
Wajah Nyi Sekar Asih sumringah setelah menerima susuk mutiara ular yang akan dia dapatkan setelah mempersembahkan tumbal kepada siluman ular. Susuk itulah yang menjadi aji pemikat asih. Selain wajahnya akan selalu terlihat awet muda, dia akan juga akan sudah membuat pria manapun jauh cinta kepadanya.
Nyi Sekar Asih segera meninggalkan kebun, dalam otaknya kembali merancang strategi untuk lelaki tua yang akan dia temui saat ini juga.
Tok tok tok
“Siapa?” Terdengar suara Ki Larang dari dalam kamar.
“Saya, Mang Diman, Juragan. Maaf mengganggu, mau memberitahukan, Nyi Ronggeng sudah ada di depan,” ucap sang pelayan rumah dari luar kamar yang pintunya belum terbuka.
“Nyi Sekar Asih? Cepat suruh dia langsung ke kamarku!” Titah Ki Dalam sumringah. Pria kaya itu berdiri di depan cermin besar merapikan penampilannya. Tak beberapa lama terdengar lagi ketukan pintu dia kamarnya. Dia bergegas menuju pintu kamar dan membukanya.
“Ki Larang,” sapa Nyi Sekar Asih sambil membungkukan sedikit tubuh nya tanda memberikan penghormatan.
“Silahkan masuk, Nyi! Diman kamu boleh pergi!”
“Saya permisi.” Pelayanan bertubuh kursus itu melangkah meninggalkan mereka berdua.
Ki Larang memberi jalan agar Nyi Sekar Asih masuk ke kamarnya. Setelah di dalam kamar, pintu segera dikuncinya.
“Silahkan duduk, Nyi!”
“Terimakasih, Ki.” Nyi Sekar Asih duduk di Sebuah kursi kayu ukuran yang berada di kamar itu.
Ki Larang mendekati Nyi Sekar Asih. Pria paruh baya itu berdiri tepat di depannya. Perlahan tangannya memegang dagu mungil dan mengankat wajahnya yang tertunduk dari tadi.
“Kamu benar-benar cantik, Nyi,” puji Ki Larang. Tatapannya terlihat sayu.
“Ki Larang bisa saja.” Nyi Sekar Asih tersenyum tersipu. Walau di dalam hatinya sebenarnya dia ingin segera keluar dari kamar ini
“Andai kau mau aku peristri, aku akan berikan apa pun yang kau inginkan.” Ki Larang mengelus lembut bibir merah Nyi ronggeng dengan jarimya.
Pria hidung belang memang memiliki beberapa istri simpanan. Tapi walaupun begitu tak membuatnya merasa puas untuk berhenti bermain perempuan. Dia memang terkenal sangat suka bersenang-senang dan royal terhadap wanita.
Ki Larang menurunkan tubuhnya, mensejajarkan dengan tubuh Nyi Sekar Asih yang sedang duduk. Deru nafasnya terdengar jelas dan terasa hangatkan menyentuh wajah Nyi sekar Asih. Disaat pria tua itu hendak menciumi bibirnya, dengan spontan Nyi Sekar Asih memundurkan wajahnya.
“Ada apa, Nyi?” Ki Larang mengerutkan keningnya, wajahnya terlihat tidak suka dengan penolakan Nyi Sekar Asih.
“ Maaf, Ki!”
__ADS_1
“Kau sudah tau kan, Aku akan membayarmu dua kali lipat?” ucapnya dengan nada tinggi.
Nyi Sekar Asih hanya mengangguk. Dia tau pria tua dihadapannya itu sedang kesal.
“Maaf, Ki. Bukan maksud saya menolak. Tapi...,” Nyi Sekar Asih menggantung perkataanya.
“Tapi apa, Nyi?”
“Sekali lagi saya minta maaf, bukan bermaksud tidak sopan tapi apa boleh saya minta dimuka pembayarannya, Ki?” ucap Nyi Sekar Asih dengan hati-hati jangan sampai perkataanya itu menyinggung Ki Larang.
“Kau tidak percaya padaku!” Ki Dalang langsung berdiri. Wajahnya Terlihat merah.
“Bukan, bukan begitu maksud saya, Ki. Mana mungkin saya tidak percaya. Saya sangat tau Ki Larang orang yang sangat kaya.”
Nyi sekar Asih merah tangan Ki Larang dan memegangnya erat berharap dengan sentuhannya itu amarah Ki Dalang mereda.
“Lalu apa maksudmu?” ucap Ki Larang masih dengan nada yang tinggi.
“Saya hanya lebih suka dibayar dimuka, itu menandakan Bahwa Ki Larang memang benar-benar menginginkan saya.”
Nyi Sekar Asih perlahan berdiri. Kini mereka sudah saling berhadapan. Nyi sekar Asih mengusap perlahan dada Ki Larang yang tampak turun naik itu.
Dada ki Larang berdetak kuat, darahnya mendesir hangat keseluruh tubuhnya mendengar rayuan penari ronggeng itu. Tanpa menunggu lama Ki Larang melangka menuju lemari besar yang berada di kamar itu. Dibukanya pintu lemari lalu dari bawah lipatan baju dia mengambil kantong kecil yang berisi kepingan uang logam
“Ini, Nyi.” Ki Larang membuka kantong itu dan memperlihatkan isinya dan menyerahkannya pada Nyi Sekar Asih.
