Tuan Muda Jenius

Tuan Muda Jenius
Bab 27


__ADS_3

Seorang petugas keamanan Fadeyka Energy yang datang menemui Hanz. “Anda mendapat kiriman hadiah dari Tuan Stefan di Rusia. Tuan Stefan mengucapkan terimakasih kepada Anda atas hadiah program HF03.”


HF03 merupakan program yang dirancang sendiri oleh Hanz. Program super canggih tersebut mampu mengawasi dan menjaga semua sistem keamanan Fadeyka, baik di kantor, rumah Stefan, maupun di Istana Valaam.


Hanz dapat mengontrol semua jaringan di sana dari rumahnya. Jika terjadi hal yang tidak-tidak, sistem akan secara otomatis memberi peringatan, dan Hanz bisa segara menyambungkan informasi langsung ke FSB, Pertahanan dan Kepolisian Rusia.


Karena merasa terkesan dengan hadiah yang diberikan oleh Stefan, akhirnya Hanz menghubunginya via telepon. Hanz tengah berada di ruang IT-nya.


“Hanz, kau bisa melihat diriku sekarang dari cctv di sini. Sementara aku tidak bisa melihat keberadaanmu,” ucap Stefan


“Baiklah, Stefan. Buka layar laptopmu sekarang.” Hanz beberapa saat mengutak-atik mousenya. Sistem mulai bekerja.


Stefan terkejut. Sekarang dia melihat Hanz sedang berada di ruangan yang penuh dengan nuansa hijau. Stefan tidak bisa melihat wajah Hanz dari layar laptopnya karena Hanz menutup bagian kepalanya dan ditambah suasana cukup temaram.


“Kau curang, Hanz.”


Hanz ingin tertawa, tapi hanya ada senyum tipis di bibirnya.Hanz mengutak-atik lagi. 


Tiba-tiba layar laptop Stefan menampilkan wajah Hanz, cukup jelas. “Apa kabarmu, Hanz? Beruntung kau menjadi anak yang cerdas.”


“Kau beruntung, Stefan, sekarang sudah menjadi CEO di Fadeyka Energy.”


“Tapi kau telah menyelamatkan perusahaan ini. Kau punya peran penting.”


Namun, Hanz mencoba rendah hati, dengan mengatakan bahwa dia hanyala seorang pesuruh Fadeyka Energy, pekerja, cafe, dan mantan tukang service komputer.


“Kau punya selera humor rupanya, Hanz,” sambung Stefan. Pembicaraan mereka makin terasa hangat dan akrab. “Tidak enak menjadikan diri terlalu tertutup. Suatu saat kau akan menjadi pribadi yang terbuka sepertiku.”


Hanz tidak begitu merespons omongan Stefan. Lalu dia berkata dingin, “Matamu biru, Stefan.”


“Sama sepertimu. Hm, kapan kau ke Rusia?”


“Setelah menyelesaikan magisterku.”


Stefan tidak sabar rasanya menunggu pertemuan antara dia Hanz. Sebuah pertemuan yang begitu dinanti sejak dulu.


Namun, obrolan mereka selesai. Titik.

__ADS_1


...


Sabtu sore ini Hanz melanjutkan latihannya bersama Avraam dan Zahid. Avraam mengajarkannya segala macam teknik gulat MMA, sedangkan Zahid mengajarkannya teknik pukulan karate, serta sepakan dan sapuan pencak silat.


Hebatnya Hanz adalah dia sosok pria yang suka dan gampang dalam mempelajari hal baru. Tiga kali latihan, dia sudah bisa menguasai semua gerakan untuk serangan dan bertahan. Dia sudah bisa teknik memukul dan mengguting. Luar biasa.


Hanz lebih calm, dan dia tidak seenerjik Avraam dan Zahid, karena dari kecil, remaja hingga dewasa seperti sekarang dia terbiasa dengan pekerjaan yang tidak banyak menggunakan otot, makanya dia terlihat lambat.


Akan tetapi, Hanz tidak selambat yang terlihat oleh banyak orang, justru Hanz memiliki tenanga yang kuat dan respon yang cepat. Buktinya pada saat Zahid akan melakukan sapuan terhadapnya, Hanz langsung mengencangkan bagian kakinya sehingga sapuan Zahid tak mampu menjatuhkannya.


“Hanz, bagaimana kau bisa menahan serangan itu sementara aku beberapa kali berhasil dijatuhkan oleh Zahid?” Avraam terkesima, bola matanya membesar.


Hanz menjawab dengan dingin dan santai, “Aku pusatkan seluruh kekuatan otot dan otakku pada titik sasaran.”


