
Nyi Sekar Asih, sedikit meringis kegelian, ketika Ki Larang dengan rakusnya mengisap area sensitif di bagian dadanya itu seperti bayi yang kelaparan.
Tangan Ki Larang semakin bergerirlya kemana-mana menyusuri setiap tubuh Nyi Sekar Asih. Ketika tangan Ki Larang berhasil menyusup ke area sensitif bagian bawah, seketika Nyi Sekar Asih menahan tangan itu.
“Sabar, Ki, pelan-pelan,” ucap Nyi Sekar Asih. Tangannya berusaha menyingkirkan tangan Ki Larang yang berusaha terus menyusup masuk ke area bawah.
Rupanya Ki Larang tidak menghiraukan ucapan Nyi Sekar Asih, tangan dan bibirnya terus tak berhenti bergerirlya mencari-cari area sensitif tubuh mulus Nyi Sekar Asih.
“Ki...! ucap Nyi Sekar Asih sedikit keras. Tangannya mendorong dada Ki Larang pelan.
Melihat reaksi Nyi Sekar Asih, Ki Larang menghentikan aksinya. Matanya yang penuh nafsu menatap wajah Nyi Sekar Asih.
“Ada apa, Nyi? Saya sudah tidak tahan lagi.” Nafas Ki Larang memburu cepat, birahinya sudah diujung kepala.
“Tunggu sebenar, Ki. Saya punyah sesuatu buat Ki Larang.” Nyi Sekar Asih beranjak dari tempat tidur meninggalkan Ki Larang yang sedangna menahan hasratnya.
Nyi Sekar Asih mengambil sesuatu dalam tas kecil yang dibawanya tadi, lalu kembali berjalan mendekati Ki Larang dan duduk disebelahnya seperti tadi.
“Ini untuk, Ki Larang, telanlah!” Nyi Sekar Asih menyodorkan sesuatu yang berbentuk bulat kecil berwarna hitam ke mulut Ki Larang.
“Apa ini, Nyi?” Ki Larang melihat ke arah benda yang masih dipegang oleh Nyi Sekar Asih itu.
“Telanlah, Benda ini akan membuat Ki Larang lebih perkasa,” ucap Nyi Sekar Asih sambil tersenyum malu.
“Oh, Nyai, meragukan kejantananku?” Ki Larang merasa sedikit tersinggung.
“Bukan begitu, Ki. Saya yakni akan kejantanan Ki Larang, tapi obat ini bisa membuat Ki Larang kuat bercinta dengan saya sampai besok pagi.”
“Oh, berarti, Nyai ingin bercinta dengan diriku sampai besok pagi,” goda Ki Larang sembari menari dagu Nyi Sekar Asih yang pura-pura tertunduk malu.
Tanpa diminta dua kali, Ki Larang langsung menelan pil hitam itu dari tangan Nyi Sekar Asih.
“Akan kubuat engkau melayang malam ini, Nyi!” Ki Larang menepuk dadanya bangga.
__ADS_1
Tanpa aba-aba, Ki Larang lansung menerjang tubuh Nyi Sekar Asih yang memangkas sudah se tengah telanjang hingga tubuh indah itu berbaring di atas ranjang tepat dibawah tubuh Ki Larang.
Ki Larang tidak mau kehilangan kesempantan lagi. Dia melanjutkan lagi aksinya yang sempat tertunda tadi. Dia seperti hewan buas yang sedang melahap mangsanya. Bagian atas tubuh Nyi Sekar Asih tak ada satupun yang luput dari sapuan lidahnya.
Baru saja Ki Larang hendak melepaskan celananya, tiba-tiba saja tubuhnya ambruk tepat di samping tubuh Nyi Sekar Asih.
Penari ronggeng itu tersenyum bahagia. Dia menggeser sedikit tubuhnya lalu bangkit dan duduk. Digoyang-goyankannya tubuh Ki Larang, tubuh tua itu tidak merespon sedikitpun.
Nyi Sekar Asih beranjak dari ranjang dia merapikan kembennya yang tadi sempat di tarik paksa oleh Ki Larang. Dia melirik pada Ki Larang yang masih terbaring tak bergerak tapi terlihat masih bernafas. Hatinya puas, pil hitam yang dia berikan untuk Ki Larang memang sanggat manjur membuat lelaki hidung belang itu tertidur pulas. Malam ini dia selamat tidak menjadi pemuas nafsu Ki Larang. Selain itu juga ada konsekuensi yang akan ditanggung oleh Nyi Sekar Asih apabila dia bercinta dengan seorang pria.
