
Melihat Zahid sore ini berkunjung ke rumah, Avraam melengos dan minggat. Dia mengayuh sepedanya tanpa berpamitan lagi dengan Hanz. Sementara Zahid langsung masuk ke ruang IT Hanz. “Masih ada waktu tiga jam.” Kemudian, Hanz mengajarkan kepada Zahid tentang dasar-dasar pemrograman.
“Apa hacker selalu jelek?” tanya Zahid.
“Hacker adalah orang yang jago cyber, IT, jaringan komputer dan semacamnya. Sama seperti saintis dan insinyur, orang yang paham seluk-beluk sains dan dunia engineering, awalnya bertujuan baik, tapi bisa saja tujuannya menjadi menyimpang, contoh kasus pada peledakan di Oilzprom. Mereka memanfaatkan ilmu dan skillnya untuk kepentingan buruk. Jadi, kalau orang ahli IT yang memanfaatkan kelebihannya untuk tujuan jelek, dia lebih pantas disebut cracker, bukan hacker. Saya hacker yang ditugaskan oleh ETH untuk menjaga sistem keamanan cyber di sana. Sekarang aku ingin membantu CERN.”
Sembari menunggu sampai jam delapan malam, Hanz mengajarkan Zahid tentang dasar-dasar bahasa pemrograman. Dia memberikan kuliah ringkas tentang pengaplikasian JavaScript dan Phyton.
“Kau belajar otodidak, Hanz?”
“Aku punya teman seorang ahli IT di ETH. Cukup lama aku belajar dengannya. Selebihnya aku belajar sendiri. Untuk menjadi seorang ahli dalam penguasaan sistem dan jaringan, kau harus mengerti cara menjaga keamanannya. Terus akan aku ajarkan cara menelusuri Deep dan Dark Web.”
“Aku belum pernah mengaksesnya.”
“Hanya orang-orang tertentu yang bisa mengaksesnya. Aku mencoba mencari tahu keberadaan mereka di sini. Tapi aku belum bisa menemukannya.”
Satu jam lebih Hanz menjelaskan semuanya. Walaupun penyampaian Hanz begitu bagus dan mudah dimengerti, tetap saja Zahid pening dan tidak dengan mudah memahami semuanya.
“Oh, aku lebih suka menulis puisi daripada memahami semua ini, Hanz. Bagaimana kalau kita bahas soal bisnis saja?”
“Menarik.” Hanz memutar kursinya dan menghadapkan wajahnya ke arah Zahid. “Sebelumnya, aku ingin bercerita bahwa dulu dari kecil aku sudah terbiasa dengan bekerja susah. Sewaktu kecil dan remaja aku bekerja sebagai petugas pembersih sekolah dan petugas kebun.”
“Untuk membiayai hidupmu?”
“Jelas sekali. Aku tidak punya siapa-siapa di sini kecuali Avraam. Kami terbiasa dengan hidup susah. Ketika dewasa, banyak tawaran pekerjaan yang menggiurkan tapi aku tidak mau.”
“Bekerja di cafe hanya untuk menutupi identitasmu. Sampai sekarang aku masih belum bisa mengerti mindset dan visimu, Hanz. Herannya, kau tidak berpikiran buruk terhadapku.”
Seorang hacker tidak akan dengan mudahnya membeberkan informasi dirinya di depan khalayak.
__ADS_1
Zahid melanjutkan. “Kau punya ilmu, skill, pengalaman, dan kelebihanmu ini sangat dibutuhkan oleh banyak orang. Setelah tugas ini selesai, maukah kau bekerjasama denganku?”
Hanz menggeleng. “Terimakasih. Aku hanya butuh pengalaman bisnismu dan pengalaman kepemimpinanmu sewaktu kau berada di organisasi, terus bagaimana kau bisa membangun dan menjalankan bisnis di negaramu.”
Lalu, Zahid menceritakan semua pengalamannya waktu dia menjadi ketua himpunan, gubernur dan presiden mahasiswa. “Aku tidak punya ambisi apalagi obsesi. Aku tidak akan maju kecuali jika ditunjuk.” Dia kemudian menceritakan semua pengalamannya pada saat mendirikan Philosophie Jaya.