Zahid tersentak kaget. Dia mengeryitkan kening dan berkat, “Omonganmu sama persis seperti apa yang pernah disampaikan oleh guruku waktu aku masih baru-baru latihan pencak silat.”


Saat Avraam memberikan pukulan dengan tangan kanannya, sekonyong-konyong Hanz mengelak lalu membuat Avraam terjatuh, kemudian Hanz memberikan kejutan Rear Naked Choke.


Avraam sulit bernapas karena lehernya berada dalam kuncian lengan kanan Hanz.


Hanz merasakan sedikit sakit di bagian luar lengannya, namun tidak disangka Hanz mampu menjatuhkan Avraam dengan teknik guntingan cepat luar biasa sambil menyambut tangan kiri Avraam.


Arm Bar!


Avraam kembali terkunci.


Zahid menggeleng sambil bertepuk tangan. “Kau berhasil di-hack, Avraam!”


...


Stefan mendapat chat dari Julya. Wanita itu sedang kepingin makan Pirozhki dan minta dibelikan di sebuah toko roti ternama di St. Petersburg.


Sore menjelang malam ini Stefan menyuruh kepada semua pengawalnya untuk segera duluan ke bandara. “Nanti aku menyusul ke sana.”


Stefan menyetir mobilnya sendirian. Selama perjalanan Stefan agak bingung. Kenapa Pirozhki?


Sesampainya di sana, Stefan pun membeli sepuluh Pirozhki, kemudian langsung ingin segera ke bandara untuk pulang ke Istana Valaam.

__ADS_1


Namun, pada saat baru saja keluar dari toko, tiba-tiba dua orang pria menyekap wajah Stefan dan meminggirkanna ke balik bangunan. Stefan tak sadarkan diri.


...


Sepulang dari latihan Hanz langsung masuk ke ruang IT-nya melanjutkan tugas-tugasnya. Dia bermaksud melanjutkan obrolan dengan Stefan menanyakan tentang pengalaman kuliah di Amerika.


Anehnya, Hanz tidak bisa menyambungkan teleponnya. Hanz coba menghubunginya lagi tapi tetap saja tidak bisa nyambung. Karena penasaran, akhirnya dia menekan satu tombol, lalu menyala lah semua komputer di sini.


Hanz melihat suasana ruangan kerja di kantor Stefan, tidak ada. Hanz melihat semua cctv di apartemen Stefan dan dia melihat para pengawal Stefan sedang ramai berada di kamar Stefan, begitu juga di halaman luar apartemen.


Di sana sedang terjadi keributan karena mereka semua mencari keberadaan Stefan. Hanz dengan cepat langsung mencari titik keberadaan Stefan sebelum terlambat.


Rupanya Stefan sudah berada di luar St. Petersburg. Dia berada di Ukraina. Hanz langsung mengirimkan informasi tersebut ke pihak keamanan Fadeyka, FSB, Pertahanan dan Kepolisian Rusia.


Hanz tersandar di kursinya, lalu menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Matanya berkaca-kaca dan rasanya ingin menangis.


Baru saja dia bisa berbicara langsung dengan Stefan dan itu membuatnya sanga bahagia sekali. Namun, sekarang Stefan sedang berada dalam masalah besar.


Di saat yang bersamaan, hacker BlackCarbon kembali meretas sistem keamanan Fadeyka. Semua layar komputer di kantor Fadeyka menampilkan gambar Hanz sedang terikat dengan tali dan tersandar di sebuah kursi.


“SEGERA ANGKAT KAKI DARI RUSIA, ATAU STEFAN AKAN MATI SEKARANG.”


Avraam dan Zahid yang baru saja tahu kabar itu langsung masuk ke ruang IT Hanz. Mereka berdua terkejut pas melihat sepuluh layar komputer Hanz menampilkan layar yang sama, sebuah tampilan yang amat menyedihkan.


Bahkan BlackCarbon mampu memecundangi Hanz.


Hanz menggeram. Dia pun masuk ke ruang sebelahnya, ruang Super Komputer. Lalu Hanz mengubah semua sistem yang ada. Dia menaikkan level HF03 ke lebih tinggi, namun, hal ini sangat berisiko sebab jika terlalu lama menjalankan sistemnya, semua perangkat di dalam sini bisa meledak.


Hanz berani mengambil risiko ini!


Demi menyelamatkan nyawa Stefan!


Semua sistem di rumahnya dan di kantor Fadeyka kembali pulih.


Hanz menepuk meja dengan keras. BRAAKK!


“Mereka menghilangkan jejak!”

__ADS_1


__ADS_2