Tumbal Nyai Ronggeng

Tumbal Nyai Ronggeng
Masa Kecil Sekar Asih


__ADS_3

Nyi Sekar Asih masih berada dalam bilik tamu milik Ki Larang. Hari ini dia sudah bersiap-siap untuk kembali ke kediamannya. Ki Larang telah menyiapakan sebuah pedati dan supirnya untuk mengantarkan dirinya.


Profesi sebagai penari ronggeng telah ditekuninya sejak dia berusia tiga belas tahun. Kala itu dia masih mengikuti sebuah paguyuban dengan beberapa penari didalamnya.


Sekar Asih kecil memang sanggat suka menari, daerah seninya itu mengalir dari ibunya yang memangkas seorang penari ronggeng juga.


Sebenarnya ibunya tidak terlalu menginginkan Sekar Asih mengikuti jejaknya. Bukan tanpa alasan, menjadi penari ronggeng itu membawa beban yang berat. Banyak yang suka tapi banyak pula yang tidak suka.


Persaingan antara penari satu dengan yang lainnya sudah sangat kerap terjadi. Menjadi seorang primadona adalah hal yang paling di incar oleh para penari ronggeng. Bagaimana tidak menjadi primadona artinya mereka bisa mendapatkan uang yang banyak, kalau beruntung penari itu bisa saja dipersunting menjadi istri atau selir lelaki-lelaki kaya bahkan para pria yang memiliki kedudukan pada saat itu.


Keinginan kuat Sekar Asih menjadi seorang penari ronggeng akhirnya membuat ibunya yang bernama Nyi Nilam akhirnya mengijinkan dirinya menjalani profesi itu. Sekar Asih begitu tekun berlatih hingga performanya kala itu walaupun masih kecil bisa diperhitungkan.


Sekar Asih sejak kecil tidak pernah mengenal bapaknya, ini jugalah salah satu alasan mengapa Nyi Nilam tidak menginginkan anaknya menjadi penari ronggeng.


Nyi Nilam yang kala itu bisa dibilang penari ronggeng primadona pada masanya jatuh cinta pada seorang anak Adipati. Rasa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, sang anak Adipati yang bernama Raden Dharma rupanya menaruh hati juga pada Nyi Nilam.


Dua insan muda yang sedang dimabuk cinta akhirnya menembus batas yang tak boleh dilanggar. Nyi Nilam hamil diluar nikah. Kedua orang tua Raden Dharma yang mengetahui hal itu sangat marah. Mereka tidak setuju anaknya menikah dengan seorang penari ronggeng. Hal hasil sebelum aib itu tersebar, Nyi Nilam di usir dari desa itu.


Nyi Nilam menanggung sendiri deritanya itu. Untung saja pada saat itu ada sepasang suami istri yang mau menampung dirinya dan membantu persalinan hingga Sekar Asih terahir kedunia.


Nyi Nilam yang saat itu masih berusia dua puluh tahun di bantu oleh suami istri yang selama tiga puluh tahun menikah tidak dikarunia anak. Sehingga mereka menganggap Nilam adalah putrinya sendiri. Mereka membesarkan Sekar Asih dengan kasih sayang walaupun dengan keterbatasan.

__ADS_1


Saat Sekar Asih lahir, Nyi Nilam sudah tidak pernah menari lagi. Hidupnya kini hanya membantu kedua orang tua angkatnya berkebun disebuah bidang tanah yang tak seberapa luas.


Nyi Nilam sempat beberapa kali membawa Sekar Asih melihat pertunjukan Nyai Ronggeng yang digelar apabila ada sebuah hajatan yang dibuat oleh seseorang di desanya. Dari situlah muncul kecintaan Sekar Asih yang beranjak remaja kepada seni tari itu.


Pada mulanya ibunya tidak suka akan kecintaan Sekar Asih pada seni tari itu, tapi karena keinginannya yang sangat kuat akhirnya sang ibu sendirilah yang mengajari dia menari ronggeng.


Sekar Asih senang bukan kepalang ketika pertama kali dia pentas bersama rekan-rekan penari lainnya. Kalau itu seorang yang kaya raya sedang membuat acara pernikahan anaknya. Mendapatkan bayaran tak seberapa membuat Sekar Asih tambahkan bersemangat untuk menjadi penari ronggeng.


