Tuan Muda Jenius

Tuan Muda Jenius
Bab 21


__ADS_3

Pagi ini di ETH Zurich.


Avraam, Hanz dan Zahid mendapat pengalawan ketat sampai masuk ke dalam kelas. Beberapa hari belakangan para dosen dan mahasiswa serta para pimpinan dan staf kampus sudah tahu mengenai hal ini.


Seorang profesor atau guru besar ETH berbicara di hadapan para mahasiswa. “Hanz dan Zahid merupakan teladan bagi kalian semua. Dua orang ini mengharumkan nama ETH karena turut membantu CERN dan Fadeyka dalam pencarian pelaku kejahatan yang sedang viral dibicarakan masyarakat Eropa bahkan dunia saat ini.”


Ketika duduk di kursinya, sebelum waktu belajar dimulai, Zahid dihampiri oleh Gerald dan Mark.


“Hei,” tegur Gerald. “Kau jangan bangga ya! Apa kau mau mengelak bahwa kau ini merupakan orang suruhan para pelaku ha?”


“Terus,” sambung Mark. “Kau juga jangan bangga ya! Jurnal ilmiahmu tentang bantahan terhadap Hukum Gerak Newton itu bisa membuatmu jadi hebat di ETH, TIDAK SAMA SEKALI! Itu paper anak SMP yang tidak bermutu sama sekali.”


“Oh ya, kok bisa orang ini bisa dapat Nobel Fisika hanya dengan riset tentang fisika klasik anak SMP?! Benar-benar tidak disangka. Mark, apa kau sudah baca paper itu ha?”


“Ha ha. Sudah, Gerald. Lucu sekali ya. Apa itu Hukum Keaktifan, sementara kita sudah bahas sub-atomik dan supernova, dia malah bahas Hukum Gerak. Ha ha.”


Gerald menepuk dinding. “Jangankan para ilmuwan jenius, kita yang masih belajar saja jelas menolak paper murahan itu.”


Zahid masih diam dan tidak menggubris ejekan mereka. Dia malah sibuk membuka buku pelajarannya karena sebentar lagi kelas dimulai.


“Ngomong woi! Katanya, kau ini bekerja di CERN, tapi malah berkhianat, malah menyebar informasi sehingga CERN kecurian.”


Avraam emosi. Dia melangkah lalu mendorong dua orang itu. “Minggir kalian berdua. Kalau tidak senang, nanti sepulang kuliah kalian berdua bisa melawanku.”


“Apa-apaan kau ini?!” Mark ikut emosi. “Zahid itu rupanya penakut. Ha ha.”


“Banci!” Gerald mengacungkan jempolnya ke bawah.


Zahid berdiri. “Avraam, biarkan mereka. Kita tidak punya urusan dengan orang seperti mereka.”


“Mereka berdua sudah mengejekmu.”


“Mereka setiap hari mengejek orang-orang di kelas ini. Kebetulan hari ini pas giliranku. Jadi santai saja.”


Avraam mengawasi dua wajah orang itu. “Oke dua lawan satu?”


Mereka berdua malah mundur.


Di kelas ini, hanya Avraam yang tidak berani mereka olok, semuanya sudah.


“Kalian berdua takut denganku? Ha? Bagaimana kalian berdua mau berkelahi dengan Zahid? Apa kalian berdua tahu kalau aku dua kali dijatuhkannya dengan teknik genjutsu asal Indonesia itu ha? Aku saja dikalahkan oleh dia, apalagi dua bocah seperti kalian ini. Lari sana ke kursi kalian!”


Dua orang itu pontang-panting, pas pula dosen masuk.


Avraam geram sekali sama dua orang ini. Sepulang kuliah, dia menyuruh Hanz dan Zahid agar duluan ke mobil.


Di tengah keramian itu, dia melihat Mark dan Gerald sedang menuju halaman parkir kampus. Kemudian Avraam menengahi dan merangkul mereka berdua seolah sudah berteman akrab.


“Kalian tahu bahwa Stefan adalah sepupu kandungku?”

__ADS_1


Dua orang itu mengangguk.


“Kalian tahu bahwa Zahid adalah teman baikku dan menjadi rekan kerjaku?”


Dua orang itu mengangguk lagi.


“Jadi, mulai sekarang kalian berdua berhenti mengolok dan mengejek mereka, begitu juga terhadap teman-teman yang lain. Kita bukan bocah SMA, kita calon magister. Lucu sekali kalau kalian ingin membully orang-orang cerdas ETH. Mereka bukan takut, tapi tidak mau menghabiskan waktu hanya untuk bercanda dengan dua orang badut seperti kalian. Jika Hanz mau, sekarang duit di rekening kalian habis total. Terus, jika Zahid mau, kalian berdua sudah babak belur. Dan jika aku mau, kalian berdua akan enyah dari ETH. Kalian berdua lihat rombongan yang pakai setelan hitam-hitam itu? Mereka adalah anak buahku! Paham kalian?”


Dua orang itu mengangguk lagi.


“Kalian berdua sombong karena orangtua kalian bekerja di Fadeyka dan Oilzprom. Para penjaga itu dari Fadeyka, diutus untuk melindungi kami. Sekarang Fadeyka yang butuh sama kami. Mengerti kalian?”


Dua orang itu mengangguk lagi.


“Jangan pernah melihat hanya dari kulit luar saja!”


Dua orang itu mengangguk lagi.


Avraam melepas rangkulannya. “Pergi kalian berdua!


...


Stefan kerja dari pagi sampai malam ditemani oleh Julya di ruangannya.


