Tumbal Nyai Ronggeng

Tumbal Nyai Ronggeng
Yang Tersakiti


__ADS_3

Rasa cinta yang tak terbalas memang menyakitkan, mampu menimbulkan luka yang membekas menjadi sebuah kebencian. Harusnya kita sadar cinta itu tak bisa dipaksakan.



“Larasati!”



“Eh, Eyang Puteri,” ucap Larasati sambil mengusap air matanya yang hampir saja lolos dari sudut mata.



Wanita paruh baya yang tak lain adalah nenek Larasati dengan lembut mengusap-usap punggung sang cucu.



“Semua orang di luar sana sedang bahagia, kenapa kamu di sini terlihat sedih.”



“Mmm...anu, Eyang, Laras sudah ngantuk. Laras tidak lagi sedih, Eyang.”



“Jangan pernah mau kalah dan mengalah, berusahalah jika kamu ingin memilikinya.”



“Eh, maksud, Eyang apa?” Larasati berusaha masih berusaha menyembunyikannya.



“Pemuda itu sedang bersimpatik pada seorang gadis, karena memang gadis itu memiliki aura pemikat yang luar biasa siapapun bisa luluh dihadapannya. Tapi kamu jangan khawatir Eyang tau apa yang mesti dilakukan.” Setelah selesai bicara wanita yang masih terlihat segar di usinya itu pergi meninggalkan Larasati.



Gadis berkebaya merah itu masih mencerna ucapan Eyangnya tadi. Apakah mungkin sang Eyang mengetahui perasaannya terhadap Anggabaya. Lalu siapa gadis yang memiliki aura pemikat yang luar biasa itu?. Begitu banyak pertanyaan di kepalanya.



~~


Dalam kamarnya, pemuda berperawakan tinggi itu sama sekali tak bisa memejamkan matanya, dari tadi tubuhya hanya berguling ke kiri dan ke kanan. Gelisah.


Dalam pikiran Anggabaya hanya ada Sekar Asih. Penari ronggeng itu benar-benar membuat hatinya tak karuan. Akhirnya dia bangkit dari ranjangnya, keluar


Dalam pikiran Anggabaya hanya ada Sekar Asih. Penari ronggeng itu benar-benar membuat hatinya tak karuan. Akhirnya dia bangkit dari ranjangnya, keluar menuju tandas, mensucikan dirinya dengan berwudhu. Dia menggelar sajadahnya dan melaksanakan shalat tobat beberapa rakaat. Dia merasa telah melakukan dosa karena memikirkan hal yang seharusnya tidak dia pikirkan. Setelahnya dia melakukam dzikir yang panjang agar senantiasa mendapatkan ketenangan batin. Seperti apa yang sering di katakan oleh gurunya salah satu cara mengingat Allah adalah dengan banyak berzikir, dan dengan banyak mengingat Allah maka hatimu akan tenang.



Entah karena memang sudah mengantuk, Anggabaya tertidur di atas alas shalatnya dengan tangan yang masih menggengam tasbih. Dalam tidurnya Anggabaya bermimpi dia melihat Nyai Sekar Asih berjalan masuk kedalam hutan. Dari belakang dia mengikutinya sambil berteriak memanggil-manggil nama Sekar Asih. Tapi wanita itu terus saja berjalan semakin jauh ke dalam hutan. Sampailah Penari Ronggeng itu di pintu sebuah gua dan menghentikan langkahnya. Sekar Asih sesaat membalikan tubuhnya melihat ke arah Anggabaya yang berjalan ke arahnya. Dia tersenyum dan melambaikan tangan kepada pemuda itu. Tiba-tiba sesuatu yang tidak jelas bentuknya menarik Sekar Asih dengan cepat ke dalam gua. Anggabaya berteriak memanggil namanya.



Di atas sajadah tubuh Anggabaya menggigil, keringat dingin membasahi tubuhnya. Ketukan-ketukan di pintu kamarnya sama sekali tak membuatnya bangun dari tidur, padahal matahari sudah menampakan dirinya. Nyai Darsih yang merasa khawatir karena tidak ada jawaban dari dalam kamar akhirnya membuka pintu kamar yang memang tak terkunci. Bukan main kaget dirinya ketika tubuh Anggabaya menggigil hebat, terlihat peluh membasahi keningnya. Nyai Darsih gegas meraba kening anak semata wayangnya itu. Suhu tububnya panas.

__ADS_1


Nyai Darsih keluar memberitahukan keadaan Anggabaya kepada tuan rumah. Demang Atmojo beserta istri mengecek keadaan Anggabaya. Dua orang abdi dalem diperintahkan untuk memindahkan tubuh pemuda itu ke atas ranjang.



“Tenanglah, Nyai, sebentar lagi tabib akan datang,” ucap Demang Atmojo setelah beberapa saat lalu menyuruh sang abdi dalem segera memanggil seorang tabib.



Sementara menunggu Nyai Darsih mengompres dahi Anggabaya untuk mengurangi efek deman di tubuhnya. Wajah pemuda itu telihat pucat.



Tak berapa lama seorang tabib datang dan segera memeriksa kondisi Anggabaya. Setelah memeriksanya sang tabib menyatakan Anggabaya dalam keadaan baik-baik saja tak ada yang perlu di khawatirkan dia hanya perlu banyak istirahan dan meminum ramuan yang dia resepkan.



“Biar, Laras yang menjaga Anggabaya, Bu,” ucap Larasati, menawarkan bantuan pada Nyai Darsih yang sedang mengganti air kompresan.



“Tidak usah, Cah Ayu, nanti malah merepotkan.”



“Tidak apa-apa, iya kan Romo ” Larasati meminta persetujuan orang tuanya.