Jam terbang menarinya makin lama makin banyak. Apalagi Sekar Asih tumbuh menjadi gadis remaja yang memiliki wajah yang sangat cantik. Apalagi gerakan tubuhnya membuat orang terpesona semua berkat ajaran sang ibu yang dulu adalah primadona sebagai penari ronggeng.


Kelebihan inilah yang membuat Sekar Asih cepat terkenal. Namanya sering disebut-sebut sebagai penari ronggeng yang memiliki daya pikat yang luar biasa. Hingga dalam setiap pentas dialah yang sering disuruh tampil dan banyak mendapatkan penghasilan dari hasil saweran.


Ketenaran Sekar Asih membuat para rekan-rekan sesama penari merasa iri kepadanya. Apalagi Sekar Asih masih baru malang melintang di dunia Ronggeng. Para seniornya menuduh Sekar Asih memakai jampi -jampi bahkan susuk untuk memikat para penonton.


Sekar Asih merasa sedih dan kecewa, sejak peristiwa itu dia sering menangis dan mengurung diri. Melihat itu ibunya ikut sedih. Hingga suatu hari sang ibu menasehatinya.


“Sekar, mengapa ibu dari dulu melarangmu menjadi penari ronggeng. Lika-liku penari ronggeng itu berat,Nak.” Nyi Nilam mengusap kepala anak gadisnya itu dengan lembut.


“Tapi, Sekar tidak salah, Bu! Sekar tidak melakukan apah yang mereka tuduhkan.”


“Ibu, percaya padamu, tapi begitulah memang. Persaingan kerap terjadi diantara para penari ronggeng.”

__ADS_1


“Tapi, Sekar kadung cinta menjadi penari ronggeng, Bu. Menjadi penari ronggeng yang terkenal adalah impian Sekar!”


Melihat keinginan anaknya yang kuat, Nyi Nilam akhirnya berjanji akan membantu mewujdukan keinginan anaknya itu.


Nyi Nilam yang sudah berpengalam dalam dunia ronggeng mencaricari cara agar anaknya tetap bisa mencari cara agar anaknya tetap bisa menjadi penari ronggeng.


Nyi Nilam sering membawa Sekar Asih dan memperkanalkan dia pada paguyuban paguyuban tari ronggeng. Nyi Nilam mengatakan pada setiap ketua paguyuban apabila mereka menggunakan Sekar Asih sebagai penari ronggeng bisa di jamin penghasilan mereka akan bertambah. Alhasil Sekar Asih menjadi penari ronggeng yang tidak terikat dengan satu paguyuban.


Sangat mudah memperkanalkan Sekar Asih karena selain memiliki wajah yang cantik, tarian Sekar Asih mampu membuat orang berdecak kagum.


Nama Sekar Asih mulai terkenal dimana-mana sebagai penari ronggeng. Setiap orang yang ingin melihat penampilannya cukup datang kekediaman Sekar Asih untuk menjemputnya, dengan rombongan paguyuban yang memang sudah disiapkan disana.


Tapi sayang malang tak dapat ditolak, kebahagian rasanya enggan menetap lama di hidup Sekar Asih. Ketenarannya yang dia peroleh saat itu harus dia tebus dengan tiga nyawa orang yang sangat dicintainya.


Sekar Asih sendiri tidak pernah mengerti sampai sekarang hal mengerikan yang telah menimpa ibunya, kakek dan neneknya. sepulang dari menari Sekar Asih ditawarkan dengan pemandangan yang memilukan.


Ketiga orang terkasihnya itu meninggal bersamaan di dalam rumah. Diseluruh tubuh mereka terlihat banyak luka tusukan. darah segar masih mengalir dari tubuh mereka dan sebagian telah membasahi lantai kayu rumah panggung itu.


Melihat hal itu Sekar Asih berteriak histeris. Dia berlari mendekati tubuh ibunya yang terbujur kaku. digoyang-goyangkannya tubuh wanita yang telah melahirkannya itu, lalu bergantian dia beralih menggoyangkan tubuh kakek dan neneknya.


Tubuh Sekar Asih, mendadak lemas pandangannya mulai terasa kabur. tubuhnya tiba-tiba limbung dan diapun jatuh tak sadarkan diri.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2