
Ini adalah hari terakhir Nyai sekar Asih dan Mbah Warsih melakukan ritual. Keduanya selama tiga hari tiga malam bersemedi di dalam gua yang letaknya kurang lebih sekitar dua kilo dari gubuk merek. Gua dimana para siluman ular bersemayan. Memang bukan hanya Nyai Sangkaweni saja yang tinggal di situ tapi para pengikutnya ikut tinggal di situ. Nyai Sangkaweni adalah Dahyang penunggu hutan Jati Desa Herang. Dia adalah putri dari Ratu siluman ular. Dia pergi meninggalkan kerajaan sang ratu ingin membuat wilayah kekuasaannya sendiri.
Ritual kali ini bukan ritual biasa yang sering kali mereka lakukan ketika Nyai Sekar Asih hendak tampil menari, tetapi untuk menambah kekuatan padanya. Sesajen berupa ayam cemani, bunga kantil, bunga tujuh rupa dan kemenyan menjadi pelengkap ritual, dengan harapan sang penguasa kegelapan menambahkan kegiatan.
Mbah Warsih komat-kamit membaca mantra. Dibakar kemenyan hingga asap dan baunya menyebar keseluruh penjuru. Lalu dia mengiris telapak tangannya dengan belati hingga darah menetes di atas kemenyan yang mengepul. Tiga ekor ayam cemani yang masih hidup dia sembelih dan darah yang keluar dari leher ayam itu dia tampung hingga memenuhi sebuah wadah yang terbuat dari tempurung kelapa.
“Minumlah darah ayam ini, lalu sisanya kau lumuri keseluruh tubuhmu!” perintah Mbah Warsih pada Sekar Asih.
Wanita berparas cantik itu segera melakukan perintah Mbah Warsih. Setiap kali meminum darah tubuhnya terasa memiliki energi lebih. Setelah membalurkan tubuhnya dengan darah, Nyai Sekar Asih diperintahkan untuk masuk kedalam sebuah kolam yang berada dalam gua, seketika air dalam kolam mengeluarkan gelembung-gelembung seperti air mendidih. Tak berapa lama di belakang Nyai Sekar Asih muncul seekor ular hitam yang sangat besar yang perlahan melilit tubuhnya. tak berapa lama ular besar itu berubah menjadi Wanita berparas cantik lengakap dengan mahkota dikepalanya, wujudnya setengah manusia setengah ular. Musik gamelan pun mulai menggeman di dalam gua bersamaan dengan munculnya beberapa jenis ular yang mengeliat di dalam air kolam. Kedua wanita cantik berbeda alam itu menari dengan indahnya mengikuti iringan musik.
~~
“Waspadalah dengan Nyai Wulandari. Menurut penglihatan mata batinku, dia wanita licik yang penuh yang penuh tipu muslihat. Dia telah bersekutu dengan siluman buaya putih bernama Gama. Dia penguasa danau Cigetih, danau besar yang menghubungkan lima desa, dari situlah dia mendapatkan ilmu pancar rupa, ilmu yang membuat dia dapat memikat lawan jenis. Bukan hanya itu Nyai Wulandri dilindungi oleh dukun Sakti berilmu tinggi bernama Ki Gledek. Wanita itu kini memiliki satu anak perempuan dan 2 orang cucu perempuan. “ ucap Nyai Sangkaweni.
Dahulu, Nyai Wulandari selain anak saudagar kaya dia memiliki daya pikat yang luar biasa. Tapi sayang di balik itu semua tidak ada yang tau bahwa dia adalah pemuja setan. Untuk mendapatkan Arya Danu pun dia menggunakan cara-cara yang licik. Dia mengirim guna-guna kepadanya. Hingga saat ini Arya Danu masih dalam pengaruh jahatnya.
“Jika kau bisa meminum darah dan memakan jantungnya maka segala ilmu yang ada pada Nyai Wulandari akan berpindah padamu. Selain itu juga siluman buaya putih akan tunduk dibawah kekuasaanmu. Tenang saja selama kau menjalankan misi mu dalam upaya memusnahkan Nyai Wulandari Aku akan terus mematau.” Lanjut Nyai Sangkaweni.
