
"Bella, kamukah itu?" tanya Riko yang masih dalam kondisi mabuk.
"Iya, ini aku," jawab Bella singkat.
"Hai Bella, kamu sebaiknya pergi dari sini. Riko tidak pernah mencintai kamu. Kamu itu terpaksa bertunangan denganmu," kata Tere kesal.
Tere berusaha mendorong Bella keluar dari ruangan tersebut. Tetapi Bella tidak mau kalah. Bella menggunakan sedikit kekuatannya untuk melawan Tere. Dorongan Tere tidak mampu membuat Bella menjauh dari Riko. Bahkan Tere nyaris terjatuh karena tenaganya tidak sekuat Bella.
"Abang Riko, Abang harus bertanggungjawab," kata Bella manja di samping Riko.
Bella mencoba merayu Riko dengan gaya anak remaja. Bella tidak peduli dengan pandangan Riko, yang penting, Bella bisa menciptakan masalah antara Riko dan Tere.
"Riko, Sayang. Jangan terpengaruh dia lagi. Kamu sudah bisa lepas dari dia, jangan sampai terikat lagi," kata Tere sambil bermanja di lengan Riko.
Tanpa di duga, Riko menghempaskan tangan Tere. Tentu saja, tidak hanya Tere yang kaget, tetapi juga Bella.
Apa yang terjadi sebenarnya antara mereka, apakah Akau salah mengira? Batin Bella.
"Bella, aku akan menikahimu segera," ucap Riko. Riko menarik tubuh Bella hingga berada dalam pelukannya. Bella yang sudah telanjur bersandiwara, tidak bisa mundur begitu saja selain melanjutkannya.
"Benarkah, bagaimana dengan dia?" tanya Bella sambil melirik Tere yang terlihat kesal melihat Riko lebih memilih Bella.
"Dia siapa? Hanya kamu tunanganku dan hanya kamu yang akan menjadi istriku," jawab Riko. "Ayo kita pulang."
Riko berdiri sambil berpegangan pada tubuh Bella. Bella yang tadinya berpura-pura mabuk, malah harus merawat Riko. Riko menarik tubuh Bella untuk segera meninggalkan karaoke tersebut. Riko sama sekali tidak memperdulikan Tere.
"Riko!" teriak Tere.
Riko masih terus berjalan pergi tanpa menghiraukan teriakan Tere. Bella sempat bingung, haruskah dia bahagia dengan sikap Riko ini?
__ADS_1
Sampai di luar, sopir pribadi Riko, Pak Johan bergegas menghampiri mereka. Asa raut wajah cemas yang terlihat saat melihat kondisi Riko yang mabuk.
"Pak Johan, tolong bawa dia pulang," kata Bella pelan.
Bella menyerahkan Riko pada Pak Johan. Tetapi, tangan Riko tidak mau melepaskan pegangannya pada tubuh Bella. Meskipun dengan sekuat tenaga Bella berusaha melepaskan pegangan Riko, tetap saja gagal.
"Mbak Bella, ikut saja kami pulang," kata Pak Johan.
Dengan terpaksa, Bella membantu Riko dan ikut pulang bersamanya. Bella menghela napas beberapa kaki sepanjang perjalanan menuju rumah Riko. Niat hati ingin membalas dendam, ternyata kini dirinya sendiri yang terjebak dengan Riko.
Sampai juga mereka di ruang Riko. Dengan susah payah, Bella membantu Riko turun dari mobilnya. Berat sekali, bahkan hampir terjatuh. Untung ada pak Johan yang ikut membantu.
Mereka akhirnya sampai juga membawa Riko ke kamarnya. Bella membaringkan tubuh Riko diatas tempat tidur. Tiba-tiba, Riko membuat ulah. Dia memegangi tangan Pak Johan.
"Pak Johan, tolong jadi saksi untuk kami," kata Riko dengan suara gemetar.
