Tumbal Nyai Ronggeng

Tumbal Nyai Ronggeng
Sebuah Rencana


__ADS_3

Terobsesi dengan rasa cinta pada seseorang mampu membuat kita melakukan hal yang sangat kejam bahkan di luar nalar. Banyak yang tak sadar cinta seperti itu hanya menancapkan luka yang teramat dalam, Bahkan akan menimbulkan kebencian.


~~


Perjodohan itu membuat hati Anggabaya menjadi begitu tak nyaman. Bagaimana hal sepenting itu dia sendiri tidak tahu. Entah ini hanya sebuah rencana atau memang sudah menjadi kesepakatan keluarga. Anggabaya harus bertanya kebenaran berita yang dia dapat dari Larasati. Jauh dilubuk hatinya ada rasa cemas yang begitu mendalam. Bagaimana tidak, baru saja dia hendak mendekati wanita pujaanya, seolah dipatahkan dengan berita perjodohan itu.


Anggabaya tak habis pikir bagaimana bisa Larasati dengan percaya dirinya mengatakan bahwa dia calon pendamping hidupnya, tepat di depan wanita yang dia kagumi sejak pertama bertemu. Sial betul rasanya saat itu. Aggabaya harus mencari cara agar perjodohan itu tidak terjadi. Dia tak ingin cinta yang dipaksa, menikah tanpa ada rasa cinta sama saja dengan menyiksa jiwa. Bukankan tujuan sebuah ikatan itu agar kita bisa merasakan bahagia.


Larasati memang gadis yang cantik tapi sayang Anggabaya tak menyimpan rasa cinta padanya. Hatinya telah terpaut pada Nyai Sekar Asih, walaupun dia sendiri belum bisa memastikan itu cinta atau hanya kekaguman semata, yang jelas sejak pertemuan pertama ada rasa yang tak biasa yang dia tak pernah rasakan terhadap wanita lain.


Untuk mengusir rasa gundahnya akhirnya Anggabaya menemui Nyai Darsih di kamarnya.


“Jadi benar yang disampaikan oleh Larasati tentang perjodohan kami, Bu?”


“benar, Nger. Lalu bagaimana pendapatmu? Ibu rasa kau sudah cukup umur untuk menikah. Larasati juga gadis yang cantik dan terlihat baik. Apalagi kita sudah kenal dekat dengan keluarganya. Ibu rasa itu sesuatu yang baik?”


“Baik buat siapa bu?” Anggabaya membuang nafas kasar. Bagaimana bisa orang menentukan kebahagian untuk dirinya.


“Tentu saja buatmu!” Nyai Darsih menatap tajam mata Anggabaya. Dia merasa putra semata wayangnya itu terlihat tidak suka dengan rencana perjodohan itu.


“Anggabaya tidak mencintai, Laras, Bu. Bagaimana mungkin kita akan hidup bahagia dengan orang yang tidak kita cintai!”


“Apa kurangnya, Larasati, Cah Bagus? Masalah cinta dengan sendirinya pasti akan datang juga seiring waktu kalian bersama.”

__ADS_1


“Hal sepenting ini, mengapa tak ibu bicarakan dahulu denganku. Anggabaya yang akan menjalaninya nanti. Bukan ibu atau orang tua Laras!” Anggabaya terduduk lemas di pinggiran kasur. Dia mengusap wajahnya kasar.


“Jadi maksudnya kau mau tidak setuju dengan perjodohan ini?” Nyai Darsih menghampiri pemuda itu dan duduk disampingnya. Tanganya mengusap lembut punggung tangan Anggabaya. Putera kesayangannya itu terlihat gusar.


“Maaf, Bu,” ucap Anggabaya pelan sambil menganggukan kepala. Dia tertunduk tak mampu menatap netra sang ibu. Dia tau ibunya mungkin kecewa atas keputusannya.


Nyai Darsih menarik nafas panjang. Sebenarnya, bagi Nyai Darsih tak masalah Anggabaya menolak perjodohan ini. Dia akan mengijinkan Anggabaya memilih gadis untuk dirinya sendiri. Masalahnya yang dia takutkan adalah penolakan Anggabaya ini akan berakibat buruk dengan hubungan dua keluarga yang sudah terjalin baik sejak lama. Apalagi kalau diperhatikan Larasati menyukai puteranya itu. Penolakan ini jelas akan menjatuhkan harga dirinya.


