Tuan Muda Jenius

Tuan Muda Jenius
Bab 26


__ADS_3

Chevrolet itu melaju pelan di jalanan St. Petersburg di antara mobil-mobil buatan Eropa. Jika Stefan mau, dia bisa beli sepuluh Porsche sekarang juga, tapi dia lebih senang produk paman sam.


Hari-hari yang berat setelah seharian berkantor membuatnya capek. Didampingi oleh para bodyguardnya malam ini dia sudah tiba di apartemennya.


Sekarang di lantai yang paling atas ini hanya ada dia seorang. Dia mengambil secangkir kopi yang tadi dia beli di sebuah coffe shop. Kemudian Stefan duduk di sofa menghadap tv.


Dinikmatinya malam yang penuh syahdu ini. Bosan menonton tv, Stefan bermain biliar selama satu jam. Waktu dulu di Amerika biliar merupakan salah satu kegemarannya.


Bosan main biliar, dia menuju ruang gym lalu berolahraga selama lebih dari satu jam. Lanjut karaoke pula. Semua fasilitas dinikmatinya hingga tak terasa waktu sudah pukul satu tengah malam.


Namun, dia tidak bisa tidur malam ini walaupun sebagian urusan kantor sudah membaik. Investor mulai kembali berdatangan dan para pelanggan minyak dan gas mereka mulai menawarkan harga.


Besok-besok Stefan punya jadwal akan terbang ke beberapa negara bermaksud melihat kondisi setiap perusahaan Fadeyka. Inilah risiko besar seorang CEO Fadeyka Energy, yakni kunjungan kerja ke seluruh perusahaan di penjuru dunia.


Pada hari senin nanti dia dijadwalkan akan terbang ke China lalu selasanya ke Korea Utara. Dia akan mengecek perusahaan Fadeyka di sana.


Lantas, Stefan tersandar di sofanya. Matanya yang biru ada guratan merah. Dia mengelus keningnya seolah ingin melepaskan berbagai masalah-masalah.


Di saat yang bersamaan, dari jarak sekitar seratus meter dari apartemen, mobil merk Lada berwarna cokelat metalik itu sudah lima jam bercokol, terus mengintai ke arah apartemen Stefan.


...


Seharusnya Zahid di akhir pekan ini pergi ke Jerman mengurus bisnisnya, tapi karena harus menyelesaikan masalah di Swiss dan Rusia, dia sudah memberikan konfirmasi kepada perusahaan Jerman bahwa dia tidak akan berangkat.


Pagi ini Zahid joging bersama bersama Hanz dan Avraam. Zahid mengenakan setelan celana training abu-abu dan baju putih. Avraam pakai celana merah pendek sebatas lutut dan kaos putih. Sedangkan Hanz memakai training hitam dan sweater hitam, dengan menutup bagian kepalanya. Mereka semua memakai sepatu sport bermerk centang satu.


Hampir satu jam mereka berolahraga. Sambil berjalan mengitari daerah sekitar rumah tua ini, mereka berbincang.


Hanz yang berada di tengah menepuk kedua pundak temannya. “Aku sudah menemukan posisi BlackCarbon. Mereka berada di Moskwa dan Sevastopol. Mereka memanipulasi IP Adress setiap satu jam.”


“Tapi bangkai itu tercium juga,” komentar Avraam.


“Hanz, apa benar mereka orang yang sama?”


“Jelas, mereka orang yang sama. Aku berpura-pura membeli data mereka. Terus, data yang mereka jual adalah data-data penting CERN dan Fadeyka. Ada juga selain daripada itu, seperti data pemerintah Rusia, FSB, Kepolisian, dan Pertahanan.”


“Kenapa harus data?” tanya Zahid.


“Karena data sama berharga dengan minyak dan partikel. Bagaimana jika privasimu diketahui oleh banyak, Zahid?”


“Tentu akan sangat berbahaya.”

__ADS_1


“Begitulah. Apalagi data perusahaan, organisasi, dan lembaga negara. Jika jatuh ke orang yang tidak tepat, tentu akan sangat berbahaya, seperti ******* dan musuh Rusia.”


Hanz berbicara dengan tenang, berjalan dengan tenang, dan berpikir dengan tenang.


Badannya mulai berisi. Otot-ototnya mulai tampak membesar. Sebentar lagi dia akan menyaingin badan Avraam dan Zahid.


“Apa orang Fadeyka sudah tahu keberadaan mereka, Hanz?” tanya Avraam.


“Stay calm, Bro.” Avraam mengawasi mereka secara bergilir.


Ketika berada di depan pintu rumah, Avraam menyuruh para petugas berjaga di luar. Dan mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah.


“Kenapa tidak sekarang?” tanya Zahid.


