Tumbal Nyai Ronggeng

Tumbal Nyai Ronggeng
Sekar Asih Diculik


__ADS_3

Nyai Sekar Asih sudah bersiap kembali keluar dari hutan untuk kembali ke desa Cibening. Kali ini keberangkatannya ditemani oleh sang peliharaan, Saka. Nyai Sekar Asih sudah naik di punggung siluman ular itu, lalu dengan secepat kilat ular bersayap itu terbang ke udara.


Dengan kecepatan diluar nalar manusia tibalah mereka di kediaman Ki Demang Atmojo. Malam terasa mencekam. Binatang malam ikut merasakan kehadiran sang siluman. Atau Sekar Asih turun dari punggu Saka, sang siluman.


“Kau tunggulah disini, awasi keadaan sekitar!”


Dengan ilmu yang dimilikinya Saka tak kasat mata. Tubuhnya melingkar ditanah. Sedangkan Nyai Sekar Asih mulai membaca mantra sambil mengatup kedua lengannya di depan dada. Ilmu penghilang raga membuatnya kini tak dapat dilihat oleh manusia. Dengan langkah pasti dirinya kini mulai melangkah memasuki teras rumah Ki Demang. Dua orang penjaga yang sedang asik mengobrol tak menyadari kehadiran sang penari ronggeng yang lewat di depan mereka, karena memang tak terlihat. Dengan sekali tiupan di wajah, kedua penjaga itu ambruk kelantai dan langsung tertidur pulas.


Dengan mudah Nyia Sekar Asih menerobos masuk pintu yang terkunci hanya dengan sekali hentakan. Dia melangkah dengan santai menuju kamar Nyai Wulandari. Tak susah menemukan kamar itu karena sebelumnya Sekar Asih sudah tau letaknya.


Tepat di depan pintu kamar Nyai Wulandari, Langkahnya terhenti. Dia mendengar samar suara orang yang sedang berbincang. Ditajamkan pendengarannya dengan cara menempelkan telinga ke pintu. Suara dua wanita yang dia kenal betul kini terdengar sedikit jelas.


Di tengah malam, apa yang sedang mereka berdua bicarakan. Sungguh mencurigakan. Batin Sekar Asih. Sepertinya ada sesuatu hal penting yang mereka bicarakan, atau mereka sedang merencanakan sesuatu. Pasti bukan sesuatu hal yang baik, mengingat Nyai Wulandari adalah manusia licik.


Sungguh tepat dugaan Nyai Sekar Asih, ternyata kedua wanita beda usia itu sedang merencanakan mengirim pelet kepada Anggabaya. Larasati yang ingin mengambil jalan pintas akhirnya menyetujui persyatan sang Eyang. Sungguh dia tidak mau membuang-buang waktu mengejar Anggabaya, dia takut Anggabaya akan kembali jatuh kepelukan wanita lain. Anggabaya memiliki kharisma yang bisa memikat para wanita.


Nyai Sekar Asih, mengepal tanganya kuat. Dia merasa geram mengetahui rencana jahat kedua wanita berhati busuk itu. Jelas saja dia tidak akan pernah rela pemuda sebaik Anggabaya akan dikirimi guna-guna. Apalagi kini hatinya mulai sedikit terbuka untuk pemuda itu.


Malam ini dia akan menunda menyerang Nyai Wulandari. Dia harus menggagalkan rencana jahat mereka terhadap Anggabaya. Semoga saja Mbah Warsih memaklumi keputusannya.


Tiba-tiba saja Sekar Asih merasakan sebuah tepukan dibahunya dan seketika tubuhnya terasa melemah. Dia merasa tubuhnya ditarik masuk kedimensi lain. Masih dalam keadaan sadar dia melihat sebuah lubang hitang yang terus menyedotnya jauh kedalam. Dia berusaha melawan tapi tenaganya tak cukup kuat.

__ADS_1


Tubuh Sekar Asih terlempar begitu saja di sebuah tempat yang begitu asing. Tubuhnya terbaring di atas lantai batu yang terasa begitu dingin. Dia merasakan kepalanya begitu pening. Perlahan dia mengankat tubuhnya ke posisi duduk. Dia mengedarkan pandangan keseliling. Sebuah ruang berdinding bebatuan alam. Suara aliran air terdengar dari balik dinding.


