
Senja sudah berganti malam, suara-suara binatang malam sudah mulai terdengar. Suasana desa yang sepi.
Tadi sore Nyi Sekar Asih mendapatkan undangan untuk bertandang ke pendopo Ki Larang, untuk menikmati Berapa makanan ringan berupa kue-kue tradisional. Sekaligus Ki Larang menepati janjinya untuk memberikan bayaran lima kali lipat kepada Nyi Sekar Asih apabila sebentar malam dia mau menemaninya lagi. Ki Larang masih penasaran dengan kejadian malam kemarin. Yang dia ingat dia hanya sempat menciumi buah kenyal milik Nyi Sekar Asih selanjut dia lupa yang terjadi. Untuk mengobati rasa penasarannya itu dia ingin mengulang kembali kebersamaan bersama Nyi Sekar Asih.
Nyi Sekar Asih pun berjanji akan datang tepat pukul sembilan malam untuk menemui Ki Larang.
Udara malam cukup dingin dengan menggunakan selendang Nyi Sekar Asih menutupi bagian atas tubuhnya yang terbuka. Dia melangkah keluar dari bilik tamu, berjalan menuju kebun belakang untuk menemui Karto yang sudah berjanji akan menunggunya disana.
Malam ini rembulan temaram terhalang oleh awan hitam. Terlihat Karto berdiri di pelataran kebun. Kulitnya yang hitam membuat dirinya hampir saja tak terlihat. Kebun yang itu adalah kebun jagung yang beberpa hari lalu buahnya sudah dipanen.
Wajah Karto terlihat sumringah, ketika dilihatnya dari kejauhan bayangan seseorang datang menuju arahnya. Senyumnya makin melebar ketika sosok itu semakin jelas terlihat. Nyi Sekar Asih benar-benar menepati janjinya.
“Nyi!” tegur Karto ketika Nyi Sekar Asih berada tepat dihadapannya.
“Iya, Kang.”
“Nyai, cantik sekali malam ini.”
“Memang sebelum-sebelumnya saya tidak cantik, Kang?”
“Bukan, bukan begitu, Nyi. Nyai selalu terlihat cantik, tapi malam ini sanggat special.”
Nyi Sekar Asih hanya tersenyum mendengar rayuan Karto.
“Mari, Kang!” Nyi Sekar Asih menarik tangan Karto masuk kedalaman perkebunan jagung. Cahaya bulan yang remang-remang memudahkan mereka berjalan masuk jauh kedalam. Hingga tibalah mereka disuatu gubuk yang biasa dipake oleh orang untuk beristirahat ketika hendak berkebun.
Dua insan berlainan jenis itu masuk kedalam gubuk yang berdinding bambu yang ukuran tingginya hanya sebatas dada orang dewasa. Se hingga cahaya bulan masih bisa menerangi gubuk itu.
Mereka berdua kini sudah berada dalam gubuk. Duduk di lantai yang beralaskan kayu bambu. Mata Karto tak sedikit pun berpaling memandang Nyi Sekar Asih. Apalagi di bawah sinar bulan yang temaram wajah Nyi Sekar Asih terlihat semakin memikat saja penglihatan Karto.
“Angin malamnya, cukup besar yah, Kang? Dingin.”
__ADS_1
“Sebentar lagi juga udaranya akan berubah panas, Nyi,” ucap Karto. Matanya menjeling menggoda.
“Nyai, mau saya hangatkan.” Karto menggeser tubuhnya lebih dekat lagi dengan Nyi Sekar Asih.
Wanita berparas ayu itu hanya tersipu menunduk malu, sambil memainkan ujung selendang yang disematkan di kedua pundaknya.
Tangan Karto mengusap lembut tangan bagian atas Nyi Sekar Asih. Mimpi apa dia hingga diberikan kesempatan berduan dimalam ini dengan sang primadona. Wanita yang banyak jadi rebutan, dan hanya lelaki berduit sajalah yang bisa memiliki dan menikmati keindahan tubuh penari ronggeng itu. Sedangkan dia hanyalah seorang pesuruh dari seorang tuan tanah.
Apalagi sebentar lagi dia akan menyecap manisnya bercinta dengan Nyi Sekar Asih.
Melihat wanita disampingnya hanya diam saja ketika disentuhnya, Pria berkulit gelap itu mulai berani merapatkan tubuhnya dengan menarik pundak Nyi Sekar Asih. Hingga tubuh wanita itu berada dalam pelukannya.
