
“Tapi bagaimana dengan suami saya, Ki?
“Untuk sementara waktu dia akan tertidur. Aku telah melumpuhkan beberapa titik syarafnya sekitar beberapa jam ke depan dia akan tersadar. Awasi saja!”
Baik, Ki. Mang Diman, antar Ki Sukma melihat mayat Karto di halaman belakang!”
“Baik, Nyonya. Mari Ki ikut saya.” Ajak pelayan bertubuh kurus itu.
Ki Sukma mengikuti langkah Mang Diman ke halaman belakang. Halaman yang bersebelahan dengan dapur dan bilik para pegawai itu terlihat ramai. Beberapa orang terlihat sedang mengurus jenasah, sebagian sibuk menyiapakan beberapa bahan yang akan di gunakan untuk menguburkan mayat Karto dan sebagian lagi hanya duduk memperhatikan.
Diantara pegawai yang hanya duduk-duduk sambil memperhatikan proses pengurusan mayat dan Karto adalah Munirah dan Surti. Dua sekawan itu memang selalu bersama di setiap kesempatan.
“Sur, tadi kamu sempat lihat mayat Kang Karto kan? Serem amat yah.” Ucap Munirah. Dia merasakan bulu-bulu di tubuhnya meremang.
“Iya, Mun. Nyesel aku tadi lihat. Jadi takut sendiri,” Surti menimpali.
“Tadi juragan yang kesambet, sekarang Kang Karto yang mati dengan kondisi mengerikan. Kira-kira kenapa yah, Sur, apa ada hubungannya?”
“Mana aku tahu, Mun, yang jelas dua kejadian yang terjadi hari ini buat aku takut.”
“Ini mesti diselidiki, Sur!”
“Alah, gayamu, Mun.” Surti mencibir sambil menherucutkan mulutnya meledek Munirah.
Wanita berpipi bulat itu menutup mulutnya menahan tawa.
“Sur, aku merinding loh.” Munirah menggosok-gosok tangannya sambi memperlihatkan bulu-bulu yang tampak berdiri.
“Penakut kamu!”
“sama! Sur, biasanya orang yang meninggalnya gak wajar arwahnya gak tenang dan dia bakalan gentayangan loh.”
“Munirah! Kamu tuh kebiasaan yah kalau ngomong suka sembarangan.”
“Gak percaya kamu, Sur?”
“Bukan gak percaya, Mumun gembul. Aku jadi semakin takut tau.”
“Hehehe...tadi ngejek bilang aku penakut.”
“Sudah diam, Mun!”
__ADS_1
Dari arah dalam terlihat Mang Diman dan Ki Sukma berjalan ke arah mereka. Keduanya langsung terdiam dan memberi hormat dengan menundukan punggung saat Ki Sukma berjalan melewati mereka.
“Buka kainnya!” perintah Ki Sukma kepada si pengurus mayat Karto ketika sampai di mana Karto dibaringkan.
Seseorang membuka kain penutup mayat Karto, tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang terlihat hitam seperti hangus terbakar. Belum lagi bau yang mulai menyeruak dari tubuhnya mebuat orang di dekatnya menutup hidung.
Ki Sukma menarik nafas berat. Sungguh kematian yang sangat tidak wajar.
“Kalian menemukan dia sudah dalam keadaan telanjang?”
“Iya, Ki. Di dalam pondok di kebun jagung.”
“Dia sudah menjadi tumbal,” ucap Ki Sukma
“Tumbal!”
Para pengurus mayat Karto saling berpandagan antara takut dan tidak mengerti.
“Semua aura kehidupannya diambil sebagain tebusan, ini bisa dilihat dari tubuhnya yang berwarna hitam. Jiwanya kini terpenjara di alam ghaib.”
Mereka hanya mendengarkan perkataan Ki Sukma dengan Serius.
“Siapa orang yang melakukan tumbal dan untuk apa, Ki?” tanya Paiman salah satu warga yang menenukan mayat Karto.
“kenapa *********** bisa bilang juga, Ki?”
“Karena dia budak nafsu!”
Meraka yang ada di ritu saling berpandagan satu sama lain, berusaha mencerna perkataan Ki Sukma.
“Segera kuburkan Jasadnya. Bau tubuhnya sudah menyeruak!”
“Baik, Ki.”