Hanz menatap mata mereka berdua secara berganti, lalu dengan tenang menjawab, “Aku ingin bermain-main dulu bersama mereka ini. Jika langsung ditangkap, mereka akan tutup mulut dan tidak akan memberi tahu keberadaan bosnya. Sama seperti orang Amerika yang tertangkap itu, dia tidak akan buka mulut. Jadi, sekarang aku mau cari tahu keberadaan bos mereka langsung.”


“Bagaimana kalau mereka berpindah lokasi lagi?”


“Waktu untuk bermain tidak perlu berlama-lama, Zahid. Ada kalanya kita harus membuat mereka serius. Aku tidak tahu mereka menjual data di Dark Web apakah memang disuruh bosnya, atau malah permainan mereka pribadi. Sama seperti orang Amerika itu, dia mengkhianati bosnya.”


Avraam senyum. “Begitulah kalau kerja yang dipikirkan hanya uang.”


“BlackCarbon memiliki jaringan yang cukup luas di Rusia. Aku mencurigai di waktu yang bersamaan ada lebih dari lima server mereka yang mengakses Dark Web dan posisi mereka berbeda-beda.”


“Tepat! Aku hanya ingin memastikan, setelah permainan ini selesai, aku akan memberi informasi ini kepada FSB, biar mereka yang menindaklanjuti.”


Hanz beranjak. Setelah mandi dan sarapan, dia lantas masuk ke ruang IT-nya.


Zahid dan Avraam menawarkan bantuan, tapi Hanz bilang, “Aku ingin sendiri. Silakan kalian berdua latihan menembak.”


...


Hanz berjalan mengitari kantornya dan mengawasi setiap sisi dan sudut serta semua pekerjanya.


Mengetahui hal itu, banyak orang kantor yang gelagapan dan langsung kembali pada pekerjaannya.


“Wahai kalian para Budak Corporate! Jangan pernah bermalas-malasan! Sekarang perusahaan kita mulai kembali membaik. Sekarang kita punya para programmer baru di kantor. Sekarang kita juga punya data analis dan marketing baru. Semuanya sudah dirombak. Kalau ada yang tidak bagus, segera akan saya rombak. Mau kalian aku pecat ha?”


Semua karyawan terdiam.


Perusahaan sedang naik ataupun jatuh rupanya Stefan sama saja, seperti itulah wataknya, alasan utamanya adalah garis keturunan dan kebiasaan waktu muda.

__ADS_1


“Tadi pagi aku lihat ada bekas tisu di tangga, barusan aku lihat tisu itu masih ada, kau OB, kau bekerja tidak becus! Sekarang kau kupecat! Pergi kau dari perusahaanku ini!”


Apalagi semalam Stefan kurang tidur. Matanya masih merah. Diawasinya seluruh anak buahnya satu per satu.


Mereka semua tertunduk tak ada yang berani bicara, termasuk para petinggi perusahaan yang sudah tiga puluh tahun lebih bekerja di Fadeyka.


Orang kantor separuhnya adalah orang Rusia, sebagian kecil orang Eropa dan Amerika, dan sangat sedikit sekali selain dari itu.


Sementara pekerja kelas bawah seperti security dan OB semuanya orang Rusia.


Aturan ini sudah berlaku sejak dulu. Perlahan keberadaan orang Rusia terutama yang menganut ideologi Karl Marx terus disingkirkan.


“Kau teknisi dari Jerman!”


Pria itu mengangguk.


“Apa kau keturunan Nazi?”


Pria itu menggeleng.


“Apa kakekmu dulu ikut perang melawan Uni Soviet?”


Pria itu menggeleng lagi.


“Apa jangan-jangan kau ini Yahudi Jerman?”


Pria itu menggeleng lagi.


“Pasca Perang Dunia 2, bendera pelangi berkibar di Jerman dan tak sedikit mereka jadi pria lemah sepertimu ini. Kasihan sekali Jerman sekarang. Dulu gagah berani, sekarang jadi kemayu.”


Stefan mengedarkan pandangan.


“Kau programmer baru dari Inggris! Apa kakekmu dulu ikut perang melawan Nazi?”


Pria itu mengangguk.


“Bagus! Semoga jiwa patriotik itu turun pada cucu sepertimu ini.”


Stefan mengerling.


“Lihatlah pemimpin kita! CMO, COO, CFO, dan CTO. Semua orang Amerika! Semua jenius, termasuk aku sebagai CEO! Aku bangga berdarah Amerika.”

__ADS_1


Di saat yang bersamaan, mobil Rusia merk Lada berwarna cokelat metalik itu dari tadi bercokol tak jauh dari kantor Fadeyka Energy.


__ADS_2