Tumbal Nyai Ronggeng

Tumbal Nyai Ronggeng
Cemburu


__ADS_3

Matahari sudah sangat tinggi. Entah berapa jam Nyai Sekar Asih tertidur. Badannya kini sudah terasa segar kembali, apalagi tadi sebelum tidur dia sempat mandi. Dia pun melangkah keluar kamar. Matanya langsung disuguhi oleh tanaman bunga yang beraneka ragam. Tanpa dia sadari dari ujung rumah utama seorang wanita paruh baya terlihat memperhatikannya.


Nyai Sekar Asih berjalan menyusuri lorong kecil di depan kamarnya. Tepat di depan kamar Anggabaya, muncul wajah pemuda berbibir tipis itu. Tanpa sengaja mereka berpandangan dan saling melempar senyuman.


“Nyai mau kemana?” Anggabaya memeberanikan diri untuk bertanya. Walau saat itu dia masih merasa malu.


“Hanya berjalan-jalan saja melihat taman.”


“Boleh saya temani?” ucap Anggabaya sambil berjalan mensejajarkan dirinya dengan Sekar Asih.


Senyum tipis mengembang kembali dari bibir mungil sang penari ronggeng. Mereka berdua berjalan beriringan. Menuju sebuah gazebo yang berada di tengah-tengah taman. Gemericik Air yang berasal dari air mancur kolam ikan menambah indah suasana.


“Nyai suka bunga?” ucap Anggabaya, rasanya kali ini dia jauh lebih berani dari sebelumnya.


“Tentu saja suka, aku rasa semua wanita menyukai bunga.”


“Aku ingin memberikan bunga-bunga itu untuk, Nyai, tapi sayangnya taman ini bukan milikku.” Anggabaya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


“hahaha...” Nyai Sekar Asih tergeletak mendengar pernyataan pemuda di depannya itu.


“Kenapa tak sekalian saja kau membuatkan taman bunga untukku.”


“Nyai mau aku buatkan taman bunga?”


Sekar Asih kembai tertawa sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. Pemuda yang aneh pikirnya.

__ADS_1


“Kalau Nyai mau akan saya buatkan.” Ucap Anggabaya menyakinkan.


“Tak perlu repot-repot, Kangmas. Untuk apa juga membuatkan taman bunga untukku?”


Anggabaya kembali menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Entah mengapa rasanya begitu menyenangkan duduk bersama Sekar Asih.


“Kangmas Anggabaya” teriak seorang gadis dari ujung ruang Utama.


Ternyata Larasati. Dia melangkah cepat mendekati gazebo tempat Anggabaya duduk bersama Sekar Asih.


“Romo, menyuruh saya memanggil, Kangmas dan ibu untuk makan siang,” tutur Larasati begitu lembut.


“Oh kalau begitu saya siap-siap dulu, sambil melihat ibu sudah bangun atau belum. Sebaiknya kau bersiap-siap juga, Nyai.”


“Oh tidak, maaf undangan makan ini hanya khusus Kangmas dan ibu Darsih saja. Untuk Nyai nanti ada tempat khusus dibelakang sana. Nanti saya suruh abdi dalem menunjukannya pada Nyai.” Tegas Larasati ketika melihat Anggabaya dan Sekar Asih hendak bangkit bersamaan.


~~


Di ruang makan telah kumpul semua keluarga Ki Demang, saat Anggabaya dan Nyai Darsih masuk keruanga itu. Di atas meja sudah tertata beraneka masakan yang begitu menggugah selera.


“Nyonya besar apa kabar?” ucap Nyai Darsih menyalami seorang wanita berusia paruh baya yang tak lain adalah ibu dari Demang Atmojo.


“Kau lihatlah sendiri, aku terlihat baik bukan,” jawab wanita paruh baya itu sambil menegakan sandaran punggungnya pada kursi.


Tanpa menunggu lagi mereka semua menyatap hidangan makan siang itu, di selingi pembicaraan ringan. Mata Larasati sesekali melirik pada Anggabaya, gelagatnya itu ditangkap oleh sang nenek. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi itu hanya menarik nafas panjang paham apa yang sedang dirasa oleh cucu wanitanya itu.

