
Bella naik motor Rangga menuju rumahnya. Ada sedikit keraguan di hati Bella dengan sikap Rangga malam ini. Tadi sore, dia terlihat kecewa dan langsung pergi meninggalkan dia di cafe.
Motor Rangga berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Bella turun dengan cepat dan segera mengembalikan helm yang dipakainya.
"Terima kasih, Rangga," ucap Bella datar.
"Sama-sama. Bella, bisakah kita tetap berteman?" tanya Rangga ragu.
"Tentu saja. Aku tidak bisa menghakimi cinta seseorang. Kamu mencintai aku, itu hak kamu. Demikian juga dengan hak aku untuk memilih jalan hidupku sendiri. Jika kamu memahami itu, aku akan sangat berterimakasih padamu," jawab Bella lembut.
"Jadi artinya, aku masih bisa mencintai kamu?"
"Jika kamu bisa menghilangkan perasaan itu, itu lebih baik," ucap Bella sambil tersenyum. "Itupun jika kamu mampu. Aku masuk dulu."
"Bella, terima kasih," ucap Rangga dan dia bisa bernapas lega.
Sekalipun dia tidak bisa bersama Bella sebagai sepasang kekasih, setidaknya mereka masih bisa berteman. Tetapi apakah Rangga dan Bella bisa berteman?
Motor Rangga melaju pergi setelah Bella masuk rumah. Terlihat sebuah mobil yang sejak tadi berhenti di pinggir jalan. Riko mengamati Bella dan Rangga yang tampak sangat dekat. Sangat jelas terlihat jika Rangga mencintai Bella.
Riko marah pada dirinya sendiri karena, dia tidak menyangka bahwa dia akan jatuh cinta dengan Bella. Padahal dia berharap akan bisa membuat Bella meninggalkannya. Tetapi sekarang, dialah yang tidak ingin berpisah dengan Bella.
Perbedaan usia diantara dia dan Bella, diharapkan Riko, akan membuat Bella meninggalkannya dan mencari pria yang seusia dengannya. Tetapi saat Bella dekat dengan Rangga, Riko merasa sakit hati.
Perasaan ini terus menyiksanya dan jalan satu-satunya adalah mengakui jika dia jatuh cinta pada Bella. Untuk mewujudkan harapannya menjadi suami Bella, Riko berpikir untuk menjadi seperti anak muda sekarang seperti Rangga. Karena saingan dia usianya lebih muda dari dia.
Besoknya, Riko datang dengan naik sepeda motor dan memakai jaket kulit. Seperti anak muda sekarang. Saat itu Bella sedang belajar di kamarnya sehingga Risha yang ternyata menemui Riko.
"Hai, Mas Riko. Aduh gimana ya, Bella lagi belajar. Kalau sudah belajar, dia betah dan tidak mau diganggu," ucap Risha pura-pura sedih.
"Kalau begitu, aku datang lain waktu saja," kata Riko berniat pergi.
__ADS_1
"Mas Riko, kenapa buru-buru? Risha bisa temani ngobrol," ucap Risha manja.
Risha lalu berdiri dan menggandeng lengan Riko untuk diajaknya duduk kembali. Tetapi Riko berusaha menolak.
"Risha, aku harus segera pulang." Riko berusaha melepaskan pegangan tangan Risha yang cukup kuat.
"Ehem, mesranya?" Suara Bella terdengar jelas membuat Riko lebih kasar melepaskan tangan Risha. Bella tersenyum melihat wajah Risha yang kesal dengan kedatangan Bella.
"Kak Risha, terima kasih sudah mau menemani tunanganku berbincang. Karena aku sudah datang, kenapa tidak segera pergi?" tanya Bella sengaja mengejek Risha.
Dengan kesal, Risha meninggalkan Bella dan Riko di ruang tamu. Bella melihat ke arah Riko dia sangat terkejut saat melihat Riko berpakaian selayaknya pria remaja. Lebih tepatnya, berpakaian macho. Tiba-tiba, Bella teringat pada Rangga. Mereka terlihat sama dari segi penampilan.
"Om, tumben datang ke rumah," sapa Bella sinis.
"Aku ingin minta maaf atas kejadian kemarin malam. Aku tidak bermaksud bertengkar denganmu," jawab Riko merasa bersalah.
