
Para abdi dalam terutama yang pria mulai mempersiapkan segala sesuatunya untuk mengikuti anjuran Ki Sukma, segera memasung Ki Larang. Selama dalam masa pasungan Ki Sukma berjanji akan terus berusaha mencari cara untuk memulihkan kembali Ki Larang walau dia tahu hal itu tidaklah mudah. Pria yang dianggap sebagai orang sakti itu tau pengirim ilmu ghaib itu bukanlah orang sembarangan. Ilmu yang dia miliki pastilah tinggi. Untuk mencari cara melumpuhkan ilmu ghaib itu, dia butuh persiapan yang matang. Ada beberapa tirakat yang harus dia jalankan. Itu artinya dia akan meminta petunjuk pada sang guru besar yang tinggal di dalam hutan.
“Mang Diman, saya tugaskan kamu yang selalu menjaga dan memperhatikan semua kebutuhan Tuan selama dipasung!” perintah Nyi Anjarwati.
“Ngih, Nyonya.” Pria paruh baya itu terlihat kembali sibuk membereskan sebuah kamar yang akan di tempati oleh Ki Larang. Sebuah pasung telah tergeletak di lantai dan siap digunakan. Selain itu juga ada dua buah rantai yang rencananya akan digunakan untuk mengikat tangan Ki Larang.
Kematian Karto yang tidak wajar dan hilangnya kewarasan Ki Larang beritanya sudah mulai tersebar keseluruh desa. Para warga mulai merasa khawatir bahwa kejadian itu adalah pertanda buruk bagi keamanan desa mereka. Kasak-kusuk pun mulai santer terdengar bahwa kejadian yang menimpa kedua pria malang tersebut merupakan akibat dari pesugihan keluarga Ki Larang. Entah siapa yang memulai cerita itu hingga para warga merasa takut mereka akan menjadi salah satu tumbal pesugihan.
Melihat kondisi Ki Larang yang butuh perawatan khusus, Nyai Anjarwati memanggil Nyai Darsih yang merupakan istri kedua dari Ki Larang untuk ikut membantu merawat Ki Larang. Walaupun masih ada beberapa istri Ki Larang yang lainnya, Nyai Darsih jauh lebih lama menjadi istri Ki Larang dibanding yang lain dan Nyai Anjarwati sudah mengenal baik sang madu.
Nyai Darsih adalah seorang penari ronggeng sebelum dipersunting oleh Ki Larang. Setelah menikah dengan Ki Larang dia meninggalkan profesinya itu. Hasil pernikahan mereka lahirlah seorang bayi tampan yang kini sudah beranjak Dewasa yang diberi nama Raden Anggabaya.
Nyai Darsih muda adalah wanita yang sangat ambisius. Senang akan kekayaan dan dia akan menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya. Itulah mengapa dia dengan senang hati menerima lamaran Ki Larang walaupun dia tahu pria berumur itu sudah memiliki istri. Malah dengan sengaja Nyai Darsih yang berusaha terus menggoda Ki Larang untuk jatuh dalam rayuannya.
Bak gayung bersambut wanita penggoda dan pria hidung belang dipertemukan, tak perlu waktu lama jalinan cinta terlarang mereka kian tumbuh subur. Siapa yang bisa melarang keinginan Ki Larang. Nyai Anjarwati hanya mampu menahan sakit hati kala itu ketika sang suami menyampaikan niatnya untuk menikahi sang penari ronggeng. Sedangkan bagi Nyai Darsih tak mau perduli dengan apapun juga, asalkan bisa hidup senang dan kaya itu adalah impian hidupnya.
Kebahagiannya Nyai Darsih pun lengkap ketika dia mengetahui ada janin yang tumbuh dalam rahimnya setelah tiga bulan pernikahan. Dengan kehamilannya itu dia menjadi istri yang paling diperhatikan. Semua keinginannya akan dikabulkan. Apalagi ini adalah calon anak pertama Ki Larang, anak yang begitu dinanti-nantikan, karena dalam pernikahan dengan Nyai Anjarwati selama tiga tahun mereka tidak dikaruani seorang anak pun.