__ADS_1


~~


Pesta besar akhirnya digelar, yang akan berlangsung selama tiga hari tiga malam. Apalagi ketika menjelang malam semakin banyak warga berdatangan hanya untuk menyaksikan aksi sang penari ronggeng yang terkenal. Mereka berdecak kagum apalagi para pria bukan saja terpesona akan gerak gemulai tarian tapi juga kecantikan wajahnya.


Anggabaya pun ikut meyaksikan pertunjukan itu, sebagai pria normal dia juga mengaggumi kepiawaian sang penari ronggeng. Tapi entah mengapa dihatinya yang paling dalam dia tidak suka Nyai Sekar Asih menari di depan banyak puluhan pria, rasanya dia ingin menutup semua mata-mata ****** yang memandang keindahan tubuh, wajah dan tarian Nyai Sekar Asih. Hatinya benar-benar tak rela. Selama pertunjukan hatinya gelisah. Walaupun dia tak begitu fokus menyaksikan pertunjukan tarian itu. Dia lebih banyak menundukan pandangannya. Tiba-tiba saja ketika matanya tertuju pada Nyai Sekar Asih yang sedang menari, dia teringat akan mimpinya pada waktu lalu. Bentuk tubuhnya terlihat hampir mirip apalagi warna bajunya, sama. Dalam hati Anggabaya berharap semoga itu bukan firasat buruk dan mimpinya itu hanyalah bunga tidur.


“Kangmas, tampaknya tidak terlalu suka akan pertunjukan ini,” ucap Larasati yang menangkap sikap pemuda yang duduk disampingnya itu yang sedari tadi terlihat merasa tidak nyaman.


Anggabaya hanya tersenyum menanggapi ucapan Larasati. Entah mengapa dia juga tak merasa nyaman gadis ini dari kemarin selalu saja berusaha mendekatinya. Baginya gadis itu terlalu agresif.


“Kalau, Kangmas mau, mari saya temani berjalan-jalan di taman di sana jauh lebih tenang.” Larasati berdiri sambil menarik tangan Anggabaya.


Tadinya Anggabaya ingin menolak ajakan Larasati, baginya berbaring di tempat tidur lebih mengasikan dari pada berjalan-jalan dengan gadis manja ini. Tapi karena gadis itu memaksa dan sang ibu dengan isyaratnya menyuruh Anggabaya menuruti ajakan Larasati akhirnya pemuda berjambang tipis itu mau menemaninya jalan-jalan sepanjang taman.


Larasati terus saja bercerita,sedangkan Anggabaya masih saja merasa resah memikirkan Nyai Sekar Asih. Ingin sekali rasanya dia menghentikan acara itu. Hatinya benar-benar kesal. Melihat pemuda di sampingnya tidak merespon pembicaraanya wajah Larasati langsung memberengut. Padahal dia selalu berdandan cantik agar Anggabaya tertarik padanya. Ternyata pria ini terus saja bersikap dingin bakan acuh.


“Kelihatannya, Kangmas sedang memikirkan sesuatu.” Ucap Larasati dengan lembut, walau hatinya benar-benar jengkel dengan sikap Anggabaya padanya.


“Kangmas!” wajah Larasati semakin memberengut kesal.


“Eh..,bagaimana Laras?” ucap Anggabaya kaget mendengar nada suara Larasati yang tinggi. Terlihat rona wajah gadis itu memerah menahan marah.


Larasati melipat kedua tangannya di depan dada, dia dia seribu bahasa. Dia berharap dengan merajuk begini Anggabaya akan meminta maaf dan bersikap manis padanya.


“Kau sudah tidak mau bicara lagi padaku? Baiklah aku pun sudah mengantuk lebih baik aku masuk ke kamar.” Anggabaya berlalu begitu meninggalkan Larasati.

__ADS_1


“Kau...!” ucap Larasati tertahan. Tangannya mengepal ke udara dan membanting kedua kakinya ke tanah bergantian, sambil menatap punggung Anggabaya.Dia tidak pernah diperlakukan seperti ini apalagi oleh seorang pria.


Larasati berlari masuk kedalam rumah utama setelah melihat Anggabaya masuk dalam kamarnya. pria itu benar-benar membuat suasanan hatinya menjadi tidak baik-baik saja. Bagaimana pun juga Anggabaya harus jadi miliknya.


__ADS_2