
Bella kini mulai waspada dengan ibu dan kakak tirinya. Sebenarnya dia heran kenapa kenapa mereka begitu membencinya. Bahkan di hadapan ayahnya, mereka sama sekali tidak takut. Dan ayahnya juga tidak bisa berbuat tegas pada mereka.
Bella menunggu hingga ayahnya kembali dari kerja dinas diluar kota. Bella berencana akan mengadukan semua perlakuan jahat ibu dan kakak tirinya padanya. Selama ayahnya belum pulang, Bella tetap berusaha menahan diri agar tidak melakukan hal yang diluar kendali.
Bella masih melakukan kegiatannya seperti biasa. Bella pergi ke sekolah dijemput Vivi dengan naik sepeda. Sedangkan Risha pergi ke sekolah dengan diantar sopir pribadi ayahnya.
Sejak acara ulang tahun Risha, semua teman sekolahnya sudah tahu jika Risha dan Bella bersaudara. Mereka lebih menghormati Bella karena dia ternyata anak orang kaya, bukan anak orang miskin seperti yang mereka kira sebelumnya.
Ditambah lagi, penampilan Bella yang kini telah banyak berubah. Cantik dan kaya. Bella kini telah menjadi idola baru sekolah tersebut. Tidak heran jika cowok-cowok itu berusaha mendekati Bella. Bahkan ada yang mengirim surat cinta padanya lewat Vivi. Zaman apa sekarang, masih ada surat cinta?
Vivi mengajak Bella makan di kantin ketika jam istirahat. Saat itu, beberapa teman laki-laki menawarkan diri untuk membantunya mengantri makanan. Bella menolak secara halus dan berusaha tersenyum pada mereka. Mereka seperti terbius oleh senyuman Bella yang terlihat manis.
"Ini pesanan kamu," ucap seorang siswa laki-laki yang sangat asing bagi Bella, tetapi tidak bagi Vivi.
"Hai, Rangga. Kapan kembali?" tanya Vivi sambil mempersilahkan Rangga duduk.
"Ayo pergi. Pengawalnya sudah datang," ucap salah satu dari siswa.
Semua siswa laki-laki yang tadinya mengerumuni Bella mundur perlahan-lahan. Mereka merasa segan untuk berhubungan dengan Rangga karena Rangga anak pemilik sekolah tempat mereka belajar.
Bella terlihat bingung dengan kejadian ini. Bella ingin tahu ada hubungan apa laki-laki yang bernama Rangga dengan dirinya. Kalau pacar, rasanya tidak mungkin. Atau pacarnya Vivi. Bella tersenyum melihat Vivi dan Rangga bergantian.
"Bella, kenapa kamu tersenyum? Mencurigakan sekali," kata Vivi bingung.
"Aku sangat bahagia, melihat kalian berdua saling perhatian. Selamat ya," ucap Bella sambil menjabat tangan Vivi.
"Kamu bicara apa, apanya yang selamat?" tanya Rangga juga bingung.
"Selamat karena kalian sepasang kekasih. Kalian tidak perlu sungkan padaku, kalau misal kalian butuh waktu untuk berdua, aku bisa kembali ke kelas," jawab Bella yang disambut tawa oleh Vivi.
Sementara itu, Rangga yang belum tahu keadaan Bella, hanya diam dan mengerutkan dahinya. Matanya menatap Vivi seolah menanyakan apa yang terjadi dengan Bella.
"Bella, kamu salah. Kita bertiga adalah sahabat. Aku dan dia hanya teman," jawab Vivi menjelaskan.
__ADS_1
"Hah, aku juga memiliki teman seperti dia?" tanya Bella kaget.
Teman yang sangat baik dan perhatian. Dia juga tampan dan terlihat berwibawa dan ditakuti siswa yang lain. Bodoh sekali jika Bella tidka jatuh cinta padanya. Ataukah memang Bella sebenarnya jatuh cinta padanya? Jika memang demikian, apakah aku harus mewujudkan impian Bella?
"Vi, ada apa dengan Bella. Saat aku pergi, dia masih baik-baik saja. Apa ini ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa dirinya?" tanya Rangga setengah berbisik.
"Benar. Dia melupakan semuanya, termasuk persahabatan kita. Tapi, setelah itu kamu lihat perubahan pada dirinya. Dia berubah cantik dan memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi. Dia bukan lagi Bella yang penakut dan pemalu," jawab Vivi menjelaskan.
"Oh, begitu rupanya. Bella, pulang sekolah kita belajar kelompok seperti dulu," ajak Rangga.
"Kayaknya tidak bisa. Aku ada pekerjaan rumah yang harus aku kerjakan. Lagipula, aku tidak ada ketinggalan pelajaran," jawab Bella percaya diri.
"Apa, jadi kamu sekarang merasa sudah pintar, makanya menolak? Padahal ayahmu dulu yang meminta aku untuk membantumu belajar. Lagian pekerjaan rumah apa yang harus kamu kerjakan, apa ibu tirimu menindasmu?" tanya Rangga agak kecewa.