“Kita sudah kehilangan total dua belas dana investasi, Tuan. Kalau keadaan tidak juga membaik, jumlah itu akan terus bertambah.”


“Saya sudah berkoordinasi dengan COO, CMO, dan CTO, serta semua manager agar bisa menutupi semua kekosongan. Saya sudah berkoordinasi dengan semua presiden direktur perusahaan Fadeyka. Saya mengultimatum, jika saja investor kabur seperti di Oilzprom, ONE Migas, dan beberapa perusahaan di Eropa lainnya, mereka akan aku copot jabatannya.”


Stefan menghela napas, lalu mengusap matanya. “Temani saya ke sebuah cafe, aku butuh refreshing sekarang.”


“Baik, Tuan, tadi kalau Tuan mengajak ke diskotik untuk mabuk, saya tidak akan mau.”


Bodyguard menempel dua orang itu sampai ke halaman parkir.


“Tinggalkan Porsche-mu di sini, Julya. Saya lebih suka pakai Chevrolet.”


Julya senyum. “Biar lebih berasa Amerika-nya, Tuan Stefan?”


Stefan balik senyum. Kemudian dia mengawasi para bodyguard. “Tyson dan yang lainnya, kalian semua cukup mengawasiku dari kejauhan. Aku tidak ingin diganggu. Dan pastikan kami berdua aman.”


Semua petugas mengangguk takzim.


Mobil Stefan melaju di jalanan St. Petersburg dan Julya mengarahkannya.


“Tuan, apa saya cocok pakai jam tangan termahal dari Swiss ini?”


“Sangat cocok untuk wanita seperti dirimu, Julya.”


“Terimakasih, Tuan. Apa Tuan bersedia berjalan berdua dengan wanita yang tidak jelas asal-usulnya? Kukira, masih mending Anoushka Zigor, walaupun anak seorang petani miskin di pedesaan Rusia, tapi asal-usul keluarganya jelas, tidak seperti saya ini.”

__ADS_1


“Banyak orang di luar sana yang merupakan keturunan bangsawan, mereka menyebut diri mereka aristokrat dengan penuh percaya diri, tapi sayangnya mereka tidak punya harga diri, mereka tidak terpandang, mereka tidak punya nilai. Perlu kau ketahui, Julya, keberadaan orangtua mereka sangat jelas, tapi mereka tidak lebih baik darimu.”


“Tapi, saya tetap malu berjalan dengan salah satu keluarga Fadeyka.”


“Kita sudah lama mengenal, Julya, kau bahkan lebih dekat denganku melebihi ayahku sendiri. Kita rekan dan sahabat. Berhenti merasa rendah di hadapanku. Ingat, kita adalah rekan dan sahabat.”


Mereka tiba-tiba saling tatap. Julya merapikan rambutnya yang tidak berantakan, lalu melempar senyum bahagia.


Mereka berhenti di sekitar Gorokhovaya dan masuk ke Sicaffe.


“Julya, tempat ini nuansanya begitu romantis. Apa dulu kau pernah ke sini bersama kekasihmu?”


“Baru kali ini, Tuan Stefan. Saya banyak tahu karena sering update di media sosial.”


“Semoga bisa ke sini bersama kekasihmu.”


Julya menunduk. “Saya harap begitu, Tuan.”


Dinding dan langit-langit tempat ini tersusun dari batu bata tanpa tambahan apa pun, tak ada lapisan dan tak ada cat. Sementara itu lampu kuning emas menerangi sekitar sudut-sudut cafe yang begitu aestetik.


Di bagian utara terdapat bar kopi dan seorang barista sedang beraksi menyiapkan pesanan pengunjung, sedangkan bagian selatannya terdapat sebuah mini teater atau panggung kecil tempat dilangsungkannya acara musik dan pentas seni lainnya.


Stefan dan Julya duduk di kursi paling pojok.


“Apa orang-orang di sini tahu bahwa aku anak Tuan Dmitry?”


“Sepertinya begitu, Tuan. Saranku, lain kali Tuan bisa memakai setelan casual yang tidak begitu bagus untuk menutupi identitas Tuan.”


Mereka memesan kopi dan beberapa roti khas Rusia.


“Benar juga, aku harus mengganti penampilan.”


Mereka berdua menikmati malam yang sendu di cafe yang tak jauh dari Katedral Saint Isaac ini.


“Julya, sebenarnya malam ini aku tidak ingin membahas soal pekerjaan kantor, tapi rasanya sulit sekali untuk tidak membicarakannya. Tiga malam aku tidak tidur memikirkannya.”


“Badan Tuan agak kurusan sekarang. Tuan harus istirahat.”


“Bagaimana caranya membuat investor kembali lagi ke Fadeyka?”


Julya menyeruput kopinya sambil menatap mata Stefan. Mata yang biru itu terlihat layu. Julya benar-benar tak sampai hati.


“Baiklah, Tuan, serahkan semua pada saya. Saya yang akan menemu CEO AK Enterprise di New York, agar mereka mau menginvestasikan dananya ke perusahaan kita.”


“Terlalu berisiko untuk saat ini.”


“Saya akan terbang ke New York untuk menebus semua kesalahan saya pada Tuan.”


Stefan kaget. “Kesalahan apa, Julya? Kau selalu baik terhadapku.”

__ADS_1


“Nanti sebelum berangkat akan saya jelaskan pada Tuan. Lebih baik Tuan santai dulu sekarang ini. Saya benar-benar kasihan sama kondisi Tuan dan situasi di Fadeyka sekarang.”


__ADS_2