
Acara pertunangan Bella dan Riko berlangsung sangat megah. Di tengah meriahnya suasana, Bella melihat ada Farhan dan Gea. Sahabat dan juga tunangannya terlihat begitu mesra. Tidak terlihat kesedihan yang terlihat di wajah mereka.
Secepat itukah, mereka melupakan aku? batin Bella.
Bella terus menatap Farhan dan Gea yang berjalan mendekati beberapa orang yang sedang berkumpul. Di sana, ada ayah dan ibunya yang sedang berkumpul bersama rekan bisnisnya. Bella tidak menyangka jika ingatan masa lalunya begitu jelas dan dengan identitasnya yang sekarang, bisakah dia mendekati mereka.
Airmatanya tiba-tiba mengalir membasahi pipinya. Dia harus bisa menerima kenyataan bahwa saat ini dia hanya mampu memandang, tetapi tidak bisa memegang.
Bella tidak peduli jika saat ini ada yang melihat dirinya menangis.
"Bella, kamu kenapa? Kamu menyesal bertunangan denganku?" tanya Riko cemas.
"Aku tidak apa-apa. Hanya aku sedih, orangtuaku tidka disampingku," jawab Bella sambil menyeka air matanya dengan tangan.
"Sabar, Bella. Mulai sekarang, kamu adalah tanggung jawabku. Kalau ada kesulitan apapun, katakan padaku, aku pasti akan berusaha menyelesaikannya," kata Riko serius.
"Terima kasih. Sebenarnya, saya tidak ada kesulitan apapun," ucap Bella sambil menatap Riko. "Bisakah kita menyapa tamu undangan?"
Bella menunggu jawaban dari Riko. Bella sungguh ingin menyapa ayah dan ibunya, juga Farhan dan Gea. Setidaknya, Bella ingin tahu, perasaan mereka, setelah kehilangan dirinya.
"Baik. Aku temani kamu menyapa mereka. Siapa yang ingin kamu sapa duluan?" tanya Riko.
"Tidak banyak, aku hanya ingin menyapa mereka," ucap Bella sambil menunjuk ke arah Pak Rahmat dan Ibu Lestari.
"Kamu kenal mereka?"
"Tidak. Hanya saja, saat melihat mereka, aku seperti melihat ayah dan ibuku," jawab Bella.
Riko menggandeng tangan Bella dan mendekati Pak Rahmat dan Bu Lestari. Riko menyapa mereka dengan ramah dan sopan. Sementara pandangan Bella tertuju pada Farhan yang sedang berdekatan dengan Gea.
__ADS_1
"Hallo, selamat sore, Om Rahmat. Bisa kami berkenalan?" tanya Riko sambil tersenyum.
"Selamat sore, Pak Riko. Sekarang sudah besar dan sudah sukses mengikuti jejak ayahmu. Sayang sekali, Hesty tidak bisa melihat teman masa kecilnya sukses," jawab Pak Rahmat senang lalu bersedih di saat yang bersamaan.
"Riko turut berduka cita. Riko mita maaf karena tidak hadir di pemakaman Hesty," ucap Riko sedih. "Tunangan Riko ingin mengenal Om Rahmat. Karena katanya Om mirip ayahnya."
Bella mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Pak Rahmat, Bu Suryani, Gea dan terkahir Farhan. Kenangan masa lalu mengingatkan Bella pada cinta Farhan. Tidak bisa dia pungkiri, jika cinta itu masih ada di dalam hatinya.
Tidak bisa dia pungkiri juga, bahwa dia harus bisa hidup sepenuhnya sebagai Bella dan bukan Hesty lagi. Tetapi, keinginannya untuk mengetahui siapa yang sudah mendorongnya , masih sangat kuat.
"Selamat sore, semuanya. Saya Bella, tunangan Om Riko," ucap Bella memperkenalkan diri pada mereka.
"Bella, kenapa panggil Riko Om sih?" tanya Gea kaget. Tidak hanya Gea, siapapun yang mendengarnya pasti akan bertanya-tanya.
Meskipun usia mereka berbeda cukup jauh, 28 tahun dengan 17 tahun. Tetapi setelah bertunangan, setidaknya Bella bisa menghormati Riko dengan memanggilnya mas atau Sayang.