“Terimakasih, Ki”. Nyi Sekar Asih menerimanya dengan suka cita dan segera menyelipkannya pada kantung yang ada di balik kainnya.
Nyi Sekar Asih menepuk pundak Ki Larang dan dengan secepat kilat dia meniupkan serbuk putih yang ada di telapak tangannya ke wajah Ki Larang. Dalam hitungan detik tubuh Ki Larang luruh ke lantai dan tak sadarkan diri.
“Dadi edan sukma awake wong iki.” Ucap Nyi Sekar Asih sambil menempelkan telapak tangannya di kepala Ki Larang.
Setelah itu Nyi Sekar Asih kembali komat-kamit membaca mantra ajian penghilang raga. Tak menunggu lama Nyi Sekar Asih menghilang dari kamar Ki Larang dan meninggalkan begitu saja tubuh pria tua yang masih tak sadarkan diri itu. Dia pun tak lupa sebelumnya telah menaburkan gubuk dan membaca mantra untuk seisi rumah agar siapapun yang tinggal di dalam rumah ini lupa tentang kejadian malam ini.
Ilmu penghilang raga bukanlah ilmu sembarangan. Untuk mendapatkan ilmu itu Nyi Sekar Asih harus menjalani tirakat berupa puasa mutih, bertapa di dalam goa dan terakhir pensucian diri dengan mandi di pantai laut selatan, hingga akhirnya Dalam kurun waktu satu tahun ilmu itu bisa dia kuasai. Ilmu yang dia dapatkan dari seorang tetua yang Sekaligus memperkenalkannya pada siluman ular. Ilmu penghilang raga ini adalah ilmu yang mampu memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain dalam hitungan detik yang tentu saja dibantu dengan kekuatan jin. Se hingga dia mampu menembus waktu dan tempat dengan kecepatan di luar nalar manusia.
Dengan ilmu penghilang raga ini, Nyi Sekar Asih dengan sudah meninggalkan jejak dengan apa yang telah dilakukannya pada Ki Larang. Apalagi dia tau semua orang yang tinggal dalam rumah Ki Larang sudah tertidur puas dan akan lupa semua tentang dirinya.
Nyi Sekar Asih tersenyum puas dengan memegang uang di tangannya. Dalam sekejap mata kini dia sedang berada di kediamannya sendiri.
__ADS_1
“Hahaha...pria tua bodoh!” Nyi Sekar Asih merasa lucu mengingat apa yang telah dia perbuat pada Ki Dalang.
“Kau sudah pulang, Sekar!” terdengar suara serak dari belakang tubuh Nyi Sekar Asih.
“Mbah Warsih, belum tidur?” Nyi sekar Asih membalikan tubuhnya. Dihadapannya berdiri wanita tua dengan tubuh bungkuk.
“Hmm...” Wanita tua itu hanya berdehem menjawab pertanyaan Nyi Sekar Asih.
Mbah Warsih berjalan dengan bantuan tongkat di tangannya mendekati Nyi Sekar Asih.
“Kapan kamu siap pulang ke kampung halamanmu, nduk?”
“Entahlah, Mbah. Sampai sekarang hatiku masih sakit apa bila mengingat kejadian itu.” Wajah Nyi Sekar Asih memerah, matanya terasa memanas apabila dia diingatkan kembali pada kejadian beberapa tahun silam itu.
Sekar Asih remaja benar-benar hancur saat itu melihat ibu, kakek dan neneknya sudah tidak bernyawa ketika dia pulang dari pentas sebagai penari ronggeng. Manusia-manusia biadab itu jelas menyimpan kebencian pada keluarganya.
“Apa kau sudah tidak ada keinginan untuk membalas dendam untuk kematian orang tamu lagi, Sekar?”
“Bukan begitu, Mbah. Sampai kapanpun dendam ini masih akan tersimpan di dadaku. Hanya saja aku memang harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang.”
“Kejadian itu sudah terlalu lama berlalu, Nduk. Hampir sepuluh tahun yang lalu. Sebenarnya Mbah harap kau melupakannya saja.”
“Tidak, Mbah, tidak mungkin aku melupakannya!” Mbah lihat sendiri bagaimana perjuanganku hingga sampai bisa di titik ini, dan itu bukan memakan waktu yang sebentar dan aku tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja.”
Mbah Warsih menepuk-nepuk pundak Sekar Asih. Mencoba menenangkan kemarahan Sekar Asih.
“Apapun keputusanmu, Mbah akan selalu mendukung dan membantu semampunya.”
““Terimakasih, Mbah. Sekarang di dunia ini yang aku punya hanya Mbah. Terimakasih untuk membantuku selamat ini.”
Mbah Warsih hanya mengangguk dan tersenyum mendengar pernyataan Nyi sekar Asih.
“Mbah, aku masuk ke kamar dulu, aku ingin istrirahat.”
“Istirahatlah, Nduk!”
Mbah Warsih menatap punggung Nyi Sekar Asih hingga menghilang di masuk ke bilik kamar.
“Sebenarnya dia wanita yang baik, hanya saja ambisi dan dendamnya begitu besar.”
__ADS_1
Bersambung...