Setelah melihat mayat Karto Ki Sukma meninggalkan tempat itu diikuti Mang Diman. Berbagai macam praduga berkecamuk di pikiran Ki Larang. Dia tidak bisa menembus ke pikiran Ki Larang dengan mata batinya, semua yang dia lihat hanya seperti kabut tebal. Hingga sulit baginya untuk bisa menyembuhkan Ki Larang. Pastinya orang itu memiliki ilmu yang sangat tinggi hingga ilmunya tak mampu menembus. Sedangkang Karto dia menaruh kesimpulan dia dijadikan tumbal, dan dia yakin yang membuat Karto mati adalah siluman ular. Dia bisa melihatnya dari sisik yang menempel di belakang telinga mayat Karto. Ki Sukma yakin Karto sempat memadu kasih dengan siluman ular hingga dia tidak sadar bahwa saat bercinta itu jiwanya sedang di tarik paksa dan dibawa ke alam ghaib untuk di jadikan budak.
“Bagaimana, Ki?” tanya Nyai Anjarwati yang melihat kedatangan Ki Sukma kembali.
“ Karto jadi korban tumbal!” jelas Ki Sukma
“Tumbal!” Nyai Anjarwati terlihat kaget mendengar pernyataan Ki Sukma.
__ADS_1
“Apa ini juga ada hubungannya dengan suamiku, Ki?”
“Untuk saat ini aku belum bisa memastikan, apa ke dua kejadian ini ada hubungannya atau tidak, yang jelas seseoeang yang telah mengirim ilmu hitam pada Ki Larang bukan orang sembarangan.”
“Lalu apa yang harus saya lakukan,?”
“Untuk sementara waktu, aku pegang jimat ini, yang akan melindungimu dari sesuatu yang buruk.” Ki Sukma memberikan sesuatu pada Nyai Anjarwati sesuatu berbentuk seperti gelang.
“Aku akan memagar rumah ini dengan mantra, agar mahluk yang akan mengirim ilmu hitam tidak bisa masuk.”
Ki Sukma melangkah keluar rumah. Kemudian dia mengelilingi rumah Ki Larang sambil membaca mantra.
Rumah Ki Larang kini sudah dipagari dengan pagar ghaib agar tidak bisa dimasuki oleh mahluk dan ilmu ghain yang dikirim untuk mencelakai tuan rumah.
Ki Sukma tak bisa memungkiri kekuatan ghaib yang merasuki tubuh Ki Larang sangatlah kuat dia pun sangat pesimis untuk bisa menyembuhkan Ki Larang seperti sediakala. untuk sementara waktu dia hanya bisa menenangkan Ki Larang dengan ilmu totok yang membuat Ki Larang untuk sementara waktu tertidur.
"Rumah ini sudah aku pagari dengan pagar Ghaib, semoga saja bisa melindungi kalian dari ilmu kiriman," ucap Ki Sukma.
"Lalu suami saya, Ki?"
"Maafkan aku, Nyai. Aku tidak bisa berbuat terlalu banyak terhadap Ki Larang. mata batinku benar-benar tidak bisa menembuk ilmu itu."
"Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya pada suamiku, Ki?"
"Kemungkinan besar, suamimu akan mengalami gangguan jiwa seumur hidupnya." Ki Sukma menghembuskan nafas kasar.
"Apa, Ki! Maksud, Ki Sukma suami akan gila?"
Ki Sukma menggangguk menyakini pernyataannya.
"Apa benar-benar tidak bisa ditolong, Ki? Saya akan membayar berapapun, Ki, asal suami saya bisa sembuh." Nyai Anjarwati terlihat terpukul dengan kenyataan yang terjadi pada diri suaminya. sejahat apapun perlakuan Ki Larang pada dirinya. Nyai Anjawati tetap merasa khawatir dan sedih.
"Kemungkinan suamimu terkena Ajian gendeng sukmo. Ilmu yang bisa membuat orang yang terkena akan hilang ingatan dan menjadi tidak waras."
"Lalu apa yang mesti saya lakukan, Ki, apabila suamiku bangun dan dia bertingkah aneh lagi?"
"Tidak ada jalan lain, pasung dia!"
"Duh, Gusti!" Nyai Anjarwarti mengelus dadanya, meratapi apa yang baru saja disarankan oleh Ki Sukma.
"Hanya itu jalan yang terbaik. aku takut suatu saat kegilaannya makin parah dan dia melakukan sesuatu hal yang akan mencelakai dirinya atau orang lain."
__ADS_1
Bersambung...