Setelah mendapatkan penjelasan panjang lebar dari siluman ular. Dua manusia penganut ilmu hitam itu keluar dari gua. Nyai Sekar Asih mendapatkan sebuah senjata yang terbuat dari tanduk kerbau. Senjata itulah yang nantinya akan dipakai untuk melumpuhkan Nyai Wulandari dengan cara menusukan tanduk kerbau itu ke matanya. Mereka kembali ke gubuk untuk mempersiapkan segala sesuatunya yang akan di bawa oleh Nyai Sekar Asih.
Luka Mbah Warsih yang berpuluh-puluh tahun tersimpan, menjadi dendam yang semakin mengakar di dalam dada. Trauma masa lalu itu begitu sulit dilupakan. Amarah yang semakin membara tak memberi celah untuk memaafkan. Apapun caranya dendam itu harus terbalaskan. Kini Nyai Sekar Asih memiliki dua misi yaitu mencari pembunuh keluarganya dan membantu membalaskan dendam Mbah Warsih.
__ADS_1
~~
Dua hari sebelum acara di mulai Nyai Sekar Asih sudah mendapat jemputan. Karena perjalan yang akan di tempuh ke desa Ciherang memakan waktu semalaman. Dengan menggunakan sebuah pedati mereka menyusuri jalalanan desa dan hutan.
Brakk...!
Tiba-tiba pedati yang ditumpangi oleh Nyai Sekar Asih, oleng ke sebelah kiri. Sang kusir dengan sigap menarik tali kendali kuda agar kuda berhenti melangkah.
“Ada apa kang?” Nyai Sekar Asih melongokan kepalanya dari dalam pedati.
Sang kusir melompat dari pedati dan memeriksanya. Dilihatnya salah satu roda terjerebab ke dalam lubang . disaat sang kusir sedang berusaha mengeluarkan roda, dari arah belakang terlihat sebuah pedati berjalan mendekat ke arahnya. Sang kusir melambaikan tangannya meminta agar pedati yang kian mendekat itu berhenti. Kedua kusir itu terlihat bercakap-cakap sebentar.
Kusir yang bernama Mang Sukri itu turun dari tempat kemudinya, menghampiri pemilik suara tadi.
“Maaf, Tuan muda. Pedati di depan sana terjerabab dalam lubang.”
“Bu, saya turun sembentar. Siapa tahu mereka butuh bantuan.” Pemuda bertubuh tinggi itu keluar dari pedati setelah mendapatkan persetujuan dari wanita yang ikut bersamannya di dalam pedati.
Ketiga pria itu berjalan menuju pedati yang terjerebab dalam lubang. Mereka bertiga berusaha agar roda keluar dari lubang.
Trakk...
__ADS_1
“ahh...! Terdengar teriakan Nyai Sekar Asih ketika pedati yang dia tumpangi semakin oleh kesebelah kiri. Rupanya baut roda ada yang patah.
Pemuda dan sang kusir langsung menoleh ke arah pedati ketika mendengar ada suara teriakan wanita dari dalam.
Sang kusir yang membawa Nyai Sekar Asih langsung berlari hendak membantu wanita itu turun dari pedati. munculah wanita bertubuh sintal yang membuat pemuda dan supirnya terpesona untuk sesaat.
"Kalau boleh tau tujuan kisanak hendak kemana? tanya Mang Sukri
" Kami hendak ke desa Cibening, saya di perintah oleh tuan Demang untuk menjemput Nyai Sekar Asih."
"Wah kebetulan sekali, tampaknya tujuan kita sama. melihat keadaan pedati kalian yang seperti itu lebih baik ikut kami. Apalagi hari sudah semakin gelap, jangan sampe terjadi hal-hal yang tidak diinginkan." Pemuda itu menawarkan bantuannya.
"Bagaimana, Nyai? sang supir meminta persetujuan pada Sekar Asih.
Nyai Sekar Asih menggangguk setuju. setelah memindahkan barang bawaan, mereka pun melanjutkan perjalanan.
"Terimakasih atas bantuannya. perkenalkan nama saya Sekar Asih."
"Saya, Nyai Darsih dan ini anak saya Anggabaya."
Pemuda tampan yang ternyata Anggabaya itu hanya menggannguk lalu memalingkan wajahnya ke arah luar. Entah mengapa hati Anggabaya berdetak lebih kencang untuk pertama kalinya, ketika melihat seorang wanita.
__ADS_1