"Aduh, maaf. Tapi, Bella tidak bisa memanggil selain itu. Belum nikah juga, Tante," jawab Bella sengaja menggoda Gea.
"Betul, Om Farhan. Om Farhan ini, suaminya Tante Gea, ya?" tanya Bella berpura-pura tersenyum, padahal hatinya sedih.
"Bukan. Kami hanya berteman," jawab Farhan sambil tertawa.
"Farhan ...." Wajah Gea tampak tidak senang mendengar jawaban Farhan.
"Hanya teman. Tapi kalian terlihat akrab banget, ya?" tanya Bella lagi.
"Bella, sudah. Jangan tanya-tanya urusan pribadi orang lain. Mau aku temani kemana lagi?" tanya Riko sambil menatap Bella yang masih belum puas dengan jawaban Farhan.
"Aku mau ngobrol sama Pak Rahmat dan dan Bu Lestari saja. Boleh kan?" tanya Bella sambil melihat ke arah Bu Lestari.
__ADS_1
"Boleh, Bella. Kita duduk saja di sana." Pak Rahmat menunjuk sebuah tempat di sudut ruangan yang ada kursinya.
Bella pamit pada Riko lalu mengikuti langkah pak Rahmat dan Bu Lestari menuju ke tempat itu. Sementara Farhan dan Gea tidak habis mengerti, mengapa Bella ingin berbicara pada orang tua Hesty.
Bella tampak sedih dan menahan keinginannya untuk memeluk orangtuanya Hesty. Bella harus bisa mengambil hati mereka, agar saat ingin bertemu akan lebih mudah dan lebih tidak kentara.
"Pak Rahmat, Bu Lestari. Bella sangat senang bisa mengenal kalian. Bella sedih karena Bella sekarang tidak memiliki keluarga lagi," ucap Bella sambil meneteskan airmata.
Bella mulai menceritakan kondisi dirinya setelah ayahnya meninggal dan dia harus tinggal dengan ibu dan saudara tirinya. Bella tidka berharap jika cerita ibu tiri dan saudara tiri itu akan seperti di drama-drama. Tetapi itu nyata dan dia tidak bisa melawan secara nyata karena bagaimanpun juga, mereka sudah merawat Bella dari kecil hingga sekarang.
Mendengar cerita Bella, pak Rahmat dan Bu Lestari sangat sedih dan ikut terbawa suasana. Bahkan mereka juga berkali-kali menghela napas berat.
"Bella, ibu juga sedih karena kami juga belum lama kehilangan putri kami satu-satunya, namanya Hesty. Meskipun kami memiliki 3 orang anak lain, tapi semuanya laki-laki. Jika kamu tidak keberatan, biarkan kami menjadi orangtua angkat mu. Datanglah ke rumah kami kapan saja jika kamu mau," kata Bu Lestari yang disambut senyuman oleh Bella.
"Benar, Bella. Kami akan menerima kedatangan kamu dengan senang hati. Kamu mengingatkan kami pada masa muda putri kami," tambah Pak Rahmat.
"Pasti, kalian sangat mencintai Mbak Hesty. Bella sangat senang mendapatkan kehormatan menjadi putri angkat kalian. Bella akan dengan senang hati menerimanya," ucap Bella sambil memegang tangan Bu Lestari.
Bella sangat senang, bisa mendapatkan hati mereka, bahkan sekarang Bella sudah dianggap anak oleh mereka dan diangkat anak pula.
Mereka segera bergabung kembali dengan para tamu undangan yang lain. Sedangkan Bella ditarik paksa oleh Risha menuju ke tempat yang sepi dan memarahinya.
"Bella, kamu ini bikin malu keluarga. Seharusnya kamu tidak usah datang," ucap Risha kesal.
"Risha, kamu marah dan kesal padaku? Kamu pasti bertanya-tanya, bagiamana aku bisa lepas dari orang-orang suruhan ibumu. Risha, aku bukan lagi Bella yang kamu kenal dulu," ucap Bella sambil tersenyum sinis.
"Maksud kamu apa Bella?" tanya Risha panik.
"Maksudku, kamu dan ibumu, sama-sama bodoh," ucap Bella berani berkata buruk tentang ibu tirinya.
__ADS_1
"Bella ...."