
Di sekitar Sungai Aare terdapat sebuah area wisata alam dan taman margasatwa Baren Park.
Hanz menikmati pemandangan alam yang begitu menyejukkan di sana. Dia melihat beberapa ekor beruang.
Sebenarnya beberapa kali dia datang ke tempat wisata di Swiss. Tapi baru kali ini mengunjungi Baren Park.
Dia berkeliling taman, namun suasana hatinya tak sebahagia orang-orang Eropa lainnya yang tengah berlibur di sini.
Hanz masih kepikiran Stefan. Obrolan lewat telepon tempo lalu merupakan obrolan pertama dan terakhir antara mereka berdua.
Padahal, masih banyak yang ingin Hanz bicarakan, seperti menanyakan seperti apa kehidupannya di Amerika sana, betah ataukah tidak.
Lalu, rencana ke depan dalam membangun Fadeyka Energy menjadi lebih baik lagi. Akan tetapi, semua hanya tinggal rencana dan tidak akan pernah tercapai.
Hanz masih bersedih. Dia tidak bisa melupakan Stefan begitu saja. Dalam hatinya dia berjanji akan mencari Frank dan akan menuntutnya.
Hanz duduk di sebuah bangku taman. Dilihatnya langit yang cerah di musim gugur. Awan-awan tipis bergulung-gulung menutupi semburat mentari.
Ponselnya dari tadi bergetar. Dia tahu teman-teman dan dua pengawalnya sedang mencarinya pasti. Tapi Hanz ingin sendiri.
Hanz melihat di sana ada sekeluarga yang sedang berlibur. Suami istri bersama empat orang anaknya, tiga pria dan yang paling kecil seorang wanita.
Kelihatannya mereka bukan orang kaya raya karena Hanz bisa menilai dari cara mereka berpakaian, Hanz menebak kalau mereka orang asli Swiss.
Sedikit pun dia tidak iri.
Ketiga pria itu sudah berumur belasan tahun namun tingkah mereka seperti anak-anak SD. Mereka bertiga sibuk hanya bermain ponsel.
“Anak yang berada dalam kasih sayang orangtua akan sulit dewasa,” komentarnya dalam hati.
Menikmati people watching, Hanz melihat sepasang kekasih, sepertinya mereka belum menikah. Mereka berdua tak jauh dari posisi Hanz.
Secara tidak sengaja Hanz mendengar percakapan mereka. Dan benar, mereka berdua membicarakan soal rencana pernikahan.
Hanz kembali teringat dengan Stefan. Dulu, Hanz diundang di acara pertunangan Stefan dan Anouskha Zigor di Swiss. Kenapa Hanz bisa diundang?
Tuan Dmitry yang mengundangnya.
__ADS_1
Hanz menghembuskan napasnya, kemudian mengecek ponselnya. Banyak sekali panggilan tak terjawab dan chat dari Avraam dan Zahid.
Hanz mengutak-atik sebentar, lalu layar ponselnya menampilkan titik lokasi Avraam dan Zahid.
Dia malah senyum dan tahu bahwa mereka berdua bersama dua pengawalnya sedang mencari-cari keberadaannya.
Kemudian Hanz mengirimkan chat dan memberikan share lokasi dia sekarang. Dan sekitar lima belas menit kemudian para rombongan pun tiba di lokasi Hanz berada.
Avraam terkaget-kaget sekaligus bernapas lega. “Ty nas bespokoish’! (Kau membuat kami khawatir!)”
Zahid ngos-ngosan sambil menggeleng-geleng. “Kami kira kau sudah mati, Hanz.”
Hanz melipat tangan di dada. “Kalian kira aku merajuk lantaran jokes yang kalian mainkan tadi, terus aku sakit hati?”
Avraam duduk di sampingnya dan merangkulnya. “Aku tahu betul kalau kau tidak pernah peduli dengan remehan orang lain.”
Hanz hanya senyum. “Nanti kita belajar renang di hotel saja.”
Malam ini mereka berlima menghabiskan malam di perkemahan. Pas di depan mereka dibuatkan api unggun.
Zahid menyalakan rokoknya. “Cukup menggigit suhu di sini. Apa kalian merokok?”
“Nikotin akan membantu otakmu, Zahid, tapi akan merusak paru-paru dan jantungmu, dan akhirnya akan merusak otakmu juga.”
“Benar, Hanz. Mulai sekarang aku akan mengurangi, semoga bisa berhenti total.” Zahid menceritakan pengalamannya di Indonesia. “Ada seorang temanku di sana bernama Alvin. Dari SD sampai SMA dia hampir selalu menduduki peringkat pertama di kelas dan beberapa kali mendapat juara umum. Pas tamat kuliah pun begitu, menjadi mahasiswa berprestasi. Namun sayangnya, sekarang pekerjaannya hanya seorang guru bimbel. Hanz, apa kau tahu alasannya? Padahal seharusnya dia mendapat pekerjaan yang layak sesuai dengan kecerdasan dan prestasi yang dia raih.”