"Saksi apa Pak Riko?" tanya Pak Johan bingung.
"Baik, Pak Riko. Bapak akan jadi saksi," jawab Pak Johan.
Pak Johan merawat Riko dan Bella segera pamit pergi. Bella hanya tersenyum saja melihat kondisi Riko. Baru kali ini, Bella melihat Riko mabuk. Dan perkataan orang mabuk, tidak akan ada artinya karena setelah nanti dia sadar, Riko pasti akan melupakan segalanya.
***
Esok harinya, Bella dan kawan-kawannya memutuskan untuk mencari kampus yang sama. Sayangnya, Rangga harus mengikuti keinginan orangtuanya untuk kuliah di luar negeri.
Meski dengan berat hati, Rangga memutuskan pergi, setelah yakin jika cintanya pada Bella tidak memiliki masa depan. Bella tidak pernah mencintainya.
Bella, Risha dan Vivi masih tetap melanjutkan impian mereka meskipun tanpa Rangga. Mereka bertiga di terima di sebuah universitas yang cukup terkenal dan mengambil jurusan Fashion design atau desainer pakaian.
__ADS_1
Sepulang kuliah, Bella mendapatkan sebuah panggilan telepon dari Riko yang ingin bertemu dengannya. Riko mengundangnya makan malam di sebuah restoran.
"Bella, kamu kenapa? Seharusnya kamu senang, Riko ternyata tidak seperti yang kita kira. Dia pria yang baik," kata Vivi.
"Iya, Bella. Aku sebagai saudaramu, mendukung kamu tetap melanjutkan pertunangan kalian seperti wasiat ayah. Jangan karena wasiat, cinta yang ada di antara kalian, kalian anggap paksaan. Apa salahnya, kalau memang cinta itu tumbuh setelah bertunangan?" Tambah Risha lebih dewasa.
"Tanyakan pada hatimu, kamu mencintainya atau tidak. Jangan pikirkan yang lain," kata Vivi lagi.
Bella hanya diam sambil menghela napas berat. Dia memang mencintai Riko, makanya dia marah saat tahu Riko bilang jika dia ingin menjaga Bella karena wasiat ayahnya. Padahal yang Bella harapkan, Riko mau menjaganya dari dalam hatinya sendiri.
Malam telah tiba, dan pak Johan sudah menjemput Bella. Mobil berhenti di sebuah restoran mewah. Suasana begitu romantis, karena dihiasi balon warna warni. Saat Bella duduk, seorang pemain musik datang sambil membawakan lagu romantis.
Setelah lagu selesai, Riko mengeluarkan sebuah kotak kecil dan membukanya. Sebuah cincin berada didalamnya.
"Bella, bersediakah kamu menikah denganku?" ucap Riko sambil menatap Bella.
Bella sempat syok tetapi juga terharu. Hati Bella tiba-tiba kacau. Tetapi dia teringat perkataan Risha dan Vivi. Cinta, yang terpenting mereka saling mencintai. Tidak peduli cinta itu datang sebelum pertunangan atau sesudahnya.
"Aku, aku bersedia."
Jawaban Bella membuat Riko bersorak gembira. Dengan bangga, Riko memakaikan cincin di jari manis Bella yang disambut tepuk tangan pengunjung yang hadir di tempat tersebut.
"Bella, aku janji akan selalu jujur dan percaya padamu," janji Riko.
"Aku tidak hanya butuh janji, tetapi bukti yang nyata. Bisakah kamu memberitahuku apa yang tidak aku ketahui?" tanya Bella.
Riko setuju memberitahu Bella. Tetapi, Bella memutuskan untuk menganggap semua adalah masa lalu. Dan mereka akan hidup untuk masa depan.
Meski begitu, Bella akhirnya tahu jika Tere hanyalah penggemar Riko bukan mantan kekasihnya.
__ADS_1
Pernikahan Bella dan Riko akan diadakan satu bulan kemudian.
...****************End...