Tuan Muda Jenius

Tuan Muda Jenius
Bab 30


__ADS_3

Zurich yang teduh.


Hanz berada di depan layar komputernya. HF03 level tinggi sudah beroperasi berjam-jam maka dengan itu BlackCarbon tidak akan bisa lagi menjebol sistem keamannya. Kekuatan firewall di sini jauh lebih besar dan tidak mudah ditembus.


Hanz telah menemukan celah untuk menembus sistem BlackCarbon, selanjutnya tinggal di-eksploit. Dengan kesabarannya yang luar biasa, akhirnya Hanz kembali mendapatkan titik keberadaan para cracker dan segera dia memberikan informasi ke FSB.


Hanz bilang kepada FSB bahwa mereka dipersilakan menangkap para cracker tersebut lalu ditindaklanjuti sesuai dengan peraturan dan hukum yang berlaku. Namun, mereka tidak boleh diperlakukan tidak baik apalagi harus dihukum mati. Itulah yang diharapkan Hanz. Sebab, cracker ini bukanlah biang keladi atas semua masalah, melainkan hanya pesuruh saja.


Terang saja, di Rusia sudah ada tiga hacker yang sudah tertangkap. Benar apa yang dikatakan oleh Hanz bahwa mereka tidak akan mengaku bahwa mereka disuruh oleh orang yang sama.


Ada seorang dari mereka yang memberi pengakuan bahwa mereka mencuri data CERN atas dasar kemauan pribadi dengan tujuan mendapatkan keuntungan pribadi, tidak ada kaitan dengan individu atau kelompok lain.


Ketiga hacker yang ditangkap secara terpisah mengaku  tidak saling mengenal. Di sinilah para petugas dibuat kualahan oleh semua informasi yang  diberikan oleh pelaku.


“Kau sudah meretas sistem keamanan Fadeyka, lalu memanipulasi harga minyak?” tanya Pak William.


Mereka bertiga tidak ada yang mengaku bahwa mereka sudah memanipulasi harga minyak Fadeyka.


“Apa ada di antara kalian yang membantu Frank dalam menyadap ponsel Julya?”


Mereka bertiga serentak menjawab tidak.


“Silakan kalian beri tahu keberadaan teman kalian yang lain!” desak Inspektur Alfred


“Saya tidak ada teman dalam masalah ini, Pak.”


Begitu juga dengan dua orang lain. Jawabannya sama.


Selama berjam-jam para petugas mengintrogasi bahkan sampai harus memukuli mereka, tapi mereka tetap tutup mulut.


Pak William berbicara dengan Hanz melalui telepon dan menceritakan semua kepada Hanz.


“Aku sudah punya semua datanya, Pak William. Anggota BlackCarbon lainnya akan segera kita temukan. Tunggulah laporan dariku.”


...


Lelah setelah seharian bekerja, Hanz mengajak Avraam dan Zahid refreshing sejenak.


“Healing ke mana kita, Hanz?” tanya Avraam.


“Aku dengar teman kita dari Indonesia ini jago renang. Ayo kita liburan ke Bern!”


Mereka berkemas dengan menyiapkan beberapa lembar pakaian karena diperkirakan mereka akan berada di Bern selama dua hari.


Hanz mengumpulkan semua petugas keamanan yang berjumlah lima belas di rumahnya.

__ADS_1


“Kami bertiga hanya butuh dua orang dari kalian. Sisanya silakan istirahat di rumah.”


Seorang petugas menyela. “Kenapa harus dua orang, Tuan Hanz? Kami semua ditugaskan oleh Tuan Dmitry untuk menjaga kalian bertiga.”


“Tuan Dmitry baru saja memberikan kabar bahwa para penjahat tidak akan mengincar kami bertiga di sini. Kami semua sudah aman.”


Selanjutnya Hanz, Avraam, Zahid, beserta dua petugas pun menuju Burn dengan menggunakan satu mobil saja.


Avraam penasaran. “Hanz, bukannya kita, terutama kau, merupakan target yang diincar BlackCarbon?”


Zahid juga kaget. “Betul. Bagaimana kalau nanti tiba-tiba di jalan kita dihadang oleh mereka?”


Hanz menghela napas lalu berbicara dengan tenang. “Aku sudah tau motif kejahatan BlackCarbon. Mereka hanya ingin Stefan tersingkir. Aku sangat yakin mereka tidak akan menyerang Fadeyka Energy setelah dipimpin oleh Feliks yang merupakan orang asli Rusia. Ketika Tuan Wilson menjadi CEO di Fadeyka, semua aman terkendali, dan ketika Stefan menggantikannya, tiba-tiba semua kacau.”


Zahid mengoles dagu. “Apa bisa jadi dalang dari semua ini merupakan orang-orang seperti Tuan Wilson?”


Hanz melihat pemandangan jalan, lalu menoleh ke arah Zahid yang berada tepat di sampingnya. “Kita tidak punya bukti otentik. Lagipula, agamamu mengajarkan agar tidak suudzon dan berpikiran negatif, Zahid.”


