Tumbal Nyai Ronggeng

Tumbal Nyai Ronggeng
Apakah Itu Cinta?


__ADS_3

Selama perjalanan tak ada percakapan yang penting, hanya saling kenalan dan menanyakan maksud tujuan. Itu pun hanya dua wanita yang saling bertukar cerita, sementara Anggabaya hanya diam mendengarkan. Ternyata Nyai Darsih mendapatkan undangan dari Ki Demang Atmojo. Sebenarnya Anggabaya enggan ikut kerena khawatir akan keadaan Ki Larang. Tapi sang ibu memaksa dengan alasan menghargai, bagaimana pun juga Ki Larang dan Demang Atmojo sudah kenal dekat. Kehadiran Anggabaya untuk mewakili ketidakhadiran Ki Larang.


Nyai Sekar Asih sesekali melirik pada Anggabaya, pria yang sedari tadi hanya menatap ke arah luar. Hingga tanpa sengaja ketika Anggabaya memalingkan wajahnya pandangan mereka bertemu. Senyum manis mengembang dari bibir Sekar Asih, membuat Anggabaya salah tingkah dan merasakan gelenyar-gelenyar aneh di dada. Dia bukanlah tidak pernah melihat wanita cantik, tapi ketika darahnya mendesir melihat wanita ini adalah yang pertama kali. Pandangan pertama Ketika Nyai Sekar Asih turun dari pedati sudah membuatnya terpesona. Apalagi gadis berwajah cantik ini duduk berhadapan dengannya. Anggabaya serasa mati kutu, lidahnya begitu kelu. Ada keinginan untuk sekedar bercakap tapi rasanya sungguh tak mampu.


Nyai Sekar Asih bukannya tak tahu apa yang sedang di rasa pemufa tampan yang sedang duduk di depannya itu. Gelagat pemuda itu telihat jelas. Lucu menurutnya. Jarang sekali dia melihat pria yang begitu pemalu. Apalagi dari caranya memandang dirinya begitu sopan, membuat Sekar Asih merasa dihargai. Sungguh dia sangat berbeda dengan pria kebanyakan yang sering di temuinya. Bohong saja kalau dirinya tak mengangumi wajah Anggabaya. Pemuda itu memiliki wajah yang sangat sempurna. Matanya yang tajam dibingkai indah dengan alisnya yang tebal. Rahang kokohnya Rahang kokohnya menambah pesona ketampanannya. Diam-diam Sekar Asih sering mencuri pandang pada Anggabaya.


Nyai Darsih terlihat tertidur di samping Anggabaya. Perjalanan yang panjang membuatnya kelelahan. Sedangkan muda-mudi itu sedikitpun tak bisa memejamkan matanya. Keduanya larut dalam pikirannya masing-masing.


“Nyai, tidak istirahat?” ucap Anggabaya


Nyai Sekar asih hanya menggelengkan kepalanya sambil melempar senyumnya.


“Beristirahatlah walau sebentar.”


“Kangmas, sendiri kenapa tidak tidur?”


“Bagaimana aku bisa tidur kalau didepanku duduk bidadari yang membuat mataku enggan terpejam.” ucap Anggabaya yang hanya mampu dia utarakan dalam hati saja.


Malam semakin larut, Nyai Sekar Asih akhirnya memejamkan matanya juga, tapi tidak dengan Anggabaya. Anggabaya terus berzikir agar pikirannya tak menghayal kemana-mana dan semoga selama perjalanan mereka semua diberikan keselamatan.


Waktu terus merangkak hingga mendekati shubuh, Anggabaya meminta kusir untuk menghentikan laju pedati.

__ADS_1


“Mau kemana, Nger?” ucap Nyai Darsi yang terbangun karena merasakan pedati yang tiba-tiba berhenti dan melihat Tangga baya yang melangkah keluar.


“Sudah Mau masuh Shubuh, Bu, Anggabaya mau siap-siap shalat. Ibu mau ikut shalat juga?”


Nyai Darsih terdiam, rasanya seumur hidupnya belum pernah dia melakukan shalat. Dari kecil dia tidak pernah diajarkan ibadah itu. Hingga dia menganggapnya itu bukan lah hal penting. Tapi kini ada sedikit rasa malu yang terselip di hati ketika Anggabaya mengajaknya kali ini.


