Tuan Muda Jenius

Tuan Muda Jenius
Bab 13


__ADS_3

Zahid kedatangan tamu spesial di rumahnya. Dia adalah Profesor Paul yang mengajar di Harvard dan salah satu anggota Royal Society.


“Silakan masuk, Prof.” Zahit tersenyum ramah.


Mereka duduk di ruang tamu.


“Terimakasih. Saya cukup banyak tahu tentang kau, Zahid. Peraih Nobel Fisika dan bekerja di CERN merupakan prestasi yang luar biasa. Saya mewakili Royal Soceity ingin mengajak bekerjasama,” ungkap Profesor Paul dengan senyum kehangatan.


“Dengan senang hati, Prof. Dalam hal apa kalau saya boleh tahu?” tanya Zahid penasaran.


“Apa saja yang terkait dengan anti-matter dan partikel pengganti nuklir saat ini. Kami bekerja sama dengan sebuah lembaga di Inggris ingin menciptakan sebuah sumber energi baru yang belum pernah ditemukan.”


“Kebetulan saya sedang mencari seorang rekan yang diharapkan bisa membantu pekerjaan saya. Tapi sayangnya orang itu tidak mau.”


“Kau tidak perlu bantuan dari dia. Orang-orang di Royal Society bisa diandalkan dalam masalah ini. Kau tidak perlu khawatir. Jika kau mau, kami akan bayar 10 juta dollar US.”


Saat ini Zahid memang butuh banyak uang untuk diinvestasikan ke Fadeyka Energy. Tentu dia tergiur dengan uang sebanyak itu. Jika project ini benar-benar berlangsung, maka investasi di Fadekya Energy akan lebih cepat dilaksanakan.


Zahid memperbaiki posisi duduknya dan bertanya, “Baiklah, Prof. Apa tugas yang nantinya aku lakukan?”


“Kami hanya butuh beberapa informasi yang ada di CERN. Sementara kau tidak perlu pergi ke Inggris untuk membantu tugas-tugas kami. Kau hanya berdiskusi di sini denganku dengan memberikan banyak informasi.”


“Tugasku tidak setimpal dengan uang yang aku dapatkan, Prof.”


“Kau tahu berapa harga anti-matter?” Profesor Paul bertanya sambil memandang tajam. Ada sunggingan tipis di salah satu sudut bibirnya.


“Enam puluh dua triliun dollar US per gram.”


“Nol koma satu enam dikali sepuluh pangkat min 6. Jauh sekali perbandingannya.”


Obrolan mereka berlangsung selama dua jam. Dalam satu minggu ke depan Prof. Paul terus berkunjung ke rumah Zahid. Akhirnya Zahid dibayar separuhnya, sebesar lima juta dollar dan sisanya setelah proyek selesai.

__ADS_1


Zahid terbang ke Rusia dan langsung menuju Lakhta Center. Di kantor Fadeyka Energy, dia berurusan sebentar di bagian resepsionis, lalu dipertemukan dengan Julya.


“Saya pemilik Philosophie Jaya di Indonesia.”


“Baik, Pak Zahid akan memiliki tiga persen saham dari ONE Migas.”


“Dalam waktu beberapa bulan ke depan saya akan terus membeli saham Fadeyka yang ada di Indonesia.”


“Senang bisa bekerjasama dengan orang Indonesia. Apa ingin bertemu dengan Tuan Stefan?”


“Saya rasa tidak perlu. Lain saya akan bertemu dengan beliau. Saya permisi karena akan segera berangkat ke Jerman mengurus proyek saya di sana.”


Setelah itu, Julya langsung menemui Stefan di ruangannya. “Kita sudah mendapatkan investor baru, Tuan,” ucapnya riang.


“Kita harus banyak mencari investor lain, Julya. Apa kau bisa mendekati Harley agar mereka mau kembali bekerjasama dengan kita?”


“Sepertinya tidak bisa, Tuan. Mereka sudah tidak mau lagi bekerjasama dengan kita.”


...


Avraam terus meyakinkan kepada Hanz bahwa harus berhat-hati terhadap Zahid. Jelas Avraam tidak ingin terjadi apa-apa terhadap sepupunya itu. “Dia memiliki sedikit saham di Fadeyka Energy. Apa kau tidak khawatir?”