“Selamat datang di tempatku, wanita cantik.” Seorang pria berwajah tampan datang dari sebuah ruang dan berjalan mendekati Sekar Asih. Dia duduk di sebuah kursi batu yang berada tak jauh dari Sekar Asih.


Dengan Sigap Nyai Sekar Asih langsung berdiri, walau tubuhnya terasa sedikit oleng.


“Tenang, tak usah memaksakan diri,” ucap pria berkulit putih itu sambil menatap tubuh Sekar Asih dari atas sampai bawah sambil berdecak kagum.


“Siapa kamu dan apa mau mu?” Mata Sekar Asih menatap tajam pemuda asing itu.


Pemuda berbadan tegap itu berdiri dari duduknya, berjalan ke sudut ruang.


“Jadilah pendampingku,” tutur lelaki itu lembut.


“Apa maksudmu melakukan semua ini?,” cecar Sekar Asih.


Pria itu hanya tersenyum dan kembali duduk di kursi batu.


“Tak usah terlalu ikut campur dengan urusan orang lain!” Mata pria itu menatap tajam pada Sekar Asih. Kemudian bangkit dari duduknya dan meninggalkan Sekar Asih, masuk kedalam sebuah lorong kecil yang entah ada apa di dalamnya.


Nyai Sekar Asih menarik nafas dalam. Matanya terpejam mencoba menggunakan mata batinnya untuk berkomunikasi dengan Nyai Sangkaweni. Sayangnya hanya kabut tebal yang menghalangi. Dia mencoba kembali tapi hasilnya tetap sama dia tidak mampu melihat apa-apa semua seperti terhalang dan dia tidak bisa menembus kabut tebal itu agar bisa berkomunikasi dengan Nyai Sangkaweni.

__ADS_1


~~


Sementara Saka mulai merasa gelisah dan khawatir. Waktu sudah akan menjelang pagi sedangkan dia belum mengetahui keadaan Nyai Sekar Asih di dalam sana. Akhirnya dengan inisiatif sendjri Saka merubah dirinya menjadi asap putih dan masuk kedalam rumah melalui ventilasi udara.


Saka terus beredar mencari keberadaan Nyai Sekar Asih, tapi sayang wanita itu tidak diketahui keberadaannya. Siluman ular mulai bingung dengan langkah apa yang harus dia ambil. Andaikan dia meninggalkan rumah ini maka Nyai Sekar Asih yang tidak di ketahui keberadaannya akan benar-benar sendiri, tapi pada akhirnya Saka memutuskan untuk melaporkan hilangnya Nyai Sekar Asih kepada Mbah Warsih.


Saka dengan secepat kilat dia melesat terbang di udara. Tak ada yang bisa dia lakukan saat ini selain kembali ke hutan untuk menceritakan apa yang terjadi dengan Nyai Sekar Asih.


~~


Dalam gubuk perasaan Mbah Warsih sungguh tidak enak, sedari tadi dia hanya bolak-balik didalam kamarnya. Dia sesekali melihat tempayan yang berisi air yang merupakan media dia agar bisa melihat tindak-tanduk Sekar Asih dari jarak jauh. Tapi kini air dalam tempayan itu hanya menggambarkan kabut putih yang menghalangi pandangannya.


sebenarnya apa yang menghalangi penglihatan mata batinnya itu hingga dia harus kehilangan jejak Sekar Asih. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia sangat takut terjadi hal yang buruk pada cucu angkatnya itu. Dia akan menjadi orang yang paling menyesal apabila Sekar Asih celaka. Bagaimanapun juga ini semua tanggung jawabnya.


Sekar Asih kesana mengemban tugas membalaskan dendam yang seharusnya dia sendiri yang melakukannya.


Dalam kegalauan, munculah Saka dihadapannya. Siluman ular yang menjadi kendaraan Sekar Asih itu tertunduk memberi hormat. Ada rasa takut dengan apa yang hendak disampaikannya. Pastilah dia akan dianggap mahluk yang tak berguna karena tidak bisa menjaga tuannya.


"Mana, Sekar Asih?" hal pertama yang ditanyakan Mbah Warsih ketika melihat Saka yang kini berubah wujud menjadi seorang pria berbadan tegap berlutut dihadapannya.


"Maaf, Mbah. Aku tidak dapat menemukannya." Saka masih tertunduk. Dia tak mampu mengangkat kepalanya.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Mbah Warsih menatap tajam ke arah Saka sambil menunggu penjelasan darinya.


__ADS_2