan aku tidak menyukai itu. Aku merasa tertekan," kata Bella sedikit parau.

__ADS_1


Rangga dan Vivi tampak kaget mendengar pengakuan Bella.


"Bella, kamu pasti sangat sedih dengan pilihanmu ini. Sini, biar aku peluk kamu," ucap Vivi sedih.


Suasana menjadi hening beberapa saat.


"Tidak apa-apa. Aku akan bisa melanjutkan hidup meski tanpa dia. Bukankah ada kalian?" tanya Bella.


"Bella, aku tadinya tidak ingin mengatakan ini. Tapi setelah kamu memutuskan hubungan pertunangan kamu dan Riko, aku tidak akan merasa bersalah jika mengatakan semua ini," kata Rangga.


"Ada apa, Rangga?" tanya Bella penasaran.


"Apa ini ubah tadi ingin kamu katakan padaku tapi nggak jadi?" tanya Vivi.


"Benar. Begini, beberapa hari yang lalu, aku melihat Riko bersama seorang wanita di sebuah restoran. Hubungan mereka terlihat sangat dekat. Bahkan aku merasa kalau mereka lebih seperti pasangan. Jadi aku pikir, dia menyembunyikan ini dari kamu pasti ada yang tidak beres. Tapi, sudahlah. Lagian kalian juga bukan lagi pasangan bukan?" tanya Rangga.


Bella terdiam. Hatinya kacau dan di sangat marah. Riko memang menganggapnya anak kecil yang bodoh dan polos. Makanya Riko tidak jujur padanya.


Tetapi Bella tidak akan membiarkan, Riko menertawakan dirinya. Dan tidak akan semudah itu dia selingkuh di belakangnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2