Hanz sedang sibuk berada di depan laptopnya mengerjakan tugas kuliah. Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah Avraam sedang duduk selonjoran. “Dia orang baik, yakinlah!”


Avraam sejujurnya lebih suka berhadapan dengan orang seperti Mark dan Gerald, alasannya karena mereka terang-terangan hanya ingin mengejek dan menertawakan Hanz. Beda kasusnya dengan Zahid, begitu tertutup dan mencurigakan.


Hanz, meskipun selalu menjaga jarak terhadap orang, selalu berusaha berpikir positif, “Aku tidak berpikir aneh-aneh soal dia.”


Avraam mengoles dagu, lalu membalas, “Belasan tahun aku hidup denganmu. Baru kali ini ada orang yang benar-benar ingin dekat denganmu dan terlalu baik denganmu. Biasanya orang-orang hanya akan mengejek dan merendahkanmu.”


Hanz mengakui kehebatan Avraam dalam hal bela diri. Avraam merupakan bodyguard yang tangguh.  Hanz menjawab, “Setelah itu kau berkelahi dengan mereka. Itulah kebiasaan burukmu sejak kecil dan remaja, bahkan sampai sekarang.”

__ADS_1


“Karena itulah tugasku. Jangan sampai di ujung masa tugasku lalu aku gagal. Aku tidak ingin membuat kecewa.” Khusus untuk Zahid, Avraam tidak bisa melepas kecurigaannya.


Setelah beberapa saat, Hanz tersentak kaget. Dia lantas memandangi Avraam agak lama, lalu berkata, “Sepertinya dia itu orang yang tepat,” ungkapnya sambil menatap senang.


“Dia siapa, Hanz?” Avraam penasaran.


“Zahid. Aku harus banyak belajar dari dia.”


“Belajar pencak silat? Atau belajar buat kopi? Kan dia punya bisnis kopi dan resto di tempat tinggalnya sana.”


“Bukan kopinya. Tapi bisnisnya. Ya, aku ingin belajar bisnis dari dia.”


Avraam rasnya mau menyerah terus-terusan meyakinkan Hanz. “Jangan! Sudah kubilang kalau dia berbahaya. Dia hanya ingin memanfaatkanmu saja. Bisa jadi dia *******.”


“Kau selalu berpikiran negatif. ******* tidak punya cita-cita yang mulia. ******* juga tidak mungkin punya bisnis besar. ******* tidak mungkin punya hati sebaik itu. Intinya, aku akan belajar bisnis dari dia.”


“Aku sudah berulang kali memperingatkanmu, Hanz. Kalau terjadi apa-apa, jangan pernah salahkan aku. Tugasku sudah selesai.”


Berita di koran dan televisi Swiss heboh mengabarkan bahwa sistem keamanan CERN telah diretas oleh sekelompok hacker yang saat ini belum diketahui keberadaannya. Di hari yang sama, karena lemahnya keamanan, penyusup berhasil masuk ke CERN dan mencuri beberapa partikel.


Partikel-pertikel yang dicuri adalah bahan peledak non-eksplosif. Para pelaku bisa menyasar target ribuan kilometer jauhnya. Jika mereka melakukannya dengan benar, bisa meledakkan setengah kota di Zurich. Jika tidak, hanya ledakan kecil saja.


Usia partikel yang dicuri tidak lebih dari dua hari. Oleh karena itu, pencurinya harus paham betul tentang fungsi partikel-partikel tersebut. 


Sesuai dengan pengakuan dari salah seorang ilmuwan CERN, bahwa peretas dan pencurinya harus tahu banyak informasi tentang CERN dan harus juga ahli dalam mekanika kuantum. Hanya orang-orang tertentu yang mau mendapatkan partikel tersebut dan idak mungkin orang sembarangan.”


Mengetahui berita heboh tersebut, tiba-tiba Avraam langsung memberikan tuduhan yang tidak-tidak. “Nah, jangan-jangan Zahid ada hubungannya dengan peretasan sistem keamanan CERN dan juga pencurian partikel.”


Hanz bangkit dan menatap Avraam lurus-lurus. “Kau tidak boleh berpikir seperti itu Avraam hanya dengan alasan bahwa Zahid bekerja di CERN. Sangat tidak masuk akal.”


Avraam mendengus jengkel. “Kita lihat saja nanti. Semoga identitas Zahid akan cepat ketahuan.”

__ADS_1


__ADS_2