
Berita tentang Ki Larang yang kehilangan kewarasannya sudah sampai ketelinga Nyai Sekar Asih. Tentu saja hal itu sama sekali tidak membuatnya kaget. Dia yakin tindak tanduknya takan terendus.
“Sekembalinya kau dari Desa Curug itu, ada petunjuk yang kau dapatkan?”
“Kenapa aku selalu buntu untuk mendapatkan petunjuk, Mbah?” Sekar Asih yang sedang berdiri di depan jendela, pandangannya menatap lurus kedapan dimana ada hamparan pepohonan jati yang menutupi kediaman mereka.
Gubuk kayu sederhana itu memang sengaja di bangun di tengah hutan. Gubuk yang sudah di huni oleh Mbah Warsih sejak lama. Tempat dia mengasingkan dirinya dari dunia luar. Di gubuk itu juga Sekar Asih di rawat olehnya hingga sang penari ronggeng itu memiliki kemampuan ilmu hitam.
Walaupun keberadaan gubuk itu sudah diketahui oleh warga sekitar, tapi tidak ada yang menaruh curiga tentan kegiatan mereka. Penduduk hanya tau di situ tinggal seorang penari ronggeng yang cantik dengan neneknya. Para penduduk pun tidak berani masuk dalam kawasan itu. Jadi salah satu cara untuk dapat menghubungi Nyai Sekar Asih apabila ada panggilan untuk tampil meronggeng adalah dengan menyampaikan pesan kepada seoarang pria berperawakan bungkuk yang tinggal di pinggir desa. Kuat namanya, dia adalah orang kepercayaan Mbah Warsih. Karena perawakannya yang bungkuk dia lebih sering di panggil si bungkuk.
Si Bungkuk adalah anak yang di pelihara oleh Mbah Warsih sedari bayi. Wanita tua itu menemukan dia tergeletak di atas rumput di dalam hutan. Bayi merah yang masih lengkap dengan ari-arinya itu terlihat menyedihkan. Seluruh tubuhnya sudah dikerubuti semut merah.
Saat itu Mbah Warsih mengira bayi lelaki itu sudah mati, karena tidak sedikitpun terdengar tangisan yang keluar dari mulutnya. Tapi ketika di selidiki lebih dekat lagi ternyata dada bayi yang hanya di tutupi dengan kain usang itu terlihat turun naik.
“Malang sekali nasib mu, Lek,” ucap Mbah Warsih. Digendongnya bayi tak berdosa itu, sambil membersihkan semut-semut yang menempel di beberapa bagian tubuhnya.
Dibawanya bayi itu pulang ke gubuknya. Lalu di bersihkan seluruh tubuhnya dari sisa-sisa darah yang masih melekat.
“Kuberi kau nama, Kuat, dengan harapan kelak kau akan tumbuh menjadi pria yang kuat dalam menjalani semua rintangan hidup ini.”
Dengan penuh kasih sayang Mbah Warsih merawat Kuat. Sayangnya Kuat tumbuh dengan fisik yang tidak sempurna. Tubuh nya membungkuk dengan tinggi tubuh yang minim alias kerdil. Walaupun begitu harapan Mbah Warsih terkabul. Kuat memang bisa diandalkan dalam membantu pekerjaan. Gerakannya gesit dan kuat walaupun dengan keterbatasannya. Dia tidak banyak bicara, tidak pula pernah membantah. Semua yang di perintah oleh Mbah Warsih selalu dilakukannya Dengan baik. Wajar saja Mbah Warsih selalu mempercayainya. Apalagi Kuat sudah tahu semua ritual yang sering di lakukan oleh Mbah Warsih. Bahkan Kuat juga lah yang sering membantu Mbah Warsih mempersiapkan apa-apa saja yang dibutuhkan dalam melakukan ritual.
__ADS_1
Para penduduk desa mengenal Kuat, karena Kuat sering keluar hutan untuk untuk membeli beberapa kebutuhan dan menjual kayu bakar di desa. Para penduduk desa memanggilnya si bungkuk. Aura wajahnya yang terlihat garang dan pembawaannya yang dinging membuat tak satu penduduk desa yang menggangunya apalagi mencela keterbatasannya. Bahkan mereka cenderung takut dengan kepribadian si Bungkuk yang mereka anggap misterius dan aneh.
