
“Nyi Sekar!” Terdengar suara seorang pria diluar sambil mengetuk pintu bilik tamu yang Nyi Sekar Asih etempati.
Nyi Sekar beranjak dari tempat duduknya, menuju kearah pintu dan membukanya.
“Nyi,” sapa lelaki berkulitas hitam itu.
“Kang Karto, bagaimana Kang, Sudah siap pedati yang mau mengantarkan saya pulang?” ucap Nyi Sekar Asih.
“Begini, Nyi. Saya kemari mau menyampaikan pesan dari Ki Larang.”
“Pesan Apa, Ki?”
“Kalau berkenan, Ki Larang meminta Nyai, untuk tinggal satu malam lagi.”
Nyi Sekar Asih mengerutkan keningnya. Mau Apa lagi lelaki tua bangkang itu pikirnya. Sejenak dia memandang Karto lalu tersenyum.
“Bagaimana, Nyi. Ki Larang bilang makan membayar lima kali lipat.” Karto mengangkat tangannya sambil membuka kelima jarinya.
“Baiklah, saya mau, Kang.”
Andaikan malam ini bukan malam dia harus menyerahkan tumbal, Sudah pasti dia akan menolak permintaan Ki Larang. Nyi Sekar Asih Sudah punya rencana lain yang, aksinya harus berjalan mulus malam ini.
“Kalau begitu saya permisi dulu, Nyi.”
“Kang Karto tunggu!” Baru saja Karto hendak membalikan tubuhnya, Nyi Sekar Asih memanggilnya.
“Ada apa, Nyi?” Karto membalikan tubuhnya lagi.
“Hmm..., Kang Karto, masuk dulu sebenar,” ucap Nyi Sekar Asih memper silahkan Karto masuk kedalaman bilik tamu yang ditempatinya.
Karto tertegun sejenak, dia agak sedikit ragu mengikuti permintaan Nyi Sekar Asih.
“Ayo sini, Kang.” Nyi Sekar Asih menarik tangan Karto kuat dan mengajaknya masuk. Akhirnya Karto mengikuti maunya Nyi Sekar Asih. Karto duduk berdampingan dengan Nyi Sekar Asih disebuah balai yang terbuat dari kayu bambu di dalam bilik itu.
“Kang Karto, Sudah lama kerja dengan Ki Larang?”
“Belum terlalu lama, Nyi. Yah, kurag lebih sekitar tujuh bulanan.”
__ADS_1
“Oh..., Kang Karto Sudah menikah?”
“Sudah, Nyi. Tapi istri saya jauh tinggal di desa sebelah.”
“Jadi Kang Ketumu istrinya kapan dong?”
“Yah kalau dapat ijin dari Ki Larang yah saya pulang.”
“Sering pulang?”
“Jarang, Nyi.”
“Berarti sering kesepian dong!” goda Nyi Sekar Asih.
“Nyai, Mau nemani saya?” Karto tersenyum nakal. Tangannya mencoleh pinggang Nyi Sekar Asih yang ramping itu.
“Emang, Kang Karto mau saya temani?” Nyi Sekar Asih balik menggoda.
Mata Karto seketika membulat mendengar penuturan Nyi Sekar Asih. Apalagi kini duduk mereka berhadap-hadapan. Mata Karto bukan lagi menatap wajah Nyi Sekar Asih, kini matanya beralih pada belalahan dada Nyi Sekar Asih yang begitu menantang.
“Nyai begitu cantik, siapa saja pasti mau ditemani oleh, Nyai.” Karto semakin terpancing saja. Debaran dalam dadanya seketika tidak karuan, apalagi ketika Nyi Sekar Asih memegang tangannya.
“Tadi malam, Nyai dan Ki Larang melakukan apa saja?” Karto cengengesan.
“Kang Karto mau tau aja,” Nyi Sekar Asih membuang mukanya pura-pura malu.
“Pasti permainan, Nyi Asih sanggat hebat sampai-sampai Ki Larang bangun kesiangan.”
“Kalau, Kang Karto permainannya hebat gak?” Nyi Sekar Asih mengelus tangan Karto lembut.
Ditanya seperti itu, Karto membusungkan dadanya. Kejantanannya serasa ditantang.
“Jangan panggil Karto kalau tidak bisa membuat Nyi Sekar Asih, melayang dalam kenikmatan,”ucap Karto menepuk dadanya bangga.
“Masa sih, Kang. Saya jadi penasaran sehebat apa, Akang.” Nyi Sekar Asih terus menggoda.
Mendengar perkataan Nyi Sekar Asih, Karto serasa mendapati rejeki nomplok.
