
Mata Ki Larang menyorot tajam. Pupil matanya mengecil dan berubah warna terlihat kehijau-hijauan, begitu menakutkan. Tubuhnya mulai meronta-ronta kembali. Mulutnya kini mulai mendesis seperti ular. Bibirnya menyeringai lebar. Dua taring yang tumbuh begitu saja dalam mulutnya begitu jelas kelihatan. Entah sejak kapan, dipunggung tangan kanannya tumbuh sisik seperti ular.
Sejenak Anggabaya tertegun melihat pemandangan yang aneh tapi nyata di hadapannya. Dia tahu ada mahluk tak kasat mata yang bersemayan di tubuh Ki Larang. Anggabaya mengeluarkan sebuah tasbih dari saku bajunya dan duduk berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Ki Larang. Dia kemudian merapalkan doa, sementara tangan kirinya memegang pucuk kepala Ki Larang.
“Ahh...Bocah tengik, berani-beraninya kau mengusikku!” bentak Ki Larang.
“Siapa kamu?” tanya Anggabaya
“Hahaha...aku Ki Larang! Manusia sakti mandra guna. Huwahahaha...”
“Keluar kau dari tubuh, Bapakku!”
“Dasar bocah ingusan!” Kepala Ki Dalang berputar ke kiri dan ke ke kanan, lalu mendongak ke atas beberapa saat. Perlahan dia kembali menatap ke arah Tangga baya dengan bola matanya yang sudah memutih semua. Benar-benar mengerikan.
Anggabaya terus berdoa dan berzikir memohon perlindungan dan keselamatan pada yang maha kuasa. Dia yakin hanya Allah lah sebaik-baiknya penolong. Tak putus-putus dia berdoa.
“Arrgghh...baiklah aku akan keluar dari tubuh tua bangka ini, tapi ada syaratnya. Kau dan aku harus melakukan sebuah perjanjian!”
“Tidak, aku tidak mau melakukan perjanjian apapun denganmu!” Anggabaya tahu tipu muslihat setan itu nyata. Perjanjian apapun yang kita buat dengan iblis dan bangsa sejenisnya tidak akan membawa kebaikan dan keuntungan apapun bagi manusia.
“Baiklah kalau itu mau mu, aku tidak akan keluar dari tubuh ini, whuaahah...”
Tiba-tiba tangan kiri Anggabaya yang memegang pucuk kepala Ki Larang terasa di sengat listrik hingga tubuhnya terdorong sedikit kebelakang.
“Astagfirullah.” Anggabaya yakin mahluk yang bersemayam di tubuh bapaknya tidak mudah dikalahkan. Tapi dia yakin tidak ada kekuatan yang hebat mengalahkan kekuatan Allah SWT.
“Menjauh dari situ, Nger. Ibu tak mau terjadi apa-apa padamu.” Terlihat kehawatiran di wajah Nyai Anjarwati. Walaupun Anggabaya tak terlahir dari rahimnya, tapi dia begitu menyanyangi Anggabaya seperti anak kandungnya sendiri.
__ADS_1
Anggabaya tak bergerak dari tempatnya, dia terus membaca ayat-ayat alquran. Hingga perlahan tubuh Ki Larang terlihat tenang kembali. Hati anak mana yang tak sedih melihat kondisi orangtuanya yang dia sayangi dalam keadaam menderita. Itulah yang sekarang di rasakan oleh pemuda berwajah teduh itu. Apalagi tak banyak yang bisa dia lakukan untuk menolong bapaknya.
~~
Begitu banyak pertanyaan berputar di kepala Anggabaya, tapi karena tubuhnya terasa begitu lelah dia menahan dulu segala kegundahannya. Dia memilih mengistirahatkan dulu tubuhnya yang terasa letih karena perjalanan jauh. Tak perlu menunggu waktu lama untuk membuat dia terlelap.
Dalam tidurnya Anggabaya Bermimpi. Dia berjalan menyusuri sebuah hutan. Dia terus saja berjalan tanpa arah. Hingga tibalah di suatu pondok kecil sederhana yang semua bangunannya terbuat dari kayu. Langkah pemuda berkulit kuning langsat itu terhenti. Sayup-sayup terdengar suara gending ditabuh. Alunan musiknya terasa lembut dan syahdu. Anggabaya kembali melangkah mencoba mencari asal suara musik itu. Langkahnya kembali terhenti ketika matanya menangkap sesosok wanita yang sedang menari mengikuti alunan musik khas jawa itu. Dia tak dapat melihat rupa sang wanita karena sang penari memunggunginya. Untuk sesaat dirinya begitu terbuai dengan gerak gemulai sang penari. Hingga wanita yang memakai pakian khas putri keraton itu membalikan tubuhnya. Bukan main kagetnya Anggabaya wajah wanita itu penuh dengan sisik, hidungnya rata tak bertulang. Mirip sekali dengan ular.
