
Terkadang kita tak pernah tau ke hati mana cinta ini akan berlabuh. Walau hati bisa memilih tapi takdir jualah yang menentukan dengan siapa cinta ini akan dipautkan.
~~
Di ruang keluarga tampak berkumpul Nyai Darsih, Demang Atmojo dan Nyai Ningrum. Ketiganya terlihat percakapan yang serius sambil menikmati aneka kudapan ringan dan secangkir teh hangat.
“Sebaiknya kepulangan sampean ditunda, sampai Anggabaya sehat betul. Betul kan Kangmas,” ucap Nyai Ningrum.
“Betul itu, saya setuju.” Ucap Demang Atmojo
“Mumpung kita kumpul ada yang ingin saya utarakan.” Nyai Ningrum meletakan cangkir teh nya ke atas meja, sedang yang lain mulai menyimak apa yang akan di sampaikan ibu Larasati itu.
“Anak-anak kita Semua sudah besar, bagaimana kalau kita jodohkan mereka. Larasati pun terlihatnya suka pada Anggabaya loh, Jeng. Ikatan kekeluargann kita yang terjalin sudah lama akan semakin erat juga. Bagaimana menurut Kangmas?”
“saya setuju sekali dengan pikiran, Nimas. Bagaimana menurut Nyai Darsih?
“Kalau saya dengan senang hati sangat setuju dengan niat baik ini. Tapi sebaiknya kita kembalikan pada anak-anak kita lagi. Saya berharap mereka mau dijodohkan.” Ucap Nyai Darsih.
Dibalik tirai, Larasati rupanya mendengarkan percakapan mereka. Bukan kepalang bahagia sekali hatinya. Tentu saja dia akan setuju apabila di jodohkan dengan Anggabaya. Kalau bisa secepatnya merek dinikahkan. Senyum mengembang dari bibirnya.
~~
Di kamar Nyai Sekar Asih sudah bersiap-siap untuk kembali ke desanya. Tugasnya telah selesai untuk menghibur. Sambil menunggu utusan Ki Demang Atmojo menjemputnya, dia berjalan-jalan sebentar di taman. Sambil sesekali menghirup aroma bunga yang bermekaran.
“ehhmm...” seseorang berdehem di belakang Nyai Sekar Asih hingga dia reflek membalikan badannya.
“Nyonya besar,” ucap Nyai Sekar Asih sambil menundukan sedikit badannya ketika tau siapa yang ada dihadapannya.
“Pelet apa yang kau pakai hingga pemuda seperti Anggabaya pun menyukaimu!”
“Maaf, Nyonya besar, saya tidak paham maksud, Nyonya.”
“hmm, wanita seperti mu pasti di tanam banyak susuk untuk memikat pria. Jangan bermimpi mendapatkan Anggabaya. Gadis seperti tidak pantas bersanding dengannya. Satu hal lagi jangan pernah bersaing dengan cucuku.” Wanita itu lalu pergi begitu saja meninggalkan Nyia Sekar Asih.
__ADS_1
Sakit hatinya di rendahkan seperti itu. Wanita parus baya itu telah telah menumbubkan luka di hatinya. Walaupun apa yang di katakannya benar, tapi dia tidak pernah berniat menjerat Anggabaya dengan ilmu pengasihnya.
“Nyai...” Tiba-tiba Anggabaya sudah berada di belakangnya. Ada apa dengan orang-orang ini senang sekali membuat terkejut di saat dia sedang menikmati keindahan taman.
“Kau bicara apa tadi dengan, Eyang Wulandari.”
Nyai Sekar Asih mengerutkan dahinya.
“Wulandari, jadi nama nyonya besar itu Wulandari?
“Hmm...” Anggabaya menganggukan kepalanya.
“Siapa nama suaminya?”
“Kenapa?”
“Hey, aku tanya siapa nama suaminya!” Nyai Sekar Asih sedikit membentak.
“Tenang Nyia, tak usah marah begitu ada hal penting apa kau menanyakan prihal itu?”
“Suaminya bernama Arya Danu.”
“Ternyata dunia begitu sempit,” lirih Sekar Asih pelan, tapi masih terdengar oleh Anggabaya.
“Apa maksudmu?”
Nyai Sekar Asih hanya tersenyum mendengar perkataan Anggabaya. Rupanya dia tak perlu susah-susah mencari wanita yang selama ini menjadi musuh bebuyutan Mbah Warsih. Dia sudah di depan mata. Tinggal mencari cara dan waktu yang tepat untuk memusnahkannya.