“Nanti saja, Nger.”


Anggabaya hanya tersenyum menanggapi jawaban ibunya. Dalam hatinya dia hanya berdoa semoga hidayah singgah di hati orang tuanya. Dia berjalan mencari tempat yang sedikit lapang tak jauh dari pedati. Untung saja di situ ada sebuah kali kecil yang mengalir hingga pemuda berhidung bangir itu tak kesulitan untuk berwudhu. Tak ada yang lebih nikmat bagi hamba yang sholeh ketika sedang mendekatkan diri kepada sang maha pencipta. Sebagai hamba yang lemah sudah sepatutnya kita selalu memohon kepada yang maha besar yaitu Allah SWT.


Entah sejak kapan Nyai Sekar Asih terbangun dan matanya menatap kagum pada Anggabaya yang sedang khusu menjalankan Shalat. Dia ingat dulu sang nenek selalu mengajaknya shalat berjamaah bersama sang kakek. Kini hal itu tak pernah lagi di lakukan, sejak kematian mereka. Dirasanya Tuhan sangatlah tidak adil, jadi menurutnya tak ada guna beribadah kepada-Nya. Kini yang ada hanyalah dendam dan rasa benci yang membuncah. Semua harus terbayar lunas. Nyawa dibayar nyawa.


Perjalanan dilanjutkan kembali. Mentari sudah mulai terlihat dari ufuk timur. Mereka sudah memasuki gerbang Desa Cibening. Suasana desa yang begitu asri. Hamparan sawah yang menghijau menyejukan pandangan yang melihatnya. Beberapa warga sudah terlihat hendak melakukan aktifitasnya. Kebanyakan warga desa bermata pencaharian sebagai petani.


“Saya turut prihatin dengan keadaan, Ki Larang,” ujar Demang Atmojo. Mereka berdua dulu semasa muda adalah sahabat dekat.


“Terimakasih, atas kedatanagan kalian menerima undangan kami sekeluarga.” Demang Atmojo lalu mempersilahkan para tamu untuk mencicipi hidangan yang telah di sediakan.


“Romo!” dari ruang tengah muncul seorang gadis berwajah ayu. Langkahnya terhenti ketika dilihatnya ada tamu di ruang tamu.


“Apa, Cah ayu. Kemari!” Demang Atmojo memanggil gadis berusia 22 tahun itu untuk mendekat.

__ADS_1


“Maaf, Romo.” Ucap gadis itu, matanya melirik pada Anggabaya yang sedang meneguk secangkir teh hangat.


“Duduk sini,” ucap Nyai Ningrum.


Gadis bertubuh langsing itu duduk disebelah ibunnya. Entah mengapa matanya tak bisa lepas melihat Anggabaya.


“Ini anak gadisku, Larasati namanya. “ Demang Atmojo memperkenalkan putri satu-satunya itu.


“Owalah cantik tenan kamu, Cah ayu.” Puji Nyai Darsih.


Larasati hanya tersipu sambil sedikit menundukan kepalanya.


“Saya Nyai Darsih dan ini anak saya Anggabaya, Cah ayu.”


“Maaf kalau njenengan siapa?” Larasati mengarahkan telapak tangannya kepada Nyai Sekar Asih.


“Saya, Sekar Asih, yang akan menari sebentar malam.”


“ohh...” Larasati mengangguk-angguk. Matanya melirik lagi pada Anggabaya.


“Saya rasa kalian lelah setelah semalaman melakukan perjalanan. Sebaiknya kalian beristirahat. Mari saya antar ke kamar kalian.” Tuan rumah mengantar para tamu ke tempat peristirahatan mereka.

__ADS_1


Ternyata di balakang rumah itu ada pendopo-pendopo kecil yang memang sengaja di buat sebagai kamar tamu. Halaman belakang yang dihiasi oleh taman bunga dan kolam ikan terlihat begitu indah. Masing-masing telah mendapati kamarnya. Anggabaya menempati kamar tepat disebelah kamar Nyai Sekar Asih yang hanya di batasi oleh sekat yang terbuat dari papan kayu. Sebelum masuk kamar Anggabaya sempat melihat ke arah wanita bertubuh sintal itu. Hati Anggabaya benar-benar dibuatnya berdebar-debar.


__ADS_2