“Yah sudah, biar Laras yang menjaga Anggabaya disini. Nanti kalau ada apa-apa tinggal sampaikan saja sama, Romo. Mari Nyai sebaiknya kita sarapan, istriku Nyimas Ningrum telah menyiapkan masakan special buat kita. Sarapan buat Anggabaya biar nanti langsung dibawa kedalam kamar.”




“Nyai Sekar...” Dalam tidurnya Anggabaya menyebut nama seorang wanita.



Mendengar hal itu tentu saja Larasati begitu kaget bercampur kecewa. Lebih dari lima kali pemuda berkulit kuning langsat itu terus memanggil nama Nyai Sekar Asih. Rasanya ingin sekali dia menampar pipi pemuda yang sedang sakit itu agar sadar dan tidak menyebut nama itu. Tapi niatnya itu tak mungkin dia lakukan. Alih alih menampar pipi Anggabaya, Larasati malah mengelus lembut pipi pemuda itu. Larasati seketika teringat akan ucapan sang Eyang bahwa Anggabaya sedang tertarik pada seoarang wanita. Bukan main kagetnya dia setelah sadar bahwa nama yang disebut Anggabaya itu adalah nama penari ronggeng yang di sewa Romonya.



Ini tidak mungkin! Larasati masih berusaha untuk tidak membenarkan dugaannya. Baginya tidak mungkin seorang seperti Anggabaya jatuh hati pada penari ronggeng yang bukan rahasia umum memiliki sisi gelap. Bisa saja itu nama dari wanita lain, tapi siapa?.



Perlahan-lahan mata Anggabaya terbuka,karena dirasanya ada sesuatu yang dingin merembes melewati sela-sela bulu matanya. Ternyata air yang berasal dari kompresan. Larasati yang melihat hal itu dengan cepat mengusap lembut air yang jatuh ke kelopak mata Anggabaya dengan kain kering.



Meihat ada Larasati dihadapannya, Anggabaya berusaha untuk bangun. Tapi tangan Larasati menahan pundaknya agar Anggabaya tetap dalam posisinya.



“Kangmas Anggabaya harus banyak istirahat,” ucap Larasati lembut. Walaupun api cemburu berkobar di dalam dadanya tapi dia harus berusaha menahannya. Dia harus tetap terlihat menjadi seorang gadis yang manis di depan Anggabaya.

__ADS_1



“Kangmas, makan yah, biar Laras yang suapi.” Gadis berbulu mata lentik itu mengambil piring yang berisi makanan di atas meja kecil di pinggir tempat tidur.



“Tidak usah, terimakasih. Saya bisa makan sendiri.” Anggabaya kembali mengangkat setengah tubuhnya menjadi posisi duduk. Dia merasa kepalanya sedikit pening.



“Selama, Kangmas sakit, Laras yang mendapat perintah untuk menjaga dan mengurus, Kangmas.” Larasati mengulum senyum dibibirnya.



“Boleh aku minta air minum.”



Dengan cepat Larasati meraih gelas dan mengisinya dengan air dari dalam kendi, lalu menyerahkannya pada Anggabaya. Air dalam gelas itu langsung tandas diminumnya. Kerongkongannya terasa sangat kering. Gelas yang telah kosong itu di serahkan kembali kepada Larasati.



“Kangmas, makan yah. Habis makan lalu minum ramuan obat yang tadi dibuat oleh tabib.” Larasati menyodorkan satu sendok nasi beserta lauknya ke arah mulut Anggabaya.



“Biar aku makan sendiri saja.” Anggabaya mengambil piring yang di pegang oleh Larasati.



Gadis bermata kecil itu memperhatikan Anggabaya yang memasukan makanan sesuap demi sesuap kedalam mulutnya. Hatinya selalu merasa senang berdekatan dengan pemuda tampan itu.



“Kenapa tidak dihabiskan?” ucap Larasati ketika melihat Anggabaya menaruh piring yang masih berisi makanan.



“Perutku sudah terasa penuh, rasanya tak sanggup menghabiskan semuanya.”



“Sekarang, Kangmas minum obat yah!”



“Biar saja nanti aku minum sendiri. Perutku rasanya mual. Aku takut ketika minum ramuan itu malah membuatku muntah. Maaf Larasati, aku ingin istirahat, bolehkah kau meninggalkan aku sendiri.” Sebenarnya Anggabaya audah merasa tidak nyaman dari tadi berduaan didalam kamar dengan gadis itu, walaupun pintu dalam kondisi kamarnya terbuka.



Tentu saja ucapan Anggabaya membuat amarah yang tadi semakin mereda kini muncul kembali. Hatinya kembali panas. Dia masih ingin berlama-lama dengan Anggabaya. Tetapi sikap pemuda itu benar-benar membuatnya kecewa. Dia menarik nafas panjang, menghadapi Anggabaya harus sabar jangan terpancing emosi. Bisa-bisa pemuda itu semakin menjauhi dirinya.



Akhirnya Larasati meninggalkan Anggabaya sendiri dalam kamarnya. Tanpa ada yang tau ternyata Nyai Sekar Asih yang berada di sebelah kamar Anggabaya menguping percakapan mereka dari balik sekat kayu sebagai pembatas kamar. Awalnya dia hanya penasaran saja ketika ada keributan di sebelah kamarnya, dengan sengaja dia pun mencuri dengar untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi di kamar Anggabaya. Hingga Anggabaya yang menyebut namanya berulang-ulang begitu jelas terdengar. Nyai sekar Asih bersender pada dinding kayu. Memegangi dadanya yang entah mengapa terasa berdebar-debar. Mengapa pemuda itu menyebut namanya berulang-ulang.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2