Suara angin dan binatang malam sebenarnya terasa mencekam. Apalagi tiba-tiba penciuman Karto menangkap bau anyir yang begitu tajam. Perasaan Karto mulai tidak enak tapi dia mengusir jauh-jauh rasa itu. Kesempatan tak akan datang untuk kedua kali, pikirnya.
Kalau bukan karena janji manis Nyi Sekar Asih, mana mau dirinya berada di tempat ini malam-malam begini.
“Nyi, kenapa kita mesti ketemuan ditempat ini, sih?” Karto mengusap tengkuknya yang terasa dingin.
“Eh, bukan begitu,Nyi! Masa laki-laki segagah saya takut. Apa memang yang saya takuti?”
“Dedemit, mungkin. Hihihi....”
Karto mengerutkan keningnya. Suara tawa Nyi Sekar Asih terdengar sedikit menyeramkan apalagi disuasana malam seperti ini.
“Dedemit, setan, hantu, siluman, tidak ada yang mampu menakuti saya, Nyi!” ucap Karto sambil menepuk bangga dadanya.
“Ah,masa. Beneran, Akang, tidak takut?”
“Nyai, gak percaya?”
“Percaya, Kang. Percaya.”
__ADS_1
“Ah, sudah gak usah ngomongin dedemit dan sebangsanya. Kita disini akan mau asik-asik. Langsung saja, Nyi!”
“kang Karto, gak sabaran amat, sih!”
“Bukan apa-apa, Nyi. Takutnya, Nyai tambah kedinginan jadi saya ingim cepat-cepat memberikan kehangatan begitu, hehehe...”
“Akang, bisa aja.”
Rupanya Karto sudah tak mampu lagi menahan gejolak didadanya. hasratnya yang sedari tadi ditahan akhirnya dia lampiaskan juga.
Pergumulan pun terjadi, butiran-butiran keringat sudah membasahi kedua tubuh mereka, *******-******* saling bersahutan memecah kesunyian malam. Tanpa mereka sadari ada seseorang di luar sana yang sedangkan menyaksikan pergumulan mereka yang terlihat jelas dari celah-celah dinding kayu.
Sosok yang sedang melihat aksi percintaan itu ternyata adalah Nyi Sekar Asih. Dalam penglihatannya Karto sedang bercinta dengan ular besar yang tidak lain adalah siluman ular yang menjadi junjungan Nyi Sekar Asih.
Nyi Sekar Asih yang melihat pemandangan di depannya itu hanya bisa tersenyum melihat Karto tidak menyadari apa yang sebenarnya yang kini sedang dipeluk olehnya. Mata Karto telah dibutakan oleh ilmu hitam siluman ular. Baginya yang sedang memadu kasih dengannya adalah sang primadona.
Ular Besar berwarna hitam legan dengan satu buah tanduk dikepalanya itu membelit tubuh Karto. Lidah siluman ular itu sesekali menjulur menjilati wajah Karto. Desisan-desisan suara ular terdengar seperti ******* yang menggoda di telinga Karto, hingga Karto makin terbuai dalam pergulatan malam ini.
Hingga tidak beberapa lama terdengar satu kali suara pekikan Karto yang seolah tersekat dan kesakitan. Setelah itu semua kembali hening. Asap putih perlahan muncul dalam gubuk dan hilang begitu saja di udara.
Tiba-tiba saja, siluman ular itu kini sudah berada tepat di depan Nyi Sekar Asih, tapi kini dengan wujud yang sedikit berbeda dengan wujud bagian atas manusia dan bagian bawah berwujud ular. Melihat sang junjungan, Wanita berkulit bersih itu mundur selangkah dan langsung membungkukan badannya dengan kedua telapak tangan yang dirapatkan didepan dada.
"Tumbalmu, malam ini telah aku terima." Siluman ular itu mengulurkan tangannya. Terlihat di telapak tangannya yang terbuka sebuah benda berbentuk bulat tampak bekilau.
"Kemarilah!" titah siluman ular.
Nyi Sekar Asih melangkah maju mendekati siluman ular. Setelah tepat berada didepannya dia langsung terduduk di bawah ekor siluman ular.
Siluman ular mulutnya komat-kamit membaca mantra setelah itu menempelkan benda berbentuk seperti mutiara dikening Nyi Sekar Asih hingga benda itu sirna menyatu dalam tubuhnya.
"Terimakasih, Nyai."
__ADS_1
Siluman ular itu pun pergi melesat cepat ke udara.