Setelah dirasa semuanya rapi, Nyi Sekar Asih perlahan mendekati Ki Larang yang masih tertidur pulas seperti seorang bayi. Agar Ki Larang tidak curiga, Nyi Sekar Asih melepaskan satu persatu pakaian Ki Larang tanpa sisa. Bibirnya tersenyum sinis ketika melihat alat kejantanan Ki Larang yang kecil dan mengkerut.
“Hmm...kecil seperti anak curut saja, sok-sokan mau bercinta denganku,” cibir Nyi Sekar Asih, lalu menutup tubuh Ki Larang dengan selimut. Agar aksinya lebih menyakinkan lagi dia sedikit mengacak-ngacak seprei bermotif bunga itu.
Nyi Sekar Asih lalu membaringkan tubuhnya disamping Ki Larang yang sudah lelap di alam mimpi. Dia sengaja tidak keluar dari kamar Ki Larang agar tidak mencurigakan karena dia telah mengatakan Ki Larang akan kuat bercinta dengannya hingga pagi.
Ketika Nyi Sekar Asih hendak memejamkan matanya, indra penciumannya menangkap aroma yang sudah sanggat dikenalnya. Dia segera bangkit dari tidurnya. Matanya mengedar keseluruh ruangan kamar mencari-cari sosok yang membawa aroma tadi.
Melihat penampakan siluman itu, Nyi Sekar Asih memberikan hormat dengan cara menangkupkan kedua tangannya dan menaruhnya didepan dada, lalu dia membungkukkan sedikit badannya.
“Aku kemari hanya ingin mengingatkan, besok adalah waktunya kau memberikan tumbal!”
“Baik, Nyai Sangkaweni,” ucap Nyi Sekar Asih.
Mahkuk gaib itupun menghilang disertai asap putih.
Nyi Sekar Asih duduk terdiam, otaknya berpikir siapa yang akan menjadi tumbalnya kali ini, karena kalau menumbalkan Ki Larang pasti orang-orang akan mencurigainya dan itu akan berakibat fatal baginya.
***
Tanpa terasa kokok ayam jantan terdengar diluar pertanda pagi hari menjelang. Nyi Asih yang baru saja tertidur harus segera bangun. Disampingnya Ki Larang masih Tertidur pulas.
Nyi Asih beranjak dari tempat tidur. Dia berjalan menuju sebuah kursi yang ada disudut ruangan. diapun duduk menunggu sambil melihat ke arah Ki Larang, yang menurut perkiraannya akan terbangun sebentar lagi.
__ADS_1
selang lima belas menit kemudian, terlihat tubuh Ki Larang bergerak. dia menggeliat. perlahan dia bangkit dari tidurnya. perasaannya terasa aneh. lalu dia melihat kearah Nyi Sekar Asih yang sedang duduk memandang dirinya sambil tersemyum.
"Nyai, kemarilah!" panggil Ki Larang.
Nyi sekar Asih pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Ki Larang.
"Ada apa Ki?" Nyi Sekar Asih duduk dipinggiran ranjang.
"Aku merasa aneh?"
"Maksudnya, Ki, Aneh bagaimana?"
"Bukannya tadi malam kita bercinta, tapi kenapa aku tidak merasakan apa-apa!"
"Itu karena Ki Larang terlalu hebat dan perkasa," ucap Nyi sekar Asih pura-pura malu.
"Masa sih, Nyi." Ki Larang terlihat ragu dengan apa yang diucapakan oleh Nyi Sekar Asih.
"Itu buktinya, Ki Larang masih tidak memakai bajukan."
Ki Larang langsung melihat kearah tubuhnya dan menyibakan sedikit selimut yang menutup tubuhnya. benar saja tubuhnya polos tanpa ditutupi sehelai benangpun.
"Lalu kenapa, Nyai berpakaian lengkap?" cecar Ki Larang
"hmm...saya tidak mau terlihat jelek ketika Ki Larang bangun, makanya setelah bangun, saya langsung merapikan penampilan saya."
"Tapi, Nyi..."
"Permainan Ki Larang tadi malam memang hebat. Ki Larang membuat saya..." Nyi Sekar Asih tak melanjutkan kalimatnya, dia hanya menunduk pura-pura malu.
sebenarnya Nyi Sekar Asih ingin tertawa melihat wajah Ki Larang yang tampak kebingungan.
Bersambung.....
__ADS_1