
Sepulang dari acaranya Tuan Dmitry, Hanz langsung disibukkan dengan tugas berat. Kali ini dia harus bisa menemukan siapa pelaku yang telah berasil masuk dan menguasai server ETH sehingga si pelaku mampu mencuri beberapa data penting dan berharga.
Semenjak libur kuliah, akhirnya Hanz kembali masuk ke dalam ruangan sepetak yang disebutnya sebagai warnet mini ini. “Menyalakan sistem!” ucapnya. Dan hanya butuh waktu seperkian detik, lalu komputer di ruangan ini langsung menyala.
Setelah berjam-jam lamanya di depan komputer, akhirnya Hanz berhasil menemukan dua orang pelaku tersebut di darknet berdasarkan bukti data yang diterima. Cerdiknya, Hanz hanya berpura-pura menjadi seseorang yang nantinya akan ikut tes masuk ETH dan butuh soal serta jawabannya.
Cukup dengan beberapa dialog dan transaksi, tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Hanz untuk membongkar siapa orangnya, bahkan Hanz tahu nama-nama 170 mahasiswa ETH yang membeli data dari mereka.
Keesokan harinya, sebelum kelas dimulai, Hanz menemui Profesor Alexander untuk menyerahkan laporannya. Mengetahui itu, terang saja beliau senang. Beliau jelas tidak salah dalam memilih orang kepercayaan.
Tugas Hanz telah selesai, selebihnya Profesor Alexander dan pihak kampus yang akan bekerja. Hanz pun keluar. Baru beberapa langkah dari mulut pintu, tiba-tiba Mark dan Gerald menghampiri sambil menatap sinis.
“Habis menemui siapa ha?” sergah Gerald mencebik, alisnya bertaut.
“Jawab oi!” sembur Mark memandang kejam.
Hanz apatis. Malah melangkah panjang dan meninggalkan dua orang itu.
“Cari muka sama siapa lagi?”
“Pastilah merengek supaya beasiswa di-acc kan? Dasar miskin!”
Suasana jalanan kampus cukup ramai. Tapi Mark dan Gerald tak peduli terhadap sekitar. Justru makin asyik mencecar.
“Pas di acara Tuan Dmitry kemarin, kau pasti menjadi pelayan di sana,” umpat Mark lagi.
“Hahaha. Jangan sangka kau diundang terus bisa dapat nama di kampus ini. Pria menyedihkan!”
Hanz masih santai, lalu sambil memasukkan tangan di saku sweater hoodie-nya, dia menjawab dingin, “Heran, kok ada dua orang lulusan Harvard mau membeli kunci jawaban seharga dua ribu lima ratus dollar untuk bisa kuliah magister sains di ETH?!”
Mark dan Gerald kikuk.
Begitulah cara Hanz membalasnya. Kalem dan dingin.
__ADS_1
...
Pagi ini di kantor pusat Fadeyka Energy, Saint Petersburg.
“Selamat pagi Tuan Stefan Fadeyka,” sapa security.
Jangankan menjawab, senyum pun tidak. Stefan berjalan dengan gagahya. Dia membenarkan dasi merahnya, lebih mengencangkannya di bagian kerah kemeja, kemudian merapikan jasnya.
Semua karyawan di kantor memberikan hormat dan senyuman kepada pria tampan bermata biru ini. Tingginya 180 cm dengan berat 80 kg. Badannya tegap dan dadanya bidang. Begitu berwibawa.
“Selamat datang, Tuan Stefan Fadeyka.”
Di kiri kanannya ada dua bodyguard bertubuh kekar yang akan selalu menjaganya. Ketika Stefan sudah masuk di ruangan kerjanya, dua pria kuat dengan senjata lengkap ini akan berdiri di dekat pintu dan menjaganya sampai Stefan selesai bekerja.
Seorang sekretaris cantik bernama Julya masuk ke ruang kerja Stefan. “Tuan, seorang manager dari Red York ingin bertemu dengan Tuan.”
Stefan tersentak kaget. “Saya hanya ingin bicara dengan CEO-nya. Dia anggap saya ini siapa?” ucapnya sambil mengerutkan bibir
“CEO-nya bernama Harley, Tuan. Baik, akan segera saya urus.” Setelah satu jam kemudian, Julya datang bersama Harley.
Stefan melengos dan menjawab, “Terimakasih, tapi saya tidak butuh pujianmu.”