__ADS_1
“Nyai, serius,?” ucap Karto menyakinkan perkataan Nyi Sekar Asih.
Nyi Sekar Asih hanya mengulum senyum. Sementara tangan Karto mulai *******-***** jari Nyi Sekar Asih, dan hal itu dibiarkan saja olehnya.
“Saya jamin, saya akan membuat Nyai ketagihan merasakan permainan saya,” bisik Karto tepat di telinga Nyi Sekar Asih. Tak hanya itu Karto menggelitik telingan penari ronggeng itu dengan lidahnya.
Nyi Sekar Asih memundurkan sedikit kepalnya sambil tersenyum kegelian. Karto tidak mau kehilangan kesempata yang datang, tiba-tiba bibirnya ******* bibir Sekar Asih dengan kasar, sementara tangan kananya lansung mendarat di buah dada dan meremasnya dengan kuat dan membuat kemben Nyi Sekar Asih sedikit melorot. merasakan benda kenyal yang sudah menempel ditangannya birahinya semakin memuncak. Bukan hanya bibir Nyi Sekar Asih saja yang dia *****, kini lehernya sudah basah dengan air liur Karto.
Tindakan Karto yang tiba-tiba itu sontak membuat Nyi Sekar Asih kaget. Tangannya mendorong tubuh Karto sedikit kuat. Tetapi Lelaki itu lebih kuat, dia masih mempertahankan posisinya seolah binatang buas yang tidak mau kehilangan mangsanya. setelah puas menjelajahi leher Nyi Sekar Asih, kini bagian dadanya yang terbuka yang jadi sasaran bibir Karto. Sekali lagi Nyi Sekar Asih mendorongnya kali ini jauh lebih kuat sehingga membuat laki-laki itu mengentikan aksinya.
“Kenapa, Nyi?” tanyah Karto dengan nafas yang terengah-engah. birahinya sudah membuncah. Rasanya sudah tidak tahan.
“Sabar, Kang. Jangan sekarang. Masih siang, Jangan sampai Ki Larang mencari, Akang.”
“Lalu kapan, Nyi?” Wajah Karto memerah, dia menahan sesuatu yang sudah menegang dibawah dan sudah ingin medesak keluar. kepalanya menjadi sedikit pusing.
“Nanti malam, biar kita melakukannya dengan tidak terburu-buru,” bisik Nyi Sekar Asih.
“Tapi nanti malam, pasti Ki Larang akan meminta Nyi Asih menemaninya lagi.”
“Sudah itu gampang biar aku yang mengaturnya. Yang pasti tepat jam delapan malam kau tunggu aku dikebun belakang rumah Ki Larang.”
“Kenapa di kebun,Nyi?” Karto merasa heran mendengar perintah Nyi Sekar Asih.
“Kau mau tidak memadu kasih denganku?”
“Mau, Nyi, mau.”
“Kalau begitu ikuti saja apa kataku. Ingat jam delapan malam!”
“Baik, Nyi.”
“Sekarang pergilah, Jangan sampai Ki Larang curiga karena kau berlama-lama disini, dan katakan pada Ki Larang aku akan menemuinya sekitar jam sembilan malam.”
“Baik, Nyi kalau begitu saya pergi dulu dan Jangan lupa persiapkan kekuatanmu untuk nanti malam, Nyi.” Karto tersenyum nakal sambil menarik dagu Nyi Larang yang lancip.
Karto keluar dari bilik tamu itu dengan perasaan bahagia, tak pernah disangkanya dia akan menikmati tubuh Indah penari ronggeng yang terkenal itu. Tapi yang membuatnya tidak habis pikir mengapa mereka harus bertemu di kebun, tapi ketika dia membayangkan lagi tubuh Nyi Sekar Asih yang sebentar lagi akan memuaskan hasrat kelaki-lakiannya dia sudah tidak perduli lagi dengan apapun. bercinta dengan Nyi Sekar Asih lah yang sekarang menjadi fokus utamanya. Jangankan di kebun di tepi jurang pun Karto akan menyanggupi asalkan dia bisa menikmati setiap inci tubuh sang primadona itu.
__ADS_1
Sementara di dalam bilik, Nyi Sekar Asih tersenyum bangga. Jeratnya telah berhasil, tinggal melaksanakan langkah-langkah selanjutnya. Malam ini semua rencannya tidak boleh gagal. konsekuensinya terlalu berat. Mengatur startegi diantara dua lelaki hidung belang sedikit menguras pikiran Nyi Sekar Asih.
Bersambung...