Tumbal Nyai Ronggeng

Tumbal Nyai Ronggeng
Ki Larang


__ADS_3

“Mari, Nyi, kita segera menemui Ki Larang, jangan sampe beliau menunggu terlalu lama. Bisa-Bisa saya kena damprat.”


“Kalau begitu mari, Kang!” ucap Nyi Sekar Asih sembari menutup pintu.


Mereka berdua berjalan beriringan. Bilik kecil yang dikhususkan buat tamu itu letaknya tidak begitu jauh dari rumah Ki Larang hanya di batasi oleh sebuah taman.


Ki Larang adalah orang yang terpandang di desa ini. Dia adalah seorang tuan tanah. Belum lagi usaha ternak sapinya yang besar. Tapi sayang walaupun kaya raya Ki Larang tidak memiliki anak walaupun sudah menikah sebanyak lima kali.


Ke empat istri yang lainnya dia ceraikan begitu saja. Hingga akhirnya dia menikah dengan Nyi Anjarwati secara paksa karena orang tuanya berhutang kepada Ki Larang dan tidak sanggup membayarnya.


Nyi Anjarwati yang saat itu masih berusia enam belas tahun dan memang memiliki paras yang ayu membuat Ki Larang jatuh hati.


Lelaki yang terkenal hidung belang itu pun, secara paksa meminta kepada orang tua Nyi Anjarwati agar anaknya mau menjadi istrinya dan segala hutang mereka akan lunas.


Kedua orang tua Nyi Anjarwati tak mampu berbuat apa-apa, mereka hanya orang miskin yang hidup penuh dengan tekanan. Dengan berat hati akhirnya kedua orang tua itu meminta kepada putri semata wayangnya agar mau menikah dengan Ki Larang.


Hati kecil Nyi Anjarwati berontak, dia menangis sejadi-jadinya mendengar permintaan orang tuanya. Apalagi gadis bekulit putih itu sudah memiliki tambahan hati. Pupus sudah harapannya untuk menikah dengan pujaan hatinya.


Nyi Anjarwati akhirnya pasrah dengan permintaan kedua orang tuanya itu. Dia tidak mau hal yang buruk akan terjadi apabila dia menolak lamaran Ki Larang.


Akhirnya pernikahan antara Nyi Anjarwati dan Ki Larang dilangsungake secara meriah. Tapi sayang kemeriahan pesta pernikahan itu tidak membuat wajah pengantin perempuan berbahagia.


Seminggu setelah pernikahan itu, kedua orang tua Nyi Anjarwati ditemukan tewas dikebun milik mereka. Terdengar kabar mereka tewas di gigit ular berbisa karena sekujur tubuh mereka membiru.


Lengkap sudah penderitaan Nyi Anjarwati, sudahlah hidupnya tidak bahagia menikah dengan orang yang tidak dicintainya kini dia tak memiliki orang tua.


Kini pernikahan mereka sudah memasuki usia lima tahun. Selama lima tahun itu juga hanya penderitaan yang diterima oleg Nyi Anjarwati.


Menjadi istri seorang Ki Larang yang kaya raya tidak membuat dirinya menjadi ratu. Dia hanya dijadikan budak nafsu oleh suaminya.

__ADS_1


Sebesar apapun penyerahan dirinya kepada Ki Larang ternyata tidak pernah membuat lelaki hidung belang itu puas. Dia kerap kali membawa wanita lain secara terang-terangan kedalam kamarnya untuk memuaskan hasrat birahinya. Apabila Nyi Anjarwati protes pukulan demi pukulan akan mendarat ditubuhnya. Hingga pada akhirnya Nyi Anjarwati harus menerima kenyataan pahit jalan hidupnya.


Bahkan kini apabila Ki Larang membawa wanita lain, Nyi Anjarwati lah yang akan mempersiapkan kamar untuk mereka bedua untuk memadu kasih.


Kini hatinya sudah kebal, sudah tak ada rasa sakit hati lagi melihat tingkah laku suaminya itu. Telinga sudah bosan mendengar rintihan-rintihan nikmat ketika suaminya bergumul dengan wanita lain di kamar tempat dia dan suaminya biasa tidur bersama.


Nyi Anjarwati hanya berharap bisa segera menyusul kedua orang tuanya ke alam baka agar dia bisa terbebas dari penderitaan dunia ini.