"Tidak, mereka tidak menindasku. Hanya mengepel dan mencuci piring. Aku melakukannya karena memang aku ingin membantu," jawab Bella sambil tersenyum.
"Jadi, kapan kamu ada waktu belajar dan istirahat kalau begitu?" tanya Rangga lagi.
"Kalau bibi sudah kembali, dan ambil alih tugasnya, aku bisa belajar kelompok lagi," jawab Bella.
"Baiklah, kita tunggu sampai hari itu tiba. Makanlah, atau mau aku ganti yang hangat lagi?" tanya Rangga penuh perhatian.
"Tidak perlu," jawab Bella.
"Rangga, kapan kamu kembali, kenapa tidak memberi kabar pada kami? Kami kan bisa jemput," tanya Vivi.
"Sengaja, mau bikin kejutan," jawab Rangga.
Rangga dan Vivi terlihat sangat akrab. Mereka juga melibatkan Bella dalam setiap pembicaraan meskipun Bella masih belum terbiasa dengan persahabatan mereka. Mungkin lebih baik mengikuti arus saja dan ikut masuk ke dalam dunia Bella seutuhnya. Keluarga dan sahabat-sahabatnya.
***
Sepulang sekolah, Bella juga masih melakukan pekerjaan yang menjadi tugasnya, selama bibi belum kembali. Kebetulan, setelah pekerjaannya selesai, ayahnya pulang yang disambut olehnya dan ibu serta kakak tirinya.
__ADS_1
Ayahnya membawa beberapa barang sebagai oleh-oleh untuk mereka bertiga. Bella ingin sekali segera memberitahukan semuanya, tetapi dia mau menunggu sampai ayahnya ada waktu.
Ketika ayahnya sendirian di ruang kerja, Bella memberanikan diri mengadukan semuanya. Bella menjelaskan dari awal percobaan pembunuhan dengan racun beserta bukti hasil laboratorium minuman dari ibunya. Kemudian percobaan pembunuhan kedua, saat Bella di jalan dan seolah ada perampokan. Bukti rekaman dan foto orang suruhan ibunya juga sudah dia berikan pada ayahnya.
Bella menceritakan dengan penuh semangat dan berapi-api. Berharap ayahnya akan bersikap tegas pada ibu dan kakak tirinya. Tetapi, tanggapan ayahnya tidak sesuai yang dia harapkan. Ayahnya hanya terlihat sangat cemas pada keselamatannya saja.
"Bella, maka dari itu, ayah ingin agar kamu segera menikah dengan Riko. Setelah kamu menikah, kamu bisa ikut keluar negeri. Soal sekolah, kamu bisa melanjutkan setelah menikah," ucap pak Genta khawatir.
"Ayah, maksud ayah apa? Bella butuh keadilan, bukan pernikahan. Mereka yang salah, tapi kenapa Bella yang harus pergi dari rumah ini? Bella kecewa pada ayah, karena ayah lebih membela orang yang jahat!" ucap Bella lalu pergi meninggalkan rumah kerja ayahnya. Bella meluapkan kekesalannya dengan membanting pintu.
"Bella, dengarkan penjelasan ayah!" teriak pak Genta yang terdengar hingga keluar ruangan.
Bu Mira kaget saat mendengar suara pintu dibanting dan suara teriakan suaminya. Bu Mira bergegas masuk ke ruang kerja suaminya karena khawatir terjadi sesuatu yang buruk. Bu Mira datang disaat emosi pak Genta sudah tidak bisa dibendung lagi. Pak Genta sudah tidak tahan lagi, memendam semuanya dalam hati selama ini.
"Ayah, ada apa, apa yang terjadi?" tanya Bu Mira panik.
"Apa yang sudah kamu lakukan pada Bella? Berapa kali kamu berusaha untuk membunuhnya?" tanya pak Genta menahan amarah.
"Maksud Ayah apa, ibu tidak …," ucap Bu Mira gugup.
"Jangan bohong. Kamu kira aku bodoh? Aku sudah memiliki bukti semua perbuatan kamu pada Bella. Ibu, kenapa kamu tidak bisa menepati janji untuk menyayangi Bella seperti anak kamu sendiri?" sahut pak Genta.
"Iya, aku memang melakukan itu semua. Aku ingin Bella mati. Sayangnya, dia masih bernasib baik. Tapi aku bisa pastikan jika hidup dia tidak akan tenang," jawab Bu Mira ikut marah.
"Ibu, Bella tidak bersalah. Dia hanya korban dari kesalahan kami. Ibunya sudah meninggal, dia hanya memiliki aku?" ucap pak Genta sedih bercampur kesal.
"Anak memang harus menanggung dosa orang tuanya. Karena ibunya sudah meninggal, maka dia yang harus menerima karmanya. Aku ingin dia menyusul ibunya di neraka," ucap bu Mira penuh emosi.
"Ibu, kamu …." Pak Genta memegangi dadanya yang tiba-tiba sakit dan terasa nyeri.
Pak Genta tiba-tiba jatuh dan membuat Bu Mira panik. Pak Genta terkena serangan jantung.
"Ayah …!"
__ADS_1