“Astagfirullah.” Anggabaya terbangun dari tidurnya. Jantungnya berdetak kuat. Peluh menetes dari keningnya. Entah berapa jam dia tertidur yang jelas waktu magrib telah lewat.
Dia segera mengambil wudhu dan melaksanakan shalat yang tertinggal itu lalu di lanjutkan dengan shalat berikutnya. Selesai shalat begitu khusu dia berdoa, memohon ampun atas dosanya dan dosa kedua orang tuanya.
Tok...tok...tok..
Doa Anggabaya terhenti ketika mendengar suara pintu kamarnya di ketuk.
“ ini, ibu, Cah Bagus.”
“Masuklah, Bu! Pintu tak di kunci.”
Nyai Darsih membuka pintu dan masuk ke dalam kamar. Dilihatnya Anggabaya sedang merapikan alas shalatnya. Dia pun duduk di pinggiran kasur.
“Mari, Nger!” Nyai Darsih menepuk kasur agar Anggabaya duduk disebelahnya.
“Bagaimana kehidupanmu di padepokan?”
“Alhamdullilah, baik, bu.”
__ADS_1
“Syukurlah kalau kau kerasan di sana.”
Anggabaya hanya tersenyum. Tangannya mengusap-usap punggung tangan wanita yang telah melahirkannya. Anggabaya merasa ini adalah waktu yang tepat menanyakan semua hal yang telah terjadi di rumah selama dirinya tidak ada.
“Bagaimana awalnya, Bapak, bisa seperti itu, Bu?” ucap Anggabaya.
“Awalnya ibu tidak tahu pasti, karena saat itu ibu tidak ada di rumah utama ini, Nger. Nyai Anjarwati yang memanggil ibu. Menurutnya kejadian itu terjadi sangat tiba-tiba. Di pagi hari orang seisi rumah di kagetkan oleh tingkah lalu bapakmu yang seperti orang gila. Lalu di panggilah Ki Sukma untuk membantu menyadarkannya. Tapi rupanya dia pun mengalami kesulitan untuk menyembuhkan bapakmu.” Jelas Nyai Darsih.
“Ki Sukma, dukun itu bu?”
“Dia bukan dukun, Nger. Dia orang pintar yang di berikan kesaktian.”
“Sama saja,Bu. Lalu sejajen yang ada di kamar itu juga apakah dia yang menyuruh?”
“Iya, karena itu salah satu syarat untuk kesembuhan ayahmu.”
“Itu musyrik, Bu. Mempersekutukan Allah itu namanya, mengharap dan memohon pertolongan pada selain Allah itu dosa besar.”
“Entahlah, Cah Bagus. Ibu bingung.” Nyai Darsih menghela nafas panjang.
“Itulah salah satu cara iblis, setan dan sebangsanya dalam menjerat manusia agar melakukan dosa. Asal ibu tau para dukun itu orang-orang yang bersekutu dengan bangsa mereka. Mereka mengikat perjanjian. Perkataan para dukun itu hanyalah bohong belaka. Itulah mengapa Anggabaya tak mau menyetujui permintaan jin yang bersemayan di tubuh Bapak. Mereka akan menjebak kita agar bisa menjadi pengikutnya. Nauzdubillah.”
Panjang lebar Anggabaya menjelaskan kemusyrikan yang memang pada saat itu banyak dilakukan di desanya. Sesajen yang di buang ke laut dan praktek perdukunan bukanlah hal yang asing lagi bagi mereka. Kebiasaan mereka lambat laun akan mendatangkan murka yang maha kuasa. Bisa jadi jin yang kini bersemayan di tubuh Ki Larang adalah satu bukti bahwa lemahnya iman, hingga alam bawah sadar kita sangat mudah dikendalikan oleh mahluk lain.
“Selain kejadian aneh yang menimpa bapak. Karto orang kepercayaannya di hari yang sama di temukan mati dengan cara yang tak wajar. Tubuhnya hangus terbakar dan mengering. Alat vitalnya terputus. Menurut Ki Sukmo dia adalah korban tumbal.” Ucap Nyai Darsih.
Anggabaya makin berpikir keras. Dia harus mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi dan dia berniat untuk meminta bantuan sang guru di Padepokan.
__ADS_1