Walaupun sering bertemu warga desa, tak membuat Si Bungkuk akrab Dengan mereka. Dia memang seorang yang pendiam, bicara hanya seperlunya saja. Tak perhah bertegur sapa atau tersenyum apabila berjumpa seseorang, hingga warga desa pun bersikap acuh padanya. Walaupun begitu pria berkulit sawo matang itu tidak pernah membuat masalah atau berbuat jahat di dalam desa.
Sejak kehadiran Nyai Sekar Asih. Kuat diperintahkan Mbah Warsih untuk membuat hunian di pinggiran hutan dekat pemukiman. Dia menjadi penghubung antara orang luar apabila memerlukan Nyai Sekar Asih.
Awalnya penduduk desa tidak menerima Si Bungkuk hadir di tengah-tengah mereka, dengan alasan fisik si Bungkuk yang tidak normal akan membuat anak-anak ketakutan. Mereka juga sedikit menaruh curiga dengan niat Si Bungkuk yang tiba-tiba saja ingin membuat hunian dekat pemukiman warga. Walaupun jarang gubuk Si Bungkuk dan hunian warga lainnya sangatlah berjauhan.
Nyai Sekar Asih akhirnya turun tangan untuk menyelesaikan masalah ini. Dengan pesona kecantikannya yang mampu menghipnotis semua orang yang melihatnya akhirnya hati para warga desa luluh dan mengijinkan si Bungkuk tinggal di situ. Nyai Sekar Asih mengatakan pada warga Si Bungkuk adalah orang kepercayaannya dan dia yang menjamin keberadaan si Bungkuk bukanlah suatu masalah.
~~
"Bungkuk!" Seseorang berteriak sambil mengetuk pintu kayu gubuk dari luar.
Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun berdiri tegap di hadapan si Bungkuk.
"Ada apa?" tanya si Bungkuk
"Aku utusan Ki Demang Atmojo dari desa Cibening hendak menyampaikan pesan. Demang Kami akan mengadakan hajatan pernikahan anaknya dan hendak mengundang Nyai Sekar Asih untuk menari di sana." jawab pria bertubuh kekar itu.
"Kapan tepatnya hajatan itu akan di buat?"
__ADS_1
"Seminggu lagi."
"Baiklah akan saya sampaikan pesan Ki Demang pada Nyai Ronggeng."
"Lalu dimana saya bisa menjemput Nyai Ronggeng?"
"Di sini, di kediamanku ini."
Setelah percakapan itu selesai pria utusan Ki Demang Atmojo dengan menggunakan pedati yang di tarik oleh satu ekor kuda meninggalkan kediaman si Bungkuk.
Si Bungkuk pun kembali masuk kedalam huniannya. Lalu dia memasukan beberapa barang-barang yang akan dibawanya kedalam hutan kedalam sebuah kain. setelah merasa semua telah beres dia keluar dan mengunci rapat gubuknya itu.
perjalan masuk ke hutan bukanlah perkara yang mudah. jalannya yang tidak rata dan banyak di tumbuhi rumput berduri,belum lagi semakin jauh masuk ke hutan maka jalan akan semakin menanjak. untung saja Si Bungkuk sudah terbiasa melalu jalan ini, walaupun dengan keterbatasan yang dia miliki perjalan itu bisa dia lalui dengan mudah.
sesaat si Bungkuk menghentikan langkahnya. lalu dengan cepat dia membalikan badannya kebelakang. Hening.
Si Bungkuk melanjutkan perjalannya. Tiba-tiba ekor matanya menangkap sekelebat bayangan. Kembali dia menghentikan langkahnya.
Trakk...
Terdengar seperti bunyi ranting yang patah. lalu kemudian hening kembali. Seringai menakutkan tergambar di bibir si Bungkuk. Dia pun mempercepat langkahnya. Dalam hati rasanya ingin cepat sampai di gubuk Mbah Warsih. Dia tak ingin sampai kemalaman.
__ADS_1
"Memang sudah saatnya mereka harus makan. Namanya rejeki takan lari kemana. Apalagi rejeki yang datang sendiri." ucap si Bungkuk dalam hati.