
“Besok kau jadi pergi ke padepokan, Nger? Ucap Nyai Anjarwati. Sambil menuangkan teh dari poci keramik kedalam gelas bermotif kembang. Sore itu di ruang tengah juga terlihat Anggabaya dan Nyai Darsih sedang menikmati makanan ringan yang tertata di atas meja.
“Ngeh, Bu.”
“Apa kau tak lelah, pagi tadi kau baru saja sampai dari rumah Demang Atmojo, besok harus pergi lagi,” timpal Nyai Darsih.
“Kita tidak boleh menunggu terlalu lama, Bu. Keadaan bapak semakin tidak baik-baik saja. Semoga guruku Kiayi Jafar ada waktu dan mau membantuku.” Tampak raut prihatin terlihat di wajah Anggabaya. Bagaimana pun juga kesembuhan Ki Larang menjadi prioritas utama. Dia tak ingin membuang waktu terlalu lama.
Jujur saja Nyai Darsih masih khawatir akan kesehatan puteranya yang sempat jatuh sakit. Baru saja sampai di rumah besok sudaj harus pergi lagi.
“Kau yakin sudah merasa pulih?”
“Ibu, ndak usah khawatir, Anggabaya insyaallah baik-baik saja.”
Keadaan Ki Larang memang belum membaik juga, walaupun sudah beberapa kali Ki Sukma datang untuk mengobati demgan segala ritual dan sajennya. Tapi hasilnya masih saja nihil. Mahluk yang ada di tubuh Ki Larang masih saja betah tinggal di sana.
Sebenarnya Anggabaya sudah merasa jengah dengan segala ritual yang di lakukan oleh dukun kampung itu. Tapi dia tidak boleh serta merta menunjukan ketidaksukaannya dengan amarah. Bagaimana pun juga kehadiran Ki Sukma atas permintaan ibunya. Oleh karena itu dia ingin cepar-cepat meminta bantuan gurunya di pedepokan selain untuk kesembuhan Ki Larang, juga untuk menghilangkan praktek syirik di dalam rumahnya.
Ritual perdukunan itu bukannya akan mengusir jin atau setan yang bersemayan di tubuh Ki Larang, malah mengundang semakin banyak Jin dalam rumahnya. Sesuatu hal yang dilakukan tanpa syariat yang di ajarkan oleh agama akan menjadi salah. Tak akan ada kebaikan didalamnya.
~~
Sementara di desa Cibening di kediaman Larasati. Gadis berwajah oval itu terlihat memeluk selembar kain di dalam kamarnya. Dia terlihat sumringah setelah berhasil mendapatkan pakaian dalam Anggabaya. Setelah kemarin mengendap-ngendap kekamar pemuda yang saat itu tengah asik berbincang dengan Nyai Sekar Asih.
Wajah gadis itu bersemu merah takala membentangkan selembar pakaian dalam Anggabaya. Wajah pemuda tampan itu seketika memenuhi pikirannya. Dia benar-benar telah terhipnotis dengan pesona Anggabaya. Dia tak rela pria berkulit bersih itu menjadi milik orang lain. Apalagi kini dia tau bahwa saingannya hanya seorang penari ronggeng yang kastanya jauh berada di bawahnya.
__ADS_1
Sesuai dengan intruksi sang Eyang, malam ini juga ritual pemusnahan pelet pengasih akan dilakukan. Tepat pukul dua belas malan ketika semua penghuni rumah telah terlelap, Larasati berjalan pelan-pelan menuju kamar Nyai Wulandari.
Dikamar sang Eyang telah menantinya. Wanita paruh baya itu terlihat duduk di lantai. Di hadapannya ada sebuah wadah berbentuk bulat seperti baskom yang terbuat dari perunggu. Didalamya sudah berisi air kembang tujuh rupa. Sebuah dupa kemenyan terletak disampingnya. Kesemuanya itu tertata di atas kain putih yang di gelar di lantai.
“Kemarilah!” Nyai Wulandari memberi isyarat agar Larasati memdekat.
Setelah menutup pintu kamar dan menguncinya Larasati melangkah mendekati Nyai Wulandari dan duduk dihadapannya.
“Mana pakaian dalam itu?”