"Oh, tidak apa-apa. Bella, sudah lupa dengan kejadian itu. Tenang saja, Bella memang pendendam, tetapi Bella juga memaafkan kalau mereka meminta maaf. Apalagi kalau keluarga sendiri," kata Bella tenang.
"Kalau begitu, hari ini aku ingin mengajakmu berkencan lagi. Apakah kamu bersedia?" tanya Riko sambil menatap Bella.
Bella melirik ke arah sampingnya. Dia tahu jika saat ini Risha sedang memperhatikannya. Tentunya Bella ingin kembali membuat Risha semakin naik darah dengan bersikap lebih dekat dengan Riko. Selagi Riko menunjukkan sikap perhatian padanya.
"Tentu, aku bersedia. Tapi, besok aku ada ulangan. Gimana kalau kita kencan sambil belajar?" tanya Bella.
"Boleh, asal kamu suka saja."
"Bentar, aku ambil buku pelajaran aku dulu."
Bella berjalan cepat menuju ke kamar untuk mengambil buku tugasnya. Tidak berapa lama, Bella sudah keluar dengan membawa tas sekolahnya. Saat berpapasan dengan Risha, Bella menunjukkan sikap mengejek dan dibalas Risha dengan isyarat ancaman.
"Aku tidak takut," jawab Bella.
__ADS_1
Bella bergegas mengajak Riko pergi. Dengan naik sepeda motor, mereka pergi ke sebuah cafe. Awalnya Bella mengajak Riko ke cafe yang biasa dia datangi kala belajar dengan Rangga dan Vivi. Tetapi, Riko memiliki tempat sendiri di cafe miliknya.
Inilah kencan kedua yang sangat berkesan bagi Bella. Riko membimbingnya belajar dan memberinya pengetahuan tentang banyak hal. Bella berusaha agak bandel, tetapi Riko dengan sabar memberinya pengertian bijak.
"Pelajaran matematika memang susah. Kenapa tidak menghilangkannya saja?" gumam Bella.
"Kalau pelajaran matematika dihilangkan, bagaimana orang bisa menghitung, berapa uang kembaliannya? Gini aja, aku ajari kamu sampai bisa. Jadi, kamu datanglah kekantor aku setiap pulang sekolah. Aku akan mengajarimu di sela-sela pekerjaanku," jawab Riko sambil tersenyum.
"Nggak, ah. Takut merepotkan Om Riko," kata Bella sambil menggelengkan kepalanya.
"Nggak merepotkan. Aku malah senang bisa mengajari kamu," kata Riko.
Bella tersenyum senang dan dia memiliki kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan Riko dan tidak selalu harus menghadapi ibu dan kakak tirinya di rumah.
"Daripada kamu belajar bersama temanmu itu," gumam Riko pelan.
"Om, kayaknya Om Riko nggak cocok deh, pake motor dan baju itu. Jadilah diri sendiri saja. Bella lebih suka, dengan gaya CEO yang Om Riko miliki," kata Bella tanpa malu.
"Benarkah, kamu suka aku apa adanya? Tapi aku akan kelihatan tua jika bersamamu. Kamu tidak malu?" tanya Riko penasaran.
"Om Riko belum tua, hanya dewasa saja. Baru juga 28 tahun," jawab Bella.
"Kamu benar juga. Hanya saja, setiap kali kamu memanggilku Om, aku merasa sangat tua banget. Tidak bisakah kamu ubah panggilan itu?"
"Emm, gimana ya. Udah terbiasa. Gimana kalau Bella panggil Abang saja?"
"Boleh, asal jangan Om," jawab Riko.
Riko mulai menyadari jika saat ini, yang Bella butuhkan adalah dirinya yang dewasa. Tentunya setelah tahu, dia harus bersikap dewasa dan bisa ngemong Bella. Menjadi sosok pengganti ayahnya dan sosok pelindung bagi Bella.
Dia juga ingin, bukan hanya sebagai suami, tetapi juga bisa berperan sebagai kakak dan ayah bagi Bella di masa yang akan datang.
__ADS_1
Bella juga tampak senang, dengan pertemuannya kali ini dengan Riko dan bisa melihat siapa Riko yang sebenarnya. Riko tidak seburuk yang Bella kira selama ini.