“Kau mencintai gadis lain?” Nyai Darsih ingin memastikan apa yang menyebabkan Anggabaya menolak perjodohannya.


Sekali lagi pemuda tampan itu mengangguk membenarkan ucapan Nyai Darsih. Entah mengapa saat menjawab hatinya sangat yakin mencintai Sekar Asih. Bayangan penari ronggeng itu tak pernah lepas dari ingatannya.


“Lalu apa yang akan ibu sampaikan pada keluarga Larasati? Tidak mungkin ibu mengatakan bahwa kau tidak mencintai putri dari Ki Demang Atmojo itu.”


~~


Nyai Sekar Asih sudah bersiap hendak pergi. Semua barang miliknya sudah dimasukan kedalam pedati. Dibalik jendela sepasang mata menatap penari ronggeng itu dengan tatapan sinis. Dialah Larasati, hatinya kadung membeci. Hatinya semakin memanas ketika di lihatnya Anggabaya mendekati Sekar Asih yang sudah berada di atas pedati. Entah apa yang mereka bicarakan.


“Kau benar-benar mencintai pemuda itu?” Nyai Wukandari menepuk pundaknya dari belakang.


“Eyang!” Tubuh Larasati reflek berbalik.


“Jangan khawatir Eyang akan membantumu.” Nyai Wulandari menarik tangan Larasati agar mengikuti langkahnya. Ternyata sang Eyang membawanya ke kamar.

__ADS_1


“Duduk sini, Cah Ayu.” Nyai Wulandari memerintahkan Larasati duduk di sebuah kursi kayu jati yang bersebelahan dengannya.


“Kalau penari ronggeng itu menggunakan cara licik untuk mendapatkan hati Anggabaya, kau pun harus melakukan hal yang sama.”


“Maksud, Eyang?”


“Gadis itu memiliki ilmu pengasih, di tubuhnya di tanam banyak susuk yang bertujuan untuk memikat banyak pria. Jadi jangan heran gadis semacam penari ronggeng itu banyak digilai oleh para lelaki. Apalagi kalau dia sudah membacakan mantra pada targetnya, maka lelaki itu akan bertekuk lutut dihadapannya.”


Larasati mencoba mencerna apa yang sedang dijelaskan oleh Eyang Wulandari. Kini dia baru paham mengapa Anggabaya begitu tertarik dengan Sekar Asih. Ternyata wanita itu menggunakan peletnya. Sungguh licik. Kalau betul seperti itu maka cinta Anggabaya padanya tidak nyata adanya. Pemuda itu hanya sedang dalam pengaruh ilmu pengasih.


“Hal pertama yang harus kita lakukan adalah mematahkan pelet yang yang merasuki tubuh Anggabaya agar dia bersih dari pengaruh ilmu ghaib itu.”


“Caranya?” ucap Larasati begitu antusias. Dia membayangkan Anggabaya pasti akan jatuh cinta padanya apabila terlepas dari pengaruh pelet itu.


“Kau harus mendapatkan pakaian dalam pemuda itu!”


Larasati terbelalak kaget mendengar syarat yang di ucapkan Nyai Wulandari.


“Sudah jangan berpikir terlalu banyak, mumpung pemuda itu masih bersama penari ronggeng di depan, ini kesempatan kau masuk kedalam kamar dan mendapatkan pakaian dalamnya. Ayo cepat!” Nyia Wulandari menepuk pundak Larasati agar cucunya itu segera melaksanakn perintahnya.


“Ba..baik, Eyang.” Larasati pun beranjak dari duduknya. Bergegas dia keluar kamar. Semoga saja apa yang akan dilakukannya saat ini berjalan sesuai rencana. Dia akan melakukan apa saja agar Anggabaya menjadi miliknya, walau dengan cara licik sekalipun. Rasa kagum dan cintanya terhadap pemuda tampan itu sudah begitu besar hingga sampai kapanpun dia tidak akan rela wanita lain merebut Anggabaya.


Sedangkan Nyai Wulandari mempersiapkan hal lainya sebagai sarana untuk ritual memusnahkan ilmu pelet itu. Secepatnya hal ini harus dilakukannya, sebelum semuanya terlambat.

__ADS_1


~~


__ADS_2