
Gendang dan gamelan mulai ditabuh, riuh penonton yang didominasi para pria mulai terdengar bersamaan dengan lenggokan tubuh seorang wanita bertubuh sintal.
Siapa yang tak kenal dengan nama Nyi Sekar Asih, profesinya sebagai Nyai Ronggeng tak perlu diragukan lagi. Setiap gerakan tubuhnya mampu menghipnotis siapa saja yang melihatnya.
Termasuk Ki Larang sang pemilik hajat. Dia sengaja mengundang jauh-jauh Nyi Sekar Asih dari desa sebelah untuk menjadi penghibur tamu undangannya dalam rangka merayakan diangkatnya Ki larang sebagai Lurah di desanya.
Nyi Sekar Asih yang sudah sangat berpengalaman betul melihat hasrat lelaki dari tatapan mata, paham apa yang ada di benak Ki Larang. Nyi Sekar Asih perlahan mendekati Ki Larang yang duduk di kursi paling depan.
Sesampainya disana wanita berkulit kuning langsat itu mengalungkan selendangnya keleher Ki Larang.
Pria paruh baya itu serasa mendapat angin segar mendapatkan perlakuan seperti itu dari Nyi Sekar Asih. Matanya tak bekedip menantap wajah penari yang sedang tersenyum manis dihadapannya itu. Dengan wajah sumringah Ki Larang langsung berdiri dan mengikuti ajakan Nyi Sekar Asih untuk menari.
Wanita berkebaya merah yang sendari tadi duduk disebelah Ki Larang hanya bisa mengurut dada. Dia sudah hapal betul watak suaminya yang memang suka bermain perempuan. Sebagai wanita yang lemah Nyi Anjarwati hanya bisa pasrah. Jangankan untuk melarang, hanya untuk sekedar mengingatkan saja Ki Larang tega memukuli dirinya. Nyi Anjarwati sebenarnya sudah tidak tahan hidup bersama suaminya itu, tapi kemana dia harus pergi sedangkan dirinya di dunia ini hidup sebatang kara.
Satu-satunya jalan hanya kematian yang akan membebaskannya dari neraka dalam rumah tangganya ini.
Sementara Ki Larang semakin terbawa suasana, aliran tubuhnya seketika terasa memanas. Berdekatan dengan wanita secantik Nyi Sekar Asih membuat jiwa kelaki-lakiannya tertantang. Apalagi sang penari terlihat menggodanya.
__ADS_1
Ki Larang memajukan kepalanya dan membisikan sesuatu di telinga Nyi Sekar Asih. Wanita berbibir tipis itu tertunduk dan tersenyum manja. Dia pun membalikan tubuhnya dari hadapan Ki Larang dan masih terus melenggok-lenggokan tubuhnya.
**
Malampun semakin larut menjelang, acara telah usai. Disebuah bilik kayu di belakang rumah Ki Larang terlihat Nyi Sekar Asih sedang merapihkan peralatnnya. Aktivitasnya terhenti ketika pintu bilik diketuk oleh seseorang dari luar.
Nyi Sekar Asih beranjak dari tempatnya dan menuju pintu. Dari celah-celah pintu kayu Nyi Sekar Asih dapat melihat seorang pria bertubuh tinggi besar berdiri diluar. Hatinya sedikit ragu untuk membukakan pintu, karena sebelumnya dia tidak pernah melihat pria itu.
“Nyi Sekar!” Ketukan pintu terdengar lagi bersamaan suara lantang pria diluar.
Nyi Sekar Asih masih ragu, dia tidak tau apa yang diiginkan pria itu malam-malam datang kebiliknya.
"Saya, Karto, Nyi. Ki Larang, menyuruh saya kemarin ada yang ingin disampaikan buat, Nyai."
Mendengar kata Ki Larang, akhirnya Nyi Sekar Asih membukakan pintu. tampak pria berkumis tebal berdiri tegap dihadapannya.
Pria berkulit hitam itu menantap liar Nyi Sekar Asih dari bawah sampe atas. Baginya pemandangan indah dihadapannya itu sayang sekali kalau dilewatkan begitu saja.
__ADS_1
"Ki Larang menyuruhmu apa datang kemarin?" Pertanyaan Nyi Sekar Asih membuyarkan fantasi liar di otak Karto.
"oh...hmm..., Ki Larang menyuruh saya agar malam ini Nyai sudi datang ke pondoknya."
"Tapi ini sudah terlalu larut malam."
"Ki Larang, bilang dia tidak bisa tidur kalau belum bertemu dengan, Nyi Asih Malam ini," ucap Karto sedikit berbisik.
Mendengar hal itu Nyi Sekar Asih tersenyum malu.
"Memang istrinya Ki Larang tidak marah tengah malam begini saya menemui Ki Larang?"
"Soal itu, Nyi Sekar tenang saja. sekaran yang penting Ki Larang senang, dijamin Nyai juga bakalan ikut senang," ucap Karto sedikit genit sambil mencolek lengan Nyi Sekar Asih.
"Ah, Akang, bisa aja. memang saya bakalan senang bagaimana?"
"Kalau masalah itu, Nanti juga, Nyai tau."
__ADS_1
Bersambung...