Larasati mengulurkan tangannya menyerahkan kain berwarna putih. Setelah pakaian dalam itu berpindah tangan. Nyai Wulamdari membakar kemenyan. Seketika asap putih keluar dari pembakaran itu mengeluarkan aroma yang kurang sedap bagi penciuman Larasati. Beberapa saat gadis itu menutup hidung dengan jari telunjuknya.
Nyai Wulandari mulai komat-kamit membaca mantra. Sementara tangannya mengasapi pakaian dalam Anggabaya. Tak berapa lama pakaian dalam itu dia masukan kedalam wadah yang berisi air tujuh rupa. Diputar-putarnya dalam wadah sebanyak tujuh kali.
“Sekarang Anggabaya telah terlepas dari pelet penari ronggeng itu.”
“Lalu apakah kini dia mencintaiku?” ucapnya bersemangat.
“Untuk saat ini kita hanya melakuka pembersihan pelet pengasih. Apakah kau juga ingin mengirimkan pelet pada pemuda itu?”
“Aku ingin pemuda itu menjadi mencintaiku!”
“Tapi semua itu ada syaratnya, ada harga yang harus kau bayar.”
“Eyang, meminta bayaran padaku? Baiklah berapa jumlah yang harus aku bayar. Nanti aku mintakan pada Romo.” Dalam pikiran Larasati biarlah dia mengeluarkan sedikit uang toh, Romonya adalah orang kaya dan terpandang.
__ADS_1
“Hahaha...dasar gadis bodoh, kau pikir Eyang butuh uang Romomu. Harta yang Eyang punya jauh lebih banyak dari Romomu itu!”
Larasati menautkan kedua alisnya. Semakin tak mengerti saja apa mau sang Eyang.
“Lalu aku harus membayar dengan apa?”
“Kesucianmu!”
“Maksudnya?” Larasati masih tak paham. Tapi perasaannya mulai tak enak.
“Kau harus bersetubuh dengan junjunganku, Siluman buaya putih, Gama!”
Mata Larasati membulat terbelalak kaget. Bagaimana mungkin dia harus menyerahkan tubuhnya pada seekor buaya. Membayangkannya membuat dia ngeri, dan yang membuatnya lebih shock lagi adalah ternyata Eyangnya adalah seorang penganut ilmu hitam yang telah bersekutu dengan buaya putih. Sungguh tak disangka. Ternyata banyak hal yang dia tidak tau selama ini.
“Tidak, Eyang! Persyaratan apa semacam itu. Bagaimana aku akan memiliki Anggabaya kalau aku sudah tak suci lagi.”
“Terserah dirimu. Semua keputusan ada di tanganmu. Eyang tidak akan memaksamu.” Wanita paruh baya itu tersenyum sinis.
“Dan, Eyang selama ini bersekutu dengan siluman?” Gadis itu ingin kembali berucap.
“Kau kira apa yang Eyang dapatkan selama ini dengan cara apa? Kalau kau ingin menjadi lebih segala-galanya dari yang kain maka ada harga yang harus kau bayar. Semua itu butuh pengorbanan. Asal kau tau saja. Penari ronggeng itu tak mudah disingkirkan. Mungkin saat ini pengaruh ilmu pengasihnya akan hilang dari tubuh Anggabaya, tapi suatu saat pelet itu bisa dia kirim lagi bahkan lebih kuat dari sebelumnya, dan kau akan tersingkirkan.”
Seulas senyum licik terukir dari bibir wanita paruh baya itu. Sebenarnya ada sesuatu yang besar yang dia rencanakan. Melihat sifat Larasati yang keras kepala, manja dan abisius sangat cocok untuk mendapatkan tugas yang akan dia limpahkan.
Begitulah hati, pabila sudah ditutupi dengan sifat serakah, kebencian dan hal-hal buruk lainnya, maka sudah tidak ada ruang lagi untuk menyimpan kebaikan. Nyia Wulandari bermaksud mempersembahkan cucunya itu sebagai penerusnya agar iya bisa terlepas dari ikatan perjanjian dengan Siluman Buaya putih. Kelak Larasati yang akan mengabdi menggantikan posisinya. Selain itu juga dengan mempersembahkan tubuh seorang perawan maka dia akan mendapatkan mustika sebagai pertukaran. Mustika yang akan membuatnya berumur panjang.
__ADS_1
Pantas saja Mbah Warsih menyebutnya wanita berhati iblis. Dengan cucunya sendiri yang dalam tubuhnya mengalir darahnya sanggup dia korbankan untuk memuaskan nafsu dunianya.