Red York adalah salah satu perusahaan besar Rusia yang gemar menyuntikkan dana di perusahaan-perusahaan ternama. Biasanya perusahaan yang butuh sama uang mereka, namun kali ini sepertinya mereka yang sedang butuh uang dari perusahaan sebesar Fadeyka Energy.
Red York mengetahui bahwa Fadeyka Energy sedang membangun mega proyek pengeboran minyak di Laut Pechora. Di sana akan dibangun kawasan pengeboran dengan alat super canggih. Dengan maksud memberikan suntikan dana, Red York akan mendapat keuntungan besar.
“Saya sekarang tidak ingin membicarakan soal investasi ini. Saya baru hari ini berkantor. Kau mengerti ha? Saya tidak peduli kau siapa dan dari perusahaan mana. Silakan pergi!” Stefan mengusirnya dengan ketus.
Di lobi, Julya meminta maaf kepada Tuan Harley. “Nanti saya akan hubungi Tuan di waktu yang pas.” Fadeyka Energy hanya butuh untuk menutupi 30% saja, tidak lebih dari itu.
Tuan Harley berusaha sabar. Satu perusahaan ini tahu siapa Tuan Harley sebenarnya. Dulu Tuan Wilson selalu menyambutnya dengan baik dan tidak perlu menyuruh Tuan Harley yang datang menemui. Namun, baru kali ini seorang CEO dari Red York turun tangan, dan mending kalau ada hasil, ini malah disuruh pulang.
Julya dan karyawan lain di kantor tercengang setelah melihat kejadian barusan.
__ADS_1
“Ini menjadi masalah besar....
“Dia bos Red York....
“Padahal tadi sudah aku jelaskan kepada Tuan Stefan tentang sosok Tuan Harley,” ujar Julya sambil mengela napas sesal.
Sore harinya, dua bodyguard menempel ketat Stefan sampai ke mobil. Para rombongan pun pulang menuju apartemen. Satu gedung apartemen ini semuanya milik Fadeyka Energy.
Semenjak Stefan tinggal di Rusia, semua penghuni apartemen diusir dan dibayarkan kepada mereka sesuai harga apartemen. Namun, masih tersisa satu, meskipun janda anak satu, Stefan tidak ambil pusing.
GAARR!!
Stefan meninju pintu.
“Akan aku bayar dua kali lipat.” Stefan lalu menyuruh semua pengawalnya untuk mengemasi seluruh barang-barang dua orang ini lalu digeletakkan begitu saja di depan apartemen di pinggir jalan. “Pergi kalian dari sini! Dasar miskin!”
Apartemen delapan lantai kosong.
“Lantai paling atas hanya tempatku. Dari satu sampai tujuh akan aku hadiahkan kepada semua pekerja Fadeyka Energy. Aku serahkan tugas ini kepada management. Bagi rata kepada semua pekerja.”
Di lantai delapan semua sisi-sisi ruangan dihancurkan, lalu dimodifikasi sesuai kehendak Stefan. Di sini ada tempat gym, biliar, mini coffe shop, bioskop, tempat karaoke, ruang makan, ruang keluarga, ruang kerja, dan kamar tidurnya yang sangat mewah sekali.
Di samping pintu masuk ada pos keamanan yang dijaga dua orang full 24 jam.
Saat ingin istirahat tidur, tiba-tiba Tuan Dmitry yang sedang berada di Istana Valaam menghubungi Stefan. “Stefan, Harley sudah tiga kali berinvestasi di Fadeyka Energy dan ini akan jadi yang keempat kalinya. Mereka rekan kerjasama kita selama ini.
Ayah dapat laporan kalau dia pulang dengan kekecewaan.”
Stefan habis disembur habis-habisan oleh ayahnya. Keesokan harinya Stefan memangil Julya ke ruangannya. Sempat dia memarahi Julya dan memberikan sebuah tamparan keras. PLAK!
Stefan mendenguskan napas kasar, lalu berkata dengan penuh penyesalan, “Silakan kau hubungi manager Red York. Suruh dia ke sini. Jangan CEO-nya.”
Meski yang datang akhirnya hanya manager Red York, Stefan tetap tidak bisa menjaga sikap, dan pada akhirnya Harley selaku pimpinan tertinggi perusahaan mengambil sikap tegas, yakni memutuskan hubungan kerjasama dengan Fadeyka Energy.
__ADS_1
Dari cerita singkat ini sudah bisa ditarik kesimpulan bahwa Stefan Fadeyka orangnya seperti apa, dan bakal berhasil atau tidak.