“Aku ingin setiap langkah yang aku jalankan sudah mendapat restu dari orangtuaku. Setelah mendapat izin dan doa, barulah aku meyakinkan diri bahwa Tuhan akan mempermudah jalan-jalanku. Kemudian, yang terpenting adalah kita harus punya orang kepercayaan. Di sana aku punya dua orang kepercayaan yang bisa diandalkan.”
Zahid mengajarkan kepada Hanz bahwa harus punya strategi yang matang sebelum menjalankan bisnis walaupun dimulai dari yang kecil.
“Good people + Good strategies \= Good Execution.”
Hanz mengangguk takzim. Hanz termasuk seorang pria yang dengan mudah memahami dan mengingat penjelasan yang baru dia dengar. Dia termasuk orang yang mudah dalam mempelajari hal-hal baru.
Tidak terasa sudah jam delapan malam. Hanz dan Zahid memperbaiki posisi duduknya. Sepuluh layar komputer menyala berbarengan. Semua sistem sudah bekerja.
Hanz terus mengutak-atik keyboard dengan cepat sekali. Mouse-nya mondar-mandir ke sana kemari. “Sekarang mereka sudah masuk dan akan exploit. Setelah masuk ke server CERN, mereka akan membawa virus yang telah aku pasang di sana sehingga nanti kita akan tahu keberadaan mereka di mana.”
IP.XXXXXX
Hanz berdecak dan berkata, “Mereka tertipu. Database yang mereka masuki adalah virus-virus dan program yang telah aku letakkan di sana. Setelah mereka keluar, semua sistem akan aku perbaiki dengan mengubah ID dan semua data biar mereka tidak bisa lagi mengakses.”
Setelah sepuluh menit mengutak-atik komputernya, tiba-tiba satu layar komputer Hanz menggambarkan sebuah suasana kota.
“Mereka berada di St Petersburg. Mereka memanipulasi posisi, itu IP palsu. Mereka sekarang berada di pinggiran kota, bukan di sana. Di sebuah rumah.”
__ADS_1
Satu layar komputer lain tiba-tiba menampilkan sebuah rumah tua. “Di sanalah para hacker itu berada! Oh, sebentar. Ada tiga jaringan yang saling terhubung. Satu di pusat kota, satu di rumah itu, dan satu lagi belum diketahui. Lokasi pusat kota itu tipuan. Mereka cerdik. Tapi setidaknya kita sudah tahu.”
Malam ini juga Hanz langsung menghubungi Pak William dan memberikan data tersebut. Pak William yang ditemani Pak Louis beserta sepuluh anggota FSB langsung menuju ke satu titik di kota St. Petersburg.
Dua mobil berhenti pas di depan rumah yang dimaksud. Satu petugas menggedor-gedor pintunya tapi tidak ada sahutan dari dalam rumah.
“Dobrak saja pintunya!” perintah Pak Louis.
GAARR!!
Seorang petugas menendang pintunya. Pintu rusak dan terbuka. Lima orang petugas bersenjata lengkap masuk ke dalam rumah.
Mereka berpencar masuk ke setiap ruangan. Ada yang masuk ke kamar, ada yang ke dapur, dan ada yang ke lantai dua.
Namun, mereka tidak mendapati apa pun di sana. Pak Louis melihat ada bekas kabel komputer yang berkaparan.
“Sepertinya mereka sudah kabur.”
Pak William menghubungi Hanz melalui telepon, menyuruh mencari tahu keberadaan para pelaku. Namun, setelah lebih dari sepuluh menit Hanz tidak bisa melacak keberadaan mereka.
“Kemungkinan besar saat ini mereka masih berada di kota ini.”
“Benar sekali, Pak. Mereka belum begitu jauh. Aku tidak bisa mencari tahu posisi mereka berada di mana. Tapi akan aku kirimkan profil dua orang itu. Nanti Bapak dan tim bisa melacak mereka berdua dengan bantuan pihak kepolisian.”
KLIK!
Pak William berbicara dengan Pak Louis. “Ini data dua orang hacker itu, Pak. Terlihat jelas wajah mereka berdua di sini. Kita akan segera melibatkan tim untuk mencari keberadaan mereka.”
Sementara itu di rumah Hanz, tiba-tiba Zahid mendapat pesan singkat dari Prof. Paul. “Kau sudah berkhianat. Berhati-hatilah karena nyawamu sedang terancam!”
__ADS_1