“Kenapa tiba-tiba Tuan Dmitry memberikan jaminan?” tanya Avraam.


“Suatu saat kau akan tahu jawabannya, Avraam. Karena prediksi dariku dalangnya bukan dari pemimpin BlackCarbon sendiri.”


Avraam dan Zahid malah makin penasaran atas semua apa yang disampaikan oleh Hanz. Seorang diri Hanz mampu memecahkan semuanya.


Hanz malah mengajak mereka berhenti memikirkan masalah ini, lagipula sebagian hacker sudah tertangkap dan mereka dalam keadaan aman.


Hanz menyuruh dua petugas membangunkan tenda kemah di pinggiran Sungai Aare.


Zahid mengeluarkan peralatan penyeduh kopi manualnya, lalu menyiapkan lima cangkir cappucino.


Tenda yang dipasang tepat di bawah sebuah pohon besar. Rerumputan begitu bersih dan tertata dengan rapi.


Suara riak air sungai sungguh merdu. Kicauan beberapa burung saling beradu-adu seolah sedang berada dalam acara paduan suara.


Jingga di penghujung sore ini sungguh mempesona. Ditambah hembusan angin yang begitu menenangkan.


Zahid meletakkan lima cangkir cappucinonya sambil berujar, “Liburan semester yang terlalu dini buat para mahasiswa ETH.”


Avraam tersenyum. “Apa mungkin ini perayaan karena telah mengalahkan kita pada saat tanding kemarin, Zahid?”


Zahid tertawa. “Tunggu saja apa dia akan membicarakannya sebentar lagi.”


Avraam menggeleng dan menaikkan alisnya. “Tapi, aku tahu dia orangnya seperti apa. Dia tidak pernah membanggakan prestasi apa pun.”


“Justru, dia ingin terus belajar hal-hal baru.”

__ADS_1


Hanz senyum mendengarkan percakapan dua orang itu. Lalu dia menyeruput kopinya.


“Avraam, Kota Palembang tempat tinggalku merupakan Kota Sungai karena ada lebih dari seratus anak sungai yang berada di tengah kota dan semuanya terhubung pada satu sungai besar, namanya Sungai Musi. Jadi, malu sekali kalau ada pria yang tidak bisa berenang. Apa kau bisa berenang?”


“Aku pernah latihan renang ala militer. Tidak tahu kalau Hanz. Coba kau tanya Hanz apa dia pernah menceburkan dirinya ke Sungai?”


Zahid ingin tertawa.


Hanz beranjak sambil batuk-batuk. “Ehem! Air dengan warna biru kehijauan ini sungguh menarik. Bagaimana kalau kita mandi sore di sini.”


Avraam menyenggol Zahid sambil mengedipkan matanya. “Coba kau ceritakan pengalamanmu ketika berenang di kotamu, Zahid.”


“Aku bisa gaya kupu-kupu, punggung, katak, samping, guling.”


“Aku hanya bisa gaya bebas.” Avraam melirik Hanz.


Hanz lantas meninggalkan mereka berempat lalu menuju pinggiran sungai.


Ketika Hanz tidak bersama mereka, Avraam malah cekikikan. “Aku jadi tidak enak.”


“Tapi kau yang terus memancing.”


“Sungai ini bagus sekali dijadikan tempat berlibur.”


“Beda jauh dengan sungai-sungai yang ada di Indonesia. Tidak ada satu pun sampah di sungai ini. Kalau di sana, jangan ditanya.”


“Kira-kira apa penyebabnya?”


“Mindset, perilaku konsumtif, dan tidak pedulinya terhadap kebersihan dan kesehatan.”


Tiga puluh menit Hanz tidak kembali.


“Apa kita harus menyusul Hanz?” tanya seorang pengawal mereka.


Avraam dan Zahid tersentak. Mereka berempat lantas menuju pinggiran sungai dan tidak melihat Hanz di sana.


“Aku akan berlari searah dengan arah sungai ini,” ucap Zahid sambil belingsatan. “Avraam, kau ambil mobil lalu langsung menuju ke arah hilir. Kalau memang Hanz hanyut di sungai ini, tentu dia akan terus terbawa arus. Waktu sekitar tiga puluh menit ini kemungkinan dia masih berada dalam radius di bawah lima kilometer. Cepat kau pergi ke titik itu. Biarkan dua pengawal kita mencari Hanz di sekitar sini.”


Avraam cemas. Dia tidak bisa berkata apa pun kecuali hanya mengiyakan omongan Zahid.


Mereka berpencar.


Kemudian Zahid berlari dengan kencang di pinggiran Sungai Aare sambil mengawasi daerah sungai. Namun, dia terhambat oleh rumah warga dan hutan-hutan.


Tak menyerah, Zahid mencari jalan-jalan lain agar bisa kembali bisa menyusuri Sungai Aare. Namun, mereka semua tidak berhasil menemukan Hanz.

__ADS_1


Jika sudah hilang tidak ditemukan, kemungkinan besar Hanz akan tewas karena sudah banyak cerita orang yang hanyut di sungai ini dan ditemukan tewas.


__ADS_2