Nyi Sekar Asih dan Karto sampai di rumah Ki Larang. Karto mempersilahkan Nyi Sekar Asing masuk dan duduk di ruang tamu. Sementara Karto masuk kedalam untuk menjumpai Ki Larang.


Tidak berapa lama Karto datang kembali menemui Nyi Sekar Asih.


“Nyi, langsung saja masuk ke kamar, Ki Larang menunggu di sana.” Karto menunjukan Arah kamar yang harus dituju kepada Nyi Sekar Asih.


“Ki Larang, Nyi Sekar Asih sudah ada!” seru Karto sambil mengetuk pintu kamar Ki Larang.


Tidak lama kemudian pintu kamar terbuka dan munculah lelaki bertubuh gempal itu dari dalam kamar.


“Saya, persisi dulu, Ki Larang.” Ucap Karto


Ki Larang hanya mengibaskan tangannya mengisyaratkan agar Karto segara pergi. Karto pun meninggalkan mereka berdua.


Nyi Sekar Asih akhirnya masuk kedalam kamar, setelah kedua kalinya Ki Larang mempersilahkan dia masuk.


“Silahkan duduk, Nyi! Ucap Ki Larang.


Nyi sekar Asih duduk di sebuah kursi kayu di sudut ruangan di susul Ki Larang yang duduk disebelahnya.


“Ada perlu apa, Ki Larang memanggil saya?” Tuanya Nyi Sekar Asih basa-basi. Walaupun dalam hati kecil nya dia tau apa yang diinginkan lelaki tua itu.

__ADS_1


“Ah...aku tidak bisa tidur, Nyi. Melihat Nyai tadi menari membuat aku kepikiran terus. Nyai begitu cantik.” Goda Ki Larang nakal. Tangannya mencubit dagu Nyi Sekar Asih.


“Ki Larang bisa saja. Memang Ki Larang kepikiran apa?” pancing Nyi Sekar Asih sambil tersenyum manja.


“Yah, kepikiran semuanya. Nyi Sekar Asih membuat saya...” Tangan Ki Larang menarik jemari Nyi Sekar Asih dan langsung menciumnya beberapa kali.


Nyi Sekar Asih sedikit kaget melihat perlakuan Ki Larang dan langsung menari tangannya pertahan.


“Ah...Ki Larang,” ucap Nyi Sekar Asih malu-malu.


“Nyai benar-benar cantik.” Tangan Ki Larang mulai berani menyentuh pipi halus Nyi Sekar Asih.


“Mari, Nyi!” Ki Larang berdiri dari tempat duduk nya dan menarik tangan Nyi sekar Asih menuju ranjang tidurnya.


Sesampainya mereka duduk berhadapan di tepian ranjang. Nafsu Ki Larang sudah tidak dapat dibendung lagi terlihat dari kilatan matanya dan getaran bibirnya yang ingin segara menikmati setiap inci tubuh penari ronggeng itu.


Tangan Ki Larang mulai nakal, mengelus- elus bibir tipis Nyai Ronggeng. wanita pemilik tubuh sintal itu langsung tertunduk malu.


Dalam hati yang paling dalam, sebenarnya Nyi Sekar Asih ingin sekali menepis tangan lelaki tua yang kini mulai mengelus lehernya yang jenjang. Bukanlah hal yang menyenangkan bermesraan dengan lelaki yang sudah memiliki keriput dimana-mana itu. Andaikan dia bukan lelaki yang kaya raya sudah dimaki-makinya.


Nafas Ki Larang terlihat turun naik tidak beraturan. hembusan nafasnya yang terasa hangat menerpa wajah Nyi Sekar Asih.


Mata Ki Larang kini fokus pada dua gundukan besar yang bagian atasnya menyembul keluar. Nyi Sekar Asih memang hanya menggunakan Kemben sehingga dadanya yang mulus terbuka dan terlihat jelas, begitupun dengan sembulan yang tampak belahannya.


Tangan Ki Larang mulai liar, dada mulus penari itu mulai jari sasaran. Ki Larang sudah tidak bisa mengontrol hasratnya untuk menikmati benda kenyal itu.


Ki Larang langsung menenggelamkan wajahnya di dada Nyi Sekar Asih dan secara tiba-tiba tangannya dengan kasar menarik kemben yang digunakan Nyi Sekar Asih hingga Kemben itu melorot kebawah.


Kini wajah Ki Larang sudah berada di antara dua gundukan kenyal tanpa ada sehelai benangpun yang menghalanginya.

__ADS_1


sambung...


__ADS_2