“Ada banyak faktor. Dia tidak sepertimu, Zahid. Aku cukup membandingkan kalian berdua saja. Bisa saja dalam nilai sekolah dia menang telak atasmu, tapi kau unggul dalam banyak aspek yang lebih dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan dan tidak hanya menjadi seorang guru bimbel. Seperti kau aktif di organisasi bahkan punya jabatan di sana, otomatis kau akan unggul dalam hal kepemimpinan, public speaking, management emosional, keberanian, mengatur banyak orang di bawahmu, membuat keputusan, dan banyak lagi. Network kau juga pasti lebih luas dibandingkan dia. Apalagi kau sekarang berada di Eropa dan telah bekerjasama dengan organisasi dan perusahaan besar.”
“Tepat sekali, Hanz. Membangun karakter itu lebih utama daripada bagus dalam hal akademik.”
Avraam ikut berkomentara. “Pengalaman dan skill. Itu sangat dibuthkan.”
Zahid menatap Hanz. “Kau memiliki segalanya, Hanz.”
Hanz memberikan tatapan balik. “Aku belum pernah melihat pria seberanimu, Zahid. Aku tidak pernah meraih Nobel. Dan bahkan tidak pernah meraih penghargaan bergengsi.”
“Apa gunanya penghargaan, Hanz? Hal terpenting dan paling utama adalah manfaat yang kita berikan. Sudah terlalu banyak manfaat yang kau berikan hingga saat ini. Kau telah membangun kepercayaan kepada banyak pihak. Bagaimana bisa menjadi orang berjasa tapi tetap misterius?”
__ADS_1
Hanz menggunakan gestur ketika berbicara dengan menggerakkan tangannya serta memainkan ekspresi wajahnya. Dia mengatur nada dan tempo ketika berbicara.
“Avraam, apa kau tahu kalau Zahid ini pernah dibangga-banggakan Presiden Indonesia di hadapan banyak masyarakat di sana?”
“Sebelum akrab dengannya, aku sudah riset literasi tentang dia, Hanz. Aku baca profil dia di Wikipedia dan banyak situs lainnya. Dia sangat populer dari siapa saja di ETH. Jadi wajar kalau dia orang pilihan ETH.”
Sekonyong-konyong Zahid menepuk pundak Avraam cukup keras. “Mengapa pas di awal-awal kau mencurigaiku, he?”
Avraam tergelak. “Karena kau terlalu baik untuk orang yang baru dikenal, Zahid. Wajar aku curiga terhadapmu. Tapi sekarang aku mengakui kalau kau tidak seburuk apa yang aku pikirkan waktu itu.”
Hanz menyeruput kopinya lagi. “Apa rasanya menjadi peraih Nobel fisika, Zahid?”
Zahid menghela napas setelah mendapat pertanyaan yang sama ke sekian kalinya. “Bukankah kau pernah menonton video wawancaraku?”
“Aku ingin mendengarnya langsung darimu. Jujur, aku bangga sekali bisa berteman dengan seorang peraih Nobel termuda sepanjang sejarah. Di usia dua puluh dua. Kau memecahkan rekor, Zahid.”
“Aku senang dan bangga atas penghargaan yang aku terima. Sebab, dengan itu aku bisa membuat bangga keluarga dan mengharumkan nama Indonesia.”
“Apa kau punya kekasih di sana?” tanya Avraam.
Zahid manggut. “Dia bekerja di ONE Migas. Salah satu perusahaan migas Fadeyka. Apakah kalian tahu siapa Presiden Direkturnya sekarang?”
Hanz menatap Zahid. “Mister Raden Setiawan.”
“Dia calon mertuaku. Ayahnya Devrieya.”
Hanz dan Avraam mulai paham. Pantas saja Zahid membeli saham ONE Migas.
“Bagaimana cewek-cewek Indonesia? Mantap-mantap?”
Zahid mengangguk. “Jelas kalian akan lebih memilih cewek Swiss dan Rusia atau cewek Eropa lainnya ketimbang cewek Indonesia.”
“Lantas kenapa kau tidak memilih cewek di sini? Apalagi cewek-cewek di ETH kan pada cihui semua.”
“Aku sudah punya calon istri, Avraam. Kau sendiri malah masih jomblo. Bagaimana kau ini? Ha ha.”
Obrolan dan candaan mereka terus lanjut sampai larut malam.
__ADS_1
Bintang gemintang di atas sana bersinar terang.