“Nyai...! panggil Anggabaya melihat wanita cantik itu melamun.
“Lalu dimana suaminya sekarang, rasanya sejak aku menginjakan kakinya di rumah ini aku tak pernah melihatnya. Maksudku melihat pria tua. Pasti umurnya tak jauh beda dengan Nyonya Besar.”
“Menurut kabar yang kudengar dari keluarga besar, Eyang Danu sudah meninggal setahun yang lalu.”
__ADS_1
Kasian sekali Mbah Warsih, dia masih menyangka kekasihnya itu masih hidup hingga sekarang. Tapi jalan memusnahkan Nyai Wulandari akan jauh lebih mudah karena sudah tidak ada tameng untuk melindungi dirinya.
“Bagaimana kabarmu, ku dengar kau sakit?” ucap Sekar Asih. Keduanya kini berjalan beriringan menyusuri taman.
“Alhamdulliah, sudah membaik. Aku pun bingung mengapa tiba-tiba saja bisa seperti itu, yang kuingat aku mengalami demam setelah...” Anggabaya menggantung ucapannya dia memutuskan untuk tidak menceritakan mimpi buruknya kepada Sekar Asih.
“Mungkin kau hanya lelah.” Ucap Sekar Asih.
“Tampaknya kau sudah bersiap-siap akan pulang hari ini, kalau kau berkenan boleh kah aku mengantarmu?” Anggabaya menahan lengan Sekar Asih agar wanita itu berhenti berjalan.
“Tidak perlu, Kangmas itu hanya akan merepotkanmu, apalagi tampaknya kau belum sehat betul. Wajahmu masih pucat. Kau butuh banyak istirahat.” Nyai Sekar Asih menatap wajah pemuda bermata indah itu. Dia memang benar-benar tampan.
“Masih bolehkah aku bertemu denganmu? Aku...” Anggabaya menghentikan kalimatnya ketika di lihatnya Larasati melangkah mendekati mereka.
“Kau belum pergi juga?” Mata Larasati tertuju pada Nyai sekar Asih, raut wajahnya terlihat begitu sebal.
“Saya sudah bersiap-siap, Nona. Tinggal menunggu orang yang akan mengantar saya pulang.”
“Baguslah. Lalu mengapa kau ada disini bersama calon suamiku?”
Nyai Sekar dan Anggabaya saling berpandagan. Mereka tak mengerti arah pembicaraan Larasati.
“Asal kau tau saja, aku dan Kangmas Anggabaya telah dijodohkan oleh orang tua kami berdua, dan mungkin saja dalam waktu dekat kami akan menikah.” Larasati tersenyum manja pada Anggabaya. Dia hendak memegang lengan pemuda itu, tapi dengan cepat ditepisnya. Larasati kembali memberengut.
“Apa maksudmu, sejak kapan kita di jodohkan Jangan mengada-ngada,” cecar Anggabaya.
“Kalau Kangmas tidak percaya tanya saja sama Romo dan Kanjeng Ibu, mereka Semua sedang berkumpul membicarakan tanggal pernikahan kita.”
Anggabaya membuang nafas kasar. Bagaimana mungkin masalah sebesar ini tidak dibicarakan dengan dirinya. Bagaimana pun juga dia harus bertanya langsung pada ibunya. Untuk menolak secara langsung rasanya tidak sopan, apalagi keluarga Larasati sudah sangat dekat dengan keluarganya. Jangan sampai silahturahmi yang sudah terjalin lama ini harus rusak karena salah faham.
Nyia Sekar Asih hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka. Dia tak mau ikut mampur urusan mereka, yang dia pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya bisa memusnahkan wanita berhati iblis yang bernama Wulandari.
Bagaimanapun juga misinya tak boleh gagal. Menuntaskan segala dendam Mbah Warsih yang tertunda puluhan tahun lamanya. Dia sudah banyak menahan luka dan derita akibat perbuatan Nyai Wulandari.
__ADS_1
Nyai Sekar merasa telah banyak berhutang budi pada Mbah Warsih. kalau bukan wanita itu yang menolongnya mungkin saja saat itu nyawanya sudah tidak ada. Dia Yang kala itu hanyut terbawa aliran sungai dan pingsan. Inilah saatnya dia membalas hutang budi pada Mbah Warsih, dengan mempersembahkan Nyawa Nyai Wulandari.