Apalagi bayi yang dilahirkan kemudian oleh Nyai Darsih adalah seorang bayi laki-laki yang begitu tampan. Membuat kebahagian Ki Larang bertambah, sampai-sampai Ki Larang menghadiahkan separuh kekayaannya atas nama Nyai Darsih. Wanita itu serasa di atas angin dengan percaya diri dia yakin suatu saat semua harta Ki Larang akan jatuh ke tangan anaknya sebagai penerus. Hingga dia bersumpah dalam hatinya hanya dia sajalah yang boleh memiliki anak dari Ki Larang. Apapun caranya. Walau dengan cara kotor sekali pun. Terbukti memang istri-istri lain Ki larang tak ada satu pun yang memiliki anak.
“Separah apa sakit, Ki Larang, Nyai?” ucap Nyai Darsih sesampainya di rumah Ki Larang.
__ADS_1
“Dia seperti orang yang kehilangan akalnya.” Jawab Nyai Anjarwati.
“Maksud, Nyai, gila!”
Nyai Anjarwati hanya mengangguk lemah.
“Tidak masuk akal. Pasti ada yang mau bermain-main dengan keluarga kita! Aku juga mendengar kematian Karto yang tidak wajar, apa itu semua berhubungan?"
“Entahlah, aku pun bingung. Semua kejadian ini begitu tiba-tiba. Menurut Ki Sukma memang ada yang sengaja mengirimkan sihirnya agar Ki Larang gila. Sedangkan Karto menurut penglihatannya, dia menjadi korban tumbal.” jelas Nyai Anjarwati.
“Kurang ajar! Siapa mereka yang berani-beraninya berbuat seperti itu. Sekarang dimana, Ki Larang, Nyi? “
Nyai Anjarwati bangkit dari duduknya dan mengajak madunya menuju kamar dimana Ki Larang di pasung. Sesampainya disana Nyai Darsih begitu terkejut melihat sang suami dalam keadaan terpasung dengan tatapan kosong menatap langit-langit rumah.
Ki Larang tidak merespon dia hanya megelengkan kepalanya ke kiri dan kekanan.
“Ki...!” ucap Nyai Darsih sedikit keras.
Kali ini Ki Larang tampak merespon dengan menatap tajam ke arah istri mudanya. Tiba-tiba saja tubuh Ki Larang bergetar hebat. Bola matanya mendelik ke arah atas. Tak berapa lama bola mata yang sudah berubah menjadi putih semua kini menatap kedua wanita yang berada di depannya.
“Hahaha...dasar wanita ular! Arghhh....!” Ki Larang berteriak-teriak sambil menghentak-hentakan tangannya yang juga ikut dirantai.
__ADS_1
Mang Diman yang sedari tadi memang berada di dalam kamar itu berusaha menenangkan tuannya dengan mencripatkan air yang telah di bacakan mantera oleh Ki Sukma ke seluruh tubuh Ki Larang
"Arghhhh..., panas!" teriak Ki Sukma. Tubuhnya terlihat kejang-kejang.
"Nyai, bagaimana ini?" tanya Nyai Darsih yang terlihat ketakutan menyaksikan kondisi Ki Larang.
"Begitulah keadaan suami kita." jawab Nyai Anjarwarti, pasrah.
"Apa Ki Sukma tidak bisa menyembuhkannya?"
"Sulit, ilmu ghaib yang dikirim kedalam tubuh Ki Larang sangat kuat, menurut Ki Sukma."
"Berarti kita harus mencari orang yang lebih pintar dari Ki Sukma." ucap Nyai Darsih. Raut wajahnya tampak sedang berpikir keras.
Tubuh Ki Larang terlihat mulai melemas, pergerakannya pun terlihat pelan. Tapi seringai dari bibirnya terlihat begitu menakutkan. Mulutnya mulai mengeluarkan suara desisan mirip ular di sertai lidahnya yang menjulur keluar. Persis hewan melata.
"Apalagi itu, Nyai? Ah, benar-benar tak masuk diakal!"
"Ki Sukma berjanji akan terus berusaha menyembukannya."
"Aku harus mengabarkan keadaan ini kepada Anggabaya." ucap Nyai Darsih. Teringat akan sang anak lelaki yang sedang mengecap ilmu di sebuah padepokan di wilayah barat pulau jawa.
__ADS_1
Bersambung.